
Aku gak pernah menyesali apapun, begitu juga dengan pertemuan kita untuk kedua kalinya. Meski itu berarti aku harus takut kamu terluka.
-Ragil-
"*Inget ya, kalau terjadi apa-apa sama Azka, saya akan buat kamu--"
"Apa?? Kenapa lo juga belain dia Hah??" Marsha berbalik, tangannya menuding ke arah wajah pemuda itu. "Bahkan gue udah diusir gara-gara cewek sialan itu. dan inget ini, gue bakal bikin dia juga terusir!" Kilat di netra itu terpancar*.
Marsha mengerang kesal mengingat percakapan dirinya dengan orang tidak dikenal itu. Ditambah Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah percekcokannya dengan Ragil tadi pagi. Sore ini, dirinya harus pergi dari rumah itu. Atau dirinya akan diusir secara paksa oleh Ragil. Ya, ia mengenal sifat Ragil yang sangat tega jika itu menyangkut dirinya. Nampaknya dirinya sudah tidak bisa lagi memenangkan hati pemuda yang saat ini berstatus suaminya itu.
Kesialan hari ini juga bertambah dengan perginya Reno keluar kota. Marsha pikir, ia bisa berlindung pada Reno di saat seperti ini. Namun ternyata laki-laki itu juga pergi. Entah apa alasannya, Reno hanya menitipkan mobil yang bisa dipinjam Marsha selama dirinya pergi. Dan lagi, beberapa jam lalu, dirinya justru bertemu dengan seseorang asing yang juga membuatnya geram. Siapa lagi kalau bukan orang sok kenal yang berlagak akan melindungi Azka dari apapun rencananya. Kenapa sih, semua orang seolah membela Azka? dan hanya dirinya yang harus menanggung kesialan?
"Aaaagh!!! Sialan!" Marsha mencengkeram kemudi dengan kuat, hingga menimbulkan warna kemerahan pada kepalan tangannya. Ia menunduk dan membenturkan kepalanya berulang kali.
"Kalau gue diusir sama Ragil. Seperti yang gue bilang tadi, gue harus bisa bikin Azka juga terusir." ia menggumam, kemudian menutup matanya dalam diam. Ia mereka-reka rencana agar tersusun di kepalanya. Setelah beberapa saat, ia sudah mendongak, sebuah seringai tercetak di wajahnya. Nampaknya, Marsha sudah menyusun rencana untuk membalas dendamnya pada Azka.
---
"Jadi gimana, Bro? udah siap pengajuan gugatan cerai?" tanya Arif sembari meletakkan secangkir kopi di depan Ragil.
"Udah, thanks ya."
"Bagus deh, gue ikut seneng. Betewe kapan mau diajuin?" Arif menyesap kopinya, matanya ikut menerawang ke depan ke arah tatapan Ragil daritadi memandang.
"Gue bingung."
"Hmm?"
"Gue takut Marsha nekat." Ragil menghela napasnya pelan, "Dia bawa-bawa Azka. Gue takut Marsha nyelakain dia."
"Lo serahin atau gak berkas itu, gue rasa Marsha akan tetap nyelakain Azka."
"Maksud lo?" Ragil menoleh, memperhatikan raut wajah Arif yang belum berubah, namun ada sedikit aura serius di sana.
"Marsha kayaknya udah kesel banget sama Azka. Azka ngambil foto saat dia ciuman sama Reno, Marsha juga tau kalo lo tau tentang itu semua, dan dia pasti mikir kalo itu semua karena Azka yang kasih tau kita. Lo mau cere, lo ngusir dia dari rumah, dan lo terlihat melindungi Azka. Marsha punya alasan kuat untuk berbuat jahat ke Azka Gil." Ragil memejamkan matanya, mencoba mencerna semua yang dikatakan Arif padanya.
"Lo salah sih Gil, kenapa juga lo bawa-bawa Azka?"
__ADS_1
"Bukan gue yang mau, Rif, tapi-" kalimatnya tergantung, Ragil ragu mengatakannya.
"Azka sendiri yang masuk ke sana, secara sukarela?" tanya Arif bingung.
"Kira-kira begitu."
"Untuk alasan?" Arif nampak semakin bingung.
Sementara Ragil diam saja. Ia tidak tahu apakah bijak mengatakannya pada Arif. Bahwa dirinya dan Azka pernah punya masa lalu yang mengambang, selesai tapi tidak selesai. Dan apakah dirinya boleh mengatakan bahwa Azka mungkin masih merasakan hal yang sama terhadap dirinya? Yang perasaan itu juga sebenarnya belum seutuhnya hilang dari hati Ragil. Hanya saja ia masih sangat menghormati Azka yang sudah memiliki suami saat ini. Ragil juga percaya bahwa Azka melakukan ini semua hanya karena Azka tidak menginginkan kehidupan buruk menimpa Ragil. Terutama ketika Azka akhirnya tahu bagaimana masalah yang sedang dialaminya. Azka tidak berniat untuk menghancurkan pernikahannya hanya untuk membela dirinya kan? Tapi melihat Azka, Ragil jadi bertanya-tanya dalam hati, "Sekuat itu kah cinta pertama itu?" Ragil masih belum terlalu yakin.
"Saran gue nih Bro, berkas perceraian tetep lo serahin ke pengadilan. Dan karena lo yang paling ngerti tentang gimana nekatnya Marsha, lo sendiri yang juga harus ngelindungi Azka."
"Azka punya suami, Rif." Ragil tidak menyesali pertemuannya dengan Azka yang telah menjadi istri orang. Ia pun tidak menyesali Azka mendengar ceritanya, karena nyatanya ia butuh didengarkan. Yang ia sesali adalah pertemuan Azka dengan Marsha siang itu. Juga Azka yang tanpa sengaja justru masuk ke masalah ini karena kenekatannya mengambil gambar Marsha dan Reno malam itu.
"Suami dia tau gak? ngerti gak kalo lo jelasin kondisinya? percaya gak kalo lo sama Azka gak ada apa-apa?" tanya Arif beruntun, "Gue aja masih ragu lo sama Azka gak punya perasaan apa-apa." ucap Arif sangsi.
"Gue di sini cuma nyaranin lo buat ngelindungi Azka bukan karena Azkanya Gil, tapi karena yang mau nyelakain Azka itu Marsha. Istri lo! Lo yang harus cegah istri lo berbuat jahat sama orang lain. Lo yang harus bikin istri lo keep masalah ini hanya untuk lo berdua. Toh, Azka juga gak ngapa-ngapain lagi kan setelah nyerahin foto ke kita?" Ragil mengangguk, yang dikatakan Arif ada benarnya. Jika ia melibatkan Saga, masalah ini akan menjadi lebih lebar. Belum tentu juga Saga mengerti alasan kenapa semua ini bisa terjadi. Yang ada justru Saga akan salah paham bahwa Azka masih mencintai Ragil, meskipun mungkin iya. ****, gue kepedean!
Melihat keadaan ini, Ragil setuju dengan Arif. Lebih baik dirinya saja yang memantau Marsha agar wanita itu tidak berbuat macam-macam pada Azka, setidaknya sampai perceraian antara dirinya dan Marsha selesai.
"Gue punya satu lagi kasus yang harus dibuktiin, Bro." ucap Ragil menghadap Arif. Ia teringat masalah ini setelah dirinya bergelung dengan pikirannya lumayan lama.
"Marsha narik tabungan gue. Gila tuh orang emang."
"Lho kok bisa?"
"Buku tabungan gue diambil sama dia. Gue gak ngerti kenapa dia bisa narik uang itu. Mungkin dia bikin surat kuasa palsu atau yang lain. Karena setelah gue cek, buku nikah gue di laci lemari juga gak ada."
"Lah, gila tu orang. Merangkap jadi maling juga rupanya."
"Gue gak tau buku nikah itu disimpen dimana, tapi buku tabungannya udah gue ambil karena dia taroh di kamarnya." Ragil membanting beberapa buku tabungan ke atas meja setelah merogohnya dari tas pinggang yang ia kenakan. Arif meraihnya, lalu mengecek hasil print out transaksi pada buku itu.
"****!!! Tabungan lo banyak, Bro. Banyak yang dicurinya! wkwkwkwk." Arif tertawa puas. Begitulah menurutnya jika seseorang sudah merasa menjadi sahabat, sebelum membantu tertawakan dulu kesialannya.
"Kambing! malah ngetawain."
"Ya lagian lo apes amat sih. Udah nikah dipaksa, cewenya gak bener, tabungan dicuri. Karma masa lalu nih kayaknya."
__ADS_1
"Dasar temen Setan!"
"Iya, lo setannya. Gue temennya doang." Arif kembali tertawa puas.
"Bantuin gak?" Ragil merebut buku yang ada di tangan Arif hingga tawa lelaki itu berhenti.
"Iya yaelaah, sensi lo!" Dan Arif merebut kembali buku itu sebelum ia masukkan ke dalam tasnya. "Gue urus ini, ntar gue kabarin. Pastiin secepatnya lo serahin berkas perceraian."
"Siap Bro. Thanks sekali lagi."
---
Marsha mengamati lorong sebuah apartemen yang terlihat sepi. Salah satu pintu apartemen terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki dan wanita keluar dari sana. Marsha menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ya, itu adalah pemuda yang tadi menemuinya.
"Gitu dong, keluar. Lama amat di dalem. Bukannya kerja!! Eh, mereka cuma berdua? Azka gak kerja? Azka sendirian dong?" gumam Marsha di tempatnya. Dua orang yang ia amati melewatinya tanpa curiga.
Selepas kepergian mereka, Marsha segera berjalan ke arah pintu apartemen tempat dimana keduanya tadi keluar. "Hemm.. Azka, sekarang kamu tinggal sendiri nih. Mau ditemenin?" Marsha berbicara sendiri sambil tertawa meledek, sebelum mengetuk pintu itu tiga kali. Tidak berselang lama, pintu terbuka. Menampilkan wajah bingung Azka karena mendapati Marsha di depan apartemennya.
"Halo Azka, selamat siang." sapa Marsha lembut. Nada suaranya terdengar mengerikan bagi telinga Azka.
"Kamu ngapain ke apartemen saya?" tanya Azka membalas sapaan Marsha.
"Gue mau bertamu ke rumah temen suami gue yang paling peduli sama dia." ucap Marsha diiringi seringai di wajahnya.
"Saya gak terima tamu. Jam berkunjung udah habis." ucap Azka malas. Ia hendak menutup pintunya namun lengan Marsha dengan cepat menahan pintu itu agar tetap terbuka.
"Ah, kamu apa-apaan? udah saya bilang saya gak terima tamu. Apalagi itu kamu!" teriak Azka.
"Gue maksa. Gak terima penolakan. Lagian lo harusnya memuliakan tamu kali Ka. Itu kan yang diajarin agama kita." ucapnya masih menahan dorongan Azka pada pintu itu. Dorongan yang sepertinya semakin melemah karena Azka merasa tubuhnya mulai lemas, lagi.
"Tamu kayak kamu gak pantes dimuliakan Marsha!" ucapnya membalas.
"Sialan!"
BRAKKK!!
Dan pintu apartemen itu akhirnya terbuka dengan debam keras akibat menghantam dinding. Sementara Azka jatuh terduduk tidak jauh dari sana.
__ADS_1
"Aw! Ssssh!" ringis Azka menahan sakit di bagian bawah perutnya. Tangannya mencengkeram perut bagian bawahnya dengan kuat. Namun hal itu luput dari perhatian Marsha, Atau memang dia tidak terlalu peduli.
"Gue bisa bikin lo lebih sakit dari ini Ka." Marsha masuk ke apartemen itu, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Ia berjalan melewati Azka yang masih meringis kesakitan.