
Beberapa menit kemudian seorang pelayan masuk kedalam kamar Mei Yin dan memberitahu Mei Yin jika air mandi untuknya telah siap, tapi karena Mei Yin melamunkan keadaan keluarganya di alam bawah, dia tak sadar jika ada pelayan itu. merasa tak mendapat respon pelayan itu memberanikan diri untuk menyentuh bahu Mei Yin untuk menyadarkan Mei Yin.
"Nona, nona, nona," panggil pelayan itu sambil mencolek bahu Mei Yin pelan.
Mei Yin tersadar dari lamunannya dan terkejut refleks dia berdiri di atas kursi yang dia duduki dan memasang pose bertarung dan menaruh kedua tangannya yang membentuk teropong memperhatikan sekitar seperti mengintai.
"Siapa?" teriak Mei Yin yang tak melihat seorang pelayang yang telah bersujud di lantai ketakutan saat Mei Yin bersuara garang tak seperti biasa meski kesal tapi lembut. Mata Mei Yin bergereliya kesana kemari mencari orang yang menyentuhnya, tapi saat dia melihat kebawah dan mendapati seorang pelayan perempuan bersujud dia jadi sadar siapa yang mencoleknya dan membuyarkan lamunannya.
Mei Yin turum dari kursi dan bersikaf sok santai, padahal dia malu karena terlalu aneh jika orang lain yang memandang syukur ini cuman pelayan dan juga si pelayan langsung sujud dan tak melihat tingkah aneh Mei Yin. Maklum orang yang terlalu waspada tapi waspada nya dalam pose aneh.
"Bangunlah, maaf aku mengagetkanmu, kamu sendiri yang mengagetkanku," ucap Mei Yin seraya membantu pelayan itu berdiri.
"Maafkan saya nona, saya kesini hanya ingin memberitahu jika air mandi nona sudah siap," ucap pelayan itu.
"Baiklah, oh ya namamu siapa, aku kesulitan memanggilmu," kata Mei Yin menghentikan jalannya setelah teringat dia tak tahu nama si pelayan.
"Nama saya Nao nona," jawab Nao.
"Baiklah, kau boleh pergi, ingat jangan ada yang boleh masuk sebelum aku memanggil kalian kecuali untuk menghidangkan makanan di meja itu," tunjuk Mei Yin pada sebuah meja yang cukup besar.
"Baik nona," ucap Nao kemudian dia keluar.
Beberapa saat kemudian Mei Yin telah selesai dengan mandinya dan keluar dengan sudah memakai pakaian putih polos dengan masih mengeringkan bagian ujung rambutnya yang basah, dia duduk di meja riasnya dan tak menyadari ada seseorang yang sudah menatapnya sedari keluar tadi, Mei Yin bersenandung ria tanpa sadar akan itu. Setelah cukup kering dengan rambutnya Mei Yin beranjak hendak ke meja makan, karena dia sudah tahu jika makanan telah tersaji yaitu dari bau harum masakan yang tercium oleh hidungnya. Maklum sudah lapar tu perut meronta-ronta ingin di isi.
Saat Mei Yin menatap arah tujuannya betapa kagetnya dia sampai-sampai dia melompat kebelakang dan karena tak seimbang dia terduduk di lantai.
"Aduhh," ringis Mei Yin, dia menatap lagi orang yang dengan santainya duduk di kursi meja makan dan terlihat dia sedang cekikikan menertawakan tingkah Mei Yin. "Heh kau, tidak bisakah memberitahuku jika kau ada di situ," kesal Mei Yin berusaha bangun lalu berjalan menuju meja makan.
"Ekhem ekhem, terserah aku, aku tak ingin kau tahu aku di sini dengan begitu aku bisa melihat tingkah anehmu," ucap nya sambil menetralkan cekikikannya dan masih berusaha agar tak tertawa lepas. Dia adalah Putra Mahkota Hongli yang ternyata saat Mei Yin mandi tadi datang berkunjung, karena Mei Yin mandi jadi kedatangannya tidak di umumkan.
"Huh dasar seenaknya, meskipun ini istanamu, tapi sopanlan saat berkunjung ke kamar orang," gerutu Mei Yin dengan pelan, mungkin tak terdengar oleh Putra Mahkota Hongli.
Mereka berdua duduk di hadapan makanan masing-masing, Mei Yin tak mengihraukan Putra Mahkota Hongli yang sedari menetapnya yang sedang makan, sebenarnya Mei Yin risih akan hal itu, tapi karena perutnya terlalu lapar dia tak memperdulikan sekitarnya lagi.
Beberapa saat kemudian. "Ahhhh kenyangnya...," gumam Mei Yin, kemudian dia menatap Putra Mahkota dan makanan dihadapannya. "Kau tak makan?" tanya Mei Yin.
"Tidak, aku tidak perlu makan, dan lagipula aku merasa kenyang saat melihat kau makan," jawab Putra Mahkota Hongli dan Mei Yin manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
Canggung, tak ada yang bersuara Putra Mahkota Hongli masih menatap lekat Mei Yin yang duduk di hadapannya itu. Merasa risih dan tidak enak Mei Yin pun membuka suara. "Ada apa memandangiku terus?" tanya Mei Yin yang jengah ditatap terus.
"Tidak aku suka saja," kata Putra Mahkota Hongli dengan ekspresi datarnya.
"Kau tak cocok mengucapakan kalimat santai dengan ekspresi datarmu itu," dengus Mei Yin.
"Memang ada apa dengan ekspresi ku?" tanya Putra Mahkota Hongli tanpa ekspresi.
Rasanya ingin Mei Yin pukul tu wajah Putra Mahkota Hongli, tapi apalah dayanya yang kekuatannya sekarang jauh di bawah Putra Mahkota Hongli huhu. "Ya... tidak cocok dengan tampilan ekspresimu yang datar, dingin, tatapan tajam," jawab Mei Yin santai sambil menghitung dengan jarinya.
Terlihat wajah Putra Mahkota Hongli memerah, mungkin menahan kesal di katai begitu, memang benar wajahnya seperti itu, setahunya (Putra Mahkota Hongli).
Mei Yin tak tau mengartikan apa tatapan dan ekspresi Putra Mahkota Hongli, marah, kesal, senang atau apapun itu, karena dia pun kurang mampu dalam menafsirkan raut wajah seseorang.
"Kenapa wajahmu merah? sakit?" tanya Mei Yin asal.
Putra Mahkota Hongli berdiri. "Mau kemana?" tanya Mei Yin lagi, Putra Mahkota Hongli yang mulanya membelakangi Mei Yin berbalik. "Kenapa? tak ingin aku pergi?"
"Bukan itu, tapi sampai kapan kau mau menahanku di sini?" tanya Mei Yin yang telah berdiri dari kursinya dan berjalan kejendela membiarkan para pelayan membereskan meja makan. "Aku ingin mencari teman-temanku," lanjutnya. "Dan juga jika aku terus berada di sisimu, tidak menutup kemungkinan kau akan celaka olehku, karena aku penyebab terbunuhnya kamu," gumam Mei Yin menatap keluar jendela menerawang kebersamaannya bersama Hongli, tapi apa boleh di buat jika untuk keselamatan Hongli dan dirinya juga, mereka harus berjauhan dan tak bisa bersatu.
"Kau boleh pergi kapanpun kau mau," kata Putra Mahkota Hongli yang membuat Mei Yin langsung berbalik. "Benarkah?" senang Mei Yin.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, sekali lagi aku bertanya, apakah kau benar-benar menganggapku orang alam bawah atau ada aura lain yang kau rasakan dariku?"
"Ku rasa kau tak ada aura apapun dan aku yakin kau hanya orang dari alam bawah," jawab Putra Mahkota Hongli. "Memangnya kenapa?"
"Tidak apa, tapi apakah kau akan membunuhku jika aku meruapakan salah satu dari ras di alam atas ini?"
Putra Mahkota terkekeh dengan tampang datarnya. "Tapi ku rasa tidak mungkin,"
"Baiklah terserah padamu, dan aku akan pergi ke kerajaan ras vampir untuk mencari temanku," jawaban itu sontak membuat Putra Mahkota Hongli mencengram bahu kanan dan kiri Mei Yin dengan tiba-tiba.
"Eh kenapa?" bingung Mei Yin sambil menyerngit kan alisnya menahan rasa sakit di bahunya.
"Temanmu berasal dari ras Vampir?" tanya Putra Mahkota Hongli menatap tajam Mei Yin.
"Ya dan juga bukan," jawab Mei Yin.
__ADS_1
"Makssudnya?"
"Berasal dari alam bawah dan juga dari ras vampir," jawab Mei Yin yang mencengram kuat tangan kanan Putra Mahkota Hongli. "Lepas, sakit tahu,"
Putra Mahkota Hongli pun segera melepaskan cengkramannya. "Oh" setidaknya Mei Yin tak berteman pada ras Vampir saja.
"Ahhh syukur aku tak bilang jika aku berasal dari keturunan ras iblis, jika sudah maka dapat di pastikan kepalaku akan terpisah dari tubuhku," gumam Mei Yin sambil bergidiki ngeri.
"Ada apa?" tanya Putra Mahkota Hongli yang melihat Mei Yin menatapnya dengan ekspresi aneh.
"Tidak ada,"
"Kapan rencananya kau akan pergi?"
"Jika bisa besok pagi,"
"Baiklah, besok pagi aku akan mengantarmu sampai keperbatasan,"
"Tak perlu,"
"Tidak ada penolakan," kata terakhir sebelum Putra Mahkota Hongli keluar kamar.
Siang hari itu Mei Yin menuliskan surat yang akan di tinggalkannya untuk Putra Mahkota Hongli yang kira-kira isinya....
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
Dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Selamat Membaca.