RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #24


__ADS_3

Apa aku bisa tetap mempercayaimu? Aku mulai goyah, tetapi aku harus bertahan kan?


-Saga-


Sampai di rumah sakit, Azka segera mendapat penanganan oleh dokter spesialis obsteri dan ginekologi. Kara yang menemani mendengar penjelasan dokter selama pemeriksaan. Ia meringis saat dokter mengatakan bahwa kandungan Azka lemah. Kondisi fisik yang lelah, psikologis yang terganggu akibat stres, membuat kandungan yang masih berusia delapan minggu itu menjadi rentan.


"Kamu harus istirahat Teh, kandungan kamu terlalu lemah untuk dibawa bekerja keras." ucap Kara. Nita sedang mengurus administrasi, meninggalkan Kara menemani Azka di ruang tunggu.


"Iya, aku akan hati-hati. Tolong jangan kasih tahu Saga. Biar aku saja yang memberitahunya." ucap Azka pada Kara.


"Jangan ditunda. Saga harus tahu kalau di dalam perutmu sudah tumbuh benih-benih darinya."


"Ck," Azka hanya berdecak menanggapi ocehan Kara.


"Jangan lupa, kalian belum boleh olahraga ranjang."


"Kara!"


"Aw! sakit! Apa salah saya Teh? saya kan cuma ngingetin penjelasan dokter!" ucap Kara sewot sambil mengelus kepalanya yang terkena jitakan dari Azka yang ada di sebelahnya.


"Gak perlu diingetin. Aku inget kok." Azka kesal sekali, bagaimana bisa Kara mengucapkan itu dengan santai di ruang tunggu begini. Azka malu sekali, meskipun sebenarnya tidak ada yang mendengar.


"Teh," panggil Kara.


"Ya? kenapa?" jawab Azka masih ketus.


"Apa sepeninggal kami dari apartemenmu ada sesuatu yang terjadi?" mendengar pertanyaan Kara, Azka menegang di tempatnya.


"Apa yang terjadi sampai kau jatuh? berdarah? dan kesakitan?"


"Nggak ada Kar. Tiba-tiba saja aku merasa sakit." ucap Azka berbohong.


"Apa pipi merah itu hanya make up? tidak biasanya kamu membuat sebelah pipimu lebih merah dari yang lain." ledek Kara sedikit menyindir. Refleks Azka memegang pipinya. Pipi itu masih nyeri. Mengingat Marsha menamparnya dua kali dengan sangat kuat.


"I-ini, hemm.. Aku-"


"Ka, nih vitamin sama penambah darah. Diminum lho ya." ucap Nita yang sudah ada di dekat mereka. "Eh- lagi ngobrol ya? hehehe sorry motong." ucap Nita yang menyadari tatapan sengit Kara.


"Enggak kok Nit. Yuk pulang. Aku mual di sini." ajak Azka yang segera diangguki oleh keduanya.

__ADS_1


Mereka bertiga pulang, dengan Nita dan Azka yang duduk di kursi penumpang sementara Kara sendiri di depan memegang kemudi. Persis seperti supir taksi online.


"Satu di depan kenapa sih?" tanya Kara ditengah perjalanan.


"Diem aja bawel. Azka kasian kalo duduk di depan, nanti perutnya kegencet." jawab Nita asal.


"Masih rata Bu, perutnya. Ya Tuhan, emang kalian seneng aja bikin saya mirip kang taksi onlen!" sembur Kara. Nita dan Azka terkikik geli.


"Eh, Kar. Kecilin dong musiknya, Prof. Ara nelpon." pinta Nita pada Kara agar mengecilkan suara dari pemutar musik di mobil itu. Kara pun menjulurkan tangannya ke arah pemutar musik. Menekan beberapa kali tombol minus (-) untuk menurunkan volumenya.


"Halo, Pak."


"..."


"Oh, iya ini udah selesai. Kita lagi di jalan baru keluar dari rumah sakit beberapa menit lalu."


"..."


"Azka gak apa-apa Pak."


"..."


"..."


"Iya Pak. Oke."


"Kenapa?" tanya Azka saat Nita menutup sambungan telepon dengan supervisor mereka.


"Kar, aku anterin ke kantor dulu ya sebelum ke Azka. Pak Ara minta aku bantu di sana karena tim ahlinya kurang." ucap Nita yang di sanggupi oleh Kara. Ia mengarahkan mobilnya ke arah kantor mereka di persimpangan jalan. Azka masih menunggu penjelasan. Ia bersiap ikut ke kantor jika ada hal yang penting, pikirnya. Ia lupa dirinya baru saja nyaris kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Mbak Mira juga pulang, katanya anaknya sakit. Kamu sama aku di sini. Jadi Pak Ara kurang orang." jelas Nita saat mendapati wajah Azka masih menunjukkan ekspresi menunggu untuk pertanyaannya yang belum Nita jawab.


"Yaudah aku ikut ya,"


"NO!!!" jawab Kara dan Nita kompak.


"Oke oke, aku pulang. Gak usah pada melotot gitu ih, becanda aku Nit, Kar." ucap Azka pasrah.


Kara melajukan kembali mobilnya saat Nita sudah turun di lobi gedung tempat kantor sewaan mereka berada. Azka kini duduk di kursi penumpang bagian depan. Dan memang benar tidak ada hubungannya antara duduk di kursi depan dengan perut kegencet seperti yang Nita bilang tadi. Kenapa jadi kepikiran? Jelas Nita hanya mengada-ada. Bodoh! pikir Kara.

__ADS_1


Perjalanan yang memakan waktu lama karena macetnya jalanan membuat mata Azka perlahan terpejam. Ia sepertinya kelelahan. Kara yang menyadari itu mematikan musik yang terdengar dari pemutar musik. Menyisakan hening di udara. Tangannya terjulur untuk mengubah arah angin dari AC agar tidak mengarah langsung pada tubuh Azka.


"Teh, bangun Teh." Kara menggoyangkan tubuh Azka saat dirinya sudah selesai memarkirkan mobil di basement apartement Azka.


"Teh, hei. Udah sampe, masa mau saya gendong? Ogah ah, berat! Kan ini bukan novel." ucapnya terus mencerocos. Namun, Azka tetap bergeming. Dilihatnya wajah lelah Azka yang tengah tertidur. Meskipun gurat lelah terlihat, tetapi ekspresi wajahnya tenang. Mungkin ini adalah tidur berkualitas yang baru Azka dapatkan setelah beberapa waktu ini terus mengurus proyek penelitian mereka.


Kara tersenyum. Ia menikmati pemandangan itu seraya menyandarkan kepalanya pada kemudi. Ia mengenang masa-masa dirinya sangat tergila dengan wanita itu. Wanita yang bahkan sampai saat ini masih terus menganggapnya bocah, adik, atau semacamnya. Ya, dirinya benar. Azka masih tetap Azka yang sama meski kini telah menikah. Ia tetap Azka-nya.


Kara kembali mengingat bagaimana Azka dahulu. Ia sedikitnya tahu apa yang Azka alami sejak masih sendiri. Dan saat ini, ternyata kondisinya tidak terlalu jauh berbeda. Ia masih saja terikat dengan perasaannya. Meski kini Kara bisa melihat bahwa perasaannya tidak jauh lebih besar dari waktu pertama mereka bertemu. Kara tahu, Azka sudah mulai mencintai Saga dengan sepenuh hatinya. Meskipun Ragil, tetap belum bisa ia hilangkan seutuhnya. Cinta pertamanya sungguh kuat. Semua yang Azka lalui begitu berat, bahkan sampai saat ini ketika ia telah memiliki Saga.


Menikah ternyata tidak menjamin hidup kita otomatis bahagia ya?


Kara menghela napasnya. Menikah akan selalu membahagiakan jika kita memilih bahagia. Bahagia itu pilihan. Mau sendiri atau berdua, kalau kita tidak memilih bahagia maka kita tidak akan bahagia. Iya kan?


---


"Kau harus tahu, bahwa kehadiranmu dibutuhkan. Tolong jangan termakan oleh kabar tidak jelas. Apalagi itu hanya kiriman dari orang tidak bertanggung jawab."


Ucapan itu terngiang selalu di pikirannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya terbakar oleh rasa cemburu dan marah saat nomor tak dikenal mengirimkan semua foto itu. Foto yang bukan hanya memperlihatkan tentang kejadian di hotel. Namun juga kejadian-kejadian sebelum itu, yang bahkan dirinya tidak mengetahuinya.


"Aaaagh. Aku nggak tahu harus percaya yang mana. Apa aku bisa percaya kamu Ka? Aggh, Sialan!!"


---


"Apa mungkin dia sudah tahu? Dan dia memilih tetap percaya? kalau begitu kita buat babak baru. Buat agar dia mulai tidak percaya." Wanita itu harus juga merasa kehilangan seperti yang ia rasakan. Harus. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Mungkin saja Ragil sudah akan pulang.


"Sial! gue harus keluar dari rumah itu? ****!" Ia memukul kemudi bergantian dengan kepala yang ia benturkan ke sandaran kursi. "Gue harus kemanaaa? **** Reno! Lo kemana sih. Mobil doang yang lo tinggalin!"


Ia meraih ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang di sebelahnya. Mengecek saldo tabungannya, yang adalah saldo tabungan yang ia pindahkan ke sana beberapa hari lalu. Ia menghitung, kemudian berdecak. Sepertinya ia akan memilih tinggal dengan menyewa apartemen sementara. Ia tidak akan pulang, sebelum ia membalas dendam.


---


"Halo Bang, gue belum bisa pulang. Bisa gak gue minta tolong lo urusin berkas perceraian ini?"


"..."


"Oke. Sorry ngerepotin. Entar gue kabarin. Thanks ya."


Welcome to sidang perceraian. Dalam hatinya ia merasa lega, bahwa perjalanan menyebalkan ini akan segera berakhir. Semoga apa yang ia lakukan bisa berjalan dengan lancar. Eh, haruskah dirinya mengucapkan terima kasih pada Azka? Bukankah ia sudah banyak membantu? Ya sepertinya begitu, Ia akan coba menghubungi Azka. Atau mungkin dirinya harus meminta ijin terlebih dahulu?

__ADS_1


Hah! kenapa gerogi gini. Udah kayak mau kencan pertama. Dasar gila!.


__ADS_2