
Saat tidak ada ikatan apapun, kenapa harus terbatas dalam berteman?
-Azka-
Sudah dua hari sejak kepergian Saga ke Bangkok. Azka menghabiskan waktu jeda antar kelas sendiri di dalam ruang baca di gedung fakultasnya. Ia menenggelamkan kepalanya pada tumpukan buku yang sudah lama masuk dalam daftar baca nya. Sudah sekitar satu jam ruangan itu menjadi rumahnya. Ruang baca begitu sepi, hanya ada dirinya dan dua orang lain disana. Berkali-kali penjaga ruangan keluar masuk tetapi tak mendapati tambahan manusia yang duduk di sana. Ketiganya tampak serius menyelam dalam baris-baris kalimat yang ada di setiap halaman. Penjaga pun memutuskan untuk membiarkan ketiganya selagi Ia pergi ke ruang makan untuk istirahat. Baru saja Ia hendak menutup pintu setelah mengatakan kepada tiga orang yang ada di dalamnya bahwa Ia akan pergi sebentar, Ia mendapati seorang laki-laki berdiri di belakangnya. Ia kaget sampai hampir sesak. Laki-laki yang ada di hadapannya hanya nyengir dengan tatapan konyol.
"Bu, saya mau masuk boleh?" tanyanya
"Boleh" jawab ibu penjaga ruangan dan mempersilahkan laki-laki itu untuk menulis daftar pengunjung. Setelah laki-laki itu selesai, Ibu penjaga ruangan kembali melangkah keluar, menutup pintu sedikit lebih pelan dan bergegas pergi menuju ruang makan.
.
.
Azka sedang membaca buku "Ide besar: Crick, Wattson, dan DNA" saat sebuah buku berdebam pelan di samping meja bacanya. Azka berjengit terkejut karena sejak tadi tidak ada suara apapun selain suara gesekan lembar-lembar buku yang terbuka. Ia segera menengok ke arah suara yang secara tiba-tiba menariknya dari dalamnya bacaan yang ada di hadapannya. Wajah jenaka yang tidak asing.
"Sssh, apa kamu gak ada kerjaan Kara?" tanya Azka sinis ketika mendapati bocah itu ada di sebelahnya.
"Ini kerjaan saya Teh" ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan buku dihadapannya. Azka hanya memutar bola matanya jengah, lalu meneruskan kegiatan bacanya yang sempat terjeda.
"Serius amat sih Teh" kembali Kara mengusik kegiatan Azka.
"Aku lagi baca Kara" ucap Azka tanpa mengangkat kepala nya.
"Jadi, bagaimana kejadiannya? Sudah jadi bertemu dengan orang tuanya?" pertanyaan itu sontak membuat Azka menoleh ke arah si pengganggu.
"Oh Kara, haruskah kita membahas itu sekarang? Di tempat baca?" tanya Azka sedikit berbisik. Ia tak mau mengganggu kedua orang yang juga sedang serius menyelam diantara buku-buku mereka.
"Kalau begitu ayo kita keluar" ajak Kara menutup buku di hadapannya, bersiap bangkit dari duduknya.
"Eh?? Belum selesai ini" Ucap Azka menahan lengan laki-laki itu agar kembali duduk. Kara mendengus kesal lalu kembali pada posisinya.
__ADS_1
"Nanti lagi aja teh, laper nih.. Makan yuk" Ajaknya sedikit memelas. Azka yang melihat itu langsung terkikik geli. Akhirnya Ia mengangguk, membereskan buku-buku yang tadi Ia pinjam dan barang-barangnya yang berserakan.
"Aku taro buku-buku ini dulu ya di rak" ucapnya seraya berdiri diikuti oleh Kara.
Azka meletakkan buku-buku itu di tempatnya semula, sedangkan Kara mengikutinya dari belakang. Ia memperhatikan gerak gerik Azka dalam senyum yang tipis. Setelah empat buku yang tadi dipinjam oleh Azka kembali ke tempatnya masing-masing, Azka dan Kara keluar dari ruangan. Azka menutup ruangan itu dengan sangat perlahan sampai nyaris tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Jadi kamu cuma ketemu Ibunya?" Azka mengangguk sambil menyesap minuman yang tadi Ia pesan. "Kalo begitu kenapa harus setegang itu kemarin?" Ledek Kara dari balik semangkok soto yang asapnya terlihat mengepul.
"Kali pertama harus dibawa bertemu orang tua oleh laki-laki. Gimana gak tegang?"
"Benarkah kali pertama? Saya gak percaya!" ledek Kara lagi sambil tertawa.
"Emm, ya gak pertama sih, hahaha" Azka ikut tertawa, Ia mengingat bagaimana dirinya bisa sangat mengenal keluarga Rasya sampai ke nenek nya sekalipun.
"Lalu, gimana kamu dengan dia sekarang? Sudah ada kemajuan?" tanya Kara penasaran
"Emm, ya begitulah. Dia lagi di Bangkok sekarang"
"Benarkah?"
"Jadi untuk beberapa minggu ini kamu bebas?" tanya Kara nyeleneh
"Hahaha, memangnya kenapa?" tanya Azka tertawa
"Ya, itu berarti saya punya kamu sebagai teman untuk beberapa minggu ke depan" Jawabnya cuek
"Hei, ada dia pun kamu bisa berteman denganku Kara" ucap Azka tersenyum.
"Ya, tapi dia pasti gak akan begitu senang" jawabnya lesu
"Kami gak selalu bersama setiap hari. Dia orang sibuk kalo kamu tau" ucap Azka mengedikkan bahunya. "Lagipula aku bukan siapa-siapa dia, dia juga bukan siapa-siapa aku saat ini. Jadi, kenapa kita harus terbatas dalam berteman ya kan?" lanjut Azka sambil melihat ke arah Kara yang ikut tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Aku sangat senang bisa punya teman di saat seperti ini" ucapnya menerawang. "Kamu tau teh? Aku sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir, disaat teman-temanku sudah tidak banyak disini. Ya, Itu sedikit sulit" curhatnya.
"Aku mengerti, jadi Ayo kita berteman" Azka berseru senang
"Yeeeh" Kara ikut berseru. Keduanya tampak seperti bocah yang senang akibat mendapat hadiah permen saja.
Azka dan Kara dengan cepat menghabiskan makanan dan minuman yang mereka pesan masing-masing. Tapi tidak secepat itu mereka beranjak dari kursi mereka. Mereka larut dalam obrolan kecil yang membuat mereka sesekali tertawa. Kara begitu banyak menceritakan kegiatannya sehari-hari. Meskipun terdengar biasa, tapi gaya Kara yang santai, nyeleneh, dan kocak membuat cerita itu begitu menarik untuk diikuti. Azka senang sekali bisa berteman dengan Kara, begitu juga dengan Kara.
---
Setelah pertemuannya dengan Kara siang itu, Azka selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Entah itu di kantin, di perpustakaan, di ruang baca, atau di ruang kelasnya setelah sesi asistensi selesai. Kara selalu terlihat antusias setiap akan bertemu Azka. Pertemuannya dengan Azka membawa perubahan besar. Ia jadi lebih semangat menyelesaikan tugas akhir. Bahkan Ia hampir setiap hari selalu melaporkan progres menulisnya kepada Azka. Azka ikut senang dengan kemajuan Kara, setidaknya bukan hanya dirinya yang mendapat keuntungan dari pertemanan ini.
"Ah, aku kesal sekali hari ini" ucap Kara suatu hari, saat Ia menghampiri Azka di ruang laboratorium. Hari itu, Azka menemani Pak Ara untuk melakukan praktikum di salah satu laboratorium di departemen mereka. Setelah selesai, Azka yang masih akan menunggu jadwal asistensi berikutnya mempersilahkan Kara untuk menemuinya disana.
"Apa yang buat kamu begitu kesal sampai mukamu kusut begitu Kar?" tanya Azka sambil bolak balik membereskan peralatan yang akan Ia gunakan di sesi berikutnya.
"Saya harus mengulang penelitian! Mmm, bukan mengulang, tetapi mengambil data tambahan. Saya sudah mengikuti apa yang beliau inginkan, tapi diakhir-akhir seperti ini, malah disuruh mengambil data tambahan sebagai pendukung" Ucap kara kesal sambil menggurai rambutnya asal. Rambut yang sudah sedikit panjang itu menjadi acak-acakan.
"Yah, mau bagaimana lagi? Ambillah data itu, nanti aku bantu mengolahnya. Gimana?" ucap Azka menawarkan bantuan.
"Hahaha, memangnya teteh ngerti penelitian saya? Hah, gak usah Teh, cukup temani aja, itu udah cukup. Saya cuma masih bingung harus mengambil data itu kapan. Padahal target saya minggu depan sudah bisa mendaftar ujian." Ia menunduk, menenggelamkan kepalanya dibalik tumpukan kedua tangannya. Azka sedikit tersinggung, Ia kan sudah lebih dulu menyelesaikan S1 nya. Tapi Azka hanya tersenyum geli karena kelakuan Kara yang uring-uringan di depannya.
"Minggu depan itu masih tujuh hari lagi. Masih banyak waktu. Ayo semangat!" teriak Azka yang sudah duduk disebalah Kara.
"Huffft" Kara mendengus malas.
"Ayolah, data seperti apa yang diinginkan dosenmu? Ayo aku bantu" Azka masih mencoba membangkitkan semangat bocah di sebelahnya. Selama ini, Kara yang selalu berbuat demikian, maka hari ini sepertinya Azka harus membalas semua itu.
Kara mengambil berkas skripsinya dari dalam tas, membuka lembar-lembar penuh catatan itu di atas meja. Ia menunjuk dan menjelaskan apa saja yang diinginkan dosennya. Azka mengerutkan dahinya, memberengut, menautkan alisnya bingung, atau sesekali mengangguk mendengar penjelasa Kara. Meskipun Ia tidak menguasai bidang penelitian yang dikerjakan oleh Kara, tetapi beberapa yang dijelaskan oleh Kara cukup bisa Ia mengerti.
Waktu berjalan begitu cepat, jadwal asistensi berikutnya sudah akan dimulai. Azka menyesal harus mengatakan itu saat Kara masih semangat melakukan diskusi-diskusi kecil mereka. Tapi bukan Kara namanya, jika Ia harus memberengut atau merajuk. Hahaha, dia kan laki-laki! Rasanya tidak mungkin laki-laki melakukan hal-hal semacam itu. Seperti perempuan saja. Kara akhirnya membereskan barang-barangnya, lalu kemudian undur diri sambil melambaikan tangan. Wajah jenaka itu menghilang di balik pintu belakang ruangan bersamaan dengan datangnya gerombolan mahasiswa yang siap melakukan praktikum. Setelah hampir seluruhnya masuk, baru Ia melihat Pak Ara yang juga masuk melengkapi kegiatan praktikum hari itu.
__ADS_1
"Azka, kemari lah" Pak Ara memanggil Azka untuk maju kedepan membantunya menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan kepada para mahasiswa.
"Baik Pak" Azka mengangguk, dan berjalan ke depan ruangan setelah merapihkan jaslabyang baru saja Ia kenakan.