RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #11


__ADS_3

Aku mulai khawatir, bahwa pertemuan ini adalah kesalahan.


-Ragil-


"Ka!" Panggil Ragil ketika Azka melesat ke arah toilet setelah menghempas tangan Marsha dengan kuat. Gerakan cepat Marsha di sampingnya dengan mudah mencekal pergerakannya. Membuatnya tertahan di tempatnya.


"Mau kemana kamu Gil? urusan kita belum selesai." ucap Marsha bersikap manis. Jika saja tidak ada Nuri di antara mereka, rasanya Ragil sudah akan mengumpat dengan umpatan paling kasar untuk wanita di depannya itu.


"Ibu yang ke sana. Kamu temenin Marsha." ucap Nuri kemudian meninggalkan anak dan anak mantunya. Nuri berjalan bersamaan dengan menghilangnya Kara di balik dinding pemisah ruangan dengan toilet di tempat itu.


"Jadi dia siapa?" Marsha menyeringai, "korban lain Lo?" Marsha sudah kembali kepada dirinya sendiri. Ia sudah tidak tahan bermanis muka di depan Nuri hanya agar dirinya tetap bisa mendapat simpati wanita baya itu.


"Azka gak kayak Lo!" tuding Ragil mulai kehilangan kesabaran. Ia tidak percaya bahwa yang menjadi istrinya saat ini adalah wanita licik di depannya. Dan apa katanya tadi? korban lain? ucapan Marsha benar-benar tidak berdasar. Ia mengatakan itu seolah dirinya adalah korban, sementara Ragil ditempatkan sebagai penjahat di sana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Dirinya lah yang menjadi korban dari kelicikan wanita itu. Dan hei! Ragil tidak pernah berbuat apapun setelah dirinya melakukan hal itu pada Marsha. Ia bukan penjahat wanita seperti yang dikatakan Marsha. Sekalipun Ragil akan menjadi penjahat di dunia ini, Azka bukanlah target yang akan Ia jadikan sebagai korban.


"Ck, masa?" Marsha berdecih, "Mau Gue buat dia jadi kayak Gue? jadi istri yang ditinggal suami karena suaminya gak cinta lag-"


"Lo kalo udah rusak, rusak aja sendiri!!!" ada kemarahan yang tertahan rasa khawatir di sana. "Kalo Lo berani bawa-bawa Azka dalam masalah kita, Lo bakal dapet akibatnya," Ia tahu betul bagaimana liciknya Marsha. Dan saat ini, Ragil tidak bisa memungkiri ada perasaan khawatir yang menyelimutinya. Sepertinya pertemuan antara Azka dan Marsha akan menjadi sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya setelah kesalahannya menikahi wanita seperti Marsha.


"Hahaha. Apa Gue nangkep rasa khawatir ya di sini?" Marsha berdecih. "Apa karena dia, Lo sampe gak bisa nerima Gue lagi?" Marsha mulai berhalusinasi.


"Gak usah nyari kambing hitam. Lo lupa kayaknya. Sesuatu yang udah Gue buang gak akan pernah Gue ambil lagi. Termasuk Lo!" rahangnya mengetat saat Ragil selesai mengeluarkan kalimatnya.


"Tapi sayangnya, Lo sekarang suami Gue!" ada nada merendahkan yang tertangkap oleh Ragil. Namun ia memilih untuk tidak melanjutkan pertengkaran mereka di sana. Ia terlalu muak mendengar sebutan suami dari seseorang yang sudah menempati posisi paling atas di puncak kebenciannya itu.


"Kita selesaikan semuanya di rumah. Jangan di sini." Ragil sudah tidak fokus, memilih menjauh dari wanita yang sudah membawa pengaruh buruk dalam hidupnya itu menjadi pilihannya saat ini.


"Ck, Gue gak pernah tau ada perempuan lain selain Gue Gil," seringai tipis itu muncul di wajah cantik Marsha.

__ADS_1


---


"Azka gak apa-apa?" tanya Nuri sambil memijat tengkuk Azka. Mereka berdiri di depan wastafel di toilet yang terlihat sepi. Azka mencuci mulutnya setelah semua isi perutnya berhasil keluar dengan terpaksa. Seketika tubuhnya terasa lemas. Sepertinya karena tidak ada yang tersisa di dalam tubuhnya akibat mual muntah yang Ia alami.


"Gak apa-apa Tante. Azka lagi gak enak badan aja dari semalem." ucapnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu. "Kayaknya Azka kecapean sama masuk angin." tambahnya.


"Pake ini di perutnya, biar hangat." Nuri menyodorkan sebuah minyak kayu putih pada Azka. Azka menerimanya seraya tersenyum.


"Makasih Tante." ucap Azka membuka tutupnya dan menyapukan cairan yang menghangati kulit perutnya itu melalui celah kemejanya. Azka keluar dari bilik itu lebih dulu dari Nuri.


"Kamu gak apa-apa Teh?" Kara menyambar cepat saat tubuh Azka melewati pintu toilet dan menutupnya. Di sebelahnya berdiri Ragil dengan tatapan tidak terbaca, antara khawatir dan geli dengan tingkah pemuda di sebelahnya.


"Aku gak apa-apa Kar. Kita pulang aja ya." ajak Azka tanpa menoleh ke arah Ragil yang tengah memperhatikannya.


"Lo beneran gak apa-apa Ka?" kali ini Ragil bersuara.


"Ka! sorry. Harusnya Lo gausah ketemu dia." ucap Ragil menghentikan langkah Azka dan Kara yang sudah dua langkah menjauh.


"Gak apa-apa Gil. Aku mual bukan karena ketemu istri kamu. Hehe, Aku emang lagi gak enak badan." ucap Azka menyunggingkan senyumnya. Ada-ada saja Ragil itu, pikirnya. Mana mungkin tubuh Azka merespon sebegitu hebat hanya karena bertemu dengan Marsha yang adalah istri dari Ragil. Eh, tapi memang mual itu datang ketika mereka bertemu. Aduh, bagaimana ini? Azka sibuk dengan pikirannya.


"Lo hati-hati ya. Istirahat yang cukup." ucap Ragil seraya maju ke depan mempersempit jarak diantara mereka. "Jangan sakit." tambahnya.


"Iya. Makasih ya Gil. Aku pulang dulu."


"Gue titip Azka ya Kar," ucap Ragil menepuk bahu Kara pelan, dan anggukan samar dari Kara menjadi jawaban yang mengakhiri pertemuan mereka.


"Lho, kamu ngapain di sini? Marsha mana?" Nuri yang baru keluar dari toilet bingung mendapati anak bujangnya berdiri di depan toilet wanita.

__ADS_1


"Gatau. Udah, bawa dia ke rumah. kita bahas di rumah aja Bu." ucap Ragil acuh. Ia kemudian meninggalkan Ibundanya di sana.


---


"Marsha tinggal di sini sama kamu. Ibu gak mau nanti beredar kabar yang enggak-enggak lagi tentang Kamu Gil." Nuri menggenggam tangan anak bungsunya itu dengan erat. Mengalirkan harapan dan kehangatan di sana.


Mereka berdua tengah bicara empat mata di kamar Ragil. Pintu di kamar itu tertutup rapat. Marsha entah sedang apa, karena sedari pulang dari makan siang tadi, perempuan itu terus berada di ruang kamar yang lain di rumah itu.


"Ragil gak bisa tinggal serumah sama dia Bu."


"Kenapa? dia Istri kamu sekarang Gil. Baik atau buruknya dia, sekarang jadi tanggung jawab kamu." Nuri terdengar seperti tengah memohon.


"Tapi Bu, Ragil gak mau nanti dia akan pake keadaan ini buat jebak Ragil lagi."


"Nak, masalah apapun itu Ibu harap kamu bisa memperkecil prasangka dan memperbesar maaf." Nuri mengelus bahu anaknya itu dengan lembut.


"Ibu gak tau Marsha itu seperti apa Bu. Dia itu ular!"


"Ragil.." Nuri mengingatkan anaknya untuk tidak menggunakan kata-kata kasar.


"Ragil bisa gitu ke siapa pun Bu. Tapi enggak ke dia." Nuri rasanya ingin menyerah. Tapi kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang Ia inginkan. Dan untuk kebaikan anaknya Ia tidak akan menyerah.


"Ibu bawa Marsha pulang ya Bu. Ragil udah gak kuat ada dia di sekitar Ragil."


"Ibu gak bisa menahan jika Marsha mau di sini bersama suaminya. Kamu gak kasian dengan dia Gil? sudah kamu tinggalkan dari hari pertama kalian menikah?" Nuri menjeda kalimatnya. Ia menimbang kalimat berikutnya, karena Ia tidak mau ucapan itu menjadi doa bagi anak keturunannya kelak. "Jangan sampe perbuatan kita saat ini akan berbalik pada kita esok hari. Mungkin gak ke kita, tapi bìsa ke keluarga kita." Nuri terlihat semakin sendu, "Inget bahwa kamu punya Ibu yang juga adalah seorang perempuan. Dan bukan tidak mungkin jika nanti kamu akan punya anak perempuan."


"Ragil gak sudi nyentuh dia. Maka gak akan ada anak diantara Ragil dan Marsha Bu." Nuri memilih diam dan membiarkan Ragil keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2