
Sang pria mencoba menerima keadaan, karena sekarang mundur pun tak ada gunanya lagi, karena ini memang salahnya tak menyadari kekuatan tersembunyi pada sang gadis, "Huh, tidak ada salahnya mencoba," batinya pasrah.
"Baiklah karena kau telah berhasil jadi, sekarang kau adalah pemilik dari ruang waktu ini dan akan menjadi ratu," jelasnya.
"Ratu? bukankah hanya pemilik kenapa jadi ratu?" tanya Mei Yin bingung. Tapi tak masalah juga jadi ratu, toh sama saja,
"Ya ratu dan aku rajanya," jawab sang pria.
"Oh...hah kau rajanya? maksudnya bagaimana?" kaget Mei Yin.
"Ya aku rajanya dan kau akan menjadi ratunya dan menikah denganku," jawabnya datar.
"Heh jangan harap aku mau menikah denganmu, aku tak mau," marah Mei Yin.
"Kau tak bisa mundur lagi, aku juga tidak ingin menikah denganmu, tapi inilah syarat yang harus di lakukan,"
"Tetap saja aku tak mau, kau cari saja yang lain,"
"Aku maunya juga begitu, tapi tidak ada cara lain, kecuali...," kata pria itu gantung.
"Kecuali apa?"
"Kecuali salah satu dari kita mati, baru pernikahan itu tak dapat dilaksanakan,"
"Heh kau jangan main-main, aku tak takut mati, tapi kalau mati disengaja aku juga tak mau. Tapi ngomong-ngomong kita sudah panjang lebar berbicara tapi tak tahu nama lawan bicara. Perkenalkan namaku Mei Yin,"
"Nama ku Li Shuwan,"
"Oh, kalau begitu kembali ke topik,"
Mereka berdua yang sedari awal tak akur pun mencari cara agar syaratnya dapat tidak dilaksanakan.
Li Shuwan merupakan seorang pria yang sudah ribuan tahun hidup karena dia merupakan pasangan dari pemiliki ruang waktu sebelumnya yaitu seorang gadis kuat yang kemungkinan besar pecahan dari jiwa sang gadis ada pada Mei Yin.
...
Mei Yin dengan wajah cemberut menggerutu sendiri. "Huh kalau aku tahu akan jadi begini, tidak akan aku melakukannya,"
"Bagaimana? Apakah kita akan menjalaninya?" tanya Li Shuwan.
"Mau bagaimana lagi," Pasrah Mei Yin. "Tapi kita harus membuat persyaratan," lanjutnya.
"Setuju, persyaratan itu harus di setujui oleh kedua belah pihak," kata Li Shuwan yang menginginkan syarat juga dan di setujui oleh Mei Yin juga. "Jadi apa syaratmu?"
__ADS_1
"Tunggu dulu, kau punya kertas, kuas dan tinta?"
"Ya ada," jawab Li Shuwan lalu menghilang, tak tahu kemana.
Tak lama Li Shuwan tiba-tiba muncul di hadapan Mei Yin yang sedang melamun.
"Eh hantu," ucap Mei Yin terkejut hampir terjungkal. "Kau ini memang hantu kali ya, muncul tuh selalu tiba-tiba, mending tak langsung di hadapan ini mah errr," jengkel Mei Yin sambil merinding.
Li Shuwan menyerahkan kertas dan tinta yang dia bawa. "Ini,"
Mei Yin mengambilnya dan langsung menuliskan syarat untuk dirinya. Setelah selesai Mei Yin menyerahkan kertas itu pada Li Shuwan. "Ini, aku sudah selesai dengan syaratku, baca dan kalau sudaj setuju tulis juga syarat mu," ucap Mei Yin dan dimbillah oleh Li Shuwan.
Nampak raut wajah dingin dan datar Li Shuwan memiliki ekspresi bingung. "Ada apa? Apakah ada yang tidak kau setujui dari syarat-syarat ku itu?" tanya Mei Yin.
Li Shuwan mengangkat wajahnya dan menatap Mei Yin. "Bukannya tidak setuju tapi aku kurang mengerti dengan kata-kata yang tulis ini," ucap Li Shuwan sambil menunjuk tulisan pada kertas itu.
Mei Yin menepuk jidatnya. "Astaga, lupa aku, maaf maaf, akan ku kelaskn satu-satu ya,"
Mei Yin pun menjelaskan satu persatu syaratnya. Kenapa tak menulis ulang? Jawabannya males.
"Mengerti?" Li Shuwan pun mengangguk, kemudian gilirannya yang menuliskan syaratnya. Baru menulis sebentar Li Shuwan sudah menyerahkan kertasnya.
"Cepat sekali, apakah kau tidak memiliki banyak syarat?" bingung Mei Yin kemudian dia melihat ke kertas itu dan...terlihatlah satu syarat, hanya satu syarat yang diminta Li Shuwan yaitu 'jangan melarangku untuk melakukan sesuatu, kepada siapa pun, dan untuk apa pun' itulah satu syarat dari Li Shuwan dan langsung disetujui Mei Yin. Terlihat seringaian kecil dari audut bibir Li Shuwan. Mei Yin tidak tahu akan makna dari satu syarat dari Li Shuwan itu yang akan membuat kehidupannya bertambah stres mungkin.
Mei Yin kembali ke dalam goa yang dia masuki bersama Lee San.
"Lee San," panggil Mei Yin dari kejauhan.
Lee San yang mulanya duduk segera berdiri dan menghampiri Mei Yin dengan api ditangannya.
"Lama sekali memangnya ada apa di sana?" tanya Lee San dengan antusias karena takutnya ditinggal sendiri sudah berakhir.
"Tidak ada apa-apa," bohong Mei Yin. Dia tidak ingin siapapun tahu tentang rencana pernikahannya bersama Li Shuwan, jika bisa tidak ada yang pernah tahu tentang pernikahan mereka. Itu juga merupakam syarat yang ditulis Mei Yin, agar antara mereka berdua tidak ada yang boleh membocorkan rencana pernikahan mereka maupun sesudah menikah nanti.
"Benarkah?" ucap Lee San ragu.
Mei Yin mengangguk. "Benar, aku cuman menemukan ini. Apakah ini berharga?" Mei Yin mengeluarkan setangkai bungai mawar berwarna biru malam yang hampir tak terlihat berwarna biru karena hampir hitam.
"Ini," mata Lee San terbelalak melihat bunga mawar itu. Lama terdiam tanpa tanggapan dan. "Luar biasa, kak Mei kau menemukan bunga peningkat kultivasi. Tidak hanya itu, proses peningkatan kultivasi dengan bunga ini sangat cepat. Kau hanya perlu waktu sehari untuk menyerapnya dan hasilnya juga bisa menerobos satu tingkat langsung," ucap Lee San panjang lebar karena terlalu kagum melihat bunga ditangan Mei Yin itu.
"Untukmu," ucap Mei Yin sambil memberikan bungan mawar itu kepada Lee San.
Lee San terbengong. "Hah???"
__ADS_1
"Ambil, ini untukmu," ucap Mei Yin lagi untuk menyadarkan keterkejutan Lee San.
"Untukku?" menunjuk dirinya sendiri. "Kakak jangan bercanda,"
"Aku tak bercanda, aku ingin kau meningkatkan kultivasimu, agar kau dapat menjaga desa kelak," ucap Mei Yin menarik tangan Lee San dan meletakkan bunga mawar ketangannya.
Lee San terharu dengan sikap Mei Yin yang memikirkan nya dan desanya, meakipun MeinYin masih orang baru didesanya tapi dia peduli dengan kesejahteraan desanya.
"Terimakasih kak, aku akan menjadi lebih kuat dan menjaga selurh desa dan para penduduknya," ucap Lee San semangat.
Mei Yin tersenyum menanggapi keantusiasan Lee San. "Baiklah akan aku tunggu hasilnya. Sekarang kita kembali ke kemah dulu, nanti teman-teman kita khawatir," ucap Mei Yin dan di angguki Lee San.
Saat keluar goa hari sudah malam. Ya memang karena sebelum mereka masuk hari sudah beranjak malam.
Mereka sampai di kemah dengan membawa buah-buahan, ikan, dan hewan buruan yang sudah dibersihkan, karena sebelum mereka kembali mereka melakukan pekerjaan awal mereka yaitu mencari makanan dan kayu bakar, tapi karena kemalaman, maka tugas mencari kayu bakar digantikan oleh yang lain.
Mereka makan bersama dengan khidmat dan diselingi canda tawa tanpa ada batasan.
...
Keesokan harinya
Matahari belum timbul, tetapi para manusia yang memiliki tujuandan pekerjaan telah bangun dari istirahat singkat mereka.
"Kita akan berbagi tugas, ada yang memantau makam dan mencari informasi," ucap Hong Yu.
Mereka setuju dan untuk kelompok memantau berjumlah 8 orang dan untuk mencari informasi 3 orang yang mana 3 orang tersebut adalah Mei Yin, Lee San dan Hong Yu.
Untuk apa informasi?
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
Dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Selamat Membaca.