
Setelah malam itu, keesokan harinya Ali kembali pergi ke luar kota untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ali tidak lagi merengek untuk datang mengunjungi Jenny. Pria itu benar-benar menjauhkan diri dari istrinya agar selama kehamilan, istrinya bisa merasa jauh lebih nyaman.
Meskipun berbulan-bulan lamanya tidak bertemu, tetapi Jenny dan Ali selalu komunikasi melalui video call telepon dan chatting. Hal itu membuat Jenny dan Ali selalu merasa bersama. Jenny juga mengirim hasil USG Nirma setiap bulannya kepada Ali.
Selama Ali tidak ada, Jenny fokus untuk mengurus kehamilan Nirma. Wanita itu tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Bahkan pekerja yang ada di villa itu mereka beri jadwal agar tidak sering-sering berada di dalam villa. Setelah selesai bekerja para pekerja diminta untuk kembali pulang ke rumah yang sudah disiapkan untuk mereka. Jenny tidak mau sampai ada yang menyadari kehamilan palsunya.
"Kau ingin makan apa Nirma? Malam ini sepertinya makan yang sedikit berat lumayan juga. Di luar sedang hujan. Apa kita perlu memasak ikan bakar?" Jenny bertanya pada Nirma yang kala itu keduanya sedang bersantai di depan Taman.
Mereka berdua menikmati suasana yang sejuk dengan suara gemericik air hujan. Sejak pagi memang cuaca tidak bersahabat. Hujan gerimis melanda tempat itu. Sampai-sampai Nirma dan Jenny harus memakai jaket karena cuaca terasa begitu dingin ketika malam tiba.
Nirma tersenyum. "Ikan bakar boleh juga. Tapi kita tidak memiliki ikan. Memangnya kita akan mendapatkan ikan di mana?"
"Sebenarnya Rico sempat bilang
Kalau wanita hamil tidak boleh memakan ikan bakar karena ditakuti ikan itu belum matang sempurna ketika dimakan. Berhubung kita tidak pernah memakan ikan bakar, aku setuju dengan permintaanmu. Toh kandunganmu juga sudah besar. Anakku pasti akan baik-baik saja di dalam sana yang penting kau tidak makan berlebihan." Jenny kembali berpikir agar bisa mendapatkan ikan segar untuk di bakar.
"Bukankah kita memiliki pelayan di belakang? Memang mereka tidak pernah ke depan. Karena memang aku ingin tidak ada orang yang terlalu ikut campur dengan villa ini. Tapi, mereka biasanya datang ketika mereka akan membersihkan tempat ini. Itu sama saja. Mungkin ada pasar yang buka malam. Atau ada kolam yang ikannya boleh dibeli," terang Jenny.
"Benar juga. Aku pikir kita bisa mencoba resep baru itu sekarang." Nirma tampak bersemangat. Wanita itu mengusap perutnya yang membuncit dengan bahagia.
Ia memang menyukai ikan semenjak melewati trimester kedua. Wanita itu terus saja tersenyum seolah tidak sabar untuk mencicipi ikan bakar. Jenny pun berdiri dan dia berjalan untuk mencari pelayan yang biasanya membersihkan villa itu.
"Permisi, Bibi. Bisakah saya meminta tolong untuk membeli ikan?" Jenny kebetulan menemukan seorang pelayan yang usianya paruh bayar. Tampak pelayan itu sangat senang dengan permintaan Jenny. Dia meletakkan alat bersih-bersihnya lalu memandang Jenny.
"Jadi, Anda ingin makan ikan?" tanya pelayan itu. "Apa mau saya bantu untuk memasaknya, Nona?"
Jenny menganggukkan kepalanya. "Sekalian Bibi bisa membelikan saya bahan untuk membuat sambalnya. Sepertinya hujan-hujan seperti ini sangat cocok untuk memasak menu ikan bakar itu. Anda hanya perlu membantu untuk membersihkan ikannya dan membuat bumbunya saja. Karena saya ingin membakarnya sendiri."
"Oh si Eneng mah pengen makan ikan?" Tiba-tiba dari arah depan muncul seorang laki-laki berusia paruh baya.
Jenny mengenalinya sebagai tukang kebun yang selalu merawat kebun sayurnya. Jenny tersenyum menyapa kedatangan laki-laki paruh baya itu. "Iya, Mang. Suasananya sangat cocok untuk makan ikan bakar itu."
Terlihat tukang kebun itu menganggukkan kepalanya. "Di kolam juga ada, Neng! Biasanya memang ikan gurame yang paling enak. Karena kebetulan uang untuk merawat kebun cukup layak, sehingga saya membelikan beberapa bibit ikan gurame. Biasanya memang kami bisa memanennya setiap saat. Eneng mau diambilkan?"
Jenny melebarkan kedua matanya. Dia tidak menyangka kalau di villa itu rupanya sudah tersedia banyak hal. Kedua mata Jenny terlihat berbinar bahagia.
"Yang bener, Mang? Wah seru dong! Memangnya kolamnya di mana?" tanya Jenny.
__ADS_1
Tukang kebun itu pun tersenyum. Ia segera berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari Jenny. Kemudian dengan penuh semangat Jenny mengikuti tukang kebun itu dari belakang.
"Jen, mau kemana?" teriak Nirma.
"Ayo ikut! Kita akan mengambil ikan di kolam."
Nirma segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu berjalan menghampiri jennie yang masih menunggunya. Nirma berjalan dengan sangat hati-hati karena memang kini perutnya sudah mulai besar.
"Hati-hati," bisik Jenny. Wanita itu segera memegang tangan Nirma dan membawanya berjalan bersama.
Kini mereka berdua berada di belakang Villa tepatnya di samping kebun sayur itu. Jenny lagi-lagi melebarkan mata. Sebab ia tidak tahu kalau di tempat itu justru terdapat kolam yang memang seperti terisi banyak ikan.
"Waktu saya ke kebun sayur, kolam ini tidak ada, Mang?" Jenny heran lantaran sewaktu dia masuk ke kebun sayur, wanita itu tidak menemukan kolam itu sama sekali.
"Mungkin si Eneng mah lagi seneng metik sayur yang segar. Jadi wajar kalau tidak melihat sekeliling. Mamang ambilin ya?" Tukang kebun itu pun bergerak mengambil ikan gurame.
Sekita 30 menit, Jenny sudah mendapatkan ikan gurame sebanyak 4 ekor. Setelah berterima kasih dan meminta maaf, Jenny kemudian pergi dari sana. Ia dengan senang hati pergi ke tempat Nirma menunggu. Karena memang tadi Jenny melarang Nirma agar tidak ikut ke pinggiran kolam. Terlalu berbahaya bagi wanita hamil.
"Wah! Jenny! Banyak banget ikannya! Dapat dari mana? Nggak nyolong kan?" Nirma menunjuk pada ikan gurame yang gemuk-gemuk itu.
"Di kolam belakang. Ayo, kita masak!" Jenny berucap sambil berjalan cepat. Nirma tidak protes lagi sebab ia mendadak ingin mencicipi rasanya.
"Hei! Yang masak aku! Minggir. Aku akan mencucinya. Jangan khawatir di kebun ada banyak cabe kok, Nir. Kita aman! Tadinya aku ingin minta bantuan pelayan yang aku temui di belakang dan dia menyetujuinya untuk membantuku membuat bumbu dan membersihkan ikan. Tetapi tiba-tiba saja Dia memiliki urusan lain yang jauh lebih penting. Jadi aku tidak tega untuk memaksanya. Mau tidak mau sekarang aku harus mengurus ikan ini sendirian sampai ikan ini matang sempurna." Jenny mengukir senyuman. Mendengar itu, Nirma justru berdiri dari tempat duduknya.
"Kalau begitu biar aku saja yang ambil cabe! Serahkan padaku hal yang kecil itu! Kau fokuslah pada ikan bakar aku ya!" Nirma kemudian mengambil keranjang yang biasa dipakai Jenny untuk mengambil sayur di kebun.
Melihat Nirma yang pergi itu, Jenny terkekeh. Memang hal menyenangkan adalah saat mereka panen sayur di kebun. Bahkan terkadang Nirma atau Jenny selalu suka berebut.
Dalam suasana yang seperti itu, terkadang keduanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Meskipun keduanya terkadang memiliki perbedaan pendapat, kenyataannya hubungan mereka baik-baik saja. Mereka benar-benar terlihat seperti saudara yang saling menyayangi.
Sambil berjalan Nirma mengukir senyum manis di bibirnya. Ia tidak pernah merasa iri lagi terhadap Jenny. Jenny memang memperlakukannya dengan baik selama ini. hingga akhirnya membuat Nirma menyingkirkan prasangka buruk yang selalu saja muncul di dalam pikirannya.
"Nak, tidak lama lagi kau akan lahir ke dunia ini. Tetapi sejak kau lahir, sejak saat itu juga kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Nanti ketika kau lahir Mama tidak mau melihat wajahmu. Bukan karena mama membencimu tetapi Mama tidak mau menyayangimu karena itu akan membuat Mama berat ketika ingin menyerahkanmu kepada Tante Jenny nantinya. Setelah melihat Tante Jenny bahagia bersama denganmu, Mama akan menghilang dari kehidupan mereka. Mama rasa ini keputusan yang terbaik untuk kami semua." Nirma mengusap perutnya sambil terus berjalan ke kebun cabe.
Kehamilan Nirma sudah memasuki usia 7 bulan. Bukankah mereka berdua sudah menjalani banyak hal di kehidupan sulit mereka? Jenny tidak memiliki rahim. Lalu ia merelakan sahabatnya berhubungan dengan suaminya.
Serta Jenny mengijinkan sahabatnya itu mengandung anak suaminya. Akan tetapi setelah terjadi banyak konflik, mereka berdua mampu melewati segala rintangan.
__ADS_1
...***...
Pagi ini Jenny dan Nirma bangun agak siangan. Tadi malam setelah bakar ikan mereka tidak bisa tidur cepat. Mereka berdua menonton televisi sambil menikmati cemilan lainnya. Hingga akhirnya mereka baru bisa tidur ketika jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Setelah selesai mandi Jenny berjalan menuju ke kamar Nirma. Biasanya justru Nirma yang bangun lebih dulu dan mengganggunya di kamar. Tetapi pagi ini suara Nirma sama sekali tidak terdengar hingga membuat Jenny menjadi khawatir.
"Nirma, apa kau sudah bangun?" Jenny menahan kalimatnya sejenak. "Apa kau baik-baik saja, Nirma?" tanya Jenny.
Wanita itu sudah mengetuk pintu kamar Nirma berulang kali. Jam juga sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Akan tetapi Nirma tidak bangun juga maupun membuka pintu kamarnya. Sehingga Jenny merasa semakin khawatir. Oleh sebab itu Jenny membuka pintu kamar Nirma dengan paksa.
Beruntungnya ia memiliki kunci cadangan karena ia merupakan pemilik dari villa tersebut. Saat Jenny membuka pintu kamar Nirma, tampak Nirma sedang tertidur dengan wajahnya yang pucat.
Perlahan Nirma membuka kedua matanya. Jenny pun mendekat ke tempat Nirma. Wanita itu duduk tepat di samping Nirma yang sedang berbaring lemas.
"Apa kau baik-baik saja?" Jenny mengulangi pertanyaannya tadi.
Nirma menarik napasnya dalam-dalam. Wanita itu seperti memiliki beban yang sangat besar. Jenny terus mengamati perubahan ekskresi di wajah Nirma. Bicara saja Nirma terasa malas.
"Katakan padaku. Apa yang kau rasakan? Kalau kau merasa tidak enak badan aku akan memanggil dokter ke sini." Jenny menyentuh dahi Nirma.
Jenny melebarkan kedua mata saat ia merasakan bahwa tubuh Nirma sedikit demam. Jenny mengamati lagi wajah Nirma yang pucat. Detik itu Jenny merasa kalau ada yang tidak beres.
"Sepertinya kita harus ke dokter." Saat Jenny hendak berdiri Nirma menahan tangan Jenny. Sontak saja Jenny menoleh ke arah Nirma.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya masuk angin saja. Bisakah kamu membuatkan aku teh hangat? Aku akan meminum vitaminku." Nirma berbicara dengan lemas. Wanita itu kembali memejamkan kedua mata dan melepaskan tangan Jenny.
"Bahkan duduk saja dia tidak sanggup masih bilang baik-baik saja!" Jenny kembali duduk dan berusaha untuk membujuk Nirma. "Jangan seperti itu. Kita harus tahu apa yang kau rasakan! Jangan menganggap sepele hal ini Nirma! Kau sedang hamil Nirma! Aku akan mengemasi pakaianmu dan kita akan segera pergi ke dokter!" Jenny berusaha untuk bangkit lagi. Namun ia lagi-lagi ditahan oleh Nirma.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kelelahan kemarin." Nirma berusaha untuk menenangkan Jenny. Ia bahkan tersenyum agar Jenny tidak lagi khawatir. "Percayalah padaku. Aku baik-baik saja." Sebenarnya Nirma tidak mau pergi kemanapun karena memang dia merasa tidak enak badan. Menghirup aroma rumah sakit hanya akan membuatnya semakin parah.
"Mungkinkah kau kelelahan karena kemarin memanen cabe di kebun? Kau seharusnya mengambil cabe di sana hanya seperlunya saja, Nirma. Bukan malah memanen sayuran lain! Lihat sekarang, kau malah demam!" gerutu Jenny. Rasanya Jenny menyesal karena sudah membiarkan Nirma pergi memetik cabe di halaman belakang semalam.
"Tapi kau harus membersihkan tubuhmu mari aku bantu mandi ke kamar mandi." Jenny menarik selimut yang menutupi tubuh Nirma.
Meskipun Nirma menolak untuk berangkat ke rumah sakit tetapi Jenny tidak akan diam saja melihat sahabatnya dalam keadaan kotor seperti itu. Setidaknya Nirma harus mengganti pakaiannya dan cuci muka di kamar mandi.
Namun, ada yang menarik perhatian Jenny. Wanita itu melebarkan mata dan menutup mulutnya dengan cepat. Kemudian ia juga melirik ke arah Nirma yang berkeringat dingin.
__ADS_1
"Nirma! Kenapa ada darah di kedua kakimu?"