
Weiheng tersenyum samar sebelum mengatakan syaratnya.
"Syaratnya setelah kau berhasil menyelamatkan temanmu kau harus tinggal di sini selamanya tanpa teman-temanmu di sampingmu," kata Weiheng.
"Jika pun aku mengiyakannya, tapi tidak dengan teman-temanku," kata Mei Yin serius.
"Itu terserah padamu, jika kau tak memenuhi syaratku maka kau tak akan bisa pergi dari sini dan menyelamatkan teman-temanmu," kata Weiheng
Mei Yin pun bimbang dengan keputusan apa yang harus di ambilnya. Dia sudah bertekad meskipun dia terpisah dengan mereka, tapi asal mereka selamat, dia akan berkorban apapun.
"Baiklah, tapi punya permintaan," kata Mei Yin.
"Apa?"
"Bisakah kau berpura-pura membunuhku di hadapan mereka," kata Mei Yin.
Weiheng mengerutkan alisnya. "Kenapa?"
"Aku tidak ingin mereka mencariku dan membuat mereka dalam bahaya lagi," kata Mei Yin sedih.
Hati Weiheng terasa tercubit melihat Mei Yin yang sedih, di juga tak yakin setelah dia menyatakan perasaan nya pada Mei Yin waktu itu. Dia hanyabmengatakan sembarang dan merasa tak ingin Mei Yin jauh dari nya jadi dia mengikat Mei Yin dengan pernikahan dan rantai tak terihat agar Mei Yin tak kabur, karena Weiheng tahu jika Mei Yin itu cerdik.
"Baiklah, terserah pada mu," kata Weiheng.
"Lalu kapan kita akan pergi?" tanya Mei Yin tak sabar.
"Nanti, setelah tubuhmu sudah benar-benar pulih, kau tak ingin gagalkan karena tubuhmu yang lemah itu," kata Weiheng sambil melanjutkan membaca dikumennya.
Mei Yin pun pasrah karena yang di katakan Weiheng benar, karena jika dia memaksakannya maka akan membuat masalah dan beban bagi Weiheng, dia tak ingin itu, dia sudah berterimakasih karena Weiheng sudah menolongnya waktu itu, meskipun niatnya bukan menolong sih, tapi lebih tepatnya ingin memiliki karena tertarik.
...
Keesokan pagi Mei Yin masih meminta pelayan untuk membawakan tumbuhan obat yang dimintnya agar mempercepat penyemnuhan dirinya, kadang-kadang tabib kerajaan juga memeriksanya dan tabib itu terkejut dengan kehebatan Mei Yin meramu obat dan pemilihan bahannya.
Kamar Mei Yin sudah pindah menjadi di sebelah kamar raja yang sengaja di bersihkan dan di rapikan agar MeinYin nyaman.
Satu minggu telah berlalu Keadaan tubuh Mei Yin sudah pulih sepenuhnya dan hari-hari pula Mei tak bisa jauh dari Weiheng karena dia hanya memperpanjang rantai pengikatnya saja itu pun hanya pada kamar Mei Yin saja.
Sekarang mereka ada di ruang kerja Weiheng. Mei Yin di minta Weiheng untuk mengadukkan tinta untuknya. karena bosan Mei Yin menguap dan mengantuk.
"Apakah pekerjaanmu masih lama, aku sangat mengantuk," kata Mei Yin.
__ADS_1
"Belum, masih banyak pekerjaanku, kau mau jika pekerjaan ku tak selesai malam ini, maka besok kita tak bisa pergi," kata Weiheng.
Mata Mei Yin langsung terbuka dan dia kembali mengadukkan tinta. "Tidak, kau harus menyelesaikannya malam ini, aku akan menemanimu," kata Mei Yin membara. Tapi tak berapa lama kantuk Mei Yin kembali menyerang dan sekarang dia tak kuat lagi dan dia pun tertidur di atas meja kerja Weiheng dengan memiringkan kepalanua dan menaruhnya di atas meja.
Weiheng berhenti menulis dia menatap wajah damai Mei Yin yang tertidur. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Mei Yin.
"Kenapa aku bisa memiliki perasaan mendebarkam seperti ini, jika aku berada di dekatmu," gumam Weiheng sambil mengelus lembut pipi Mei Yin.
...
"Hoammmm, eh kenapa aku di sini?" gumam Mei Yin setelah menguap.
Saat Mei Yin menengok ke samping.
"Aaaaaa, apa yang kau lakukan di sini?" teriak Mei Yin sambil mendorong Weiheng yang tidur di sampingnya.
Brukkk
"Akhg, apa yang kau lakukan, kenapa kau mendorongku?" kata Weiheng kesal.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu, kenapa kau tidur di kamarku di peraduanku lagi?" kata Mei Yin marah.
Weiheng meruntuki ke lalaiannya, dia ingat jika sehabis mengantar kan Mei Yin kekamarnya malam tadi dia tak pergi malah berbaring juga di samping Mei Yin.
"Kau bersiaplah kita akan pergi siang ini," kata Weiheng lagi.
Mei Yin langsung bangkit dan berdiri di hadapan Weiheng. "Benarkah, tapi apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Mei Yin.
"Hanya tinggal sedikit, nanti sehabis kembali baru aku selesaikan lagi, tapi kau harus menemaniku sepanjang hari," kata Weiheng.
"Siap boss," kata Mei Yin hormat ala tentara.
Weiheng mengankat satu alisnya bingung. Sadar dengan tindakannya, Mei Yin pun berkata. "Ahh baiklah aku akan bersiap-siap, kau juga," kata Mei Yin sambil mendorong Weiheng keluar dari kamarnya.
Para pelayan di luar bingung kenapa Raja mereka keluar dari kamar Mei Yin dan di dorong keluar dari kamar pula, tapi mereka tak berani menatap lama mereka langsung menunduk takut.
Tanpa menghiraukan pangangan orang lain Weiheng melangkah pergi dengan berwibawa. "Hanya kau yang berani mengusirku dari kamar," batin Weiheng kesal.
Sesampainya di depan pintu kamarnya yang memang tak jauh dari kamat Mei Yin hanya bersebelahan dia di sapa oleh sahabat sekaligus pengawal setianya.
"Salam pada Raja Kerajaan ras vampir yang agung," kata Ren. Ya dia Ren yang telah kembali dari misinya.
__ADS_1
"Ren... ayo masuk," panggil Weiheng senang tapi tak nampak d wajahnya.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Weiheng.
"Kau telah berhasil menjalankan misi dengan baik, maka aku akan memberikan hadiah untukmu, apa yang kau inginkan sebagai hadiah," kata Weiheng.
"Sekarang saya tak memerlukan apapun, bolehkah saya memintanya lain kali saja?" kata Ren.
"Baiklah," kata Weiheng lalu dia berdiri dan mendekati pengawal setianya itu dan membantu Ren bangkit. "Aku perlu bantuan mu lagi," kata Weiheng.
"Dengan senanng hati saya membantu, ucap Ren.
...
Mereka berangkat pada siang hari dengan menyamar dan juga menghilangkan aura ras vampir mereka dengan mengonsumsi pill yang hanya di buat di ras vampir. Hanya Mei Yin yang tidak mengosumsi itu karena dia tak terdeteksi.
Yang pergi hanya Mei Yin, Weiheng dan Ren. Mereka berangkat menggunakan kuda.
Mei Yin berkuda dengan Weiheng, mulanya dia tidak mau, karena di paksa dan rantai yang di perpendek Weiheng terpaksalah dia mau menaiki satu kuda dengan Weiheng.
Ren yang baru pertama kali melihat sikap lembut sahabatnya itu terhadap seorang gadis ternganga dan tak percaya akan hal yang di lihatnya sekarang.
"Wahhh nona Mei Yin sangat hebat mampu menaklukan raja sadis ini," batin Ren.
Mereka melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Mei Yin yang ngantuk akibat angin yang menerpa wajahnya dia pun tidur dengan bersandar di dada Weiheng. Tak ada rasa takut, cemas dan waspada yang di rasakan Mei Yin saat berada di dekat Weiheng. Mungkin karena sudah terbiasa dengan keberadaanya Mei Yin pun tertidur lelap. Merasa Mei Yin bersandar pada dadanya Weiheng melihat wajah Mei Yin yang ternyata sudah enak tidur, dia tersenyum sambil fokus menghadap kedepan tangannya mengelus lembut kepala Mei Yin dan dia memperlambat laju kudanya.
Tak terasa hari sudah malam dan mereka baru sampai di perbatasan karena merasa Mei Yin ini kelelahan Weiheng pun memutuskan mencari penginapan.
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya di tutisanku.
Dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Selamat Membaca.