
Kamu berharap aku bahagia, tetapi dengan caramu itu kamu justru terus terluka.
-Ragil-
Notifikasi di ponsel Saga, menjeda perhatiannya. Ia tengah membaca laporan pelaksanaan proyek jilid pertama dari asistennya, Dimas. Proyek itu berjalan dengan lancar, tetapi ternyata belum memberikan kesan yang istimewa bagi pihak sponsor. Hal itu sedikit membuat Saga kecewa. Namun ia harus segera bangkit, proyek ini harus ia jalankan. Banyak harapan banyak pihak, terutama para peneliti, dosen, dan akademisi.
Dengan emosi ia raih ponselnya. Siapa yang mengganggunya disaat seperti ini? bikin emosi saja. Dan apa yang Saga lihat semakin membuat emosinya tidak terkendali. Darahnya seolah mendidih, amarahnya seolah membutakan. Ia bangkit seraya menggebrak meja kerjanya. Hal itu tentu membuat Dimas yang duduk di luar ruangan itu segera menghambur ke dalam melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
"Kenapa Pak?" tanyanya.
"Batalkan semua agenda hari ini. Saya ada urusan." ucap Saga dingin.
"Bapak baik-baik aja Pak?"
"Tolong kamu handle urusan kantor. Saya harus pergi." Saga menyambar kunci mobilnya, lalu bergegas meninggalkan Dimas dengan tatapan bingung di sana.
"Iya Pak." jawabnya sambil mengerutkan dahinya.
"Pak Saga kenapa sih? ada masalah nih kayaknya." Ia mengedikkan bahu, lalu segera membereskan berkas di atas meja Saga. Ia akan memeriksanya, melanjutkan pekerjaan itu untuk bosnya.
---
"Ga!" panggil seseorang saat Saga hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Kara?" Saga kembali menutup pintu mobilnya. "Kenapa kamu di sini? Azka mana? Kenapa Azka gak sama kamu?"
"Azka gak mau ditemenin saya siang ini."
"Dan dia lagi sama Ragil!!" Saga sudah kehilangan kesabarannya. "Minggir, saya mau kasih pelajaran sama dia." namun Kara mencekal lengannya. Menahannya agar tidak segera pergi dari sana.
"Kar! Dia, gak bisa seenaknya datang dan pergi memanfaatkan perasaan Azka gitu aja. Dan Azka, saya sudah cukup bersabar. Saya harus minta dia memilih dengan tegas. Atau saya yang akan mundur."
"Ga, slow dulu! saya kesini mau kasih kamu bukti kalo Azka gak seperti yang kamu pikirkan. Ga, Azka lagi dalam kondisi gak baik. Dan kamu harus ngerti."
"Ngerti apa lagi? Udah cukup Kar! Kamu gak perlu ngelindungin dia lagi. Saya harus tegas saat ini, sebelum ada anak diantara kami."
Kara menggusar rambutnya kasar. Ia frustasi, haruskah dirinya mengatakan yang sebenarnya? Tapi ia sudah berjanji untuk menyembunyikan ini. "Justru karena itu Ga. Kamu harus hati-hati. Azka.. "
__ADS_1
"Minggir!" Saga mendorong tubuh Kara dengan kasar.
"Ga! urusan Ragil biar jadi urusan saya. Lebih baik kamu pulang, Azka bilang akan pulang lebih awal hari ini." Kara berusaha untuk membuat Saga tenang.
"Ga, saya mohon. Saya janji, Ragil gak akan ganggu Azka lagi setelah ini. Kamu tunggu Azka di rumah. Ada yang mau dia omongin sama kamu. Tentang kondisinya saat ini." Saga menoleh,
"Kamu tahu sesuatu?" ia menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
"Ya, tapi Azka mau mengatakan itu semua langsung ke kamu. Untuk itu, tolong.. Azka butuh kamu sekarang."
Saga mengernyit, haruskah ia menunggu Azka di rumah? Ya, mungkin Azka sudah tidak ada di restoran itu juga saat ia datang. Jadi mungkin akan sia-sia jika dirinya kesana. Ia akan meminta penjelasan Azka di rumah. Itu lebih baik.
"Saya akan pulang sekarang. Thanks Kar." ucap Saga seraya memasuki mobilnya.
"Saga!" Kara mengetuk kaca mobil di hadapannya, sesaat kemudian Saga membuka kaca itu. "Lihat ini, kamu akan tahu semuanya." Kara meletakkan sebuah flashdrive ke atas kursi melalui kaca yang terbuka.
---
"Gue balik ya Ka."
"Hemm, hati-hati."
"Aku naik taxi aja. Aku mau langsung pulang." jawab Azka.
"Gue.. nungguin lo deh, sampe taxinya dateng."
"Kamu gak kerja?"
"Gak apa-apa, ijin sebentar." ucap Ragil nyengir.
"Gak usah Gil, aku gak apa-apa kok nunggu sendiri. Bentar lagi juga dateng taxinya."
"Yaudah, bentar lagi kan? gue tungguin aja kalo gitu."
"Ih kamu tuh." Azka tersenyum.
"Itung-itung ucapan terima kasih gue Ka."
__ADS_1
"Apaan sih, dari tadi kamu tuh terus-terusan bilang makasih. Padahal aku gak ngapa-ngapain." Azka terkekeh.
"Hehehe, eh itu bukan taxi onlinenya?" ucap Ragil mengalihkan pembicaraan. Azka menoleh kearah mobil berwarna biru yang berjalan semakin mendekat ke arah mereka. Azka mengecek aplikasi, menyamakan nomor polisi yang tertera di aplikasi dengan mobil yang ditunjuk oleh Ragil.
"Oh iya bener. Sekarang kamu boleh tinggalin aku. taxinya udah dateng tuh."
"Ngusir?" tanya Ragil jahil.
"Ih, kan kamu mau kerja." Azka memutar bola matanya cepat.
"Oke deh.. Gue kesana ya Ka, tadi parkir mobil di sana soalnya." Ragil berpamitan, Azka menunggu sebentar hingga mobil yang ia tunggu berhenti di depannya.
"Mas Agin ya?"
"Iya Mbak, dengan Mbak Azka?" tanya sang supir.
"Iya Mas, sebentar ya." Azka mengalihkan pandangannya pada Ragil yang hendak menyeberang jalan. Dari ekor mata Azka, ia bisa melihat, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dengan cepat Azka berlari ke arah Ragil, dan menarik lengan Ragil tepat sesaat Ragil hendak menyeberang.
"RAGIL!!" jeritnya.
Ragil tersentak oleh tarikan Azka di lengannya. Ia terhempas sedikit ke tepi. Dan betapa terkejutnya Ragil. Ia menoleh tepat ketika mobil yang datang dengan kecepatan tinggi itu menabrak Azka dari sisi kanannya.
"AZKA!!!!" Ragil sontak berteriak. Ia terkejut melihat tubuh Azka terhempas beberapa meter dari tempatnya bersamaan dengan decitan rem mobil si pelaku. Jeritan orang-orang di sekitarnya bergaung di telinga.
Tubuh Azka terkulai, kepalanya terbentur kuat hingga mengalami luka yang parah. Beberapa bagian tubuhnya lecet. Dan yang membuat Ragil shock adalah adanya darah yang mengalir di kepala dan sepanjang kaki Azka.
Suara mobil yang bergerak menjauh membuat Ragil menyipitkan matanya. Pelaku pergi, dan ia tidak tahu siapa pelakunya. Ia berlari mendekat, mendekap tubuh Azka dalam pangkuannya.
"Ka, bangun Ka. Ka, plis, bangun!!!" Ragil menggerakkan tubuh Azka, menepuk-nepuk pipinya, tetapi hal itu tidak membuat perubahan apa-apa.
"Ka, plis jangan gini Ka. Azka!!!" Ragil terus menepuk-nepuk pipi Azka, sembari terus menggoyangkan tubuh Azka dalam pelukannya. Ia berharap, Azka bisa meresponnya. Dalam kekalutan, Ragil mengecek tanda-tanda vital di tubuh Azka. Napasnya masih terasa, detak jantungnya masih teraba. Namun Azka tetap bergerak. Ia tak sadarkan diri.
Kara mendekat saat ia melihat tubuh Azka terkulai tak berdaya. "Bawa ke rumah sakit sekarang!" teriak Kara. Ia datang dengan penuh peluh di wajahnya, terlihat sekali dirinya panik melihat kondisi Azka. Darah bercucuran dimana-mana. Dan kenyataan bahwa Azka tengah hamil membuat kara semakin kalut.
Ragil yang terdiam seketika tersadar oleh ucapan Kara. Ia harus segera membawa Azka ke rumah sakit. Ia kemudian bergegas membawa Azka ke mobilnya dengan diikuti Kara.
"Tolong, bawa ke rumah sakit secepatnya. Azka butuh penanganan." ucap Ragil tercekat, ia menyerahkan kunci mobilnya dengan tangan bergetar bersimbah darah.
__ADS_1
Kara menerimanya dalam diam. Kara duduk di belakang kemudi setelah membuka pintu mobil Ragil, sementara Ragil masih setia memangku Azka dan duduk di kursi belakang. Kara segera mengemudikan mobil itu. Tangannya bergetar, pandangannya kabur oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Bagaimana bisa Azka mengalami ini? Kenapa harus Azka???