
"Rico!" Jenny memeluk Rico.
Padahal Rico baru saja menyelesaikan operasi Nirma. Laki-laki itu membeku di tempatnya. Ia tahu bahwa Jenny pasti membutuhkan waktu untuk tenang. Wanita itu menangis tersedu-sedu.
Cobaan ini sangat berat bagi wanita seperti Jenny. Pasalnya jika dia gagal, maka pernikahannya akan menjadi taruhannya. Tidak mungkin Jenny berbohong karena itu hanya akan membuat keadaan semakin lebih sulit lagi. Dan Jenny tidak mau terus terjebak di sebuah lubang yang begitu menyakitkan.
"Aku bau keringat, Jen," kata Rico. Pria itu berusaha untuk membuat Jenny tertawa seperti biasa.
Jenny menggelengkan kepalanya. "Biarkan aku seperti ini sebentar. Kumohon, Rico." Ternyata wanita itu hatinya benar-benar hancur. Bujukan Rico sama sekali tidak mempengaruhinya.
"Oke!" Rico terdiam.
Ia membiarkan Jenny melimpahkan semua kesedihannya. Beban yang ia tanggung sangat besar. Terlebih saat ia harus merelakan suaminya tidur dengan sahabatnya. Lalu kini Jenny justru harus kehilangan bayi yang sangat diinginkan oleh suaminya. Jenny merasa semua ini karma yang pantas ia dapatkan karena dia sudah berani mengangkat rahimnya. Sesuatu yang begitu berharga yang diberi langsung oleh sang pencipta.
"Aku sudah kehilangan semuanya, Rico. Semuanya!" Jenny menangis semakin keras. Lantas, bagaimana dengan Ali apabila ia tidak mampu memberikan anak? Jenny tidak bisa membayangkan betapa kecewanya sang suami.
Dengan perlahan, Rico melepaskan pelukan dari Jenny. Laki-laki itu memandang Jenny dengan seksama. Hatinya ikut merasakan sakit yang luar biasa ketika Rico melihat tatapan penuh kekecewaan di wajah Jenny. Tangan kekar Rico menghapus air mata Jenny dengan lembut. Dia tidak tega melihat Jenny seperti itu. Andai Rico memiliki kemampuan-kemampuan untuk menciptakan rahim baru untuk Jenny, mungkin akan dia lakukan.
"Tolong, jangan menangis, Jen!" pinta Rico.
"Bagaimana aku tidak sedih, Rico? Bayi itu, adalah bayi yang sangat diharapkan oleh suamiku. Setelah ini aku harus bagaimana? Apakah aku harus menunggu Kak Ali menceraikan aku karena aku tidak bisa memberikannya bayi?" Jenny berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Antara sedih dan emosi.
Sesekali Jenny memejamkan kedua matanya. Hampa. Hatinya sungguh hampa. Ia kehilangan bayinya. Meskipun Jenny memiliki kesempatan untuk mendapatkan bayi itu, tapi Jenny lebih memilih untuk menyelamatkan sahabatnya.
"Jen, kenapa kau masih bersedih?" tanya Rico.
Jenny melepaskan tangan Rico dari pipinya. Di mana tangan kekar itu yang mengusap air mata Jenny. Wanita itu menatap tidak percaya pada Rico. Mengapa Rico bisa bertanya tentang kesedihannya? Jenny menundukkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kau masih bertanya?" bentak Jenny.
"Aku berhasil menyelamatkan Nirma dan bayinya," ucap Rico. Ternyata pria itu sengaja merahasiakan ini semua. Dia hanya ingin lihat, seperti apa kesedihan yang akan dirasakan Jenny jika hal buruk itu benar-benar terjadi. Rico juga ingin tahu, sebesar apa persahabatan antara Jenny dan Nirma.
"Apa? Kenapa? Kamu malah menyelamatkan Nirma dan bayinya, eh?" Jenny seketika menghentikan rengekannya. Jenny terus mengawasi Rico untuk meminta penjelasan. Tampak Rico tersenyum. Hal itu membuat Jenny semakin emosi. Dia segera memukul tubuh Rico dengan begitu kuat.
"Rico, jangan bercanda! Ini nggak lucu!" Jenny membentak dengan nada yang lebih tinggi. Rasanya pukulan saja tidak cukup. Dia benar-benar takut dan tangisannya bukan air mata palsu. Bagaimana mungkin Rico bisa mempermainkan perasaannya hingga separah ini?
"Bayinya sedang dibersihkan. Meski ia terlahir prematur di usia kandungan 7 bulan, tapi bayi kalian benar-benar sehat. Hanya berat badannya saja yang masih kurang. Itu faktor yang umum terjadi pada bayi di mana bayi itu terlahir sebelum waktunya. Hanya saja, Nirma koma. Berdo'alah. Agar Nirma bisa segera sadarkan diri," papar Rico. "Apa sekarang kau bisa tersenyum lagi? Wajahmu ketika menangis sangatlah jelek."
"Rico! Itu bukan sesuatu yang bisa kau buat bercanda! Ini masalah nyawa!" Jenny masih tidak percaya kalau Nirma dan bayinya selamat. "Apa untungnya bagimu mengerjai ku seperti ini?"
Di saat itulah, salah seorang pembantu dokter datang mendekat. Ia tampak ragu-ragu. Sampai akhirnya Rico melihatnya. Barulah ia berjalan sedikit lebih mendekat.
"Dokter, ini sebuah keajaiban! Pasien sudah sadarkan diri," ucapnya.
"Bayinya?" tanya Rico.
"Kami sudah selesai membersihkan bayinya, Dok. Anda bisa memberikan perintah selanjutnya. Apa kami perlu pindahkan bayinya?" balas dokter pembantu itu.
"Anu, maaf. Benarkah bayi dan ibunya selamat?" Jenny menyela pembicaraan. Ia sangat penasaran. Dia tidak akan percaya lagi dengan apa yang dikatakan oleh Rico setelah pria itu mengerjainya habis-habisan.
__ADS_1
"Ya, Nyonya. Pasien dan bayi pasien selamat. Bayinya juga sudah berada di dalam inkubator. Hanya saja kami perlu tahu di mana mereka akan menjalani rawat inapnya," jelas dokter pembantu itu.
"Berikan pelayan terbaik! Cari kamar yang terbaik dan paling nyaman! Berapapun biayanya aku yang akan membayarnya!" pungkas Jenny.
"Sesuai dengan permintaannya. Lakukan!" titah Rico.
Dokter pembantu itu pun undur diri. Kini menyisakan Jenny dan Rico. Jenny menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia hampir meledak. Spontan, Jenny memeluk Rico.
"Rico! anakku selamat! Anakku dan sahabatku!" teriak Jenny. "Anakku ini mama sayang. Ini mama!" teriaknya lagi hingga membuat Rico harus membungkam mulut wanita itu agar tidak menggangu pasien lainnya.
"Jadi, kau akhirnya percaya padaku?" tanya Rico.
"Ya! Terima kasih! Terima kasih, Rico! Kau menyelamatkan hidupku, pernikahanku. Kak Ali, anak kita sudah lahir!" teriaknya lagi tanpa peduli dengan semua pasien yang ada di lorong tersebut.
...***...
"Ya ampun! Dia cantik sekali!" puji Nirma.
"Bukankah seperti dirimu?" kata Jenny.
"Ya iya dong!" Nirma mengibaskan rambutnya. Ini masih hari pertama Nirma berada di tahap pemulihan diri. Meskipun begitu, wanita itu mulai ceria kembali.
"Kau tidak mau menyusuinya walau sebentar, Nir?" Jenny bertanya dengan hati-hati. Sebenarnya Jenny sudah mendapatkan ASI dari bank ASI yang sesuai saran dokter.
"Maafkan aku, Jen. Tapi, ini juga demi kebaikan dia. Kalau seandainya dia terlalu bergantung padaku bagaimana?" terang Nirma.
Jenny menganggukkan kepalanya. "Benar juga ya! Seharusnya aku juga memikirkan hal itu."
"Jen, sebenarnya semalam aku sudah memutuskan untuk tidak melihat bayi ini. Aku tidak mau sampai jatuh cinta padanya."
Perkataan Nirma membuat senyum Jenny luntur. Wanita itu memandang Nirma dengan serius. Dia tidak mau sampai sahabatnya berubah pikiran. Mereka sudah tahap akhir, tidak mungkin harus gagal.
"Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah ikhlas jika putriku yang cantik ini memanggilmu mama."
Nirma mengambil ponselnya. Kemudian ia mengarahkan aplikasi kamera ke arah Jenny dan bayi yang berada di dalam inkubator. Akan tetapi, Nirma hanya memotret dua kali. Tanpa sepengetahuan Jenny. Wanita itu terlihat seperti sedang chating padahal sebenarnya memotret.
"Jen, sebelum ini aku sudah mengambil fotoku dan foto bayi itu. Lalu aku juga memiliki fotomu yang bersama bayi itu. Ah bukan. Bayi kita. Mungkin, suatu saat aku akan merindukan kalian berdua." Nirma membatin sendu.
"Nir! Kenapa kau bengong?" tanya Jenny.
"Aku sudah bersiap, Jen. Mungkin, malam ini aku akan pergi." Ucapan Nirma menyentak Jenny yang sedang bercanda dengan bayi itu.
"Jangan berbicara aneh-aneh, Nirma. Semuanya sudah berlalu. Setelah ini kita akan membesarkan bayi kita bersama-sama," kata Jenny. "Aku sudah putuskan untuk membelikanmu sebuah rumah. Anak ini juga akan memanggilmu mama."
"Tidak, Jen." Nirma menggelengkan kepala. Wanita itu berjalan menuju ke kamar mandi. Membuat Jenny mengernyitkan keningnya. Sampai di mana Nirma menyeret koper besarnya. Tentu saja Jenny berdiri.
"Apa maksudmu, Nirma? Ja-jangan bilang kalau kau akan…"
Nirma tersenyum. "Aku tidak akan mengganggu kebahagiaanmu, Jen. Kalau aku di sini terus, kemungkinan semua kebohongan kita akan ketahuan. Kau ingat sepandai-pandainya tupai melompat pasti akhirnya jatuh juga. Pepatah itu seharusnya kita berhati-hati dengan keadaan. Jadi, aku akan pergi meninggalkan kota ini. Kau jangan khawatir."
__ADS_1
"Tidak, Nirma! Kenapa kau mengatakan hal itu? Bukankah kita bisa. Membesarkan bayi itu bersama-sama. Kenapa kau malah pergi?" Air mata mulai membasahi pipi Jenny.
"Jen, jangan menangis. Kalau aku tidak pergi, bagaimana dengan keluargamu? Mereka akan bingung dengan kehadiranku dan mereka mencari tahu siapa aku. Seorang perawan tapi sudah memiliki putri. Kuharap kau bisa memahami aku, Jen. Bukankah kau sahabat terbaikku?" Nirma membujuk Jenny.
Tampak Jenny menangis terisak dalam kebisuan. Ia tidak tahu kalau ternyata Nirma sudah merencanakan kepergiannya. Terbukti dengan sebuah koper besar yang telah disembunyikannya.
Nirma memang baru saja di operasi. Tetapi dengan tekhnologi yang canggih, wanita itu bisa segera kembali pulih. Bahkan bisa berjalan normal.
Kemudian Jenny mengambil handphone miliknya. Ia lalu men-transfer Nirma uang. Sedangkan handphone Nirma berdering. Mungkin saja itu pemberitahuan dari salah satu aplikasi mobile banking salah satu bank. Kedua mata Nirma membulat.
"Jen, kau tidak perlu melakukan ini!" protes Nirma.
"Lima ratus juta anggap saja sebagai ungkapan terima kasih, Nirma. Kalau kau tidak memiliki cukup simpanan, bagaimana kau bisa menjalani hidup?" rayu Jenny.
"Tenang saja, Jenny. Aku sudah membawa sebagian hidupku," kata Nirma.
Senyuman Jenny menghilang. "Apa?"
"Tara!" Nirma memperlihatkan dua foto di galeri handphone-nya. Di mana itu merupakan foto jenny dan bayi mereka. Juga foto Nirma dan bayi.
"Aku sudah membawa separuh hidupku bersamaku. Aku tidak membutuhkan yang lain, Jenny. Karena bagiku, kau yang terpenting."
Jenny berlari untuk memeluk Nirma. Tangis kedua wanita itu pecah. Ini momen paling menyedihkan selama mereka menjadi sahabat.
"Aku harus kemana jika nanti aku merindukanmu?" lirih Jenny dengan wajah manjanya.
"Jangan katakan kalimat seperti itu. Hal itu hanya akan membuatku berat untuk melangkah pergi."
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan dan menguatkan hati masing-masing. Hingga tidak lama kemudian dokter Riko masuk untuk mengganggu suasana haru tersebut.
"Jen, gawat! Ali ada di rumah sakit ini."
"APA?" Jenny dan Nirma segera melepas pelukan mereka. Mereka berdua sama-sama kaget.
"Bagaimana bisa? Aku tidak ada menghubungi Kak Ali. Kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di rumah sakit ini?"
"Ya Itu dia masalahnya. Kau tidak memberi kabar kepada Ali jadi dia khawatir lalu menghubungi orang yang bekerja di villa. Mereka semua memberi informasi kalau kau dan Nirma berangkat ke rumah sakit dengan terburu-buru. Suami mana yang tidak khawatir jika mengetahui kondisi seperti itu?" ujar Rico.
"Jen, sepertinya sekarang Aku harus pergi. Aku tidak mau sampai Kak Ali melihatku ada di sini."
Nirma memandang ke arah Dokter Rico. "Dok, tolong bantu Jenny untuk berpura-pura. Buat seolah-olah Jenny baru saja melalui operasi."
"Nirma, tunggulah sebentar lagi. Aku masih belum bisa untuk melepaskanmu pergi," bujuk Jenny. Wanita itu bahkan tidak tahu harus bagaimana sekarang. Menemui Ali atau mempertahankan Nirma beberapa jam lagi.
"Jen, Jangan main-main. Suamimu sudah ada di sini. Apa kau mau jika rencana kita yang sudah kita susun selama 9 bulan ini ketahuan begitu saja?" Nirma memandang lagi ke arah bayi yang ada di inkubator. "Mama pergi dulu Sayang. Mama yakin setelah ini hidupmu akan bahagia," batin Nirma.
"Jen, cepat ikut denganku," ajak dokter Rico. Pria itu akan memulai akting mereka dan membuat Jenny seolah-olah habis saja melahirkan.
Jenny memeluk Nirma sekali lagi. Wanita bahkan mengecupnya. "Hubungi aku. Tolong jangan ganti nomor, Nir," pinta Jenny sebelum lari bersama Rico.
__ADS_1
Saat baru saja tiba di depan pintu, Jenny dan Rico dibuat kaget ketiga Ali sudah ada di hadapan mereka. Pria itu berhenti dengan wajah bingung. Tangan Rico yang kini menggandeng Jenny menjadi perhatian utamanya.
"Jenny ... Dokter Rico?"