
Jangan menyeret orang lain ke dalam masalah ini hanya karena prasangka yang kamu buat sendiri. Kita selesaikan saja ini dengan cara yang semestinya.
-Ragil-
Selepas Saga pergi, Azka pergi ke kamar untuk bersiap setelah menyelesaikan sarapannya. Ya, meskipun Azka adalah seseorang yang jarang sarapan, namun semenjak menikah dengan Saga, kebiasaan lelaki itu sedikit banyak mempengaruhinya. Dirinya jadi lebih sering sarapan dan menjaga jam makannya. Perubahan yang positif bukan?
Sesampainya di kamar, ia membuka lemari pakaiannya. Memilih beberapa kemeja untuk ia gunakan hari ini. Ah ya, semenjak seminar itu, Prof. Ara menyewa sebuah ruangan di salah satu gedung di Jakarta. Hal ini bertujuan agar proyek ini bisa dikerjakan di Jakarta sekaligus mengurus hal-hal yang diperlukan terkait pembuatan instalasi perdana di ibu kota.
Azka memilih sebuah kemeja berwarna tosca terang untuk dipadu padankan dengan rok span berwarna hitam. Ia memilih sepatu berwarna senada dengan bajunya. Ia kini menghadap ke depan cermin di meja riasnya. Meja yang penuh dengan peralatan make upnya itu menjadi spot favoritnya setiap pagi. Dengan perlahan ia menyapukan make up tipis di wajahnya. Sedari dulu Azka memang bukan wanita yang suka bermake up. Bahkan dirinya baru akrab dengan peralatan itu semenjak dirinya bekerja pertama kali sekitar tiga atau empat tahun lalu.
Setelah merasa cukup dengan tampilannya, ia segera bangkit mendekati kasur tempat dimana ia meletakkan ponselnya. Ia mengecek apakah Kara sudah menunggunya di depan apartemen atau belum. Rupanya, pemuda itu mungkin sedikit kesiangan hari ini. Belum ada tanda-tanda balasan dari chat yang dikirim Azka pagi tadi. Untuk itu Azka kembali mengirim pesan pada Kara bahwa dirinya akan memesan taksi online saja.
"Emm, berkas udah. Hape aku.. oh iya, chargernya masih di kamar." gumamnya. Ia berlari ke arah kamar, membuka pintunya dan mengambil charger yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur. Ia kembali ke sofa di ruang tamu, lalu mengecek kembali barang bawaannya. Bersamaan dengan notifikasi taksi online yang dirinya pesan, rasa mual di perutnya tiba-tiba kembali hadir. Rasa pahit dan asam seketika memenuhi mulutnya. Sebelum dirinya sempat mengirim pesan pada sang driver, dirinya sudah berakhir menghadap wastafel dengan seluruh isi perut yang termuntahkan di sana.
"Hueeek!" suara untuk cairan kental berwarna kuning pekat yang terakhir keluar dari tenggorokannya.
Azka merasa tidak enak badan. Tubuhnya mendadak lemas, bahkan tangannya bergetar. Mengingat dirinya belum memberi konfirmasi kepada sang driver, Azka menggeser tubuhnya perlahan menuju sofa. Jalannya tertatih dengan berpegangan ke perabot yang ada di sekitarnya.
Ia raih ponselnya seraya menjatuhkan badannya di atas sofa. Dengan posisi terlentang, ia mengirim pesan untuk membatalkan orderannya. Ia mengatakan pada sang driver untuk tetap menyelesaikan perjalanan, agar dirinya tetap mendapat satu kali trip dari orderan Azka. Setelah mengatakan permohonan maafnya, Ia membiarkan aplikasi berwarna hijau itu menjalankan trip atas pesanannya. Ia berjanji, saat sang driver menyelesaikan orderannya, ia akan memberi tip pada sang driver. Ah, Azka sungguh merasa tidak enak.
Ia baru akan memejamkan matanya saat ketukan di pintu membuatnya kembali bangkit dari duduknya.
"Iya siapa?" Ia lupa jika ruangan itu kedap dan suaranya tidak akan terdengar dari luar.
"Eh, Kar?"
"Lho Teh, kamu kenapa?" Kara yang melihat wajah Azka sedikit tidak baik menjadi khawatir.
"Aku abis muntah, Kar." jawab Azka lemah.
"Yaudah kamu duduk aja Teh, saya panggil Nita buat nemenin di sini ya Teh?" tanya Kara sedikit tergesa,
__ADS_1
"Gak usah Kar. Kalian lanjutin kerjaan aja, itu berkas yang udah aku periksa." tunjuk Azka pada draft di sebelah tasnya. "Gak apa-apa aku titip Kar?" tanya Azka meyakinkan.
"Ya gak apa-apa lah, Teh. Eh, kamu udah makan?" Azka mengangguk,
"Setelah muntah maksudnya," ia memperjelas pertanyaannya.
"Oh, belom." jawab Azka kemudian.
"Mau dibeliin makanan? atau obat mungkin?" Mendapat pertanyaan itu entah kenapa mata Azka seperti berbinar, sederetan nama makanan berputar di kepalanya. Rasa lemas yang tadi ia rasa, sudah sirna begitu saja.
"Aku pengen kentang goreng, sama choki-choki Kar. Emm sama Lontong kari, tapi karinya di pisah aja. Aku takut gak habis kalo sendirian. Emm trus aku juga pengen ketoprak yang di deket kantor itu Kar. Eh, Pak De jualan pisang goreng gak ya.. aku juga masih penasaran sama pisang goreng." Kara melongo takjub dengan semua perkataan Azka. Wanita di depannya ini selalu terkenal dengan porsi makannya yang nyaris mirip kucing. Dan kini ia meminta makanan sebanyak itu? Ia tidak salah dengar kan?
"Teh, kamu gak salah?" Ia mencoba menyadarkan wanita di depannya.
"Eh, aku ngerepotin ya? emm yaudah aku ga jadi pesen deh. Aku nanti pesen sendiri aja." Ada gurat kecewa yang nyata nampak di wajahnya, meski ia menutupinya dengan senyuman.
"Enggak Teh. Saya bawain semuanya. Tunggu sebentar ya, nanti saya bawain ke sini semuanya." Ia segera melesat keluar apartemen Azka, sambil mengingat-ingat apa yang diinginkan wanita itu tadi. Dan daripada ia mencarinya sendiri, ia menelpon Nita untuk membawakan ketoprak dan pisang goreng Pak De yang ada di dekat kantor mereka. Sementara Kara akan mencari kentang goreng, lontong kari, dan choki-choki? Ah, sepertinya Azka benar-benar sudah tidak normal.
---
Lain di sana, lain di sini. Saat Azka tengah menunggu makanan dengan perasaan gembira karena keinginannya akan segera terwujud oleh Kara, Ragil justru tengah naik pitam menghadapi wanita di depannya. Wanita itu menolak untuk dipulangkan. Padahal tiket perjalanan sudah di pesan dan telah digenggam di tangan. Wanita itu bukan hanya terus merajuk, tetapi juga mengancam akan melibatkan Azka dalam masalah mereka, seperti Azka yang telah banyak ikut campur menurutnya.
"Lo maunya apa sih Sha???" Ragil membanting tiket yang di antarkan Juki ke rumahnya pagi ini. Tiket perjalan menuju rumahnya di pulau seberang.
"Gue cuma mau ada di sini Gil. GUE GAK MAU CERAI!!!"
"Apa dasarnya lo nolak gue cerai hah? Dari awal kita emang nikah karena keluarga lo maksa! Dan apa sekarang? Lo masih berhubungan dengan laki-laki lain saat lo bilang ga mau cere dari gue? Bull***t tau gak Sha!"
"Gue sayang sama lo Gil, asal lo mau liat gue lagi kayak dulu, gue janji gak akan selingkuh lagi." Marsha setengah meraung di ruangan itu. Sementara Ragil masih bersedekap tangan di depan dada.
"Saat gue dulu ngejer lo, lo juga gak jauh beda kelakuannya sama sekarang. Dan sampe sekarang pun, lo masih selingkuh dengan orang yang sama. Gue muak sama drama lo Sha." Ragil tak acuh, Ia bisa pastikan dirinya akan telat ke kantor hari ini. Dan ini semua hanya untuk debat kusir yang tidak pernah mendapat jalan tengah. Satu-satunya jalan di depan Ragil adalah perceraian. Hanya itu.
__ADS_1
"Gil, pleaseee" Marsha setengah memohon. Nampaknya dirinya memang selalu setengah-setengah. Setengah meraung, setengah memohon, setengah mencinta, dan setengah memilih. Satu-satunya hal yang ia lakukan dengan totalitas adalah menyelingkuhi Ragil sejak dulu hingga sekarang, atau juga menyalahi orang lain atas kesalahannya.
Ragil memutar bola matanya malas, "Gue taroh tiket ini di sini. Lo boleh siap-siap dari sekarang. Sore nanti, yang gue tau lo udah gak ada di rumah ini. Oke."
"GIL!!!"
"Ah, ya, satu lagi. Jangan bawa-bawa orang lain untuk masalah ini. Kita selesaikan dengan cara yang semestinya." Ragil meninggalkan Marsha, namun kemudian ia berbalik, "Terutama Azka. Ada apa-apa sama dia. Lo akan berhadapan sama gue Sha. Jangan macem-macem."
Dan Ragil tidak pernah menyadari ucapannya yang terakhir justru membangkitkan rasa benci dan dendam Marsha pada Azka.
"Sialaaan!!!!" Marsha membanting barang-barang di meja itu hingga pecah berantakan di lantai. "Apa sih istimewanya dia? Gara-gara dia gue diusir dari sini!! Ya Tuhan, Marsha!! lo gak boleh diem aja." Nah, ia mulai menarik kesimpulan seenaknya. Kembali menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia perbuat.
Marsha pun mengambil tasnya di kamar. Ia keluar dari rumah itu tanpa perlu repot membereskan pecahan barang-barang di lantai akibat ulahnya. Lalu ia pergi menuju kediaman Reno. Ia butuh lelaki itu untuk membantunya.
---
Kara sampai di parkiran apartemen Azka bersama Nita. Mereka bertemu setelah membeli semua pesanan Azka. Dengan sebuah plastik di masing-masing tangan mereka, mereka bergegas menuju lift untuk naik ke atas menemui Azka.
"Eh, Nit, Kamu duluan aja ke atas ya. Nanti saya nyusul. Boleh titip?" tanyanya seraya menyorongkan plastik berisi lontong kari dan kentang goreng lengkap dengan choki-choki.
"Oh iya boleh Kar. Aku duluan ya." ucap Nita memasuki lift yang bergeser terbuka. Lift berderak dan mulai bergerak naik.
"Mau apa lagi sih, sampai datang ke apartemen Azka!!" Kara memandang dengan tatapan tajam.
-----‐-------------------------
Maafkan Updatenya jadi nggak teratur. Mood sedang tidak menentu, ini baru nulis aja karena abis di spam stiker pentol.
Selamat membaca, semoga tetep penasaran. Jangan lupa beri cinta, jempol, dan komentarnya. Share cerita ini supaya banyak yang ikut membaca.
Love ya 💕
__ADS_1