
Sekarang mereka berada di kamar Mei Yin dan Putra Mahkota Hongli menatap intens Mei Yin, dia merasa akrab dengan wanita di hadapannya ini, tapi dia tidak ingat sedikitpun mengenai gadis ini.
"Sekarang ceritakan segala tentangmu dan mengapa aku merasa akrab denganmu?" tanya Putra Mahkota Hongli.
Mei Yin merasa ragu menceritakan semuanya, tapi melihat tatapan tajam dan tuntutan dari Putra Mahkota Hongli Mei Yin pun dengan sabar menceritakan semuanya dari awal dengan sabar karena setiap kali dia menceritakan tentang kedekatannya dengan Putra Mahkota Hongli dulu, Putra Mahkota Hongli selalu menyanggah dan tak habis pikir seperti sekarang perdebatan di mulai lagi.
"Dulu kamu sangat polos seperti anak kecil yang tak mau jauh dariku," cerita Mei Yin yang langsung di sanggah Putra Mahkota Hongli.
"Ahhh palingan kamu tambah-tambahin ceritanya," kata Putra Mahkota Hongli.
Mei Yin masih sabar dan melanjutkan ceritanya.
"Sebenarnya aku juga tidak bisa jauh darimu dan kita di anggap sebagai tulang dan daging yang tak bisa di pisahkan, karena jika di pisahkan maka salah satunya tak berfungsi," cerita Mei Yin.
"Hayalanmu tentang kita memang sangat tinggi ya," ucap Putra Magkota Hongli.
"Arghh kau bisa diam jangan sambung ceritaku dengan ocehanmu itu, jika kay masih ingin mendengarnya maka diamlah," kesal Mei Yin sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Ya iya lanjutkan," ucap Putra Mahkota Hongli dengan santai tanpa merasa bersalah.
Mei Yin pun melanjutkan ceritanya dan sama seperti sebelumnya Putra Mahkota Hongli selalu menanggapi cerita Mei Yin.
...
Tak terasa hari telah beranjak sore, cerita Mei Yin masih belum selesai karena selalu di potong oleh Putra Mahkota Hongli.
"Sudah ceritanya, aku sudah paham dengan kelanjutannya, karena semua ceritamu hanya mengenai dirimu dan aku, apakah tak ada yang lain?" kata Putra Mahkota Hongli.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya begitu saja cerita tentangmu dan aku, sedangkan ceritamu sendiri aku juga tidak tahu, karena aku juga tidak selalu di sampingmu bukan, karena kita saat itu hanya sebatas bertunangan," jelas Mei Yin dengan sendu.
Ekspresi itu tak luput dari penglihatan Putra Mahkota Hongli, dia merasa sakit saat melihat ekspresi sedih di wajah Mei Yin, dia juga tidak tahu dengan dirinya, kemungkinan semua yang di ceritakan Mei Yin benar adanya.
"Baiklah, sekarang kau istirahatlah, nanti masih ada yang kutantakan padamu," kata Putra Mahkota Hongli seraya bangun dari duduknya dan hendak melangkah pergi tapi terhenti saat Mei Yin bertanya.
"Eh tunggu, ada yang ingin ku tanyakan," kata Mei Yin, Putra Mahkota Hongli pun berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Mei Yin. "Tanya apa?" ucap Putra Mahkota Hongli.
"Apakah setelah menjawab semua pertanyaanmu, aku boleh pergi?" tanya Mei Yin hati-hati.
Putra Mahkota Hongli mengangkat sebelah alisnya dan mendekat. "Sebegitu inginnya kah kau pergi dari sini, memang istanaku tak senyaman tempatmu berasal, ahh apakah setelah kepergianku dan saat aku tak mengingatmu dan mencarimu, kamu telah menemukan tambatan hati baru?" kata Putra Mahkota Hongli sinis.
Sakit, sakit itu yang di rasakan hati Mei Yin saat ini, Putra Mahkota Hongli tak tahu saja pengotbanannya dan usahanya sampai ke alam atas ini. Dengam berusaha menahan air mata agar tak jatuh Mei Yin berkata.
"Mungkin saja, karena kau juga sangat lama tak mencariku dan menemui ku saat itu aku pun mencari kesenangan lain," ucap Mei Yin berbohong.
Putra Mahkota Hongli tak menjawab dan menanggapi Mei Yin, dia langsung keluar dari kamar itu.
...
Malam telah tiba, Mei Yin masih merenung, kenapa dia sampai ada di istana ras dewa ini dan bagaimana keadaan teman-temannya, terutama Weiheng.
"Ahh maaf ya Weiheng kemungkinan aku tak bisa menepati janjiku, kecuali aku bisa keluar dari sini," gumam Mei Yin. "Ku harap kalian baik-bauk saja," lanjutnya dan kemudian dia memejamkan matanya dan tertidur.
Pagi telah datang dan seorang gadia masih dengan nyaman bergelut dengan peraduan dan selimutnya dan tidur nyamannya pun terganggu saat suara ketukan pintu. Awalnya dia tak menghiraukannya, tapi karena ketukan itu semakin lama semakin kencang dan tak henti-hentinya terpaksa dengan kesala dia bangkit dan membukakan pintu.
"Ada apa?" tanya Mei Yin dengan mata setengah terbuka.
__ADS_1
"Maaf nona, kami pelayan yang di kirim Putra Mahkota untuk melayani anda," ucap salah satu pelayan yang jumlahnya 5 orang.
"Aduhhh kalian banyak amat, aku tidak perlu bantuan untuk melakukan semua tugasku, kalian bisa memasakkan makannan saja untukku selebihnya aku akan melakukannya sendiri, kembalilah dan laporkan pada tuan kalian aku tak memerlulan kalian," ucap Mei Yin seraya hendak menutup pintu, tapi terhenti karena ke 5 pelayan itu langsung bersujud.
"Eh apa yang kalian lakukan, aku tidak suka kalian seperti ini," ucap Mei Yin yang berusaha membantu kelima pelayan itu bangun, tapi bukan berdiri tapi mereka malah membenturkan kepala mereka kelantai dan salah satu dari mereka berkata. "Tolong nona jangan laporkan kami kepada Putra Mahkota, kami tidak akan melakukan kesalahan sedikit pun dalam melayani anda," kata pelayan itu sambil menangis dan membenturkan kepalanya kelantai.
"Aduh aduk berhenti membenturkan kepala kalian, apakah tidak sakit, baik-baik ku tak akan mengembalikan kalian kepada Putra Mahkota, tapi aku bingung kenapa Putra Mahkota mengirim kalian kepadaku," bingung Mei Yin seraya berpikir sambil menggosok dagunya dengan jari telunjuknya. "Apa tujuannya, ku kira dia akan menganggapku sebagai penyusup atau penjahat kali, ahhh atau dia ingin menyuruh kalian memata-mataiku," ucap Mei Yin yang tiba-tiba dan membuat kelima pelayan yang sudah berdiri kembali bersujud. "Maafkan kami nona, kami tidak ada maksud memata-matai nona, kami hanya di perintahkan untuk melayani nona," ucap pelayan.
"Ahh kalian ini sedikit-sedikit bersujud, aku hanya menduga saja, tidak menyalahkan kalian kok," ucap Mei Yin.
Kelima pelayan itu pun berdiri dan di perintahkan Mei Yin untuk membawakan air mandi dan makanan, para pelayan pun segera melaksanakan perintah Mei Yin.
Mei Yin dengan santai menunggu para pelayan menyiapkan segala keperluannya, sebenarnya Mei Yin terbiasa melakukan sendiri dari memasak mengisi air dan lainnya, tapi setelah tiba di alam atas ini segala kegiatan yang di lakukannya sendiri jadi orang lain yang melakulannya, meskipun saat di alam bawah dia di bantu pelayan pribadinya Tang Yi. Oh bagaimana kabar mereka di sana setelah drama kematian yang di buat Mei Yin beserta Xiuhuan dan Chen waktu itu, Mei Yin berharap semuanya dalam keadaan baik.
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
Dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Selamat Membaca.