Rahasia Perubahan Gadis Cupu (Takdir Hidup)

Rahasia Perubahan Gadis Cupu (Takdir Hidup)
RPGC(TH) 69


__ADS_3

"Jawabanku, aku mau," jawab Mei Yin yang menunduk.


Li Shuwan yang mulanya menunduk langsung mendongak menatap Mei Yin tak percaya. Pasalnya dari sikap Mei Yin yang sedari pertama bertemu selalu acuh padanya tak menyangka jika dia mau.


"B-benarkah?" tak percaya dengan yang di dengarnya Li Shuwan turun dari kudanya dan mendekati Mei Yin dan memegang kedua tangan Mei Yin.


Mei Yin mengangguk. "Aku tak tahu perasaan apa ini, tapi tak lama setelah pernikahan kita waktu itu, aku juga sudah mulai merasa aneh saat dekat denganmu. Ada rasa cemburu, kesal, bahagia, pokoknya campur aduk jika bersamamu,"


Tanpa aba-aba Li Shuwan memeluk Mei Yin dan menurunkan Mei Yin dari kudanya.


"Berarti cintaku tak bertepuk sebelah tangan, terimakasih," lirih Li Shuwan.


Mei Yin membalas pelukannya dan. "Terimakasih juga telah datang di kehidupanku," ucap Mei Yin. "Kau tahu aku pernah suka juga dengan seseorang, dia orang yang kau kenal, dia Hongli," ucap Mei Yin melepas pelukannya.


Terlihat raut wajah Li Shuwan berubah kesal.


"Ah hilangkan wajah kesalmu itu, aku belum selesai berbicara," mengusap lembut kedua pipi Li Shuwan. "Tapi mungkin kesucian dari ikatan sebuah pernikahan itu yang membuat suka ku terhadapmu berbeda. Yaitu seperti benang merah yang rapuh tetapi tak bisa di putus. Berbeda dengan saat aku suka pada Hongli yang seperti benang merah yang kokoh tetapi mudah putus tak dapat di sambung kembali," Mei Yin tersenyum lembut saat mengucapkan itu.


Li Shuwan tersenyum menanggapi ucapan Mei Yin. "Terimakasih tela memberikan hatimu padaku,"


Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Saat hendak sampai Mei Yin mengeluarkan Fan dan akan menceritakan tentang dirinya dan Li Shuwan kepada keluarga angkatnya.


Tak lama mereka sampai di depan rumah. Mereka langsung di sambut oleh paman Lee dan Lee San.


"Fannn," teriak riang Lee San yang kemungkinan sangat merindukan Fan dan langsung menggendongnya.


"Aiyo kau ini Lee San, biarkan mereka masuk dulu," ucap paman Lee. "Mari masuk,"


Mereka masuk dan sekarang sedang berada di ruang tamu.


"Wah sudah lama kau tak kemari, bagaimana kabarmu?"


"Mei baik ayah. Maksud kedatangan kami kesini yaitu Mei ingin menceritakan kebenaran tentang Mei,"


"Apa itu? ceritakanlah,"


Mei Yin pun memberitahu dan menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya berasal dari dunia bawah sampai pernikahannya dengan Li Shuwan, kecuali dari mana asalnya yang sebenarnya.


"Maaf selama ini tak mengatakan sebenarnya tentang Mei,"


"Ahhh tak apa, itu tak masalah, yang penting sekarang tak ada lagi yang perlu di sembunyikan, tapi meskipun kau tak mengatakannya kami tetap menerimamu di sini," ucap paman Lee dan di angguki Lee San.


Mei Yin terharu dengan perhatian mereka. "Oh ya bukan hanya itu yang ingin Mei sampaikan tapi juga tentang peperangan yang akan terjadi,"


"Dimana peperangan itu akan berlangsung?"


"Kemungkinan di luar desa awan ini. Jadi maksud Mei ke sini ingin memberitahukan para penduduk untuk bersiap akan segala kemungkinan,"


"Baiklah, kau jangan khawatir, serahkan pada ayah dan Lee San untuk mengurus itu. Lalu kalian sekarang akan kembali lagi kesana?"


"Kami akan kembali besok, karena hari sudah malam,"


"Baiklah kalau begitu, kalian istirahatlah. Bawa suami mu ke kamarmu untuk beristirahat. Aku akan mengumpulkan penduduk untuk mendiskusikan ini," setelah mengucapkan itu paman Lee langsung pergi tanpa menunggu jawaban Mei Yin dan Li Shuwan. Lee San juga ikut dengan membawa Fan.

__ADS_1


Canggung, itulah yang terjadi saat ini. Di raung tamu hanya tersisa Mei Yin dan Li Shuwan saja.


"K kau ingin istirahat?" tanya Mei Yin.


"Y ya,"


"Maka masuklah kamarku. Kau pasti tahu letaknya bukan?"


Li Shuwan mengangguk. Saat Mei Yin beranjak berdiri tangannya di genggap oleh Ki Shuwan, Mei Yin pun berbalik. "Ada apa?"


"Mau kemana?"


"Aku mau ke dapur, mau masak, mau makan, laper,"


"Oh, baiklah, kalau begitu buatkan aku juga, aku akan menunggu di kamarmu," setelah mengatakan itu Li Shuwan bergegas naik ke lantai dua ke kamar Mei Yin.


Sekarang Mei Yin sedang berkutat dengan masakannya. Sambil masak sambil bergumam sendiri. "Ahh kenapa aku jadi gugup begini, canggung banget. Kalau dulu saat tak mengetahui perasaan masing-masing tak begini, aduhhh,"


Satu jam berlalu Mei Yin telah menyelesaikan masakannya dan menatanya di meja makan. Sekarang tinggal memanggil Li Shuwan untuk makan.


Mei Yin telah berada di depan pintu, tapi dia bingung mau manggil dengan sebutan apa, kalau nama langsung kan tak sopan kalau panggil suami malu, lalu apa dong. Hati Mei Yin berkecamuk dan saat dia hendak mengetok pintu tiba-tiba pintu terbuka dan mereka pun berhadapan.


"Ada apa?"


"I-itu makanan nya telah siap, ayo makan,"


Mereka pun turun menuju meja makan. Saat makan pun keadaan sangat canggung dan untuk menghilangkan kecanggungan itu sebagai pria sejati Li Shuwan memberanikan berkata.


"Kau benar, tapi...aku benar-benar canggung. Aku saja tak tahu harus memanggilmu apa sekarang,"


"Suami, sayang mungkin," dengan entengnya Li Shuwan mengatakannya.


Uhuk Uhuk, Mei Yin tersedak makanannya dan segera Li Shuwan memberikan minum.


"Kau tak apa?"


Mei Yin melambai kan tangannya "Tak apa,"


"Kau terlalu santai mengucapkan kata-kata itu,"


"Baiklah jika kau masih belum terbiasa, kalau begitu aku saja yang akan memulainya nanti, tapi tidak sekarang, aku takut kau akan tersedak lagi,"


Makan malam selesai dan membersihkan alat makan pun juga selesai sekarang mereka bedua sudah berada di kamar Mei Yin.


Duduk berjauhan, saling diam di peraduan.


Li Shuwan memberanikan diri berkata. "Istriku,"


"Frrtt," Mei Yin menahan tawanya, dia merasa geli dengan sebutan itu.


"Kenapa? apa yang lucu?"


"Tidak, aku merasa geli saja, kata itu keluar dari mulutmu, tadi kan kau hanya mengatakan suami dan sayang, bukan istri,"

__ADS_1


"Hah, kau ingin aku ini sedang serius, kau malah ketawa,"


"Yahh aku cuman ingin menghilangkan kecanggunganku,"


"Oh," Li Shuwan mendekat pada Mei Yin dengan tiba-tiba membuat Mei Yin kaget.


"Kau mau menghilangkan kecanggunganmu, kalau begitu bagaimana kalau kita...,"


"A-apa...,"


Mata mereka saling beradu dan perlahan wajah Li Shuwan mendekat ke wajah Mei Yin.


Deg deg deg.


Tinggal jarak satu senti lagi bibir mereka bertemu tapi...


Tok tok tok


Mendengar ketokan pintu Li Shuwan langsung menarik wajahnya dan mengalihkan kearah lain menutupi wajahnya yang merah. Meskipun di luar terlihat berani tapi degup jantung Li Shuwan itu seperti lari maraton.


"Kak Mei, Kak Shuwan,"


"Ya," sahut mereka berdua.


Mei Yin menghampiri dan membuka pintu.


"Ada apa?"


"Itu ayah memanggilmu dan kak Shuwan,"


"Oh baiklah, ayo kita ke bawah, ayo," ajak Mei Yin kepada Lee San lalu Li Shuwan.


"Kalian sudah datang ayo duduk, aku ingin mengatakan keputusan dan rencana penduduk tentang perang ini,"


"Baiklah ayah,"


Mereka pun membicarakan hasil diskusi para pendudul desa awan.


°


°


°


°


°


Tinggalkan jejak kalian ya...


Dengan like, komen dan vote


Selamat Membaca

__ADS_1


__ADS_2