
Mei Yin menghela nafas, dengan kekeras kepala an Hong Yu ini. Dia tahu Hong Yu merasa bertanggung jawab karena dia seorang ketua dalam kelompok ini, tapi kan dia manusia biasa juga perlu istirahat, kalau Mei Yin sih kalian tahu sendiri.
"Kau ini keras kepala," ucap Mei Yin.
Hong Yu terkekeh, "Bukannya begitu, aku memiliki tanggung jawab besar, jadi tak bisa mengabaikannya,"
Keadaan hening karena masing-masing dari mereka sedang mengawasi sekitar dan tak disangka dalam pikiran Mei Yin terdengar suara berat. "Hei Mei,"
"Eh," terkejut Mei Yin hampir saja berteriak mengutuk, syukur sempat menutup mulutnya, kalau tidak bisa bangun semua orang. "Siapa?" ucap Mei Yin melalui pikirannya.
"Ini aku Li Shuwan," ucap Li Shuwan.
"Oh ada apa?"
"Pernikahan kita akan diadakan dua hari lagi, kau bisa datang ke istanaku?"
Mei Yin menghitung hari kapan mereka akan tiba di desa. "Bisa, karena kemungkinan aku akan sampai pada malam hari besok di desa,"
"Bagus kalau begitu, kau tinggal datang ke ruang waktu dan aku akan menjemputmu disana,"
"Baiklah,"
"Hei Mei," panggil Hong Yu. Sedari tadi Hong Yu memanggil Mei Yin tapi tak mendapatkan sahutan dan terlihat Mei Yin hanya melamun.
"Eh eh, a-ada apa?" ucap Mei Yin terkejut.
"Kau kenapa? dari tadi ku panggi tak menyahut," tanya Hong Yu.
"Ah tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu,"
"Oh, hari sudah hampir pagi, sebaiknya kau tidur lah sebentar, itu Fang dan Woo juga bangun. Mereka bisa menemaniku," ucap Hong Yu.
"Ah baiklah," pasrah Mei Yin. "Kalau begitu aku tidur sebentar ya," beranjak dan bersender di batang pohon. Dengan posisi duduk Mei Yin memejamkan matanya.
Merasa silau dan suara-suara orang berjalan kesana kemari Mei Yin perlahan membuka matanya menyeauaikna cahaya masuk ke retina matanya.
"Ah kau sudah bangun Mei!" ucap Fang. Mei Yin mengangguk sambil menguap dan mengucek matanya yang berair.
"Kita akan segera berangkat kau siap-siap lah," ucap Fang.
__ADS_1
"Eh kalian sudah siap? kenapa tak membangunkanku lebih awal agar aku bisa membantu?" tanya Mei Yin sambil berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya.
"Tidak perlu," sahut Hong Yu.
"Baiklah aku tak perlu siap-siap, karena aku sudah siap, nanti di perjalanan aku mau cuci muka jika bertemu sungai," gumam Mei Yin. "Yuk berangkat," semangat Mei Yin.
Mereka pun melakukan perjanan kembali ke desa. Sudah hampir 1 jam mereka menempuh perjalanan dan tiba-tiba saat mereka melintasi hutan mereka dihadang para bandit. Dari yang terlihat jumlah mereka sekitar 30 orang, tidak tahu lagi yang di baliknya.
"Serahkn semua harta benda milik kalian," ucap salah satu dari mereka yang diduga adalah ketua mereka.
"Cih, enak saja, mau harta itu usaha jangan ngerampok," ucap Fang.
"Heh jika tak memberikanpun akan kami ambil paksa. Apa tadi? usaha? ini kami usaha juga. Usaha ngerampok," ucap salah satu mereka dan mereka semua tertawa.
"Pergilah kalian, jika tak ingin ada pertumpahan darah," ucap Mei Yin dingin.
"Huhuhu takut," ucap para bandit mengejek. "Eh nona lebih baik kau ikut kami, jika ikut kami tak akan membunuhmu," ucap ketua bandit.
"Cih, lebih baik aku mati daripada ikut dengan kalian yang jelek ini," ucap Mei Yin.
Geram, itu ekspresi yang ditampilkan oleh para kawanan bandit.
"Dan lagi coba lihat perut buncit itu, hiiii," tunjuk Mei Yin dengan jijik.
Para bandit menyerang kawanan Mei Yin. Mereka dilingkari oleh para bandit. Mereka bersiap dengan pedang serta belati masing-masing ditangan mereka.
Hiyaaaa, para kawanan bandit mengepung kawanan Mei Yin dan dengan cekatan Mei Yin serta kawanannya menangkis dan menyerang balik kawanan bandit.
Kawanan Mei Yin nampak kewalahan menghadapi bandit yang menurut mereka tak ada habisnya. Kemungkinan memang ada kawanan bandit lainnya yang bersembunyi. Kalau begini mereka akan kalah.
"Bagaimana ini, aku sih tak masalah, tapi mereka sudah hampir mencapai batas mereka," batin Mei Yin khawatir sambil menangkis serangan lawan.
Syuttt, syuttt.
Suara panah dan mengenai para kawanan bandit. Mei Yin langsung mencari sumber dan mendapati sekitar 5 orang memanah dan 10 orang menyerang dengan pedang. Mereka terlihat membantu kawanan Mei Yin. Dan dari arah ujung jalan ada 2 orang yang menunggang kuda menuju ke arah mereka. Mei Yin tak tahu mereka siapa, tapi dia bersyukur ada yang membantu.
Mei Yin kembali fokus melawan dan sesekali membantu kawanannya dan sekitar 10 menit kawanan bandit yang banyak itu habis. Semua mati.
Mei Yin bergegas membantu kawanannya yang terluka dan mengobatinya. Dia tak menggunakan kekuatan penyembuhnya, dia hanya menggunakan tanaman herbal yang di dapatnya di hutan.
__ADS_1
Setelah selesai membantu kawanannya Mei Yin beralih kepada para orang yang membantu mereka.
"Maaf tuan, boleh saya membantu untuk balas budi kami, karena telah menolong kami?" ucap Mei Yin.
Yang diajak bicara mendongak ke arah Mei Yin. "Tak perlu nona, kami tak apa-apa, luka kami akan sembuh sendirinya nanti, dan untuk para bandit, itu memang kami ingin memberantasnya, karena meresahkan para pengguna jalan ini," ucap salah satu dari mereka.
"Oh begitu, tapi tetap saja kami berterimakasih, jika tak ada kalian kami tak tahu nasib kami akan jadi apa dan juga terimalah ini, meskipun luka kalian akan sembuh dengan sendirinya, tapi akan lebih cepat jika diobati. Kalau begitu saya permisi," ucap Mei Yin menaruh obat racikannya ke atas tanah dihadapan orang yang membantu mereka.
Mereka pun mengambil dan menerima saran Mei Yin untuk menyembuhkan luka mereka dengan lebih cepat.
Setelah Mei Yin pergi datang lah dua orang yang naik kuda datang terakhir yang Mei Yin lihat saat bertarung.
"Salam Yang Mulia," ucap orang yang di duga bawahan atau prajurit.
"Bangunlah, bagaimana dengan luka kalian?" tanya yang di sebut Yang Mulia itu.
"Luka kami telah sembuh Yang Mulia, karena obat yang diberikan oleh nona yang di sana," ucap bawahannya itu sambil menunjuk Mei Yin yang sedang duduk santai bersama kawanannya yang ada di seberang mereka.
Yang disebut Yang Mulia itu pun menatap ke arah kawanan Mei Yin dan. "Aku merasa pernah bertemu dengannya, di mana ya?" pikir nya. Dia ternyata adalah Haocun, sang Raja kerajaan ras Penyihir. Dia mendekati kawanan Mei Yin.
"Permisi, terimakasih telah membantu kami membasmi para bandit," ucap Haocun.
Mei Yin asik dengan tanaman obatnya dan belum menyadari siapa yang di depannya.
"Kami yang berterimakasih, jika tak ada kalian kami sudah mati disini," ucap Hong Yu.
"Benar tuan, aku saja tadi sangat kekelahan dan jika kalian tak datang beberapa menit lagi, sudah dapat dipastikan kami akan tewas," ucap Wei sambil mempraktikan memotong leher.
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
__ADS_1
Dengan like, komen dan vote
Selamat Membaca