
Perasaan itu tertanam begitu lama sampai-sampai aku tidak tahu mana batas perasaan dan kenyataan di dalam hatiku.
-Azka-
Azka dan Saga memilih sudut ruangan yang tidak terlalu ramai. Di sudut ruangan itu terdapat deretan kursi yang sudah terisi sebagian. Mereka menduduki dua kursi yang masih kosong. Sebagian tamu memilih untuk berdiri dan mengitari meja-meja pondok makanan yang ada di sekitar ruangan itu. Suara lantunan lagu dengan tema cinta menggema di seluruh ruangan.
"Mau minum?" pertanyaan pertama Saga yang terucap sejak sampai di gedung itu.
"Ayo kita ambil sama-sama" ucap Azka bersiap bangkit dari duduknya,
"Gak usah, saya aja yang ambilin"
"Eh, gak apa-apa, bareng aja" paksa Azka
"Jangan kak, nanti kita jadi makan minum sambil berdiri. Emang mau?" tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya
"Oh-Oke" Azka menyetujui itu, Ia tidak ingin makan dan minum sambil berdiri kalau kursi itu nanti justru ditempati orang lain.
"Nanti sekalian saya cari cemilan untuk kita" ucapnya sambil berlalu menyeruak kerumunan orang menuju pondok-pondok makanan yang tersebar di ruangan itu.
Azka menunduk, mengambil ponsel dan mencari kontak Ocha. Ia menelpon sahabatnya itu.
"Halo"
"Halo Cha, kamu lagi apa?"
"Aku, lagi gak ngapa-ngapain. Ini hari minggu Ka. Aku sedang bersantai" jawab Ocha dari sebrang sana.
"Oh, hahaha. Cha, kamu tau aku lagi dimana?"
"Dimana? Jelas aku gak tau Ka. Aku disini dan kau disana" jawab Ocha menggunakan nada lagu yang sedang trend.
"Hahahha, aku lagi di acara pernikahan Irine, Sepupu kak Rasya." ucap Azka tenang.
"Hah????" Ocha seketika terkejut. Terdengar bunyi beberapa barang yang seperti berjatuhan.
"Cha? Hei, kamu gak apa-apa?" tanya Azka khawatir.
"Eh-Iya Ka. Sorry-sorry. Kamu disana? Ngapain? Sama siapa?"
"Ya, aku dateng, karena Irine mengundangku. Aku dengan Saga. Siapa lagi yang bisa aku ajak? Hahaha" jawab Azka menyisipkan tawanya di akhir kalimat yang Ia katakan.
"Kamu ketemu Rasya?" tanya Ocha hati-hati, "Apa dia sendiri?" Ocha menambahkan
"Hei, apa kamu tau sesuatu?" Azka mengernyit mendengar pertanyaan Ocha, "Aku belum cerita tentang kak Rasya sebelum ini, dan aku baru tau kalo dia ternyata sudah benar-benar move on. Dia bersama seorang perempuan disini, entah lah siapa namanya"
__ADS_1
"Emmh, sorry Ka. Aku tadinya mau bercerita tentang ini. Beberapa hari lalu aku bertemu Tama. Aku juga melihat mereka bertemu di toko buku yang aku datangi"
"Jadi kamu sudah tau?"
"Sorry Ka. Aku pikir kamu tidak perlu lagi tau informasi apapun tentang Rasya"
"Ya, memang. Hahaha. Aku cuma sedikit terkejut. Mereka terlihat cocok"
"Kamu juga cocok dengan Saga Ka."
"Oh diamlah Cha. Jangan bahas itu" Azka mencegah Ocha melanjutkan pembicaraannya, "Oh ya, jadi gimana ketika kamu ketemu dengan Tama? Apa dia masih menghindar?"
"Tidak, sepertinya dia sudah bisa bersikap biasa, bahkan dia yang menyapa aku duluan Ka. Hah, tapi sepertinya dia belum berubah. Hatinya bukan untuk aku"
"Hei, jangan sedih. Aku yakin setiap hati itu ada yang memiliki. Kamu akan menemukan pemilik hati kamu, dan Ia pasti orang yang tepat" Azka menghibur Ocha.
"Aamiin, terimakasih Ka. Kamu memang sahabat terbaik." Ocha menjeda kalimatnya, "Hei Ka, jangan terlalu lama disana. Pergilah, jangan terlalu lama berada di tempat yang sama dengan Rasya dan perempuannya"
"Hahahha, oke Cha. Tapi aku sudah tidak apa-apa Cha. Hatiku sungguh tidak merasakan apapun. Hanya di awal saja, rasa bersalah dan rindu itu muncul begitu saja ketika aku bertatap mata dengannya. Aku selalu merindukan bertemu dengannya, ingin mengucapkan maaf dan setelah itu aku tidak akan merasa bersalah lagi. Dan hari ini adalah pertama kali kami bertatap muka setelah perpisahan itu." Azka menghela nafas pelan. "Melihatnya bahagia, aku rasa aku sudah tidak berhutang apapun. Nyatanya perpisahan itu membawa dia untuk bertemu perempuan yang pasti lebih baik dari aku" ucap Azka sedikit mengulas senyum.
Setelah beberapa saat mereka berdua bercakap, Azka pamit untuk menutup sambungan telpon karena Ia merasa Saga akan segera kembali. Ocha mematikan sambungan telpon setelah saling memberi salam. Azka memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang Ia bawa saat terasa seseorang sedang mendekatinya.
"Sudah? Kenapa begitu lam-" azka tak menyelesaikan kalimatnya ketika Ia berbalik, bukan Saga yang Ia dapati melainkan Rasya.
"Hah?" Azka justru bingung. Apa maksud Rasya?
"Nama perempuan yang kamu bahas bersama Ocha adalah Naya. Jadi jangan sebut dia dengan sebutan 'perempuan itu'." Kata Rasya dengan nada dingin.
"Oh- hem, maaf. Terimakasih" Azka jadi gelagapan sendiri karena dari kalimat Rasya menggambarkan bahwa Ia mendengar percakapannya dengan Ocha.
"Kenapa kamu dateng kesini Dek?" tanya Rasya kemudian yang membuat Azka jadi semakin salah tingkah.
"Aku pikir.."
"Apa karena ini acara keluarga aku, kamu jadi berharap bisa bertemu aku disini?" tanyanya kembali memotong perkataan Azka.
"B-bukan, aku gak tau kamu akan kesini"
"Mana mungkin aku gak hadir Dek? Ini nikahan Irine!!" suaranya terdengar lebih meninggi.
"Ah, Iya. Maaf, aku hanya menghormati Irine yang sudah mengundang Kak. Aku gak akan lama, setelah Saga kembali, kami akan berpamitan ke Irine dan pulang" Ucap Azka cepat. Matanya melarikan pandangan ke segala arah mencari keberadaan Saga. Kemana kamu Saga?
"Aku gak mengusir kamu dek. Aku senang bisa ketemu kamu setelah kejadian itu" suara Rasya mulai terdengar melemah, "Jadi, kamu sama laki-laki yang tadi?" tanyanya
"Oh, Saga? Bukan. Saga rekan asisten aku di kampus"
__ADS_1
"Atau kamu masih menyimpan perasaan ke Ragil?" tanya nya sedikit menyinggung.
"Ya ampun kak, apa yang ada di pikiran kamu? Aku-" Azka kehilangan kata-kata, Ia tidak mampu mengatakan bahwa Ia tidak memiliki perasaan itu, sementara Ia tahu dan sadar betul bahwa perasaan itu tertanam begitu lama sampai-sampai Ia tidak tau mana batas perasaan dan kenyataan di dalam hati nya. Perasaan itu sudah mendarah daging dalam tubuhnya.
"Hnn?" Rasya mengangkat sebelah alisnya, "Dek, sudah saatnya kamu berhenti untuk hanya memikirkan orang lain. Takut memulai hanya karena takut mereka gak bisa nerima kamu? Atau kamu justru berpura-pura sudah lupa dengan perasaan kamu agar orang yang sedang bersama kamu jadi bahagia? tapi alih-alih bahagia, hal itu justru menyakiti orang lain. Kalo kamu masih punya perasaan ke Ragil, perjuangkan. jangan sampe rasa penasaran kamu menyakiti orang lain lagi" Azka terdiam,
"Aku gak tau apa maksud kamu kak" Azka akhirnya bersuara.
"Dek, apa sebenernya salah aku? Aku dulu menerima kamu, sangat menerima kamu bahkan dengan perasaan kamu ke Ragil yang aku tau gak akan hilang itu"
"Kak!!!" Azka terkejut, Rasanya Ia ingin berteriak di depan Rasya, namun Ia tahan. Ia sadar mereka sedang berada dimana, "Aku gak pernah pura-pura. Selama dengan kamu, Aku gak pernah berpura-pura kak" Azka menarik nafas dalam-dalam. "Kak, pliiis!! jangan bahas masalah itu. Ada hati yang harus kamu jaga saat ini. Kita sudah selesai, dan perpisahan itu bukan karena perasaan aku ke Ragil yang belum selesai. Bukan. Maafkan aku kak" Azka mencoba bertahan, tapi genangan air di pelupuk matanya sudah tak terbendung. Bulir berkilau itu akhirnya jatuh, dan pecah diatas tangannya. Buru-buru Ia mengusapnya, menghilangkan jejak air mata di pipinya.
"Kak, aku minta maaf. Tapi bisakah kita selesai dengan pembahasan itu? Aku sungguh tidak pernah berpura-pura. Dan aku ikut berbahagia ngeliat kamu sekarang bahagia dengan n-Naya?" Ia sedikit terbata menyebutkan nama Naya. "Kamu harus bahagia, Okey?" Azka memandang Rasya dalam,
"Hm? Ya, aku pasti akan bahagia"
"Bagus" ucap Azka senang. Azka melihat Saga mendekat dengan ragu-ragu, Azka tidak tau apakah Saga sudah sejak lama disana atau Ia memang baru datang, atau berpura-pura baru datang?
"Aku pamit kak. Senang bertemu dengan kamu. Semoga bahagia dengan Naya" ucap Azka menghampiri Saga, menariknya untuk menjauh dari lokasi itu. Azka berjalan cepat meninggalkan Rasya, berharap setelah ini, perasaan bersalah dan rindunya akan tertinggal di tempat itu. Azka sungguh berharap setelah ini, mereka bisa menjalani kehidupan dengan normal, tanpa hutang perasaan apa-apa. Mungkin mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti, tapi Azka ingin setelah ini, mereka bisa bertemu dalam damai. Di dalam kebahagiaan masing-masing dan bisa bersikap lebih normal.
"Minumnya?" tanya Saga saat Rasya sudah tak terlihat.
"Terimakasih"
"Apa yang kamu obrolin dengan dia?" Saga bertanya saat Azka sudah menghabiskan minuman di gelas kecilnya.
"Tidak ada apa-apa"
"Hei, apa kamu abis nangis Kak?" tanya Saga ketika melihat jejak air mata pada wajah Azka. Kentara sekali gadis itu habis menangis dilihat dari kelopak matanya yang basah.
"Oh, enggak. Tadi aku kelilipan"
"Hahahaha, cara bohong macam apa itu?" Saga tertawa.
"Hah?"
"Belajarlah berbohong dengan benar kak" Saga masih tertawa
"Huh! Aku gak pernah bohong ya! Ayo kita pamit. Irine sudah ada di pelaminan"
"Tapi kita belum makan?" Cegah Saga saat Azka mulai berjalan setelah meletakkan gelasnya di meja.
"Kita makannya nanti saja" Kata Azka tetap melanjutkan langkahnya.
"Hah?? Oh My God!!"
__ADS_1