RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #8


__ADS_3

Entah apa yang sedang direncanakan oleh semesta alam. Yang kamu harus ingat adalah jangan terlalu terbawa perasaan. Kamu bisa saja tersandung dan jatuh terlalu dalam.


-Azka-


Azka hari ini akan ke Bandung, mengurus beberapa hal yang penting di kampus tempat Ia bekerja. Tentu Ia tidak ditemani oleh Saga. Mengingat proyek yang ditangani suaminya itu sedang dalam tahap yang paling rumit. Berkali-kali Saga pulang larut malam dengan wajah kusut yang mencetak jelas kelelahannya. Untuk itu hari ini Azka memilih pergi sendiri.


"Hubungi aku kalo ada apa-apa ya, Yang," ucap Saga melepas kepergian Azka. Azka mengangguk dan segera masuk ke mobil travel yang sudah siap berangkat.


Mereka saling melambai, seolah perpisahan itu akan terjadi sangat lama. Padahal Azka hanya akan berada di sana selama tiga hari.


Azka turun dari travelnya. Kini Ia sudah berada di basement sebuah pusat perbelanjaan di Bandung. Letaknya tidak terlalu jauh dari kampusnya. Ia hanya butuh sekitar lima belas menit untuk sampai di sana.


Ia menyetop taksi, memintanya mengantar ke gedung fakultas sebuah universitas. Setelah mengangguk sang sopir melajukan mobilnya membelah jalanan. Mengantarkan penumpang agar segera sampai ke tujuan.


"Jadi, bagian ini harus kita revisi. Tapi ini perlu kita teliti dulu. Apakah dia layak untuk kita tampilkan di buku ini nantinya." ucap Pak Ara pada Azka. Azka mengangguk mengerti.


"Besok kita juga coba survey ke lapangan. Kamu ijin sedikit lama dengan suamimu kan?" Tanya Pak Ara menoleh ke arah mahasiswinya yang kini berubah status menjadi rekan kerjanya.


"Azka bisa ijin lebih lama jika itu di butuhkan Pak." ucap Azka tersenyum.


"Bagus." Pak Ara menutup draft yang telah mereka bahas dua jam ini. "Kamu pulang lah Ka. Nikmati Bandung untuk kesekian kalinya. Kamu mungkin akan lama di Jakarta. Bapak tau betul proyek penelitian seperti apa yang dilakukan Saga, suamimu." Pak Ara menepuk pelan bahu Azka.


"Iya Pak. Azka akan menikmati sedikit selama Azka ada di Bandung." ucapnya pada pria paruh baya yang sejak dulu selalu Ia anggap sebagai ayahnya di tanah perantauan.


"Kamu bisa bilang jika butuh teman." Pak Ara mengedipkan sebelah matanya.


"Siap Ayah." ucap Azka dengan nada meledek.


"Ya sudah. Pulanglah. Sudah terlalu sore."


Azka bangkit, meraih punggung tangan Pak Ara untuk Ia cium. Ia melesat keluar setelah mengucapkan salam.


Azka berjalan pelan di sepanjang koridor. Menikmati tempat dimana terlalu banyak cerita tersimpan di sana tentang dirinya. Pertemuannya dengan Saga juga berawal di gedung itu. Tentu Ia tidak melupakan seorang Kara yang sudah lama tidak Ia temui. Ia pasti sibuk sekali dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Tunggu! Bukankah Kara di jakarta? Mengapa tak terpikir oleh Azka untuk menghubunginya? Dengan begitu Azka punya lebih banyak teman di kota megapolitan itu. Azka mencatat baik-baik di kepalanya untuk segera menghubungi Kara sesampainya nanti di Jakarta.


"HEI TEH!"


Sepertinya Azka terlalu banyak berpikir hingga dirinya berhalusinasi. Suara panggilan itu persis suara Kara. Dengan nada konyolnya yang tidak pernah lepas. Azka terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Sampai sebuah tangan berhasil menepuk bahunya membuat langkahnya tertahan.


"Hei, kamu sombong sekali Teh!" Sapaan yang benar-benar khas dari seorang Kara.


"Hei!" Azka masih tidak percaya. "Kamu bener-bener di sini?" Azka mengerjapkan matanya memastikan bahwa netranya tak salah menangkap cahaya. "Aku pikir aku hanya terlalu memikirkanmu sampai mendengar suara ini." Azka memukul lengan Kara pelan. Bibirnya tidak berhenti tertarik ke atas. Menampilkan senyum lebar yang menawan.


"Waw. Kamu mikirin aku? Ah, aku gak suka wanita bersuami," ucapnya meledek.


"Sialan kamu Kar!" lagi, lengan itu mendapat bogem pelan dari Azka.


"Jadi apa yang kamu lakuin di sini?" Tanya Azka pada Kara. Kini mereka duduk berhadapan di meja kantin.


"Berkunjung?" jawabnya santai. Gayanya tidak berubah. Masih tetap asal, apa adanya, dan kekanak-kanakan.


"Berkunjung? Mengunjungi siapa? Jangan bilang kamu mau menemui aku." Azka berlagak di depannya.


"Baiklah. Aku baru aja mau ngehubungin kamu. Kamu bekerja dimana di Jakarta? Sekarang  aku juga lebih banyak tinggal di Jakarta. Mungkin kita bisa bertemu." Azka memilih mengalah.


"Kamu terlihat agresif!" Kara masih meledek.


"Ya ampun. Aku cuma ingin menambah teman di sana. Aku gak punya teman tau."


"Benarkah? HAHAHAHAHA." Kara terlihat puas sekali menertawakan Azka.


"Oke oke. Aku akan kirim alamat atau nanti kita bisa berjanji untuk bertemu. Jangan lupa ijin suami. Aku gak mau disangka perebut istri orang!"


Plak!


"Aw! Kamu masih suka memukul hm? Suami kamu pasti takut sekali." selesai dengan ledekannya Kara kembali tertawa.

__ADS_1


---


Azka berjalan sendirian di sebuah mall ternama di Bandung. Tadinya Ia bersama Kara. Namun Kara mendapat panggilan mendadak dan mengharuskannya pergi. Mall itu sangat besar, dan pengunjungnya juga ramai. Azka yang memang tidak terlalu suka keramaian memilih cepat pergi dan pulang ke rumahnya. Namun di jalan menuju pelataran, sebuah panggilan membuatnya terhenti.


"KA!!!" Huh hah huh hah. Ia terengah sambil menundukkan badannya. Ia mendongak, menampilkan senyum di tengah peluh yang sudah bercucur di dahinya.


"Ragil??" Azka terkejut mendapati Ragil sedang berada di Bandung. Mengapa kebetulan sekali dirinya juga sedang berada di sana?


"Lo ngap-ngapain di-sinih?" Tanyanya, napasnya masih tersengal di antara kalimatnya.


"Tarik napas dulu." ucap Azka mengerutkan dahinya.


"Aku abis jalan-jalan. Hari ini ada kerjaan di kampus" Azka menjawab saat napas Ragil terdengar lebih normal.


"Lo balik Jakarta kapan?" Azka mengernyit, "Tiga hari lagi mungkin," tapi Ia tetap menjawab.


"Gue lagi dikasih libur tiga hari. Kebetulan ada nikahan temen di sini," Azka masih terlihat bingung. Ia masih mengunci mulutnya rapat. Tak tahu tanggapan seperti apa yang harus Ia berikan.


"Gue cuma ngasih tau aja Ka. Kalo-kalo nanti bisa balik bareng ke Jakarta." ucapnya lagi. Menyadari bahwa Azka terlihat bingung arah pembicaraannya.


"O-ooh. Iya iya."


"Lo sendiri? Laki Lo mana?"


"Hah? Eh-I..iya sendiri. Saga di Jakarta. Proyeknya gak bisa di tinggal."


"Oke. Kabarin ya," ucapnya sambil tersenyum. "Gue cuma mau ucapin terimakasih. Lo belakangan ini udah mau jadi pendengar setia Gue."


"Sama-sama Gil."


"Gue balik ke anak-anak dulu ya." ucapnya sambil berbalik dan berlalu.


Azka masih tertegun. Mungkin, jika mereka masih sama-sama sendiri. Azka akan berharap bahwa ini adalah bagian dari takdir jodoh yang ditetapkan Tuhan. Kata orang kan begitu, Jodoh kadang bisa dipertemukan pada tempat, waktu, dan kondisi yang tidak disangka-sangka. Tapi mungkin pertemuan mereka kini, hanya sebuah peristiwa tepat yang terjadi di waktu yang salah. Mungkin, pertemuan mereka ini adalah bagian dari ujian Tuhan.

__ADS_1


Tentang seberapa sanggup mereka bertahan atas nama janji kepada Sang Maha Menyatukan yang sudah diucapkan?


__ADS_2