
Wajah Mei Yin terlihat merah padam, tapi meskipun begitu dia masih mempertahankan senyum tertahannya. Bagaimana tidak marah coba, pemilik rumah berjuang tetapi si penumpang (Mei Yin) enak-enakkan santai. Bukannya Mei Yin ingin seperti itu, tapi siapa yang salah disini yang tidak mau berbagi suka duka dengannya. Dia bukanlah orang yang senang jika orang lain menderita sedangkan dia enak.
"Dia tidak di kerajaan ini kan?"
"Iya nona,"
"Baiklah, kalau begitu aku permisi, ma istirahat,"
Kasim Fu terlihat bingung melihat perubahan sikap MeinYin yang mulanya ingin pergi sekarang istirahat. Kasim Fu hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti, dia pun kembali melanjutkan pekerjaan yang ditundanya.
...
Di kamar Xiuhuan dan Chen.
"Mengapa mereka bisa bersikap seperti itu, mereka telah membantu kita, masa kita tidak membantu mereka," ucap Xiuhuan marah.
"Itu juga yang ku piikirkan. Mengapa mereka seperti itu, apakah mereka meremehkan kekuatan kita, ya meskipun memang kita lemah dalam hal kekuatan, tapi jangan remehkan kecerdikan kita," ucap Mei Yin menyeringai.
Xiuhuan dan Chen tahu bagaimana kelicikan gadis mungil didepan mereka ini, tapi meskipun licik tapi baik.
"Tapi...apakah kau tidak apa-apa melawan Putra Mahkota Hongli?" tanya Chen Ragu-ragu. Dia sekarang sedang duduk disamping Mei Yin sambil menikmati elusan lembut dari Mei Yin.
Mei Yin tertegun sejenak menatap Chen lalu beralih ke Xiuhuan yang memasang wajah kasihan.
"Ahhh ayolah kalian ini, aku tidak apa dan meskipun harus bertarung melawan kerajaan ras Dewa, aku akan mengusahakan tidak bertemu dengannya dan tidak menyakitinya, tapi juga tidak bisa melarang Weiheng untuk tidak menyakitinya, itu urusan mereka, aku tidak perduli lagi, yang kuinginkan hidup jauh daru mereka semua dan hidup dengan damai," jelas Mei Yin berusaha tersenyuk semurni mungkin.
Xiuhuan dan Chen tahu senyum itu hanyalah lapisan luarnya, sedangkan didalamnya bingung, kacau, gelisah dan tak karuan.
"Baiklah sudah diputuskan kita akan berangkat malam ini secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai ada yang tahu," putus Mei Yin dan di angguki Xiuhuan dan Chen.
...
Malam pun tiba seperti yang telah mereka rencanakan, bahwa malam ini mereka akan pergi menyusul Weiheng.
__ADS_1
Mei Yin dengan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuhnya serta wajahnya dititupi dengan cadar mengendap-endap menuju belakang kediaman kamarnya, meakipun penjagaat terlihat ketat, tapi mudah saja bagi Mei Yin untuk mengecoh para penjaga.
Saat Mei Yin hendak menunu belokan tak sengaja dia mendengar para penjaga yang berjaga malam hari untuk patroli lingkungan istana. Buru-buru Mei Yin bersembunyi.
"Huuuh, untuk refleks ku cepat," gumam Mei Yin sambil mengelus dadanya menenangkan jantungnya yang dag dig dug, bukannya takut, tapi terkejut saja.
Mei Yin sampai di belakang kediamannya, ya meskipun hanya dibelakang kediamannya, tapi dia tidak langsung kesana melainkan mencari sesuatu terlebih dulu, yaitu keperluan mereka untul diperjalanan. Kenapa tidak dari siang? karena dia tak ingin ada yang curiga, ya jadinya malam hari saja deh.
"Eh kalian sudah sampai," ucap Mei Yin setelah sampai dihadapan Xiuhuan dan Chen yang mengubah bentuk mereka menjadi binatang spirit.
"Kemana saja? kami sudah lama menunggumu," gerutu Xiuhuan.
"Hehehe maaf, tadi mengambil keperluan kita dulu, kan pastinya perjalanan kita lumayan jauh, dan untuk menghemat waktu saat perjalanan, agar cepat sampai kadi aku membawa bekal agar tak singgah kemana gitu," jelas Mei Yin panjang lebar. "Sudahlah ayo cepat kita pergi nanti keburu ketahuan," kata Mei Yin yang mulai melompati pagar dan diikuti oleh Xiuhuan dan Chen.
Mereka bertiga pun pergi dengan ilmu peringan tubuh agar cepat sampai, karena malam hari kemungkinan tidak ada ornag yang menjual kuda, jadi mereka putuskan begitu saja dulu dan saat matahari timbul nanti mereka akan mencari kuda.
Mei Yin berhenti dan mengajak Xiuhuan dan Chen untuk istirahat, karena mereka telah berlari cukup lama dan mereka juga sudah sangat lelah.
"Istirahat dulu, hari juga segera pagi lebih baik kita tidur sebentar lalu melanjutkan perjalanan ke pasar untuk mencari kuda," kata Mei Yin yang sudah duduk di dahan pohon. Kenapa di atas pohon? Karena memperkecil adanya gangguan.
Sebelum memejamkan matanya Mei Yin bertanya kepada Xiuhuan tentang keberadaan mereka saat ini dan sekarang ini mereka berada di hutan yang berada diantara empat kerajaan ras, yaitu mereka tepat ditengah, karena mereka memotong jalan agar cepat sampai. Sebenarnya Mei Yin sudah pernah ke hutan tersebut, tapi yang namanya hutan mana tahu dia, terlihat sama dimatanya dan tak ada pembedanya. Mengapa Xiuhuan tahu? karena dia pernah membahas tentang semua wilayah di alam atas ini bersama Weiheng.
...
Cahaya menyilaukan mengenai tepat di wajah Mei Yin yang membuat tidurnya terganggu. Dia berusaha menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.
"uhg, sudah pagi ternyata, hoamm." gumam Mei Yin sambil mengerjapkan matanya menyesuaikan silaunya cahaya matahari yang menembis rimbunya dedaunan dari pohon yang di tempatinya sambil menguap.
Mei Yin melihat kesana kemari tak didapatinya Xiuhuan dan Chen, timbul perasaan khawatir, kalau-kalau kejadian dulu terulang lagi. Segera dia turun dari pohon dan mencari keduanya. Mei Yin memanggil-manggil nama keduanya, tapi tak ada sahutan, Mei Yin semakin khawatir.
Pendengarannya menangkap suara air yang deras dan kemungkinan itu sungai dam dipikirannya kemungkinan Xiuhuan dan Chen sedang mandi atau mencari ikan dia bergegas mencari sungai tersebut sampai dia tak menyadari bahwa dia sudah sangat jauh berjalan dari tempat semula.
Mei Yin sampai di depan semak-semak yang cukup rimbun, dia mengeluarkan pedangnya dan menebas semak-semak itu untuk memudahkannya melewatinya.
__ADS_1
Dengan cepat Mei Yin berlari ke arah sungai dengan senang dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati mayat-mayat tergeletak dimana-mana bahkan ada yang mengambang di sungai.
"Apa-apaan ini?" gumam Mei Yin
Saat Mei Yin fokus untuk melihat pemandangan mengerikan itu tak sengaja dia mendengar rintihan seseorang, langsung saja dia bersikap waspada dan mencari asal suara dan di dapatinya seseong pria bersender di bawah pohon dengan penuh luka.
Mei Yin dengan hati-hati menghampiri pria itu, dia berjongkok disamping pria itu mengamati setiap luka ditubing sang pria.
Merasa ada yang memandanginya sang pria membuka matanya. "Siapa kau?" ucapnya dengan lemah.
"Aku? bukan siapa-siapa, hanya manusia," jawab Mei Yin acuh.
"Pergilah," ucap pria itu kemudian memejamkan matanya lagi. Dia tak terlihat waspada karena dia tak merasakan hawa ras dari gadis kecil didepannya ini yang menurutnya hanya manusia biasa.
Mei Yin bangkit dari jongkok nya dan mengambil daun besar dan melipatnya berbentuk kerucut untuk menampung air.
"Minumlah, kau terlihat haus," kata Mei Yin menyodorkan daun berisi air tersebut.
Pria itu membuka matanya lagi dan menatap Mei Yin dan daun ditangan Mei Yin secara bergantian.
°
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
__ADS_1
Dengan like, komen and vote.
Selamat Membaca.