Rahasia Perubahan Gadis Cupu (Takdir Hidup)

Rahasia Perubahan Gadis Cupu (Takdir Hidup)
RPGC(TH) 49


__ADS_3

Mata Mei Yin berkedip-kedil menyesuaikan cahaya yang remang-remang yang menyelimuti didalam tenda itu, ternyata hari telah malam.


"Ah berapa lama aku tertidur, ternyata hari sudah malam," gumam Mei Yin sambil mengucek matanya yang berair sehabis menguap.


"Sudah bangun!" seorang pria tinggi dengan wajah tampannya membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman berjalan kearahnya.


"Hmmm, kenapa tak membangunkanku? kan aku bisa membantu memasak," ucap Mei Yin.


"Tidak perlu, kan sudah ku katakan bahwa disini tidak kekurangan orang, jadi kau tak perlu bekerja," ucap Weiheng sambil menaruh nampan itu di atas meja dan membawa meja kecil itu ke hadapan Mei Yi. "Makanlah ini," lanjut Weiheng seraya duduk diseberang meja kecil itu. Mei Yin hanya memandangi Weiheng sedari masuk sampai duduk dihadapannya.


"Makan," ucap Weiheng lagi sambil menyodorkan makanan ke mulut Mei Yin.


"Ahh... a aku bisa makan sendiri," ucap Mei Yin hendak mengambil sendok yang disodorkan Weiheng, dengan segera Weiheng menarik kembali sendok itu tak mengijinkan Mei Yin mengambilnya. Kedua alis Mei Yin bertautan dengan ekpresi bingung.


"Aaaa, buka mulutmu, biar aku yang menyuapimu," ucap Weiheng sambil memperagakan mulut menganga.


Mei Yin pun membuka mulutnya dan menyambut makanan yang disodorkan kemulutnya, mengunyah lalu menelan dan saat Weiheng menyodorkan yang kedua kalinya Mei Yin menggeleng pertanda dia tak ingin disuapi.


"Tanganku baik-baik saja, jadi tidak perlu kau suapi, kau makanlah juga bagianmu dan aku makan bagianku," ucap Mei Yin.


"Tidak, aku akan makan setelah kau menghabiskan makananmu," tolak Weiheng.


"Tidak, jika kau tak makan bersamaku maka aku tak ingin makan juga," tolak Mei Yin. "Sini sendoknya," merampas sendok dengan paksa dari tangan Weiheng. "Kau makanlah juga," lanjutnya lalu memakan bagiannya.


Mereka pun menyelesaikan makan meraka tanpa debat.


"Besok aku bisa membantu kalian kan?" tanya Mei Yin penuh harap.


"Boleh, tapi kau tak boleh jauh-jauh dari daerah sini, karena besok aku tidak disini, aku akan pergi ke perbatasan depan untuk perang, jadi duduk diam dan perhatikan keselamatanmu," ucap Weiheng.


"Kenapa sih tidak boleh ikut, aku kan lumayan kuat untuk membantu," gerutu Mei Yin dengan pelan tapi masih terdengar di telinga Weiheng yang memiliki telinga yang tajam itu.


"Aku tak ingin kau terluka," kata Weiheng.


"Aku janji tak akan terluka," ucap Mei Yin memelas.


"Tidak," kata Weiheng tegas.


"Huhh, kau kira aku ini lemah apa!" kata Mei Yin kesal.


"Bukan begitu, aku takut...,"


"Takut apa?"


"Aku takut kau akan terluka,"


"Tidak akan terjadi,"


"Pokoknya tidak ya tidak,"


"Huh ayolah kenapa kau bersikap seperti ini, aku bukan anak kecil lagi, lagipula kekuatan ku setara dengan para prajurit disini,"

__ADS_1


"Tidak," ucap Weiheng yang tak tahan lagi berdebat dengan Mei Yin dia pun langsung keluar tenda.


Tak lama setelah Weiheng pergi, beberapa prajurit datang membawa air.


"Untuk apa air itu?" tanya Mei Yin penasaran.


"Ini untuk nona mandi, kami diperintahkan Yang Mulia untuk menyiapkannya," jawab dari salah satu prajurit.


"Ahh baiklah,"


"Silahkan nona,"


"Ya terimakasih,"


Para prajurit pun keluar tenda dan Mei Yin pun bergegas mandi. Dia menciumi badannya yang bau asem karena sedari berangkat dari hutan dia tak mandi.


Mei Yin keluar dari balik pembatas dengan menggunakan pakaian putih polos dengan rambut yang tergerai diujungnya rambutnya terlihat masih basah.


Dia duduk di kasur sabil mengeringkan rambutnya.


Weiheng masuk tanpa permisi, ya wajar itukan tendanya.


"Hei bisa tidak jika masuk pake permisi," gerutu Mei Yin yang terkejut.


"Terserah aku, kan ini tendaku," jawab Weiheng.


"Ya bener ini tendamu, tapi aku tidur dimana? Kalau kaya gini kan ribet. Bisa buatkan tenda lainnya untukku?" pinta Mei Yin.


"Oh," respon Mei Yin lalu melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambutnya.


Mei Yin terkejut saat Weiheng mengambil alih kain untuk mengelap rambutnya itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau tidak lihat akunm sedang membantumu,"


"Iya aku lihat, tapi aku bisa sendiri," ucap Mei Yin hendak mengambil alih kain itu tapi di tarik kembali oleh Weiheng.


"Diamlah," ucap Weiheng.


Mei Yin pun pasrah dan membiarkan Weiheng mengeringkan rambutnya.


krik krik krik


Hanya suara jangkrik yang terdengar.


"Sudah, kau tidurlah lagi," ucap Weiheng yang memecah keheningan malam itu.


"Kau?" tanya Mei Yin yang belum melihat seorang prajurit pun datang membawakan kasur untuk Weiheng.


"Aku?" tunjuk Weiheng pada dirinya. "Tenang palingan sebentar lagi merek datang. Oh apakah kau ingin berbagi dengan ku?" goda Weiheng.

__ADS_1


"Tidak," jawab Mei Yin langsung.


"Oh ayolah, jangan malu, jika itu keinginanmu aku akan tidur denganmu," kata Weiheng.


Deg deg deg.


Jantung Mei Yin berpacu cepat tatkala Weiheng perlahan mendekatinya.


"Berhenti," teriak Mei Yin tapi tak dihiraukan Weiheng, dia semakin mempercepat langkahnya. Tepat Weiheng hendak duduk dikasur Mei Yin, suara prajurit menghentikannya.


"Huhh, syukur," batin Mei Yin sambil mengelus dadadnya untuk menghentikan laju pacu jantungnya itu.


"Salam pada Yang Mulia Raja, kami telah membawakan permintaan anda," ucap salah satu prajurit yang berjumlah 4 orang itu yang sedang membopong kasur sedang.


"Letakkan di sana," ucap Weiheng sambil menunjuk disamping kasur Mei Yin.


Mei Yin menyerngit. "Kenapa di sini?" tanya Mei Yin menunjuk sebelah kasurnya.


"Hanya ingin," jawab singkat Weiheng yang membuat Mei Yin mendengus kesal.


Para prajurit pun menaruh kasur ditempat yang telah ditunjuk dan pergi keluar dan tersisalah kesunyian yang menyelimuti tenda itu dengan masing-masing memikirkan urusan mereka.


"Ahh bodo, lebih baik tidur," gumam Mei Yin yang tak mendapat pencerahan dari otaknya itu.


Dengan nyaman tak menghiraukan Weiheng yang perlahan berbaring dikasurnya tepat disebelah Mei Yin. Mei Yin pun terlelap tidur dengan tidak nyenyak karena nyamuk-nyamuk sedang bernyayi ditelinganya. Sesekali dia memukul sembarang telinga dan wajahnya.


Weiheng yang belum tidur membuka matanya dan melihat kesamping. Melihat seorang gadis yang unik dengan tubuh mungil wajah cantik, tapi sikap dan sifatnya yang bar bar membuat setiap orang yang berada didekatnya merasa terhibur sekaligus nyaman.


Garis bibir tak bisa menahan akan kikikannya melihat tingkah gadis mungil yang tidurnya sedanf terganggu akan hal nyamuk.


Perlahan tapi pasti Weiheng beralih ke kasur Mei Yin dan memeluknya menyalurkan kehangatan di malam yang dingin dan mengusir nyamuk-nyamuk yang mengganggunya.


Merasa nyaman dan tak ada suara nyamuk yang bernyanyi lagi Mei Yin perlahan semakin memperdalam tidurnya.


Pagi telah datang dengan suara burung-burung bernyanyi angin sepoi-sepoi menggesek dedaunan yang menghasilkan alunan nada yang menenangkan.


Mei Yin perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap-ngerjap menyesuiakan cahaya yang masuk pada matanya. "Hoammm, lumayan nyenyak tidurku, meskipun awalnya susah tidur akibat nyamuk," gumam Mei Yin.


°


°


°


°


°


Tinggalkan jejak kalian ya...


Dengan like, komen dan vote.

__ADS_1


Selamat Membaca.


__ADS_2