
Beri ruang dan sedikit waktu untuk kisah kita. Karena nyatanya tembok itu belum bisa diruntuhkan hanya dengan sebuah perhatian.
-Azka-
Azka dan Saga sudah tiga tahun saling kenal. Kedekatan keduanya semakin tak terpisahkan sejak mereka sama-sama menjadi tim asisten dosen di fakultas yang sama. Seperti hari-hari sebelumnya, di kampus yang sama Saga dan Azka kembali duduk bersama. Mereka saling menceritakan aktivitas mereka hari itu. Sesekali juga saling berdiskusi terkait paper yang akan diajukan dalam sebuah seminar.
Saga mendongak saat pelayan meminta ijin untuk mengambil piring-piring yang sudah terlihat kosong di atas meja. Saga mengangguk mempersilahkan pelayan untuk mengambil piring-piring tersebut. Azka terlihat sedang memperhatikan lembar kerja di laptop dengan sangat serius. Ia tak menghiraukan kehadiran pelayan itu.
"Jadi gimana menurut kakak paper saya?" tanya Saga saat melihat Azka sudah menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menghela nafas lelah.
"Kamu gak perlu minta pendapat sama aku kayaknya Ga. Kamu udah lebih jago masalah ini daripada aku" ucap Azka merendah
"Tapi kan kita harus lihat perspektif lain. Jangan sampai terlalu pede dengan apa yang kita buat" Saga ikut bersandar di kursinya.
"Menurut aku udah bagus, hanya mungkin kamu perlu menambahkan lebih detil pelaksanaan penelitian ini. Ada sedikit detil yang kurang jelas. Menurut Prof. Ara, itu akan memudahkan pembaca nantinya ketika mereka mau melakukan penelitian yang sama" Azka menutup laptopnya, "Akan lebih banyak yang akan mensitasi nantinya kalo penelitian nya mudah diikuti dan dijadikan rujukan" tambah Azka.
"Oke, nanti saya perbaiki. Kak, kamu mau kan dijadikan penulis kedua di paper saya?"
"Hemmh, terlalu berlebihan kalau penulis kedua. Masukin tim penelitianmu dulu Ga, Aku bisa di akhir" jawab Azka menawar usulan Saga.
"Okedeh" jawabnya, Ia melirik ponsel Azka yang bergetar "Kak, hapenya bunyi" Ia menunjuk dengan ekor matanya. Azka segera melihat ponsel yang sedari tadi tak Ia lirik sama sekali. Ia mengecek beberapa pesan masuk di email dan wa. Sudut matanya tertarik pada sebuah notifikasi Instagram di pojok layar ponselnya.
Ka, ini undangan pernikahan aku. Kamu dateng ya. Meskipun semua sudah selesai, tapi kita pernah dekat. Aku tunggu, deket kok di Bandung. :)
Sebuah pesan yang dikirim melalui pesan singkat itu membuat Azka menggigit bibir bawahnya. Ya, Azka sangat dekat dengan Irine, sepupu Rasya. Kabar pernikahannya ini seharusnya menjadi kabar bahagia, tetapi justru membawa rundung bimbang dalam hati Azka.
Haruskah aku datang? Gimana kalo kak Rasya ada disana? Pasti akan sangat canggung. Azka.
Lalu ide yang dianggap Azka briliant muncul begitu saja di kepalanya.
"Ga, akhir pekan ini ada agenda?" tanya nya setelah meletakkan ponsel kembali ke tasnya.
"Em'em" Saga menggeleng.
"Temenin ke nikahan temen yuk" Saga terlihat berpikir, lalu tersenyum jail.
"Gak ada pasangan ya? Hahahaha" Saga tak bisa menahan tawa saat wajah Azka seketika berubah cemberut. "Tapi ada syarat"
__ADS_1
"Hn?" Azka menanti syarat yang akan diajukan oleh Saga.
"Temenin saya pulang dulu ke rumah" tantangnya.
"Hah? Gak deh. Aku dateng sendiri aja. Kamu biasa ya bawa-bawa perempuan ke rumah kamu?" tanya Azka
"Justru gak pernah. Makanya mau bawa kamu kak. Gimana?"
"Trus itu maksudnya gimana bawa aku kerumah kamu?"
"Ya dikenalin, saya tuh serius loh kak"
"Gak ah, nanti dikira orang tua kamu kita ada apa-apa" tolak Azka.
"Memang gak ada apa-apa ya? Hahaha. Padahal saya udah punya cita-cita untuk menua bersama"
"Apasih Ga, gak lucu ah" Azka menggeleng sambil tersenyum tertahan.
"Saya memang gak ngelucu loh Kak" sangkalnya, "Saya kan bukan pelawak" tambahnya lagi.
"Enggak ah, aku takut. Aku gak mau dibawa ke rumah orang tua kamu. Aku takut mereka berharap lebih, tapi aku gabisa memenuhi imajinasi mereka" Azka sudah menumbuhkan kembali sebuah tembok besar antara dirinya dengan Saga.
"Ga, aku gak dalam keadaan mau mencoba-coba"
"Kenapa? Masih ada luka masa lalu yang belum sembuh? Tentang membangun hubungan? Atau tentang membuka hati untuk orang lain?"
"Saga," Azka merasa tersudut dengan kalimat Saga. " Maaf- Aku gak bisa, setidaknya untuk saat ini" ucap Azka merasa sudah tidak bisa menahan emosi yang mulai muncul di dalam dada nya.
"Oke-oke"
"Kamu gak perlu nemenin aku Ga, Aku bisa sendiri" ucap Azka lalu berpamitan untuk pergi.
"Kak!"
---
Azka merasa dirinya sudah kelewatan. Saga baik, Ia tulus dan tidak pernah menuntut apapun. Kenapa Azka harus marah? Dalam hatinya, Ia hanya merasa bahwa dirinya sedang dipaksa lepas dari apa yang menjadi bagian hidupnya selama ini. Ya, perasaannya pada Ragil memang sudah semendalam itu. Azka sudah terlalu terbiasa dengan perasaannya. Jujur, Ia sudah tidak lagi berharap banyak bahwa perasaannya, cintanya, hubungannya akan berhasil. Tetapi untuk melepaskan perasaan itu begitu saja, Azka masih merasa belum siap. Biarlah Ia dengan perasaannya. Soal cinta, Azka merasa cinta memang sudah menjadi hal yang berbeda. Ketika Ocha memintanya untuk membuka hati kembali seperti yang Ia lakukan bersama Rasya dulu, bayangan kegagalan itu seolah menatapnya dengan jelas.
__ADS_1
"Hei! Kita ketemu lagi Teh!" teriak Kara yang sudah berada di sampingnya. Entah bocah itu datang dari mana.
"Hei Kara. Kita ketemu lagi" ucap Azka menyadarkan dirinya dari lamunan yang memenuhi pikirannya.
"Lagi ngelamun ya Teh?" tanya Kara penasaran. Ia mengambil tempat di samping Azka.
"Haha, ketahuan ya?" Azka terkekeh
"Hah, tumben langsung ngaku" jawab Kara. "Lagi ngelamun apa sih? Cerita dong cerita" ucapnya meminta penjelasan.
Azka berpikir, haruskah Ia menceritakan pada Kara? Ia memang butuh teman cerita saat ini. Ia membutuhkan teman cerita yang akan bersikap natural dan tidak menuntut. Ia butuh seseorang yang hanya akan mendengarkannya.
"Emmm"
"Ya kalo gabisa diceritain gak apa-apa teh. Santai, tapi jangan gitu mulu wajahnya. Senyum dong" pinta Kara dengan gaya santainya.
"Emm—Kar, aku ingin bertanya sesuatu boleh?" Azka ingin memulainya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
"Boleh dong" ucapnya bersemangat
"Kamu pernah menyimpan perasaan begitu lama?" tanya Azka
"Em'em, saya orangnya terbuka. Kalo suka bilang suka. Kalo gak suka bilang gak suka. Simple" jawabnya masih dengan gaya santainya. "Wah, Teteh lagi galau ya?" tanya nya penuh selidik.
Azka kemudian mengedikkan bahunya. Ia mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Ia mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan Saga. Ia mengajukan beberapa konfirmasi bahwa yang Ia lakukan adalah benar, juga mengeluhkan beberapa hal yang memang selama ini mengganjal hatinya. Cerita itu begitu mengalir, seperti dugaan Azka, Kara tak banyak menginterupsi. Ia pendengar yang baik. Ia memberikan jawaban-jawaban yang santai tapi sangat mendalam bagi Azka.
"Jadi menurut kamu aku keterlaluan?" tanya Azka akhirnya
"Emm, ya sedikit keterlaluan. Teh, gak banyak laki-laki yang dateng langsung mau serius. Kebanyakan minta pacaran, bertahun-tahun, lalu kemudian putus dan menghilang. Tapi teteh malah menolak? Hanya karena teteh merasa belum siap menghapus perasaan teteh di masalalu?" Kara tertawa sebentar, lalu berdehem mengambil udara untuk memulai ceramahnya. "Teh, teteh bilang pernah ngomong ini sama dia? Trus apa jawabannya? Dia bilang dia mau bantu teteh memulai dan bersiap untuk nemenin teteh? Oh, laki-laki ini pasti istimewa. Teteh terlalu jahat kalo masih nolak padahal dia sudah bersedia untuk menerima teteh apa adanya dengan segala perasaan yang masih ada di hati teteh" Ia menghela nafas panjang lalu menegakkan tubuhnya.
"Tapi saya yakin, dia sekarang gak lagi marah kok sama teteh. Malah mungkin dia yang sedang merasa bersalah karena dia seolah memaksa teteh. Hahaha. Padahal teteh yang terlalu memaksa diri sendiri terlalu kuat" Kara terkekeh.
Azka termenung. Apa yang dikatakan Kara semua benar. Dia terlalu jahat dengan membentengi diri dengan tembok besar dari seseorang seperti Saga. Harusnya, Azka bisa mendapat kekuatan lebih untuk menghadapi perasaannya ini. Atau bahkan menghilangkannya suatu hari nanti? Azka harus meminta maaf pada Saga.
"Teh? Teteh?" Panggil Kara sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Azka.
"Eh, i-iya, hemm.. Kara, aku sangat berterimakasih. Terimakasih sudah mau mendengar" ucap Azka sungguh-sungguh.
__ADS_1
"No problem! tapi boleh dong teteh traktir saya. Eskrim?" Kara meminta imbalan. Oh ya ampun, dia benar-benar seorang bocah!
"Oke, tapi aku harus ke kelas sekarang, dosenku pasti sudah menunggu asistennya. Lain kali akan aku traktir ya?" Azka menuliskan nomor ponselnya pada secarik kertas. Ia menutup pulpen dan merobek kertas berisi nomor kontaknya. "Kirim nomor kamu ke aku, oke." Ucap Azka lalu berpamitan. Ia segera menuju ruang Lab tempat Pak Ara akan memberikan kelas praktikum hari itu.