RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #28


__ADS_3

Kehilangan ini akan mengajarkan kita, bahwa menjaga adalah salah satu bentuk dari cinta.


-Saga-


Saga sampai di rumah. Ia sudah sedikit lebih tenang. Kara benar, dirinya harus tenang dan tidak terbawa emosi. Ia tahu kondisi Azka sedang tidak baik. Terlebih, pertengkaran mereka semalam masih belum membaik. Saga harus bersabar sedikit lagi.


Namun begitu, ia sudah bertekad untuk meminta Azka memilih. Saga memang dulu selalu bilang bahwa ia akan menerima Azka, membantunya terlepas dari jerat cinta pertamanya. Namun setahun menjalani itu dan saat ini Azka justru seolah tak menghargai, membuat dirinya sedikit lemah.


Saga merogoh sakunya, meraih ponsel di dalam sana. Ia mendial kontak seseorang yang ia rasa bisa memberi pandangan tentang masalahnya ini.


"Halo Assalamu'alaikum." sapa orang di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam. Cha?"


"Saga? Kenapa? tumben telpon? Azka baik-baik aja?" suara Ocha terdengar khawatir.


"Dia baik, masih baik seperti dulu. Cha? apa Azka sempat bercerita lagi tentang Ragil?"


Ocha bergeming, ada rasa khawatir yang menjalar. Apa Saga tahu tentang Ragil? Oh Tuhan, ini salahnya. Tidak seharusnya ia memberitahu Azka tentang Ragil, dulu.


"Enggak Ga, Azka gak cerita apa-apa. Memang kenapa?"


"Mereka sering bertemu akhir-akhir ini. Azka, masih sangat mencintai Ragil rupanya? Apa usaha saya kurang? Apa ini waktunya saya mundur?" nada frustasi sangat kentara di sana. Membuat Ocha mengiba.


"Saga, aku mohon, dengarkan penjelasan Azka. Selamanya, Azka akan tetap memilih kamu. Azka akan menjaga pernikahan kalian. Dia gak akan menghancurkan itu semua hanya karena Ragil."


"Benarkah?" tanya Saga sangsi.


"Aku berani bertaruh. Saga, tolong.. apapun yang kamu tahu tentang Azka dan Ragil, tolong tetap percaya sama Azka. Azka sangat butuh kamu."


Apakah benar Azka membutuhkannya lebih dari apa yang ia rasakan untuk Ragil? Saga sungguh tidak mengerti, entah dirinya yang sedang dilanda emosi, atau memang ia sudah tidak tahan dengan semua ini. Apakah usahanya selama ini tak berarti apa-apa? Apakah ia benar-benar bisa bertahan bersama Azka? Tidakkah Azka justru semakin tersakiti jika semua ini tetap begini?

__ADS_1


Suara-suara itu memenuhi kepala Saga. Ia sepertinya membutuhkan air untuk menyegarkan pikirannya. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi di kamar mereka. Membuka pintunya perlahan dan berjalan menuju wastafel. Ia mencuci wajahnya, membuatnya menjadi lebih segar. Dari sudut matanya, ia menangkap benda yang tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Itu adalah testpack yang kemarin ia lempar sembarang arah. Sepertinya tidak terlihat sehingga Azka tidak membereskannya. Ah, nama itu muncul di pikirannya. Ia merindukan Azka, tetapi rasa itu seolah terkalahkan oleh rasa kecewa dan cemburu dalam hatinya.


Saga memungut benda kecil itu. Ia meneliti tanda yang tertera di ujungnya. Kolom itu bertanda positif kecil berwarna merah. Tandanya sudah sedikit samar karena mungkin terlalu lama terdedah. Saga mencelos, kemarin ia tidak melihat tanda itu. Ia hanya melihat dari testpack berbentuk batang dengan dua garis merah di ujungnya.


Tunggu, apakah ini artinya.. Azka sebenarnya sedang hamil? Lalu kenapa Azka tidak mengatakan itu pada dirinya?


"Ya Tuhan! Azka hamil? Dan sejak semalam kami justru saling diam?" ucapan-ucapannya kemarin terus terngiang. Saga menunduk di hadapan wastafel sembari menggenggam testpack di tangannya.


"Bisa-bisanya aku ngomong itu kemarin? Ya Tuhan.. Azka, kenapa kamu gak kasih tau kalo sebenernya kamu hamil?" Saga senang bukan main. Inikah yang akan Azka katakan padanya? Inikah alasannya ingin pulang lebih cepat hari ini? Dan saat ini, yang diinginkan Saga hanyalah segera bertemu dengan istrinya. "Cepet pulang sayang, aku gak sabar denger kamu kasih tahu aku kalo kamu sedang hamil." gumam Saga meremas testpack di tangannya.


Ia segera keluar, dan merapihkan diri di depan cermin. Ia harus dalam keadaan baik menyambut Azka pulang. Azka akan pulang sebentar lagi.


Saga sumringah, senyum tak lepas dari bibirnya. Hingga sebuah telepon dari Kara membuatnya terpaku. Ponselnya jatuh begitu saja.


---


Saga berlari di sepanjang lorong rumah sakit. Ia sudah tidak memikirkan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Azka saat ini. Sesampainya di depan ruang IGD, yang ia lihat adalah Ragil dengan kemeja kerja yang bersimbah darah. Di sampingnya ada Kara, dengan tatapan kosong ke udara di depannya.


BUGH!!!


Satu pukulan berhasil ia layangkan tepat ke wajah Ragil. Ragil terhuyung, Saga memukulnya tiba-tiba. Dirinya yang tanpa persiapan hanya bisa meringis, merasakan amis darah mulai menjalar di dalam mulutnya. Ia meludah ke arah samping, lalu menoleh ke arah Saga yang sudah di tahan oleh Kara.


"Pukul. Pukul gue! Gue pantes dapet itu semua. Pukul kalo itu bisa bikin lo lega Ga." ucap Ragil saat dirinya berhasil berdiri.


"Bang sad!!!" BUGH! satu lagi pukulan terlepas ke arah Ragil. Ragil terhuyung kembali beberapa langkah ke belakang.


"Sorry Ga. Sorry udah buat Azka kayak gini. Harusnya bukan Azka yang di sana."


"HARUSNYA KAMU!!!" Saga masih berusaha melepaskan cekalan tangan Kara di lengannya.


"Ga, cukup. ini rumah sakit." Kara mengingatkan, ia sedikit kewalahan menahan amarah Saga. "Gil, mending kamu pergi dari sini. Tunggu semuanya tenang, kalian bisa bicarain ini baik-baik." pinta Kara.

__ADS_1


Ragil pun menurut, ia pergi dari sana. Meski dirinya ingin menunggui Azka di sana. Ia berhutang nyawa pada wanita itu. Hutang yang mungkin harus ia bayar dengan seluruh sisa hidupnya.


---


"Kamu udah lihat isi flashdrive yang saya kasih?" tanya Kara pada Saga. Mereka masih berada di depan ruang IGD. Dokter yang menangani Azka belum juga keluar dari ruangan.


"Belum. Belum sempat."


"Lihatlah, kamu harus tahu."


"Hemm, nanti akan saya lihat."


"Hemmh, Kalo terjadi apa-apa dengan Azka. Saya akan bertanggung jawab."


"Maksud kamu?" Saga menoleh, menunggu penjelasan dari pemuda di sebelahnya.


"Ini semua.."


"Keluarga pasien?" seorang dokter keluar dari ruang tindakan.


"Saya suaminya dok." ucap Saga cepat.


"Kondisi pasien sangat parah. Benturan di kepala menyebabkan sedikit ada pendarahan. Beberapa tulang rusuknya ada yang retak, dan juga.." dokter menjeda penjelasannya. "janin dalam kandungan pasien tidak dapat di selamatkan. Kita harus segera mengambil tindakan kuretase."


"APA???" Saga lemas, belum ia mendengar berita bahagia itu secara langsung dari Azka, tetapi janin itu sudah tidak bisa ditolong lagi.


"Bapak ikut saya untuk mengurus administrasi tindakan kuretase dan tindakan lainnya. Penanganan di dalam terus akan dilakukan." dokter itu mengakhiri penjelasannya.


Saga mengikuti dokter itu, tubuhnya lemas. Pikirannya kacau. Perasaannya bercampur aduk. Rasa bersalah, sedih, kecewa, marah, tidak terima, dan segala jenis perasaan lain berkecamuk di dalam dadanya. Ia hanya bisa berdoa, agar Azka bisa diselamatkan. Satu-satunya harapan adalah bahwa Azka bisa kembali menemani hari-harinya. Dan ia akan berjanji untuk membuat Azka bahagia.


Saga terduduk lemas di depan ruang IGD rumah sakit. Sudah setengah jam setelah dirinya keluar dari ruangan dokter untuk menandatangani persetujuan tindakan terhadap Azka. Namun belum ada tanda-tanda penanganan itu akan selesai. Dan satu hal lain yang ia sadari, Kara sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2