
Jenny terbangun ketika Ali mencium perutnya dengan mesra. Wanita itu kaget awalnya. Namun ketika tahu kalau pria yang sedang menggodanya adalah suaminya sendiri, wanita itu hanya tersenyum saja. Dia mengusap-usap rambut Ali dengan mesra sambil memandang ke luar jendela.
Langit masih gelap. Namun Jenny sudah tidak mengantuk lagi. Ia terlalu bahagia menikmati malam pertamanya dengan sang suami. Meskipun rasa perih itu masih terasa dengan jelas setiap kali kedua kakinya bergerak.
"Lahirkan anak yang banyak untukku. Aku ingin memiliki anak laki-laki dan perempuan," ucap Ali.
Jenny mematung mendengarnya. Wanita itu hanya diam saja tanpa memberikan respon apapun. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Ali akan mengatakan kalimat seperti itu. Sebuah kalimat yang selama ini sangat ditakuti oleh Jenny.
__ADS_1
Namun Jenny tidak mau sampai rahasianya terbongkar. Wanita itu berusaha tetap tersenyum meskipun hatinya sudah tidak karuan.
"Anak adalah titipan yang di atas. Jika diberi cepat, aku akan menerimanya. Tetapi bagaimana jika Tuhan menitipkannya lama? Bukankah ada sepasang suami istri yang sudah 10 tahun menikah tetapi belum memiliki anak? Bagaimana kalau hal itu terjadi padaku?"
"Tidak masalah. Sejak memutuskan untuk menikah denganmu, aku sudah menerima kekurangan yang kau miliki," jawab Ali mantap.
"Benarkah?" Wajah Jenny terlihat berseri.
__ADS_1
"Kak Ali ... Bukankah dulu waktu SMA Kak Ali sangat tidak suka melihat anak kecil. Tadinya aku pikir setelah menikah Kak Ali tidak mau memiliki anak. Bukankah zaman sekarang banyak sekali sepasang suami istri yang memutuskan untuk freechild? Bahkan aku pernah membaca sebuah artikel kalau seorang wanita rela mengangkat rahimnya, hanya karena dia tidak mau memiliki anak seumur hidupnya. Dia tidak siap untuk hamil dan melahirkan. Menurut Kak Ali bagaimana? Bukankah memiliki anak juga urusannya tidak mudah? Apalagi bagi seorang wanita."
Ali mengatur posisinya. Kini pria itu berbaring di samping Jenny. Dia meletakkan tubuh Jenny di atas lengannya lalu mengecup wanita itu dengan mesra.
"Dia adalah wanita paling bodoh yang ada di dunia ini. Di luar sana ada banyak sekali wanita yang berusaha mati-matian agar bisa hamil. Tetapi dia ketika diberi kelebihan, dia justru menghilangkan kelebihan itu. Wanita jelek bisa cantik jika operasi plastik. Wanita miskin bisa kaya dengan berusaha. Tetapi wanita yang tidak memiliki rahim seumur hidupnya tidak akan pernah bahagia karena dia tidak memiliki keturunan. Siapa yang akan mengurusnya ketika Tua nanti. Memang sekarang zaman sudah canggih. Ada banyak sekali suster yang bisa menjaga dan merawat orang tua yang sudah tidak bisa apa-apa. Tapi apa benar wanita itu siap untuk tidak memiliki keturunan lagi. Kehidupan keluarganya berhenti di dirinya saja. Sejuta orang memiliki pemikiran seperti itu, maka dunia kita tidak akan memiliki generasi penerus. Berbeda cerita jika wanita itu mengangkat rahimnya karena sebuah penyakit. Mungkin bukan aku saja. Tetapi semua orang yang mendengarnya menjadi prihatin. Tetapi jika dengan sadar ia mengangkat rahimnya sendiri, Aku hanya bisa katakan kalau dia adalah wanita paling bodoh."
Deg. Jenny membisu karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Perkataan Ali sangat-sangat menyakiti hatinya. Bahkan ia ingin menangis setelah mendengarnya. Namun ia berusaha terlihat tetap ceria agar Ali tidak sampai curiga.
__ADS_1
"Kak, aku mau ke kamar mandi," ucap Jenny. Wanita itu mengambil bajunya lalu memakainya. Dengan segera Ia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Ali tidak menyadari perbedaan sikap Jenny. Pria itu hanya tersenyum saja melihat tubuh seksi istrinya. Dia mulai memejamkan mata karena memang hari masih sangat gelap.