
Sayangnya aku memang melakukan itu. Dan aku harap apa yang kamu lakukan bukan karena kamu ingin tahu, tapi karena memang kamu peduli.
-Ragil-
Pernahkah kamu merasa sakit saat orang yang kamu cintai sedang tersakiti? Mungkin itu yang bisa mewakili apa yang Azka rasakan saat mendengar cerita Ragil. Air mata yang tidak diundang pun justru datang berduyun-duyun. Memberi jejak cinta pada sepanjang pipi tanpa diminta. Azka, tidak memungkiri bahwa dirinya, jauh di dalam dirinya, masih menyayangi pemuda di hadapannya itu. Namun sebuah status bernama pernikahan menahannya untuk mengekspresikan lebih apa yang Ia rasa.
Ragil memalingkan wajah, tidak berniat memandangi wajah cantik yang sudah bersimbah air mata di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang salah dari ceritanya sehingga membuat Azka menangis. Ia merasa bersalah, sekaligus merasa tersentuh. Azka berempati padanya. Tapi apa itu yang Ia butuhkan saat ini?
"Ka, jangan nangis. Ini kisah Gue. Bukan Lo yang ngalamin. Jangan terlalu mendalami" Ucapan Ragil membuat Azka menghapus air matanya kasar. Azka menghadapkan dirinya pada Ragil.
"Gil, bener kamu memang pernah melakukan it—"
"Iya Ka. Sorry"
Ya Tuhan, kenapa Ragil justru meminta maaf padanya? Azka tidak habis pikir. Mengetahui kenyataan yang tidak pernah terbersit dalam pikirannya itu membuat dirinya merasa sesak. Ada sebilah sembilu tengah menyabit hatinya. Ia sakit hati. Ya, Ia sakit hati mengetahui bahwa Ragil, cinta pertamanya, orang yang selalu Ia jaga citranya di hatinya, telah melakukan hal itu pada perempuan lain. Azka menolak percaya. Terus saja Ia menolak logikanya yang terus mengatakan bahwa Ragil bren***k.
Ragil pasti di jebak
Ragil gak mungkin ngelakuin itu
Ragil cowok baik-baik
Ragil gak sebren***k itu
Bagai sebuah mantra Ia mengulang-ulang kalimat itu di kepalanya. Mencoba setenang mungkin untuk kembali menghadapi Ragil yang duduk di hadapannya.
"Maaf. Aku gak tau kenapa aku ngerasa sakit hati ngedenger itu. Tapi.." Azka menelan salivanya yang terasa kelat. "Kamu udah pisah tujuh tahun Gil. Kalaupun dia saat ini 'isi', itu bukan kamu. Kamu ga bisa nerima pernikahan itu gitu aja kan?" Azka mencoba mencari pembenaran yang dianggapnya masuk akal.
"Iya, emang bener. Tapi yang dia bawa bukan itu. Marsha cuma mau minta tanggung jawab karena Dia 'merasa' dilecehkan sama Gue Ka" Ragil sudah menunduk, mengambil sebatang rokok dari sakunya. Mata Azka membola, melihat batang bernikotin itu tersampir dengan cantik diantara jari tengah dan telunjuk Ragil.
"Gil" panggil Azka saat pemuda itu hendak menyatukan api pada ujung batang bernikotin itu. Ragil menoleh, "Sejak kapan kamu ngerokok?"
"Ck, Gue butuh ketenangan Ka. Gue stres" Ia melanjutkan aktivitasnya. Membuat ujung batang bernikotin itu terbakar dan mengepulkan asap ke sekitar wajahnya.
"Tapi dengan ngerokok kan masalah ini gak selesai Gil"
"Hmm, Gue tau. Sorry" Lagi, Ragil lagi-lagi mengucapkan kata maaf untuk Azka. Seolah-olah Azka adalah orang yang paling tersakiti akan kelakuannya. Dan mungkin memang Ia sedikit merasa begitu.
"Kamu berenti ngerokok ya?" pinta Azka lemah
"Emang mau berenti ngerokok kok. Gue rasa ini malah nambah ngerusak badan Gue"
"Bagus. Aku seneng kalo kamu mau berenti"
"Hmm" Ragil berdehem, menjatuhkan rokoknya ke tanah lalu menginjaknya untuk mematikan bara. "Kalo Lo belum nikah Gue bawa kabur Lo Ka"
"Eh?"
__ADS_1
"Iya, Gue nikahin! Biar Gue gausah nikah sama Marsha" Jawab Ragil asal. Ia meminum minuman di hadapannya. Azka terdiam. Salah tidak sih jika Ia merasa senang dengan kalimat Ragil itu? Jauh dalam hatinya Ia bersorak, andai Ia belum bertemu Saga, Maka Azka akan menyetujui rencana itu dengan segera. Gila! Kenapa mikirin itu sih. Azka mengetuk kepalanya untuk menghilangkan pikiran tadi.
"Kenapa? Lo mikirin itu ya? Gue becanda Ka" Ragil terkekeh.
Azka berdehem, menetralkan kembali hati dan pikirannya. "Enggak dih" kilah Azka terlambat, karena Ragil sudah jauh lebih tertarik dengan pikirannya.
"Kapan nikahnya?" Azka tersedak dengan pertanyaannya sendiri, "Maksud aku, kapan kamu bakal nikah sama Marsha?" Azka bertanya dengan terbata.
"Tiga hari lagi. Ibu bakal pulang besok. Gue juga. Trus kita bakal nikah di sana." Pikiran Azka yang sudah kacau lebih fokus pada kata 'kita' pada kalimat Ragil. Hh, andai memang Kita yang akan menikah Gil.
"Temen-temen di undang?" tanya Azka
"Enggak. Gue gak ngundang siapa-siapa. Gue malu. Nikah karena kasus kayak gini. Cuma keluarga inti yang bakal dateng Ka. Keluarga besar Gue Juga gak akan dateng"
Azka mengangguk mengerti, belum Ia lanjutkan kalimatnya, Ragil sudah lebih dulu mengambil alih.
"Gue gak nyangka hidup gue kayak gini. Gue—gue gak rela nikah sama dia Ka"
"Aku juga gak rela kamu menikah tapi gak bahagia Gil"
Ragil tersenyum mendengar kalimat Azka, "Gue cuma sebentar kok nikahnya. Ibu cuma nganter Gue akad nikah dan setelahnya akan jadi urusan Gue"
"Gue mau cerai Ka" lanjutnya yang membuat Azka terkejut seketika.
"Ap-Apa?" tanya Azka cepat.
"Duda? Duren dong?" Azka mencoba mencairkan suasana.
"Iya, jadi Duda keren Gue Ka. Kalo ntar Lo janda trus gue belum nikah lagi, Lo mau gak sama Gue?"
"Hah???"
Drrrt
Drrrt
Getar ponsel Azka menginterupsi percakapan mereka. Azka melihat ponselnya. Layarnya menyala, dengan satu nama tertera di layarnya. Saga. Azka ijin mengangkat telepon dari Saga dan beranjak setelah mendapat persetujuan dari Ragil.
"Halo" jawabnya setelah dirinya sudah sedikit menjauh dari tempat Ragil.
"Ayang dimana?"
"Aku masih di rumah sakit Ay. Jenguk Ibu temen aku itu. Sebentar lagi pulang"
"Oh udah makan?"
"Udah Ay"
__ADS_1
"Yaudah, aku cuma mau bilang aku pulang telat ya. Makan malem duluan aja takut aku kemaleman"
"Oh iya Ay. Hati-hati" Sambungan telepon terputus. Azka kembali ke tempatnya semula.
"Udah mau pulang Ka?" tanya Ragil memalingkan wajahnya dari benda persegi di tangannya.
"Eh, emm—Iya. Tapi mau pamit sama Ibu dulu"
"Yaudah ayo kita ke ruangan"
Mereka berdua berjalan beriringan, saling diam karena bingung harus memulai percakapan. Mereka terlarut dalam pikirannya, entah tentang dunia yang kadang tidak adil. Entah juga jika mereka memikirkan hal lainnya.
"Ka, Sorry Gue udah harus cerita semuanya ke Lo" ucap Ragil menghentikan langkahnya di depan pintu ruang rawat Nuri.
"Gak apa-apa Gil. Aku seneng kamu bisa terbuka sama aku"
"Gue harap apa yang Lo lakuin bukan cuma karena Lo pengen tau, tapi karena emang Lo peduli" ucap Ragil menatap Azka lekat. Azka tersenyum, ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk seulas lengkung di wajahnya. Ragil balas tersenyum. Ada perasaan hangat yang menyelimutinya kala Ia memandang senyum yang dulu sempat Ia puja. Meski hanya sebentar karena sebuah keterlambatan.
"Aku selalu peduli sama kamu. Bahkan kalo boleh, Aku pengen selalu bisa ada buat kamu saat kamu butuh" Azka rupanya sudah terbawa suasana, terbawa perasaannya yang muncul mengintip dari balik hatinya.
"Kalo Lo bisa, Gue juga mau Ka" satu kalimat yang membuat hati Azka menghangat. Mereka pun masuk ke ruang rawat Nuri karena sudah tidak ada lagi yang ingin di sampaikan.
"Bu, Azka mau pulang" ucap Ragil lirih di dekat telinga Nuri. Nuri yang memang belum lelap tertidur akhirnya membuka mata. Menolehkan kepalanya ke sisi kanan ranjang. Azka berdiri di sana, dengan seulas senyum yang sangat menenangkan.
"Maaf jadi ngebangunin Tante, Azka mau pamit pulang dulu" ucap Azka lembut.
"Makasih ya Ka. Makasih masih mau nemenin Ragil"
"Selalu Tante, Azka pamit ya. Assalamu'alaikum"
"Bu, Ragil anter Azka dulu" Nuri mengangguk, melepas kepergian Ragil dan Azka.
---
Azka termenung di tempatnya. Ia merasa tidak bisa berhenti sampai di sana. Ia ingin lebih dari ini. Ia sudah terbawa oleh rasa ibanya. Mungkin juga karena Azka masih menyimpan cinta dalam hatinya. Azka mengakui itu, ia belum benar-benar sembuh dari perasaannya. Ia masih terikat kuat dengan perasaannya terhadap Ragil. Baginya, ini akan selesai setelah melihat pemuda itu juga bahagia. Sebagaimana dirinya yang telah dilepaskan agar memperoleh bahagia bersama Saga. Azka bersumpah, Ia tidak rela jika Ragil harus berakhir menderita karena pernikahannya. Azka ingin Ragil bahagia, sebagai penebusan dirinya yang tidak bisa berada di sisi pemuda itu selamanya. Tapi apa Saga akan baik-baik saja jika Azka melakukan ini semua?
"Gue harap apa yang Lo lakuin bukan cuma karena Lo pengen tau, tapi karena emang Lo peduli"
"Aku selalu peduli sama kamu. Bahkan kalo boleh, Aku pengen selalu bisa ada buat kamu saat kamu butuh"
"Kalo Lo bisa, Gue juga mau Ka"
Penggalan percakapan itu terus berputar di kepalanya. Ya, Ragil menginginkan Azka ada bersama dirinya untuk melewati masalah ini, sebesar apa yang juga diinginkan oleh Azka. Dengan kata lain, mereka saling menginginkan.
Ya Tuhan, Azka merasa berdosa dengan semua ini.
Azka teringat sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya, mendial deretan nomor yang Ia kenali sebagai nomor kontak Ocha. Sambungan telepon terhubung, berdering berkali-kali sampai akhirnya sapaan 'Halo' terdengar di seberang sambungan.
__ADS_1
"Sialan kamu Cha! Sumpah, aku ngerasa gak bisa berhenti!"