
Mei Yin menghela nafas kasar dan mencari-cari seseuatu yang dapat dibakar dan tatapannya jatuh pada obor yang ada pada salah satu tengkorak. Mei Yin mengambilnya dan menyalakan obor itu, ya meskipun sulit di hidupkan, mungkin karena termakan waktu panjang membuat fungsinya hilang.
Akhirnya berhasil menyalakan obor. "Tinggallah disini, aku tidak akan lama," ucap Mei Yin sambil memberikan obor yang sudah menyala. Tanpa menunggu jawaban Lee San, Mei Yin langsung pergi kearah dalam, tidak terlalu jauh bahkan dapat terlihat dari Lee San berdiri.
"Huh langsung pergi, aku kan takut," gumam Lee San sambil berjalan kearah yang lebih sedikit terkorak manusianya.
Saat Mei Yin sudah tepat berada di tempat suara sesuatu jatuh itu, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kemunculan sebuah pintu yang tak ada tiang penyangganya yaitu melayang di udara, berwarna emas dengan ukiran burung phonex dibagian atas.
"Wahh sulap, pintunya melayang, ukkran burung phonex itu cantik lagi," gumam Mei Yin kagum. Perlahan Mei Yin mendekati pintu itu dan hendak menggapainya, tapi terhenti saat suara bas terdengar di telinganya. "Jangan disentuh jika tidak ingin terluka,"
Mei Yin langsung mundur dan waspada. "Siapa kamu?"
"Kau tak perlu tahu aku dulu, yang penting sekaranf bagaimana kau bisa masuk kesini?" ucap pria itu dengan dingin dan tatapan tajam, setajam elang yang akan menerkam mangsanya.
"Kau tak perlu tahu juga bagaimana aku bisa masuk," ucap Mei Yin tak kalah dingin dan tajam.
"Baiklah jika tak ingin mengatakannya, tapi karena kau telah berhasil masuk kesini, maka aku akan memberikan kesempetan untuk menjawab teka-teki untuk membuka pintu itu,"
"Memangnya ada apa dibalik pintu itu?"
"Jawab saja dulu teka-tekinya, baru kau dapat mengetahui isinya,"
Mei Yin mendengus kesal mendapati sikap yang super nyebelin dari pria didepan nya ini.
"Apa teka-tekinya?" ucap Mei Yin dengan nada malas.
"Lihatlah pada bagian tengah pintu itu," tunjuk pria itu kearah tengah pintu.
Mei Yin pun menatap arah yang di tunjuk dan terlihatlah sebuah tulisan yang kecil. Mei Yin saja tak menyadari jika ada tulisan jika tidak teliti melihatnya.
"Sesuatu yang tidak dapat diulang," baca Mei Yin.
"Jawablah," kata pria itu meremehkan. Dia terlihat menyeringai. "Tak ada yang bisa menjawab teka-teki itu selama ribuan tahun lebih, mungkin dia juga tidak," batin pria itu mengejek.
Mei Yin nampak berfikir keras, padahal dia sudah tahu jawabannya, tapi karena ingin membuat si pria menyebalkan itu kesal dia pun berpura-pura berfikir keras.
Tiga puluh menit, satu jam dan akhirnya sampai si pria kesal.
__ADS_1
"Bisa tidak, jika tidak maka pergilah dari sini," kesal si pria.
"Tunggu dulu dong, ini lagi mikir tau," ucap Mei Yin.
"Sud...," belum sempat si pria menolak menunggu, Mei Yin pun mengeluarkan jawabannya.
"Waktu,"
Saat Mei Yin mengatakan kata 'waktu' tiba-tiba pintu melayang itu pun bergetar dan terbuka menghasilkan cahaya yang menyilaukan. Refleks Mei Yin menutup kedua matanya dengan tangan.
Mei Yin pun membuka matanya. "Eh dimana aku?" Mei Yin memutar-mutar badannya menelusuri seluruh tempat yang asing baginya. Padang salju, udara dingin pepohonan tak berdaun danau beku, pokoknya seperti di kutub utara. "Brrr, dinginnya," gumam Men Yin sambil memeluk dirinya sendiri dan menuju sebuah goa didepannya.
Saat masuk kedalam goa. "Wahhh disini hangat, aneh," bingung Mei Yin yang mendapati perbedaan suhu di luar dan di dalam goa.
Mei Yin mengumpulkan ranting-ranting pohon, ya di dalam goa itu terdapat 3 pohon yang susunannya membentuk segitiga. Mei Yin menyalakan api untuk lebih menghangatkan tubuhnya tepat di tengah dari ketiga pohon tersebut.
Setelah merasa cukup hangat Mei Yin menyusuri goa yang tak gelap itu, karen ditengah-tengah atap goa itu tak tertutup. Mungkin itulah yang membuat ketiga pohon hidup karena masih dapar terkena matahari. "Eh matahari, bukankah tadi hampir malam," gumam Mei Yin.
"Tentu saja disini siang," suara bas mengagetkan Mei Yin yang sedang berfikir.
"Kau lagi?" dengus Mei Yin.
"Ini dimana?"
"Ini ruang waktu,"
"Ruang waktu? Apa itu?"
"Ruang waktu adalah ruang yang waktu nya sangatlah lambat karena, di luar satu menit, disini sudah satu hari," jelas pria itu.
Mei Yin memahaminya dan kembali bertanya. "Lalu kenapa aku bisa sampai kesini? Bagaimana aku bisa kembali?"
"Sebelum aku menjawabnya, silahkan kau buat garis membentuk segitiga pada ketiga pohon itu," tunjuknya pada pohon.
Mei Yin pun tanpa bantahan melakukan apa yang di perintahkan. "Sudah selesai, lalu apa lagi?"
"Berdirilah di tengah-tengah diantara ketiga pohon itu," perintahnya lagi.
__ADS_1
"Hei kau jangan aneh-aneh ya, untuk apa aku berdiri di tengah, jika membuat garis aku tak masalah, tapi berdiri ditengah, tidak, jelaskan dulu apa maksudnya,"
"Huh, mengesalkan," dengus pria itu kemudian melanjutkan ucapannya. "Itu akan menentukan apakah kau pemilik dari ruang waktu dan segala isinya atau bukan," jelasnya.
"Oh, tapi jika bukan bagaimana? Aku tak akan mati kan?"
"Tidak," jawabnya kesal.
Mei Yin pun berdiri ditengah antara tiga pohon seperti yang telah di perintahkan.
"Pejamkan matamu dan konsentrasi," ucap pria itu.
Mei Yin pun melakukannya dan saat sudah memejamkan matanya tiba-tiba garis yang dibuat oleh Mei Yin tadi mengeluarkan cahaya yang menghasilkan seperti dinding putih sampai keatas langit.
Lingkungan diluar yang mulanya tertutup oleh salju tebal, danau beku pohon mati sekarang perlahan menipis, mencari dan tumbuh daun.
Bunga-bunga, rumput hijau dan pepohonan tumbuh subur dengan ajaibnya. Hewan-hewan kecil, seperti kelinci, burung, kancil, serangga dan hewan lainnya bersuka cita menyambut suhu hangat yang akan datang dan menyambut kedatangan Ratu baru mereka.
Perlahan dinding cahaya itu memudar dan meninggalkan keadaan goa yang mulanya hanya ada tiga pohon yang hidup subur sekarang lebih hiduo lagi dengan berbagai macam tumbuhan bunga dan pohon-pohon rambat bergelantungan menghiasi dinding goa.
Mei Yin perlahan membuka matanya yang terpejam dan terlihatlah kedua manik .matanya yang berwarna hitam legam dengan sorot mata tajam bak elang.
Mei Yin menatap sang pria yang berdiri kaku, dengan ekspresi terkejut, tapi itu tidak lama dan kembali kepada ekspresi datarnya. "Lalu apa lagi?" tanya Mei Yin dengan malasnya.
Si pria belum menjawab pertanyaan Mei Yin, dia masih memikirkan bagaimana dia sampai tidak menyadari tentang kekuatan tersembunyi yang ada pada gadis didepannya itu. Kalau dia tahu dia akan mencegahnya, ya meskipun dia akan menunggu lama lagi, tapi kalau dengan gadis menyebalkan seperti itu dia pasti akan selalu berdebat.
°
°
°
°
°
Tinggalkan jejak kalian ya...
__ADS_1
Dengan like, komen dam vote.
Selamat Membaca.