
Weiheng melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Mei Yin dan menatap lekat mata Mei Yin.
"Ini benar kau Mei Yin, aku tak akan pernah lupa mata itu," ucap Weiheng dengan nada sendu dan bahagia.
"A-ah t-tuan mungkin kau salah orang," elak Mei Yin yang berusaha meyakinkan Weiheng.
"Tidak, ini benar kau, aku tak mungkin salah mengenalimu, aku sudah berkelana mencarimu dan ku tahu kau masih hidup," ucap Weiheng tegas.
"Huh, baiklah lalu apa maumu jika tahu aku masih hidup?" tanya Mei Yin.
"Aku akan membawamu kembali ke istanaku dan apakah kau tak merindukan teman-temanmu, mereka sangat terpukul setelah kepergianmu,"
"Tidak bisa, aku adalah pemimpin desa dan tak bisa meninggalkan desa, tapi untuk mereka...kan aku sudah memutus kontrak kami," ucap Mei Yin yang sebenarnya sedih dan merindukan kedua temannya tapi ditutupinya dengan nada acuh.
"Aku akan mencarikan penggantinya untukmu,"
"Tidak perlu, aku tetap tinggal di sini,"
"Tidak bisa, kau harus kembali denganku, kita akan menikah,"
Sontak ucapan Weiheng membuatnya kaget dan hendak menolak, tapi sebelum itu suara berat terdengar di pendengaran mereka.
"Tidak bisa, karena dia milikku," ucap suara berat itu.
Weiheng dan Mei Yin menatap sumber suara.
"Li Shuwan," gumam Mei Yin.
"Heh ternyata kau ya," ucap Weiheng sinis.
Mei Yin mulanya bingung, tapi setelah di ingat-ingatnya cerita Li Shuwan mengatakan para kultivator di level surgawi itu Weiheng termasuk dan yang lainnya Haocun, Zhao Yun raja ras iblis yang baru, dan yang terbaru adalah Hongli.
"Wah memang benar darah ras bangsawan murni itu hebat," batin Mei Yin.
Kembali kepada dua orang pria yang adu mulut.
"Memang kenapa?" sewot Li Shuwan.
"Dia millikku, karena aku yang mengenalnya terlebih dulu, kau baru saja keluar dari persembunyian mengaku-ngaku," ucap Weiheng sinis.
"Memang kenapa dia kan sudah...," ucapan Li Shuwan terpotong saat Mei Yin menyadari apa yang akan di ucapkan Li Shuwan.
"Kalian berhentilah," ucap Mei Yin tegas.
__ADS_1
Mereka berdua terdiam memandang gadis di depan mereka.
"Dengarkan, aku tak ingin terikat dengan siapapun, tapi...untuk mu...aku tak tahu bagaimana menghindarinya," ucap Mei Yin tegas dan di akhir ragu menatap Li Shuwan. Dia pun tak tahu yah meskipun hanya pernikahan bersyarat, tapi tetap saja dia menghormati yang namanya pernikahan jadi dia tak tahu harus berbuat apa, dia tak ingin cerai karena motonya dia tak akan menikah dua kali cukup satu kali dan entahlah kenapa di juga tak.keberatan saat itu menikah dengan Li Shuwan meskipun di luarnya dia menolak. Ada rasa akrab dengan Li Shuwan meskipun dia tak tahu apa itu dan juga mungkin inilah sucinya ikatna pernikahan yang meskipun awalny tanpa rasa saling suka perlahan perasaan akan tumbuh dengn sendirinya.
"Kau harus ikut denganku," ucap Weiheng melangkah maju tapi di tahan oleh Li Shuwan.
"Sudah ku katakan tidak bisa," cegah Li Shuwan.
"Iya tidak bisa," lirih Mei Yin yang di dengar oleh Weiheng. Ingat pendengaran Weiheng itu tajam.
"Kenapa?" bingung Weiheng.
"Karena....aku sudah menikah," jawab Mei Yin.
Weiheng tak percaya. "Tak mungkin," sambil menggeleng.
Mata Mei Yin menatap sendu Weiheng dan itu untuk membut Weiheng yakin. "Siapa orangnya?" tanya Weiheng datar.
Mei Yin menatap Li Shuwan dan Weiheng pun mengikuti arah pandang Mei Yin. Ribuan kupu-kupu rasanya berterbangan di hati Li Shuwan.
Pupus sudah harapan Weiheng untuk membunuh orang yang menjadi suami Mei Yin. Karena jika pun di melawan Li Shuwan dapat dipastikan dia akan kalah.
Weiheng tertunduk, Mei Yin mendekatinya dan. "Maaf," lirih Mei Yin di samping Weiheng dan kemudian berlalu pergi melewatinya.
"Apakah dia orang nya?" tanya Weiheng.
Li Shuwan mengangguk. "Benar dia lah orang nya," jawab Li Shuwan.
Weiheng tak dapat berbuat apa-apa lagi.
...
Flashback on
Seratus tahun yang lalu karena bercana yang di akibatkan oleh seseorang yang ingin memiliki ilmu level surgawi secara instan membuat kedua alam yaitu alam bawah dan atas terkena bencana dan kehancuran.
Para pemuka-pemuka, raja-raja dari alam bawah dan alam atas mengadakan pertemuan untuk membahas permasalahan itu.
Mereka mampu menyegel orang itu, tapi tak dapat membunuhnya, karena memang bukan takdir dan tugas mereka, sekeras apapun mereka berusaha membunuh orang tersebut tetap tak bisa membunuhnya.
Suatu ketika ada seorang peramal yang meramalkan akan datang seseorang yang memang ditakdirkan untuk membunuhnya.
Dalam pertemuan itu membicarakan tentang ramalan tentang seseorang yang akan mampu membunuhnya (Si serakah).
__ADS_1
Dan juga dalam ramalan tersebut dia merupakan pasangan yang ditakdirkan untuk orang terkuat dari dua alam tersebut yang saat itu bernama Xiang, tapi takdir berkata lain, dia hilang tanpa jejak seperti di telan bumi dan akhirnya Li Shuwan lah yang menjadi terkuat saat itu dan sampai sekarang yang dulunya menjadi nomor dua terkuat, meskipun hanya berbeda beberapa tingkat saja.
Flashback off
...
Kembali kepada Mei Yin yang berjalan taktentu arah, karena memikirkan kedua teman yang selalu berada di samping sedari dia terdampar di zaman ini. Di sangan merindukan mereka, tapi dia juga tak ingin bertemu mereka, karena dia tak ingin mengikat mereka lagi, dia ingin melihat teman-teman nya bebas, tapi juga rindu. Itulah membuat nya sekarang berjalan tak tentu arah karena melamun.
Dan tanpa sadar masuk hutan lebih dalam. Hari yang malam membuat suasana mencekapa pada hutan yang di kelilingin pohon tinggi menutupi cahaya bulan masuk ke hutan tersebut.
"Ihh serem juga ya kalau malam begini di hutan, mana gelap banget lagi," gumam Mei Yin.
Srak srak srak
Suara ranting pohon seperti terinjak seseorang.
"Siapa disana?" Mei Yin bersiap siaga jikalau itu beast spirit yang kuata. Kan beda tuh beast spirit di alam bawah dan alam atas, otomatis beast spirit alam atas ini amatlah kuat.
Tak ada yang keluar dari persembunyiannya, perlahan-lahan Mei Yin maju dan ingin tahu suara yang berasa dari balik pohon besar itu. Ya suara ranting patah itu dari balik pohon paling besar di antara pohin lainnya.
Mei Yin terkejut dengan mata melotot tak percaya.
"Ku kira naga itu hanya mitos belak, tapi...wah ini dihadapanku naga besar sedang tidur," kagum Mei Yin yang hanya pernah melihat naga dari gambar dan film-film.
Mei Yin tak berhenti mengagumi naga besar berwarna hitam itu. Tanpa rasa takut Mei Yin menyentuh naga yang sedang tidur itu.
"Ih keras amat ya, seperti batu kulitnya," gumam Mei Yin cekikikan sambil menusuk-nusukan jarinya ke kulit naga yang keras.
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
Dengan like, komen dan vote
Selamat Membaca
__ADS_1