
Aku lupa, bahwa masih ada keterasingan dalam hubungan kita. Tapi aku mohon bertahanlah, sampai akhirnya kita merasa asing dengan keterasingan saat ini.
-Azka-
Pagi itu, Azka ke kantor dengan diantar oleh Saga. Masih tersisa sedikit keheningan diantara mereka berdua selepas kejadian kemarin malam. Semalam, keduanya juga makan malam dalam diam. Saga masih enggan membicarakan hal itu, karena tidak ingin membuat Azka tersinggung lagi. Sementara Azka juga enggan untuk banyak berbicara dengan Saga. Ia masih sedikit kecewa, atau justru dirinya malah merasa tak terima. Namun Azka mencoba menetralkan dirinya. Ia masih akan mencoba mengatakan kebenarannya, tetapi tidak sekarang. Tidak saat ini, karena Saga pun masih terlihat enggan membahasnya.
"Kalo ada apa-apa, kabarin aku ya."
"Hemm," Azka hanya menggumam kecil menanggapi kalimat Azka.
"Kamu marah sama aku? atau kamu masih-"
"Aku gak mau bahas ini dulu Ay." jawab Azka cepat memotong kalimat Saga.
"Oh, oke. Percaya sama aku, kita bisa usaha lebih keras lagi." Saga mengatakannya saat mobilnya sudah berhenti di depan lobi kantor Azka.
"Aku nanti pulang sendiri, gak perlu di jemput." tak mengindahkan kalimat Saga, setelah mengatakan kalimatnya Azka turun dari mobil.
"Yang?" panggil Saga menghentikan langkah Azka. Saga segera melesat keluar. Menyusul Azka dan berhenti di depan istrinya. "tolong jangan buat aku ngerasa sendiri karena kamu nyuekin aku. Aku gak kuat dicuekin terlalu lama sama kamu. Nanti siang aku ke sini ya? Kita makan bareng." ucap Saga menyentuh pipi Azka.
"Gausah, aku udah punya janji." balas Azka.
"Janji? Oh yaudah, tapi jangan lupa makan ya. Biar kamu cepet sehat."
"Aku gak sakit."
"Tapi kamu masih mual muntah gitu." sergah Saga cepat.
"Aku gak sakit! aku-"
"Teh? Ga?" Kara yang juga baru sampai menghampiri keduanya.
"Hei, Kar." sapa Saga seraya menjabat tangan rekan istrinya itu.
"Manis banget pagi-pagi dianter suami. Gitu dong.. jadi saya gak perlu jemputin bini orang terus."
"Kara!" sementara Azka merengut, Saga justru tersenyum menanggapi ucapan Kara.
"Iya, sorry-sorry nyusahin kamu terus." ucap Saga menepuk pelan bahu Kara.
"Hahaha, santai Ga. Becanda aja saya." Kara terkekeh.
__ADS_1
"Ayo kita masuk Kar." ucap Azka , lalu dirinya beralih pada Saga "Keburu telat kamu nanti." Namun sebelum Azka beranjak, Saga menarik lengan Azka hingga mereka menjadi berhadapan.
"Iya, aku berangkat dulu ya." dikecupnya kening Azka, cukup lama hingga deheman dari Kara menyadarkan Saga. Ia terkekeh lalu berpamitan lagi.
"Deuh, romantis amat!" ucap Kara saat keduanya memasuki gedung kantor yang masih cukup lengang.
"Apasih Kar. Cepet nikah deh kamu, biar gak sendiri mulu."
"Santai lah, saya masih seneng begini. Kalo-kalo kamu masih belum kuat kalo harus pisah sama saya." ucap Kara terkekeh.
"Dih, PD kamu!"
Saya saja yang masih belum menemukan orang lain.
---
"Udah lama, Gil?"
"Belum. Gue baru sampe kok." sahut Ragil saat Azka sudah berada di hadapannya.
"Mau ngomongin apa sih? penting banget ya?"
"Berkas perceraian gue udah dikirim ke pengadilan."
"Marsha dimana sekarang? Kata kamu, kamu usir dia? kenapa harus di usir sih Gil?" Azka kini sudah memunculkan ekspresi sedih di wajahnya.
"Gue udah gak bisa tinggal sama dia. Gue capek Ka harus tidur di kantor." ucap Ragil tak acuh. Bahkan ekspresi sedih Azka luput dari perhatiannya.
"Lo tau gak Ka? dia bahkan ambil tabungan gue cuma buat hidup dia yang ga jelas di sini. Mending dia pulang kan? Jangan-jangan tabungan gue abis buat dia enak-enak sama si Reno." ucap Ragil ketus.
"Tapi kan kamu harusnya bisa anterin dia pul-"
"Gue gak sudi Ka." potong Ragil cepat.
"Maaf."
"Lo gak salah. ngapain minta maaf." ucap Ragil lagi.
"Eh, udah ah. Gue kesini, ketemu lo bukan mau ngomong itu. Gue mau bilang makasih." Kalimatnya terjeda, Azka menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Makasih karena lo bener-bener ada buat gue saat gue butuh. Bahkan lo hampir aja nyelakain diri lo cuma karena lo mau bantuin gue ngelengkapin berkas cerai gue." Ragil tersenyum.
"Thanks Ka." dan Azka tersentak dari lamunannya saat tangannya digenggam erat oleh Ragil.
__ADS_1
"Sama-sama Gil. Semoga kamu bahagia." ia balas genggaman tangan itu. Mengalirkan harapan tertulusnya untuk kehidupan Ragil kedepan.
Ia benar-benar berharap bahwa Ragil akan bahagia, sebagaimana dirinya yang saat ini bahagia. Itu satu-satunya cara yang ia punya, agar tidak ada lagi tanda tanya dalam hidupnya tentang Ragil. Agar ia bisa segera lepas dari perasaannya selama ini. Mengikhlaskan, meski mungkin ia tidak bisa menghilangkan. Membiasakan, karena ia tahu bahwa mencoba merenggut perasaan itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan.
Keinginan dirinya untuk membuat bahagia Ragil, nyatanya mampu membuatnya lupa. Bahwa dirinya dan Saga belum sebahagia yang orang lain pikirkan. Masih ada rasa asing dalam diri Azka yang belum tersembuhkan dengan total. Masih ada Saga, yang terus mencoba percaya pada apa yang selama ini diyakininya. Bahwa Azka akan segera bisa melupakan kenangan cinta pertamanya, lalu menumbuhkan cinta yang nyata di pernikahan mereka. Azka lupa, bahwa tadi pagi saja, ia kembali merasa asing dengan perhatian Saga. Ia lupa, bahwa kemarin, hanya karena beberapa kalimat yang Saga lontarkan ia merasa begitu tak terima.
"Lo kapan rencana pulang ke rumah Ka?" tanya Ragil saat tautan tangan mereka terlepas.
"Inginnya secepatnya. Tapi belum ada jadwal sih bisa kapannya." ucap Azka tersenyum.
"Oiya, kita sampe belum pesen makan. Sorry Ka, gue kebanyakan ngomong. Lo mau mesen apa?" tanya Ragil segera melambaikan tangan pada pelayan di dekat mereka.
"Aku, apa aja deh."
"Kok gitu?" tanya Ragil setelah dirinya menyebutkan pesanan pada pelayan.
"Bingung."
"Samain sama pesenan gue aja?" mendengar kalimat itu, Azka jadi sedikit tertarik. Entah mengapa, ia jadi ingin memakan menu itu. Entah karena bawaan kehamilannya, atau mungkin karena ia sudah terlalu malas berpikir hendak makan apa.
"Iya, boleh samain aja." dan setelah kepergian pelayan itu, mereka melanjutkan obrolan mereka.
---
"Semesta selalu ngedukung apa rencana gue." ia kemudian membisikkan sesuatu pada seseorang di sampingnya. lalu dengan anggukan kepala, orang suruhannya segera melesat mendekati meja dua orang yang sedang mengobrol asik di sana.
Ia mengarahkan kameranya, menunggu semua adegan yang pas untuk membuat sebuah pernikahan hancur seperti apa yang dialaminya.
"Aw, duh. Hati-hati mas kalo jalan." wanita yang ditabrak oleh orang suruhannya itu jatuh terduduk. Saat dirinya baru saja kembali ke kursinya, ia ditabrak dengan sengaja oleh orang suruhan itu.
"Maaf mbak," ucap si penabrak hendak membantu.
"Ayo bangun Ka, gue bantu." ucap laki-laki di meja itu mengambil alih. "Lain kali hati-hati kalo jalan. Kalo dia kenapa-kenapa gimana? mau tanggung jawab gak?" ucap laki-laki itu lagi, seraya membantu wanita itu bangkit dari jatuhnya. Satu tangannya melingkar di sepanjang bahunya, sementara satu tangan lagi ia gunakan untuk memegang tangan wanita itu.
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
__ADS_1
"Maaf ya mas, mbak. Permisi." terdengar suara orang suruhannya berpamitan dan segera menghilang dari sana.
"Hem, untuk bukti ini.. Apa masih bisa buat suami lo percaya? Lo dan pernikahan lo bakal hancur, sama seperti gue." dan dengan beberapa hasil jepretannya, ia akan memulai kembali pembalasan dendamnya.