
"Sebenarnya aku tidak yakin apabila Nirma akan segera hamil setelah satu kali berhubungan badan. Jenny kau tahu di luar sana ada banyak pejuang garis 2? Itu artinya tidak mudah untuk mendapatkan keturunan meskipun kau memiliki rahim sekalipun." Penjelasan dari Rico membuat Jenny tersentak kaget wanita itu menundukkan kepalanya.
Meskipun apa yang dikatakan oleh Rico benar adanya, tetapi Jenny menolaknya alam bawah sadarnya. Wanita itu sedikit tidak rela apabila suaminya harus menghabiskan malam yang panas dengan sahabatnya.
"Aku sudah memberitahukan hal itu sebelumnya. Tapi kita bisa mendorong supaya Nirma memiliki fisik yang sehat agar benih itu tumbuh dengan sehat. Aku akan merekomendasikan vitamin maupun makanan sehat yang hari Nirma konsumsi." Rico menjelaskan bahwa mereka masih memiliki kemungkinan untuk segera mendapatkan hasil.
Senyuman di bibir Jenny mulai tampak lagi. Wanita itu menatap Rico penuh harap. "Terima kasih, Rico. kau sudah banyak membantuku," kata Jenny.
"Maaf Jenny. Seperti yang aku katakan, ini bukan solusi yang baik. Tapi ini juga bisa menjadi harapanmu." Rico mulai menuliskan resep vitamin maupun makanan apa yang perlu Nirma konsumsi.
Ini semua ia lakukan untuk membantu sahabatnya. Walaupun Jenny melakukan banyak kesalahan, setidaknya ia ingin mendukung apapun yang Jenny lakukan.
Di sisi lain, Nirma hanya melihat interaksi antara Jenny dan Rico. Wanita itu tidak ingin mengganggu keduanya. Tugasnya hanyalah mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Rico dan segera mengandung anak yang diinginkan oleh Jenny. Rico memberikan catatan kepada Nirma.
Wanita itu mulai membaca setiap resep yang sudah ditulis oleh Ridlco. Namun tiba-tiba Jenny mengambil kertas tersebut. Wanita itu pun bergantian membaca apa saja yang sudah ditulis oleh Rico.
"Biar aku yang mengurusnya. Jadi kapan Nirma harus kontrol lagi?" Jenny tidak sabar untuk segera mendapatkan hasilnya.
Rico menatap sahabatnya dengan dalam. Ia tahu bahwa Jenny sangat menginginkan seorang anak. Akan tetapi Rico juga tidak memiliki saran apapun yang lebih baik daripada merelakan Jenny untuk bersama dengan wanita yang sudah ia sewa rahimnya.
Rico menarik nafas dalam-dalam. "Datanglah ke sini setelah 2 minggu. Kita akan melihat hasilnya." Rico menjawab dengan susah payah. Kini laki-laki itu bisa melihat binar bahagia di mata Jenny.
Entah sudah berapa lama Jenny selalu merenung kesalahan yang pernah ia lakukan. Yaitu mengangkat rahimnya. Hanya untuk alasan yang sepele.
"Terima kasih Rico. Kami akan kembali lagi setelah 2 minggu kemudian." Jenny tiba-tiba berdiri.
Wanita itu menarik tangan Nirma sebagai isyarat agar sahabatnya itu tersedia untuk mengikutinya. Mau tak mau Nirma mengikuti Jenny. Wanita itu tersenyum pada Rico dan kemudian mengikuti langkah kaki Jenny pergi meninggalkan tempat itu.
"Jenny, kenapa kau tiba-tiba langsung mengajakku pulang?" tanya Nirma.
"Kita harus segera mencari resep vitamin dan susu untuk program kehamilanmu. Supaya dua minggu lagi kita mendapatkan hasil sesuai dengan harapan kita," jawab Jenny.
"Jenny." Nirma menghentikan langkah kakinya. Membuat Jenny juga melakukan hal sama. Wanita itu menatap bingung pada Nirma.
__ADS_1
"Kenapa?" Jenny bertanya dengan bingung.
"Sejujurnya aku sedikit takut." Pernyataan dari Nirma membuat Jenny seketika bimbang.
Bila berbicara tentang rasa takut itu, hati nurani Jenny lebih takut ketimbang Nirma. Jenny takut keputusan yang ia ambil tidak membuahkan hasil yang maksimal. Tentu saja Jenny jauh lebih takut apabila suaminya kembali berhubungan dengan sahabatnya.
"Jika berbicara tentang rasa takut ada banyak ketakutan yang terus merasuk ke dalam hatiku. Namun apakah aku memiliki pilihan lain? Jelas tidak. Karena aku sudah tidak memiliki rahim untuk mengandung buah cinta kami berdua. Jika aku jujur, apa yang akan terjadi pada pernikahanku? Kak Ali sangat menginginkan seorang anak. Bukankah jawabannya hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku tempuh tanpa membuat Kak Ali mengetahui kebenarannya." Jenny berbicara dalam hati. Wanita itu mengulas senyuman pada Nirma.
"Kalau berbicara tentang ketakutan itu pasti ada. Akan tetapi aku tidak memiliki pilihan lain. Ayo kita segera bergegas mencari semua yang sudah ditulis oleh Rico." Jenny berusaha menepis rasa sakit yang menyeruak dalam dada.
Wanita itu mencoba untuk melupakan bahwa ada kalanya setiap usaha mengalami kegagalan. Jenny hanya ingin menyelamatkan rumah tangganya. Sedangkan Nirma, ingin membalas budi pada Jenny yang sudah menebusnya dengan nominal uang yang tidak sedikit.
Kedua wanita itu akhirnya sepakat untuk mencari vitamin maupun susu promil. Jenny maupun Nirma sesekali bercanda untuk melupakan segala permasalahan mereka. Keduanya seperti sahabat yang tidak pernah memiliki masalah.
"Ini banyak banget, Jen?" Nirma terkejut ketika Jenny banyak memasukkan susu untuk program hamilnya.
Jenny tersenyum. "Ini demi anakku, Nir. Hust! Sudah diam. Kau harus menurut."
"Tapi, Jen. Jangan berlebihan. Kita harus memastikannya terlebih dahulu," tegur Nirma.
"Kau tahu, Nir. Aku terlalu senang. Sampai-sampai aku lupa bahwa semua masih samar. Maaf, Nir. Apa aku terlihat menyedihkan?" Jenny memandang Nirma dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Nirma merapikan anak rambut Jenny dan menaruhnya di belakang telinga. Nirma seolah paham jika Jenny sedang patah hati.
"Jika suatu saat nanti aku benar positif, lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Jen. Aku tidak akan melarangmu. Kau masih memiliki banyak waktu. Aku akan berada di sampingmu," hibur Nirma.
"Sayangnya aku tidak memiliki keikhlasan hati yang besar, Nir. Aku tidak rela suamiku bercinta dengan wanita lain. Terlebih itu sahabatku sendiri. Bukankah sangat menyakitkan?" Jenny membatin miris.
Sepulang dari apartemen Nirma, Jenny langsung pulang ke rumah. Wanita itu tidak memiliki rencana apapun selain ingin menenangkan diri.
Jenny mengisi bathup dengan air hangat. Kemudian wanita itu menuangkan aromatherapy ke dalamnya. Setelah itu, Jenny menaburkan bunga-bunga yang ia ambil dari taman belakang. Kali ini Jenny benar-benar membutuhkan ketenangan.
Berbeda dengan Jenny yang sedang mengumpulkan kewarasannya, Nirma tengah memandangi semua barang belanjaan Jenny. Berbagai vitamin, buah-buahan dan susu untuk program hamil pun tersedia di sana.
__ADS_1
Nirma mendudukkan bokongnya di tepian ranjang. Wanita itu memandangi barang-barang yang masih tergeletak di lantai. Kemudian pandangan Nirma beralih pada tas branded yang juga dibelikan Jenny.
Tangan Nirma menggapai tas tersebut. Ia mengamati price tag yang ada di sana. Nirma menghela napas. Tas berharga puluhan juta nyatanya sanggup Jenny beli tanpa memandang nominalnya.
"Hidupmu benar-benar seperti mimpi, Jen. Sayangnya, sesempurna apapun hidupmu kau tidak akan bisa merasakan menjadi wanita seutuhnya. Sedangkan aku? Aku memiliki kesempatan itu. Tapi, sayangnya aku sangat sial dalam hal keuangan. Sekeras apapun usahaku. Bukankah hidup sangat tidak adil padaku?"
...***...
"Masuk!"
Dokter Rico terlalu asyik dengan lembaran diagnosa penyakit pasien yang ada dihadapannya. Sampai-sampai pria itu tidak sadar kalau yang masuk ke dalam ruangannya Adah calon istrinya. Bukan pasien maupun perawat yang biasa membantunya.
"Sekarang ceritakan semuanya padaku atau pernikahan kita gagal!"
Dokter Rico memandang ke arah calon istrinya. Pria itu membeku. Walaupun begitu, dia masih saja mencari cara untuk menyembunyikan semuanya.
"Tidak lucu. Pernikahan bukan sebuah lelucon," ucap Dokter Rico. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki dan berjalan mendekati wanita tersebut.
"Berhenti di sana!" Wanita itu menolak kehadiran Dokter Rico. Dia menahan air mata yang hampir menetes. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Aku mengikutimu selama beberapa hari ini. Kau ke apartemen seorang wanita bernama Nirma. Pergi bertemu dengan Jenny. Bahkan aku sempat melihatmu mengawasi Jenny dari jarak jauh. Apa ini? Apa aku hanya pelarian saja? Apa kau menikahiku bukan karena cinta!"
"CUKUP!" Dokter Rico menggeram. Dia tahu tidak sepantasnya dia bersikap seperti ini. Wanita itu juga tidak akan marah jika Dokter Rico terbuka sejak awal.
"Kau bahkan berani membentakku sekarang! Bahkan kita belum menikah. Apa jadinya ketika kita sudah menikah nanti?"
Dokter Rico Memejamkan mata dan mengatur nafasnya untuk meredam emosi yang hampir saja menyeruak. Dia sudah cukup stres dengan masalah yang dialami Jenny. Kini justru wanita yang ia cintai mencari masalah baru.
"Jenny tidak memiliki rahim. Aku membantunya untuk mendapatkan anak dari rahim wanita lain!"
Pada akhirnya kalimat itu terucap juga. Dia mencintai calon istrinya dan tidak mau sampai pernikahannya gagal.
"Tidak memiliki rahim? Bagaimana bisa?" Jelas saja wanita itu tidak mau percaya begitu saja.
"Jenny mengangkat rahimnya ketika masih gadis. Setelah menikah dia baru sadar kalau seorang wanita wajib memiliki rahim untuk melengkapi pernikahannya. Aku sudah memberi saran agar dia mengambil anak di panti asuhan. Tetapi Jenny menolak. Pada akhirnya dia meminjam rahim sahabatnya yang bernama Nirma!"
__ADS_1
Wanita itu geleng-geleng kepala dengan tatapan tidak percaya. "Ini tidak mungkin."