
Kamu adalah seseorang yang aku tidak ingin kamu menyakiti hatiku, hanya karena Aku terlalu jatuh cinta.
-Azka-
"De, Om Robi rencananya dua minggu lagi mau kesini, sekalian jenguk Mbah" informasi yang mama sampaikan pada Azka saat keduanya sedang masak di dapur membuat Azka menghentikan kegiatannya.
"Oh, mau ke Mbah?" tanya Azka santai.
"Iya, sekalian kesini sekeluarga" ucap Mama menatap anak gadisnya yang masih enggan untuk melepaskan matanya dari sayuran hijau di tangannya.
"Kesini kemana?" tanya Azka pura-pura tidak mengerti.
"Ya kesini, kerumah kita" Mama sudah meletakkan pisau yang tadi digunakannya untuk merajang duo bawang untuk membuat sayur Bayam, "Sama Nak Romi juga"
Azka mematung seketika, nama itu disebut lagi. Cara bicara Mama yang sedikit hati-hati membuat Azka jadi semakin takut. Benarkah Ia akan dinikahkan dengan teman masa kecilnya itu? Bagaimana dengan Ragil? Ah, satu lagi, bagaimana dengan Saga? Mereka berdua belum berbicara lagi setelah kejadian itu. Dan jika nanti Azka akan dilamar oleh Romi, maka sudah tidak akan ada cerita lagi antara mereka. Selesai, sebelum diakhiri dengan baik-baik. Azka bersungut sendiri, belum berniat menjawab ucapan Mama.
"Ma?" panggil Azka setelah lama terdiam,
"Iya?"
"Ade boleh nolak gak sih?" tanya Azka takut-takut
__ADS_1
"Untuk alasan apa?" tanya Mama, Mama menyentuh dagu Azka membawa wajahnya menoleh ke arah Mama, "De, kalo ada laki-laki yang baik agamanya datang untuk meminang dan tidak ada uzur dengan alasan syari, kita ga boleh nolak. Siapa tahu itu jodoh yang dikirim Allah untuk Ade" Azka terpaku dengan ucapan Mama. Ia setuju dengan itu, tapi di sisi hatinya yang lain Ia merasa tidak siap untuk itu. Tidak siap membuat Saga terluka, tidak siap membuat orang lain lagi terluka, tidak siap untuk-- untuk melepas perasaannya pada Ragil. Ah, disaat seperti ini saja Azka masih memikirkan laki-laki itu. Laki-laki yang selalu punya cara untuk memporak-porandakan hatinya. Laki-laki yang meski begitu selalu ingin dijaga oleh Azka perasaannya. Laki-laki yang Azka tidak ingin dia menyakiti hatinya, hanya karena Ia terlalu jatuh cinta.
"Ade belum siap" ucap Azka mencari alasan.
"Itu bukan alasan De, pernikahan itu ga bisa sesimpel itu. Lagipula, Nak Romi masih harus ke Tiongkok katanya, jadi pernikahannya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat" Mama menghela nafas pelan, "De, kalau sampai dua minggu ke depan memang tidak ada yang meminang Ade, kita gak boleh dzalim sama niat baik Om Robi dan keluarga. Ade istikharah dulu aja sekarang"
"Dek, keluarga kita dan keluarga Om Robi itu sudah dekat dari dulu. Kita sudah seperti saudara. Kita tahu betul bagaimana mereka mendidik anak-anaknya. Nak Romi itu, sudahlah baik, sholih, cerdas, dan kita tahu bagaimana lingkungannya. Mama dan Papa tidak ada keraguan untuk masalah itu" Setelah mengatakan itu, Mama mengambil alih sayuran yang sudah selesai disiangi untuk Mama cuci. Selanjutnya, acara memasak itu hanya dilanjutkan oleh Mama dibantu oleh Bude.
Azka? Azka memilih pergi ke kamar untuk menenangkan dirinya.
---
"Aku harus gimana Cha?" Azka mengeluh sambil menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Ocha yang diminta Azka datang ke rumah saat ini sedang berada di kamarnya. Duduk di sisi ranjang ukuran king dengan lengan terlipat di depan dada.
"Mama bener sih Ka" satu kalimat yang muncul dari bibir Ocha sontak membuat Azka bangun,
"Iya, aku juga tau Mama bener" Azka mendengus kesal.
"Bentar dulu Ka. Aku belum selesai ngomong" ucap Ocha lagi, "Kalo- Ini kalo ya, Kalo Saga yang dateng kesini untuk ketemu sama Papa? kamu akan galau begini gak Ka?" Azka tertegun, mencari jawaban di hatinya.
"Emm- Enggak sepertinya. Akan lebih mudah untuk aku berpikir menerima Saga daripada menambah luka untuk orang lain. Setidaknya Saga sudah tau kondisiku dan dia mau menerima itu. Aku ga akan bisa kalo harus jujur sama Romi tentang semua ini. Itu pasti akan membuka lebih lebar luka aku Cha. Lebih parahnya adalah semakin banyak yang tau seberapa cacat hati aku" Ocha tersenyum tipis mendengar jawaban Azka, tapi sesaat kemudian Ia terlihat lebih seperti meringis,
__ADS_1
"Aku jadi bertanya, kemana Ragil?" Ocha segera menutup mulutnya saat Ia sadar apa yang dikatakannya.
Meskipun lirih, Azka mendengar ucapan Ocha. Ia juga jadi berpikir demikian. Kemana Ragil? Setelah diam-diam datang, Ia sekali lagi pergi. Ragil punya kontak Azka, kenapa tidak menghubunginya? Ia mungkin masih bertugas, tapi kenapa Ia bisa berada di Bandung dan tidak sekalian bertemu Azka? Apa ini satu lagi permainannya?
Kenangan saat kelas sepuluh terputar begitu saja. Pada saat itu, Ragil yang baru menikmati masa tenarnya mulai berani beraksi. Tidak sedikit perempuan yang ingin didekatinya. Ragil memilih Dinda, teman semasa SMP yang dulu sempat ditaksirnya. Ia menyatakan perasaannya, namun ditolak begitu saja oleh Dinda. Dinda yang terkenal sangat cantik dengan tubuh semampai itu tidak menerima Ragil, karena Ia sudah lebih dulu tertarik pada teman sekolahnya. Ragil yang merasa terpukul seperti mendapat angin segar saat Rasya justru mengatakan bahwa Azka menyukainya. Ragil berpikir bahwa Azka bisa jadi pelariannya. Setidaknya, Ia tidak akan ditolak oleh perempuan yang memang menyukainya kan? Sayangnya, kabar Ragil ditolak oleh Dinda cepat sekali menyebar ke seantero sekolah, termasuk sampai pada telinga Azka. Begitu juga niat Ragil untuk menyatakan perasaannya kepada Azka yang seperti menjadi rahasia umum, hanya sebagai bentuk pelarian Ragil dari sakitnya ditolak oleh seseorang yang diinginkannya.
Seperti sudah jatuh, tertimpa tangga. Itu adalah perumpamaan yang cukup untuk menggambarkan nasib Ragil. Azka menolak. Bagaimana bisa Ia menerima pernyataan pura-pura yang diucapkan Ragil? Sedangkan saat itu Rasya lebih tulus berada di sampingnya. Azka menekan perasaannya dalam-dalam, tidak mau terbawa emosi dan lebih memilih menggunakan logika. Ia menolak Ragil begitu saja, mencoba menyembunyikan sakit yang juga Ia rasa. Sakit yang lebih perih dari sekedar ditolak perasaannya. Disanalah Azka mulai takut. Takut dengan perasaannya pada Ragil yang sudah tertanam dalam di hatinya. Takut untuk disakiti lagi oleh Ragil. Bagi Azka, siapapun yang menyakiti hatinya, Ia bisa saja bertahan, tapi tidak jika Ragil yang melakukannya. Cukup sekali Azka merasakannya, dan meskipun Ia masih tenggelam dalam kubang cinta pertamanya Ia masih belum siap untuk disakiti lagi. Sungguh, Ia tidak ingin sosok Ragil berubah dimatanya.
"Ka?" Ocha membuyarkan lamunan Azka
"Iya?" Azka terkesiap, buru-buru Ia menoleh dan memasang ekspresi seperti biasa.
"Jadi, apa yang kira-kira akan kamu lakukan?" Ocha melanjutkan pembahasan mereka yang terjeda cukup lama oleh pikiran mereka masing-masing.
"Entahlah Cha. Aku cuma bisa berdoa. Semoga apapun yang terjadi, hatiku kuat. Aku percaya rencana Allah gak akan salah. Aku juga percaya bahwa Mama dan Papa hanya ingin seseorang yang baik untuk aku"
"Kamu menyerah dengan takdir saat ini?" Ocha menjeda kalimatnya, "Maaf Ka, maksud aku, jadi kamu akan mulai melepaskan semuanya untuk mengikuti apa yang Mama Papa mau?"
"Aku gak pernah nyerah Cha. Aku masih berharap" suara Azka terdengar lirih.
"Siapa yang lebih kamu harapkan?" Apapun jawaban Azka, akan selalu dihargai Ocha.
__ADS_1
Azka menghembuskan nafasnya perlahan, berharap apa yang Ia rasakan selama ini adalah petunjuk untuk memilih.
"Saga" Jawaban Azka sungguh membuat Ocha senang.