RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #16


__ADS_3

Aku cuma minta kamu gak pernah pergi apapun yang terjadi.


-Azka-


Setelah menghubungi Saga, Azka pulang bersama Kara. Saga masih di kantor, dan akan sangat lama jika Azka harus menunggunya. Maka Saga meminta Azka pulang lebih dulu bersama Kara. Ia akan menyusul ke apartemen.


Di jalan, Kara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya beredar di sepanjang jalan, mencari keberadaan tukang pisang goreng seperti yang diinginkan Azka tadi.


"Teh, gak ada nih pisang gorengnya." ucapnya melirik ke arah wanita di sebelahnya yang juga ikut memperhatikan jalanan.


"Yaah, yaudah deh. Gak apa-apa Kar." ucapnya melas,


"Padahal aku pengen banget." tambahnya.


Kara mengernyit, Azka tengah merajuk di sampingnya. Benarkah ini Azka yang ia kenal? Haha, lihat wajahnya. Kenapa dia bisa semurung itu hanya karena pisang goreng sih?


"Nanti kita cari lagi. Besok deh, saya bawain ya? atau telpon Saga, biar dia beliin sepulangnya nanti." usul Kara,


"Tapi aku maunya sekarang Kar." Azka kembali merajuk, tapi kemudian ia terlihat berusaha biasa saja. "yaudah kita pulang aja sekarang." ucapnya lemah. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Menikmati bangunan-bangunan yang bergerak menjauh darinya.


Sesampainya di depan apartemen, Azka segera melepas seatbelt dan berpamitan keluar. Sementara Kara masih diam di mobilnya memperhatikan. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel dan menekan beberapa nomor lalu dirinya telpon.


"Halo."


"Cek pemesan kamar nomor 376 dan 380 di the Crown."


"Oke. Ada lagi?"


"Itu dulu."


Sambungan terputus. Dari kejauhan Kara melihat mobil Saga memasuki area apartemen, masuk terus menuju tempat parkiran. Ia menghela napasnya perlahan. "Lo kesibukan kerja deh Ga. Istri lo gak diperhatiin. dicomot orang baru tahu rasa Lo!" gumam Kara di dalam mobilnya. Setelah itu, Ia menghidupkan mesin mobilnya. Mesin itu menderu halus, kemudian melaju kembali membelah jalanan ibu kota.


---


"Santai aja Sha. Dia gak akan berani ngapa-ngapain." ucap pemuda itu santai. Ia kepulkan tinggi-tinggi asap dari sebatang rokok yang terjepit di jarinya.


"Santai gimana. Gue yakin itu Azka. dan dia ngambil foto kita Re." Marsha kesal. "dia pasti hubungin Ragil. Lo tau kan, Ragil ngebet banget cerein gue?" Ia beralih ke jendela besar yang tirainya terbuka. Memperhatikan titik-titik kecil lampu dari gedung-gedung dan kendaraan.


"Ya cere aja. Lo bisa sama gue. dari dulu juga gue bilang, lo gak perlu ngejer-ngejer Ragil sampe segitunya. Dia gak akan suka." timpal Reno.


"Tapi gue cuma mau dia yang jadi suami gue." Marsha menoleh,


"Lo terlalu berambisi." ucap Reno lagi.


"Gue cinta, Re!" teriak Marsha.

__ADS_1


"Lo cinta? yakin? cinta sama Ragil tapi bercintanya dari dulu sama Gue." Reno berdecih.


"Karena kita sama-sama butuh." sergah Marsha cepat.


"Serah lo deh." Reno tak mengacuhkan Marsha.


"Re, lo punya kenalan di sini kan?"


"Punya. Kenapa?"


"Gue butuh sesuatu. Gue harus mastiin kalo itu adalah Azka."


"Kalo bener?" tanya Reno malas. "Lo drama banget hidupnya. Biarin aja sih,"


"Kalo bener Azka, gue mau buat perhitungan sama dia. Dia udah ikut campur terlalu jauh." Marsha menggamit lengan Reno, mengajaknya keluar dari kamar.


"Jadi, kesini gak ngapa-ngapain? Bangke!" umpat Reno saat tubuhnya tertarik sempurna dari kamar. Pintu berdebam, dan mereka melenggang.


"Ini Beni, dia operator. Ben, ini Marsha."


"Lo butuh apa?" tanya Beni to the point. Ia masih banyak pekerjaan, hanya karena Reno yang meminta Ia rela menjeda kegiatannya.


"Gue mau lihat cctv di deket kamar kita." ucap Marsha sambil menunjuk dirinya dan Reno.


"Kamar nomor?" Beni membuka pintu ruangan itu, mengisyaratkan kedua orang yang menemuinya itu untuk masuk. Di hadapan mereka banyak layar terpampang, ruangan kontrol cctv. Bisa dilihat bahwa cctv di pasang di berbagai sudut. Memudahkan pegawai hotel mengontrol apa yang terjadi di lobi, lorong kamar, dan halaman. Ini bukan hal aneh mengingat the Crown adalah salah satu hotel berkelas di Jakarta.


"Kamar 376, lantai 3."


Kamar ini lagi? Namun ia tetap menunjukkan hasil rekaman yang ada.


"Sekitar pukul berapa?" tanya Beni lagi.


"Jam enam lebih gitu deh." jawab Marsha mengingat-ingat.


Beni mengatur hingga rekaman di sekitar kamar 376 itu di waktu senja menjelang maghrib. Tidak ada yang aneh. semua berjalan seperti biasanya. Orang-orang berlalu lalang, memutar knop pintu lalu masuk. Ada juga tamu-tamu hotel yang baru keluar dari kamarnya. Entah mau kemana.


"Ini lo berdua?" tanya Beni saat mereka berdua terlihat melenggang di sepanjang lorong kamar-kamar. Kemudian muncul Azka yang nengendap-endap. Di tangannya tergenggam ponsel yang menurut Marsha digunakan untuk memfoto dirinya dan Reno yang berciuman.


"An***! Lo berdua kayak gak ada tempat lain deh ya. Kamp rett!! Mata gue ternoda." ucap Beni lagi. Ia terus mengumpat, sampai akhirnya suara Marsha kembali terdengar.


"Stop disitu." ucap Marsha saat dirinya melihat bayangan seseorang. "pelan-pelan." ucapnya. Beni memutar matanya malas. Dasar wanita tukang suruh! bisiknya.


Tunggu, itu siapa? Marsha meminta rekaman itu diulang. Beni memutar ulang rekaman itu. Terlihat saat Azka tengah jalan berbalik, dari kamar yang berselang dari kamar Marsha dan Reno, Ragil muncul dari balik pintu. Ia kemudian menarik lengan Azka, sampai tubuh keduanya menempel dan masuk ke dalam kamar bersamaan dengan pintu kamar yg tertutup.


"Sialaan!!!" jerit Marsha.

__ADS_1


"Selow Sha." Reno menenangkan.


"Gw udah gak bisa tinggal diem. Ben, Gue minta rekaman tadi." pintanya, lebih dekat ke perintah. Meski Beni kesal, tapi Ia berikan juga salinan rekaman itu.


"Nih.. use it well." ucap Beni menyerahkan sebuah flashdrive.


"Thankyou." ucap Marsha. wajahnya menunjukkan ekspresi puas.


"Nanti gue kirim." ucap Reno menepuk bahu temannya. Maksudnya, Reno akan membayar Beni untuk bantuannya. Ia kemudian menggiring Marsha keluar, setelah mendengar kalimat "Gak usah sungkan Bro!" dari Beni.


---


Suara nada dering di ponsel Azka yang tergeletak di atas meja makan membuatnya bangkit dari sofa. Ia sedang menikmati camilan bersama Saga. Ia sudah bisa mengendalikan emosinya setelah moodnya anjlok karena tidak berhasil mendapatkan pisang goreng bersaos. Saga akhirnya menawarkan untuk membelikan kentang goreng mekdi sebagai ganti pisang goreng. Sehingga dapat dinikmati bersama saos sesuai keinginan Azka. Meski Azka sempat protes dan merengek, tetapi akhirnya istri Saga itu menerima saja ketika kentang datang.


Azka meraih ponsel, melirik layarnya yang menyala menunjukkan tiga pesan dari nomor tidak dikenal.


<081-345-***-***> sebuah foto terkirim.


<081-345-***-***> Gue tunggu besok di plaza XX jam 9.


<081-345-***-***> Atau gue kirim foto ini ke suami dan keluarga lo.


Azka mengklik foto agar terdownload. Ia terkejut melihat kolase foto yang menunjukkan dirinya bersama Ragil di beberapa tempat. Yang paling membuatnya terkejut adalah tangkapan layar cctv di sebuah hotel dengan dirinya yang seolah berpelukan di depan pintu kamar hotel. Azka menutup mulutnya, Ia tahu itu adalah foto saat dirinya mengikuti Marsha dan diselamatkan oleh Ragil. Dan tangkapan gambar itu akan membuat siapa pun akan salah paham jika melihatnya. Azka bingung, namun satu yang ia yakini. Orang ini pasti Marsha. Dan Azka harus menemuinya.


"Ada apa Yang?" tanya Saga yang sudah berdiri tidak jauh dari dirinya. Buru-buru Azka keluar dari laman chat. Lalu menekan tombol power.


"Eh, enggak. Besok aku harus ketemu sama salah satu anggota tim yang baru." jawab Azka gugup.


"Beneran? mau dianterin? kamu keliatan gugup." tanya Saga mendekatkan tubuh Azka dengan tubuhnya.


"Enggak, aku mungkin cuma gugup karena akan ada orang baru." jawab Azka.


"Kamu tenang aja, semangat dong buat kerjaan selanjutnya." Saga mengelus lengan istrinya lembut.


"Aku takut, Ay." Azka memeluk Saga erat. Perubahan emosi yang sangat tiba-tiba, membuat Saga mengernyit,


"Kenapa?"


"Gak apa-apa." jawab Azka.


"Hemm. Mau cerita?" tanya Saga, Azka menggeleng dibalik dadanya.


"Aku cuma minta kamu gak pernah pergi apapun yang terjadi." Azka menenggelamkan kepalanya lebih dalam di dekapan Saga.


"Pasti."

__ADS_1


__ADS_2