RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #1


__ADS_3

Masa lalu itu seperti lubang hitam


Sekali kau masuk ke dalamnya, mungkin kau akan tersesat dan tak bisa kembali.


-Azka-


Sudah satu tahun usia pernikahan Azka dan Saga. Pernikahan yang bahagia dengan tanpa adanya berita miring dan skandal apapun di tahun-tahun pertama pernikahan mereka ini. Azka juga sudah mulai merasakan hal-hal yang luar biasa selama membina biduk rumah tangga bersama Saga. Saga, seperti biasa, selalu menerima Azka apapun adanya dirinya. Dan Azka, seperti dahulu, masih selalu harus belajar menata keping-keping hatinya agar meskipun retak, hati itu tetap utuh untuk Ia berikan kepada Saga.


"Besok jadi ke pernikahan Fabel ya. Mas Alfan sudah datang juga jauh-jauh dari luar pulau. Dan aku beneran kangen Risa" Ucap Azka yang sudah berkali-kali membuka tutup lemari pakaian di kamar mereka. Membawa potongan baju untuk dirinya dan juga Saga. Memperlihatkan dan meminta pendapat pada Saga, tapi selalu berujung dirinya yang menolak sendiri pilihannya.


"Iya" Masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas di meja kerjanya. Saga membalas dengan tidak terlalu bersemangat.


"Kalau yang ini, bagus gak kita pake buat besok?" Lagi, untuk ke delapan kalinya Azka menanyakan hal yang sama. Kali ini, tangannya memegang sebuah gaun berwarna biru malam dengan kemeja berwarna serupa untuk Saga. Saga menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu berlalu dari meja kerjanya mendekati Azka yang sudah melempar tatapannya dengan satu alis terangkat. Saga lalu mengambil alih baju yang di pegang Azka. Melemparkannya ke satu-satunya sofa di ruangan itu.


"Eh?" Azka tersentak ketika Saga justru memeluknya dari belakang.


"Udahan dong pilih bajunya. Besok pake yang mana aja tetep bagus kok" Saga menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Azka. Menghirup dalam-dalam aroma cherry yang menguar dari tubuh istrinya itu.


"Ih, Ini pilih dulu. Aku gak mau besok kita buru-buru karena belum siapin baju. Nikahnya di Bogor. Itu berarti kita harus berangkat pagi-pagi banget. Aku mau lihat akad!" Azka melepas pelukan Saga, lalu mulai mengambil baju yang tadi dilempar oleh Saga asal ke arah sofa.


"Yaudah kalo gak mau bantuin pilih baju. Aku aja yang siapin" Sambil menghentakkan kaki karena kesal Azka berlalu dari tempatnya.


"Loh siapa yang gamau bantuin. Aku dari tadi udah kasih pendapat lho Yang" Saga nyengir.


"Oh jadi sekarang mau nyalahin aku, aku yang bikin lama pilih baju?" Azka sudah berkacak pinggang di posisinya, membuat Saga jadi merasa tersudutkan.


"Ya enggak gitu juga" Saga menggaruk pangkal hidungnya asal.


"Enggak gitu juga berarti ada iyanya. Ih, tau gitu aku dari tadi gausah cape-cape nanya sama kamu Ay'"


"Loh, aku gak bilang gitu loh" Saga menggaruk tengkuknya yang seketika terasa gatal. Kondisi mulai menunjukkan keserbasalahan.


"Tapi tadi kamu malah nyuruh aku besok-besok aja pilih baju nya. Padahal aku udah mikirin ini dari tadi"


"Justru karena itu, aku takut kamu kecapean" Saga mencoba membujuk agar Azka tidak lagi merajuk.


"Kayaknya kamu deh yang cape. Padahal cuma dimintain tolong kasih pendapat pilih baju. Ish" Ya Tuhan, memang pepatah 'cewek selalu benar' itu nyata. Saga memilih diam. Tidak lagi mau berusaha menjawab. Apapun yang Ia katakan akan selalu dibalikkan lagi oleh Azka. Pada akhirnya dirinya akan jadi tersalah. Azka sudah meletakkan baju-baju yang Ia keluarkan tadi di lemari lalu menutup pintu lemari itu dengan kuat sehingga membuat debam yang cukup mengejutkan Saga.


"Astaghfirullah" Saga hanya geleng-geleng kepala dan mendengus lembut menanggapi tingkah istrinya itu. Detik berikutnya, Saga berterimakasih sekali pada ponsel yang berdering karena bisa mengalihkan amarah angkara murka sang istri.


Azka meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Melihat layar yang sudah menunjukkan tanda panggilan masuk. Ocha.


"Halo Cha"

__ADS_1


"Hai Ka. Apa kabar? Sehat?"


"Alhamdulillah. Aku sehat. Aku besok ke nikahannya Fabel. Mau titip sesuatu kah?" tanya Azka


"Boleh, aku transfer ya"


"Oke deh"


"Ka, besok juga aku akan hadir ke acaranya Anda. Mau nostalgia. Karena kata Abi temen-temen SMA mau pada kumpul" Cerita Ocha dengan ceria.


"Oh iya? Aku titip salam untuk Anda. Sampaikan maafku karena gak bisa pulang ke sana" Azka tersenyum, meski Ia tahu Ocha tidak akan melihatnya. "Oiya, kalo besok ketemu sama banyak temen-temen sampaikan salam ya. Jangan lupa kita saling kirim foto. Aku juga akan kirimin foto pernikahan Fabel besok"


"Oke"


Mereka melanjutkan obrolan pada pembicaraan-pembicaraan kecil. Azka terlihat tergelak beberapa kali. Wajahnya memancarkan aura bahagia tanpa ilusi. Saga memperhatikan raut mimik wajah Istrinya. Rasanya Azka terlihat bahagia di sana dan Saga sangat menyukai itu. Meski tawa gadis itu bukan disebabkan olehnya, tapi Saga bersyukur bahwa tawa dan senyum itu masih sering menghiasi wajah cantik yang telah Ia persunting sekitar satu tahun lalu.


Sambungan telepon terputus, Saat Azka berbalik, Saga sudah bersedekap di hadapannya.


"Apasih! kenapa?"


"Seru amat kalo udah telpon tuh" Saga mencebik kesal.


"Ya seru lah, namanya juga cewek" ucap Azka mendekati Saga. "Lagian, aku cuma bisa begini sama mereka. Mereka sahabat terbaik dalam hidup Aku" Kalimat itu cukup membuat Saga mengerti. Bahwa tidak ada yang bisa membuat Azka berpaling dari sahabat-sahabatnya. Mereka begitu berharga bagi perjalanan hidup Azka.


Suami, Ah.. sebuah sebutan yang begitu keramat bagi setiap perempuan. Marah dan murka Allah pada seorang perempuan kini bergantung pada suaminya. Dan Azka sungguh beruntung mendapat seorang suami seperti Saga. Sosok hangat yang tidak pernah menuntut. Sosok cerdas yang setiap perkataannya tak pernah bernada menggurui. Sosok tegas yang selalu bisa menasihati dengan kelembutan hati. Perempuan mana yang tidak akan bahagia jika ditemani seorang laki-laki seperti itu?


Tapi dalam kehidupan, tidak pernah ada yang namanya kesempurnaan. Begitu juga dengan kehidupan Azka dan Saga. Saga yang terlihat sempurna, ternyata juga harus menerima sebuah ketidak sempurnaan dalam hidup ini. Ya, apalagi kalau bukan tentang kondisi hati Azka padanya. Azka memang sudah menjadi miliknya, tapi Saga tahu bahwa hati gadis yang sekarang sudah bersanding dengannya itu, tidak pernah seutuhnya diberikan padanya.


---


Drrt.


Drrtt.


Ponsel Azka bergetar. Ia merogoh tas kecil yang tersampir di sebelahnya. Tertera nama Ocha di layar datar berukuran lima inci itu. Azka berjalan menjauh dari kerumunan setelah meminta ijin kepada Saga. Kini Ia sedang berada di luar area digelarnya acara pernikahan antara Fabel dan Dini.


"Halo Cha"


"Halo Ka"


"Ada yang bisa aku banting?" tanya Azka dengan nada bercanda


"Ck, bantu Ka. Bantu" terdengar jika Ocha sudah mulai kesal padahal baru dua kalimat yang di lontarkan Azka padanya melalui sambungan telpon itu.

__ADS_1


"Iya iya. Ada apa Ocha?"


"Aku lagi ada di pernikahan Anda dan Vania" Ocha memberitahu.


"Iya, terus? Aku udah nitip transfer kan ke kamu. Jangan lupa di sampaikan"


"Oke, tapi mmmh, Aku ingin memberi kabar sedikit. Aku gak tau sih, ini penting atau enggak. Tapi aku kepikiran kamu"


"Apaan sih Cha? To the point aja deh. Jangan bikin penasaran" Azka menyahut sedikit memperbesar volume suaranya karena suara musik dari ruangan utama acara pernikahan itu sedikit menyabotase udara di sekitarnya.


"Aku bertemu Ragil di sini. Dia... dalam kondisi tidak terlalu baik"


"Apa?" jelas sekali ada keterkejutan di suara Azka barusan.


"Yang, ayo masuk. Udah mau mulai acaranya" Ini suara Saga. Lelaki yang menyandang gelar suami dari Azka itu sudah berdiri di sebelahnya. Azka menengok gelagapan. Ia menurunkan ponsel sambil menutupnya dengan tangan. "Iya aku nyusul ya. Aku selesaiin dulu telpon sama Ocha" ungkap Azka tersenyum. Saga mengedikkan bahunya, "Aku tunggu di sini. Selesaikanlah"


Azka bergeser sedikit, Ia mengembalikan posisi ponsel itu untuk didekatkan ke telinganya.


"Cha, sorry nanti kita bisa ngobrol lagi ya. Aku tunggu info apapun itu. Bye"


Azka memutus sambungan telpon. Ia menyimpan ponselnya ke dalam tas saat suara notifikasi pesan whatsapp muncul di ponselnya. Tidak ingin membuat Saga terlalu lama menunggu, Azka memilih untuk tidak membuka pesan itu. Ia berjalan mendekat ke arah Saga, melingkarkan tangannya di lengan berisi milik Saga.


"Apa ada kabar penting?" tanya Saga sambil menelisik setiap lekuk wajah istrinya.


"Emm enggak. Ocha cuma bilang dia lagi di nikahan Anda. Aku titip salam karena gak bisa dateng" Azka tidak sepenuhnya berbohong. Ia hanya tidak mengatakan satu informasi lagi, yang jujur saja sudah sedikit menawan perhatiannya.


"Kita bisa kirimkan kado ke temen kamu sepulang dari sini kalo kamu ngerasa gak enak, Yang" ucap Saga lembut.


"Enggak perlu. Aku udah transfer ke Ocha untuk di kasih ke Anda" Azka menimpali.


"Oke. Ayo masuk" Mereka pun berjalan ke ruang utama yang terdengar ingar bingar.


<>


Aku mendengar tentangmu hari ini,


Lirih gundahmu sampai


Tapi aku bisa apa?


Apa masih boleh aku menemani,


Atas nama apapun selain atas nama perasaan?

__ADS_1


Azka.


__ADS_2