
Ini bukan harapan yang aku inginkan. Tapi jika Tuhan yang meminta, aku yakin kamu akan lebih bahagia dalam penjagaannya.
-Ragil-
"Kamu.. apa kamu lebih bahagia sekarang, Gil?" Ragil menoleh.
"Kalo kamu sudah lebih bahagia setelah lepas dari istri kamu. Saya mohon, kamu harus benar-benar bahagia untuk membalas semua ini." Saga bangkit, terlihat sekali gurat frustasi di wajahnya. Ya, saat ini yang diinginkan Saga hanyalah Azka bangun dari komanya. Apapun yang diinginkan istrinya itu, Saga tidak akan ragu mengabulkannya. Meski itu berarti ia harus melepaskannya. Atau jika itu berarti ia harus terus berteman dengan perasaan Azka yang semakin rusak. Saga hanya merasa itu yang bisa ia lakukan.
Saga bukan Kara, yang mencintai Azka dengan merelakannya. Bukan juga Ragil, yang selalu mendapat seluruh atensi Azka selama belasan tahun. Ia hanya ingin menjadi dirinya seperti janjinya dulu pada Azka, menjadi suami yang menerimanya, yang akan selalu menemaninya meski dengan segala ketidaksempurnaan yang dimilikinya. Ia akan selalu berada di pihak Azka, meski itu artinya ia harus membagi ruang hati Azka dengan orang lain. Bahkan ia mau membantu Azka memastikan kebahagiaan Ragil, jika bahagia Azka adalah dengan melihat laki-laki itu bahagia. Apapun, ia akan melakukannya.
Saga berjalan menjauh dari ranjang. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa di sudut ruangan. Kini, giliran Ragil yang menggenggam tangan dingin itu. Ia menunduk dalam, menikmati sensasi dingin yang bercampur dengan hangat antara tangannya dan tangan Azka.
"Ka, lo kapan bangun? lo gak mau liat duda keren?" Ragil terkekeh. "Ka, gue udah cere. Marsha udah balik sama Reno. ck, bener kan kata gue Ka, dia tuh emang cewek gila. Tapi sekarang gue tenang, gue udah bebas. Dan seperti kata lo, gue udah bahagia. Lo tau gak? gue tadi ketemu cewek, pegawai baru di kantor. Cantik Ka, meski gak secantik lo. Gimana kalo gue sama dia aja Ka?" Ragil menghela napasnya. Ia menunduk lagi.
"Ntar kalo gue nikah, lo harus dateng Ka. Kali ini gue gak akan nutup-nutupin semuanya lagi. Seperti yang lo mau Ka, gue akan bahagia. Kisah gue bakal happy ending seperti permintaan lo." satu tetes air mata lolos dari telaganya.
"Ka, gue juga mau minta sesuatu sama lo. Gue mau minta lo berhenti nyakitin diri lo sendiri, berhenti nyakitin Saga, suami lo. Lo inget gak, gue pernah bilang ini? Lo harus berjuang lebih hebat untuk cinta yang akan lo dapet dari suami Lo. Lo inget kan? Saga cinta banget sama lo. Gue akan sangat senang kalo mulai sekarang, lo bisa mencintai dia juga seperti dia mencintai lo."
"Lo tau gak Ka? sekarang pun gue ngerasa bahagia banget, bukan karena gue selama ini selalu dapet cinta dari lo. Tapi karena gue tau, lo selalu dijaga sama orang yang sangat mencintai lo." Ragil menoleh ke arah Saga, laki-laki itu sudah berdiri lagi dari rebahannya.
"Ka, gue udah bahagia. Gak ada lagi alasan buat lo untuk nahan semuanya. Tolong kasih gue ponakan lagi, gue minta maaf untuk calon ponakan yang hilang karena lo harus ketemu gue siang itu. Ka, gue.. udah bener-bener bahagia sekarang."
Saga mendekat, Ia ikut menggenggam tangan Azka yang lain. Ia ikut duduk di sisi lain ranjang yang bersebrangan dengan posisi Ragil.
"Ka, aku sayang banget sama kamu."
"Bukan cuma Saga yang sayang sama lo Ka. Gue juga sayang banget sama lo."
Bersamaan dengan kalimat itu, detik itu juga suara dari monitor di atas ranjang berbunyi dengan nyaring. Bunyinya memanjang memekakkan telinga mereka. Dan tatapan mereka beralih pada layar di mesin itu, keduanya terpaku.
Bagai ditimbun oleh beban yang amat berat, hati keduanya sesak. Mendapati garis naik turun menggelombang di layar itu kini berganti menjadi garis lurus panjang di sepanjang monitor.
__ADS_1
Garis lurus...
Inilah harapan yang mereka dapat setelah menunggu sekian lama. Ternyata, untuk inilah mereka akhirnya melakukan semuanya.
Azka, harus pergi. Meninggalkan keduanya, meninggalkan keluarga mereka, dan memilih menyusul sang jabang bayi yang telah lebih dulu sampai pada langit yang menyapa.
----------------------------------------------------------------------------
Azka: Gil, kamu sebenernya gak ngelakuin hal itu kan?
Ragil: Hal yang mana?
Azka: Itu, yang kamu ceritain waktu itu. Kamu.. gak sebreng sek itu kan sebenernya? Kamu.. gak pernah ngelakuin hal bejad itu kan ke Marsha?
Ragil: Lo maunya jawabannya apa?
Azka: Tolong bilang kalo kamu gak pernah melakukan itu. Tolong bilang, kalo kamu masih sama dengan Ragil yang aku kenal dulu.
Ragil: (terkekeh) Lo maunya gitu?
Ragil: Gue gak sebreng sek yang lo pikirin Ka. Gue masih suci. Gue masih pantes kalo lo mau sama gue. (terkekeh lagi)
Azka: Makasih.
Ragil: Makasih buat?
Azka: Makasih karena kamu gak menjadi orang breng sek. Aku gak kuat kalo citra kamu di sini (nunjuk hati) harus berubah. Aku gak mau kamu berubah jadi orang breng sek, meski itu hanya ada di pikiran aku.
Ragil: Segitu cintanya.. (nyengir)
Azka: Aku sekarang, udah siap untuk sepenuhnya mencintai Saga. Tapi ijinin aku untuk tetep nyimpen cerita, rasa, dan kenangan ini.
__ADS_1
Ragil: (mengangguk, tersenyum seraya mengusak puncak kepala Azka)
Azka: Gil?
Ragil: Ya?
Azka: Maaf karena kisah kita gak pernah berhasil.
Ragil: Gak semua cerita cinta harus berhasil, Ka.
Azka: Kamu harus bahagia ya, janji?
Ragil: as you wish.
Azka: Gil..
Ragil: Ya?
Azka: Aku pamit.
(mengirim sebuah bait)
"Cinta pertama memang tidak selalu menjanjikan untuk berhasil sampai akhir.
Tapi, ijinkanlah aku tetap dalam imajiku.
Bahwa kamu adalah makhluk terindah yang pernah singgah tanpa cela."
Ragil: Kata-katanya mantap Ka. Makasih selalu menganggap gue baik.
Azka: Gil,
__ADS_1
Ragil: Ya?
Azka: Sampe ketemu lagi, My first love