
Apa namanya ini jika bukan cinta. Ia tersembunyi, tapi aksinya nyata.
-Azka-
"Gil, Gue liat Marsha di the Crown. Kalo Lo mau dapet bukti lebih banyak. Lo bisa pergok dia sama Reno di sana."
Ragil mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tidak habis pikir bahwa Marsha benar-benar akan melakukan hal ini. Dugaannya benar, bahwa Marsha menetap di Jakarta hanya karena ada Reno. Orang yang dulu juga menjadi selingkuhan Marsha saat mereka masih pacaran.
"Cih, bahkan sampe sekarang orangnya masih sama. Kenapa juga Gue yang disuruh nikahin! emang kambing!" Ragil memukul kemudi di hadapannya dengan kuat. Ia tengah berada di perjalanan setelah mendapat info dari temannya tadi. Setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Ia kembali mengemudikan mobilnya ke hotel yang disebut oleh temannya tadi.
Jalanan sudah mulai padat, karena jam makan siang sudah menjelang. Mungkin bagi Arif, temannya, Ia terlalu cepat mengambil keputusan menuju kesana se siang ini. Marsha mungkin hanya akan terlihat makan siang dengan Reno. Mereka tidak akan melakukan apa-apa hingga menjelang sore. Namun melihat jalanan yang padat merayap seperti ini, sepertinya Ragil hanya akan membuat dirinya sendiri menunggu sebentar saja. Dengan keyakinan yang menggebu, dirinya sudah tidak sabar untuk memergoki sang istri bersama selingkuhannya itu. Hahaha, lucu sekali.
Setelah berkutat dengan kemacetan jalanan selama kurang lebih dua jam tiga puluh menit, Ia memarkirkan mobilnya di basement. Lalu mulai menuju ke lobi di lantai utama. Arif sudah menunggunya di sana.
"Hai Gil." sapa Arif dari ujung ruangan. Ia melangkah dengan cepat menuju Ragil yang baru saja keluar dari lift.
"Gimana? dimana cewek itu?" Ragil sepertinya sudah tidak sabar.
"Istri Lo?" jawab arif dengan nada meledek. Mungkin itu lebih seperti pertanyaan.
"Najis!" sembur Ragil pada teman satu kantornya itu.
"Selow dong Bro. eh Baidewei Lo kesini naik apaan?" tanya Arif menggiring Ragil ke sofa tempatnya duduk semula.
"Gue baru pulang patroli tadi. Trus Lo ngabarin, pas sama mobil kantor baru dateng dibawa Juki. Gw bawa aja."
"Gila emang Lo!" Arif terkekeh.
"Biarin lah, yang penting Gue dapet bukti baru supaya sidang cerai Gue bisa cepet beres."
"Lo tuh belum sebulan nikah padahal," Arif menjeda kalimatnya. "Tapi udah begini aja." Arif terkekeh, sementara Ragil menunjukkan ekspresi jijik.
"Kalo Gue bisa cerai cepet aja, Gue cerein tuh cewek setelah Ijab kabul. kagak sudi Gue!"
__ADS_1
"Hahaha, Gue ngerti Gil. Makanya Gue siap bantuin Lo."
"Thanks Bro." Ragil menepuk bahu temannya itu.
"Eh iya, Lo pake ini. Di sini lagi ada pameran sama seminar besar-besaran. Supaya kita bisa terlihat membaur aja."
"Dapet dari mana?" Ragil menunjuk name tag bertuliskan nama orang lain dengan jabatan panitia di atasnya.
"Temen Gue yang ngadain ini. Pameran utamanya nampilin hasil riset terbaru dari salah satu universitas di Bandung." Ragil ber ooh ria menanggapi.
"Sekarang, Lo santai dulu aja di sini. tutupin wajah Lo sementara. Gue tadi liat Marsha di resto, takutnya Lo ketahuan ada di sini juga." ucap Arif lagi, "Gue mau mantau dulu." ucapnya. Ragil mengangguk.
Ia melepas nametag panitia itu dan meletakkannya di atas kursi di sebelahnya. Ia masih berseragam. Akan sangat mencolok jika Ia masih mengenakan seragam itu untuk melakukan aksinya. Ragil mengirim pesan untuk Arif, mengatakan dirinya akan kembali ke mobil untuk mengganti bajunya.
Ragil menyelipkan nametag itu di sakunya. Kemudian bergegas menuju pintu lift. Ia akan mengenakan pakaian yang memang terbiasa Ia siapkan di tasnya. Ia masuk ke dalam lift saat pintu lift bergeser terbuka. Ia masuk, menekan tombol di sisi pintu dan pintu pun bergeser tertutup kembali. Tubuhnya menghilang dibalik pintu lift, bersamaan dengan lewatnya seseorang yang mungkin akan Ia bahayakan di masa depan.
---
Azka mengajak Kara dan Nita untuk duduk di restoran hotel. Rasa penasaran terhadap seseorang yang Ia lihat beberapa saat lalu membuatnya tertarik untuk memastikan. Ia kemudian mengambil tempat yang tidak jauh dari tempat seseorang itu tengah duduk bersama seorang laki-laki.
"Kenapa?" tanya Kara setelah Azka kembali.
"Gak kenapa-kenapa." ucap Azka, dirinya masih sedikit shock mendapati sebuah kenyataan yang membuat dirinya muak.
"Serius? Kamu kayak ngeliat setan tau Ka." ucap Nita di sebelahnya.
"Emang setan kali tuh," jawab Azka asal.
"Hah?" kedua orang itu terkejut seketika.
"Kenapa sih? becanda kali. Gak mungkin aku liat setan siang bolong gini." Azka terkekeh. Kara masih intens memandangi wajah itu. Ada yang Azka sembunyikan. Ia pasti telah melihat seseorang yang tidak seharusnya. Azka ngeliat siapa? Saga? Ragil? Kara mengedarkan pandangan ke segala arah, tetapi Ia tidak mendapati siapa pun.
"Kamu muntah lagi Ka?" pertanyaan dari Nita membuat Azka membulatkan matanya.
__ADS_1
"Hah? eh, Engg.. Enggak kok."
"Emang kamu masih mual Teh?" Kara menyambar. Pasalnya Ia tahu saat makan siang tiga hari lalu itu Azka juga mengalami mual dan muntah hebat.
"Udah enggak kok Kar." ucap Azka canggung.
"Jangan-jangan kamu hamil Ka. Waah kita mau punya ponakan Kar!" ucap Nita heboh.
"Apa?" ucap Azka dan Kara bersamaan. Azka dan Kara justru terlihat terkejut dengan ucapan Nita barusan.
"Hamil?" Kara bertanya seolah tidak percaya.
"Iya. Hamil. Kan Azka udah nikah, bisa jadi dong. Udah setahun lagi nikahnya." cerocos Nita dengan senyum jahil yang tersungging.
"Sok tau ah kamu. Enggak kok. Aku baru dapet." kilah Azka, namun dalam hati, Ia jadi berhitung sendiri. Kapan sih tepatnya Ia terakhir kali haid?
Namun pikirannya itu kembali teralih saat di seberang ruangan itu, Ia melihat adegan ciuman dari dua orang yang salah satunya Ia kenali. Sialan!
Azka mengepalkan tangannya kuat. Ia benar-benar muak melihat adegan itu di depan matanya. Betapa menjijikkannya wanita itu. Azka geram, rasanya Ia ingin sekali menarik wanita itu dan menamparnya. Jika saja dirinya tidak harus buru-buru menyiapkan presentasinya untuk sore ini.
"Teh, ayo kita balik ke ruangan." ajak Kara membuyarkan pikirannya tentang wanita ular di seberang sana.
"Hei, Ayo!" ajak Kara lagi menarik ujung lengannya agar ikut berdiri. Kara dan Nita yang sudah berdiri menunggu dalam diam.
"Eh, ayo. Maaf aku ngelamun." ucap Azka kikuk.
Mereka berjalan ke arah pintu keluar restoran, bertepatan dengan dua orang tadi yang juga berlalu dari sana.
"Teh, kalian berdua siap kan buat agenda selepas Ashar ini?" tanya Kara di sela-sela langkah mereka.
"Em,em. Insya Allah." jawab Azka tidak bersungguh-sungguh.
"Aku tau Azka selalu siap. Semoga aku juga bisa sesiap Azka." ucap Nita riang.
__ADS_1
"Yeaah, semoga." ucap Kara sambil melirik ke arah Azka. Wajah Azka masih terlihat tegang. Semoga Ia hanya merasa canggung menghadapi seminarnya sore nanti.