Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 36


__ADS_3

"Kak, sebaiknya jangan dulu. Karena Kak Ali di sana juga sudah bekerja keras. Lebih baik kalau Kak Ali tetap di sana. Istirahat dengan baik dan supaya bisa bekerja lebih keras lagi." Jenny berusaha menahan Ali agar tidak datang ke villa. Dia sudah pusing melihat Nirma yang mual-mual. Jenny tidak mau semakin pusing lagi karena harus memikirkan Ali yang akan berkunjung ke villa.


"Gawat! Kak Ali ingin ke sini. Ya Tuhan, bagaimana ini?" Jenny membatin bingung. Ia terus mendapatkan banyak serangan mendadak dari Ali.


"Tidak apa, Sayang. Aku tetap harus menjengukmu dan calon bayi kita. Lagipula aku hanya sebentar saja. Aku rindu sekali denganmu dan calon bayi kita," tolak Ali. Kerinduan pria itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia ingin segera memeluk istrinya!


"Tidak, Kak. Bukan aku ingin melarangmu datang. Tapi, aku tidak tega kalau Kak Ali kelelahan. Sedangkan aku tidak bisa merawat dan menjaga Kak Ali kalau sampai Kakak kelelahan kemudian jatuh sakit. Bukankah itu akan menjadi ketakutanku? Mengetahui jika Kak Ali lelah terus sakit tapi aku tidak bisa merawat, itu akan membuatku semakin stres." Akhirnya Jenny sedikit lega. "Bisa-bisanya aku kepikiran untuk mengatakan kalimat seperti itu," batinnya sambil tersenyum kecil.


Di saat genting seperti itu otaknya mampu bekerja. Itu merupakan alasan yang tepat supaya Ali tidak datang dan memikirkan dirinya. Bilamana Ali kelelahan bisa berakhir drop serta itu akan menjadi beban pikiran Jenny. Di ujung seberang telepon, Ali terdiam lama. Sepertinya ia sedang berpikir keras. Dan mulai membenarkan apa yang dikatakan oleh Jenny. Karena memang jarak tempatnya bekerja dengan Villa yang ditempati Jenny bukan main jauhnya. Tidak harus menggunakan pesawat saja. Ali juga harus menggunakan mobil dan menempuh perjalanan panjang sebelum bisa tiba di vila. Apa lagi karena lokasinya pegunungan. Ali tidak mau ambil resiko jika sampai kemalaman di jalan. Karena sepanjang perjalanan dia hanya akan menemukan jalanan terjal yang dikelilingi jurang yang curam.


"Kak Ali? Kakak tenang saja. Aku akan memberitahu Kak Ali ketika nanti aku mendatangi dokter untuk USG. Aku akan mengirimkan foto calon bayi kita. Jadi, siapa tahu Kak Ali akan semakin bersemangat bekerja agar masa depan kita berdua terjamin." Lagi-lagi Jenny mengeluarkan rayuan mautnya pada Ali. Biasanya jika seperti ini Ali tidak akan tega membiarkannya bersedih.


"Benar juga ya, Sayang. Memang ada banyak pekerjaan menumpuk belakangan ini. Ini yang aku suka darimu. Kau bukan wanita yang manja, Sayang. Terima kasih ya." Akhirnya Ali mengalah. Laki-laki itu benar tidak ingin membuat wanitanya bersedih. "Yang penting aku masih bisa mendengar suaramu setiap kali aku merindukanmu."


"Tidak masalah, Kak. Kita sebagai suami istri memang sudah seharusnya saling mendukung. Tapi, ketika Kak Ali pulang nanti belikan tas yang belakangan ini sedang aku incar. Kak Ali tidak lupa bukan brand apa yang aku suka. Jangan lupa bawakan itu sebagai hadiah ya!" Jenny kembali tersenyum. Ia lega karena memiliki suami yang sangat pengertian.


"Ha-ha-ha! Astaga! Jadi, kau memintaku agar bekerja keras karena ada tas yang kau inginkan, Sayang? Hmmm. Baiklah. Tunggu aku pulang, kita bisa mencarinya bersama. Sepertinya memang aku harus bekerja keras ya!" Ali akhirnya mengurungkan niatnya untuk datang menjenguk Jenny.


Laki-laki itu percaya pada Jenny supaya dirinya tidak kelelahan lantaran harus bolak-balik ke luar kota dan ke Villa. Jenny mengusap dadanya dan bernapas lega.


Hingga akhirnya keduanya pun terus berbicara dan membahas banyak hal. Ada banyak harapan yang Ali ucapkan. Entah sudah berapa lama Jenny berada di sana dan terus bertukar kabar dengan Ali. Sampai pada akhirnya wanita itu pun mengakhiri panggilan teleponnya.


Jenny memejamkan kedua matanya. Kemudian ia bernapas lega lantaran Ali bersedia mengikuti kata-katanya. Setelah itu Jenny membuka mata. Ia termenung sejenak.


"Aku tidak masalah apabila dia datang. Akan tetapi masalahnya saat ini adalah dia ingin merasakan bagaimana bayi di dalam perutku bergerak. Sedangkan aku hanya menggunakan bantal hamil saja dan itu sangat mustahil. Astaga!" Jenny memijat pelipisnya. "Apa ada alat canggih yang bisa membuat perutku bergerak seolah ada bayi di dalam sana?"


Kepalanya sungguh pusing dan rasa was-was terus saja membayanginya. Jenny pun keluar dari kamar. Wanita itu berjalan ke tempat Nirma yang sedang menikmati makanannya.


Rupanya Nirma sudah selesai. Tampak ia telah menghabiskan dua mangkuk bubur ayam itu. Jenny tersenyum melihatnya. Meskipun perutnya juga perih karena belum sarapan. Akan tetapi ia lebih memilih untuk mengalah agar Nirma benar-benar kenyang.


"Kau sudah menghabiskan makananmu?" Jenny bertanya sambil duduk di kursinya kembali. "Apa masih terasa mual? Atau ingin sesuatu?"


"Kau ke mana saja? Bubur ayam ini enak. Besok aku mau lagi. Apa kau tidak keberatan, Jen?" Nirma meminta Jenny agar besok ia membeli bubur ayam itu lagi.

__ADS_1


"Tentu. Aku senang, kau bisa menghabiskan makananmu. Sekarang kau harus minum vitaminmu. Aku akan membuatkan susu untukmu. Pergilah ke kamar dan istirahat." Jenny berdiri lagi. "Oh ya, jangan lupa selalu gunakan aroma terapi agar rasa mual itu bisa hilang. Istirahatlah yang cukup dan jangan pikirkan hal lain selain anak itu."


"Memangnya apa yang aku pikirkan? Hidupku menjadi sangat tenang setelah aku mengenalmu," sahut Nirma.


Jenny berdiri di belakang Nirma lalu memijat pundak wanita itu secara perlahan. "Bersabarlah! Sebentar lagi anak ini akan lahir dan kau tidak akan menanggung beban lagi. Hidupmu akan benar-benar bahagia dan bebas! Aku berani jamin itu."


"Hemm, ya ya. Aku percaya. Aku sudah tidak sabar menunggu bulan April. Anak ini lahir dan aku benar-benar bebas!" Nirma beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke kamar. Sambil berjalan wanita itu memijat pinggangnya yang terasa pegal.


"Hati-hati!" teriak Jenny.


Ia akan membuat susu hamil untuk Nirma. Kini Nirma hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Wanita hamil itu memilih patuh kepada Jenny.


Saat Nirma berjalan meninggalkannya, Jenny terus mengamati Nirma. Wanita itu sedikit lebih kurus dari biasanya. Membuat Jenny merasa iba.


"Terima kasih, Nir. Kau sudah bersedia untuk membantuku. Jika kau tidak ada, aku tidak tahu bagaimana nasib pernikahanku ke depannya. Meskipun sekarang aku juga belum tenang karena harus menyembunyikan banyak kebohongan, tapi aku mohon bertahanlah sampai akhir. Demi aku." Jenny berharap kalau Nirma dapat bertahan sampai akhir.


Ada banyak ketakutan dalam dirinya. Bagaimana kalau Nirma tak mampu bertahan sampai akhir? Juga bagaimana kalau semua kebohongan Jenny terungkap. Jenny tak mampu untuk membayangkannya. Rasanya memang ia lelah lantaran banyak berbohong. Terlebih terlalu banyak masalah yang datang secara tiba-tiba.


Tak lama kemudian, Jenny berlalu dari sana. Para pelayan berada di rumah belakang ketika semua pekerjaan sudah selesai. Hal itu agar meminimalisir keadaan yang diluar rencana. Lima belas menit setelah Jenny selesai dengan segelas susu ibu hamil itu, ia berjalan menuju ke kamar Nirma.


Wanita itu perlahan masuk ke dalam kamar ibu hamil itu. Seketika ia mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Lalu menaruh segelas susu itu di nakas.


"Ya ampun, dia kemana? Nir?" Jenny membuka pintu kamar mandi.


Kosong. Nirma tidak ada di sana. Jenny mulai panik. Ia berjalan cepat keluar kamar. Kedua mata Jenny bergerak liar mencari keberadaan Nirma yang secara mendadak menghilang.


"Nirma! Nirma! Jangan buat aku khawatir!" teriak Jenny.


"Jen, kenapa kau teriak-teriak?" Suara Nirma mengejutkan Jenny. Dengan cepat Jenny menoleh ke ara sumber suara. Terlihat Nirma sedang memberi makan ikan Koi. Wanita itu menggunakan sarung tangan plastik dan terus menebar pakan ikan ke kolam. Seketika Jenny bernapas lega. Ia berjalan mendekati Nirma yang berdiri tepat di dekat kolam.


"Nir! Kau membuatku takut!" bentak Jenny.


Dahi Nirma mengernyit. "Kenapa? Aku sedang memberi makan ikan."

__ADS_1


Jenny memutar bola matanya kesal. "Kau tidak mengatakan apapun padaku! Jelas aku khawatir, Nirma! Lain kali jangan seperti ini lagi! Kau harus mengatakan padaku jika kau mau pergi kemana-mana!"


Kali ini Nirma memutar bola mata. Lantas mengalihkan pandangan dari Jenny. Bibirnya mengerucut ke depan. Seolah Nirma kesal kepada Jenny.


"Kau mendengarkan aku tidak, Nir?" kesal Jenny.


"Tadi saat aku mau istirahat aku lihat tukang kebunmu sedang memberi makan ikan. Kupikir ini menyenangkan, Jen. Apa kau tidak sadar kalau belakangan ini terlalu sensitif, Jen?" Nirma kembali menatap Jenny.


"Sensitif?" ulang Jenny.


"Iya. Kau belakangan ini terlalu sering melamun. Seperti kau sedang memiliki banyak beban di pundakmu. Tidakkah kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Jen?" Nirma mengungkapkan bagaimana keadaan Jenny belakangan ini.


"Benarkah?" balas Jenny tidak percaya. "Aku tidak merasa seperti itu. Sepertinya sejak anak ini mulai hadir, kita tidak bisa menikmati hidup lagi."


"Kau mau bilang kalau anak ini pembawa sial?" Nirma terlihat protes.


Jenny menggeleng cepat. "Bukan seperti itu maksudku. Kau salah paham."


Nirma menghembuskan napas berat. Lalu pandangannya beralih pada ikan-ikan di kolam. Wanita itu meletakkan pakan ikan ke tempat wadah yang disediakan di sana. Kemudian dia duduk di bangku kayu yang ada di dekat kolam.


"Sini. Duduklah." Nirma menepuk pelan pada bangku kayu itu. Ia juga melepaskan sarung plastik yang membungkus tangannya.


"Susu yang aku buat bagaimana?" Jenny ingat dia sudah membuatkan susu untuk Nirma.


"Bukankah itu masih panas? Aku akan meminumnya nanti. Setelah menjadi hangat. Duduklah." Lagi, Nirma menepuk bangku kayu itu. Mengisyaratkan agar Jenny bersedia duduk di sana.


"Oke." Jenny menyerah. Ia pun mengikuti keinginan Nirma. Kini keduanya duduk sambil menikmati pemandangan yang ada di sekeliling mereka.


"Terkadang kita perlu berbagi beban. Lihat, Jen. Tempat ini sejuk dan memiliki pemandangan yang indah. Mari kita lepaskan beban yang menumpuk di pundak kita. Bersama-sama. Kita sudah sejauh ini. Tidak mungkin untuk kembali." Nirma menggenggam tangan Jenny. Wanita itu juga memejamkan kedua matanya. Seolah ia sedang merasai apa yang disuguhkan oleh alam.


"Nirma. Aku percaya padamu." Jenny mengikuti jejak Nirma memejamkan kedua matanya menikmati suasana alam yang sejuk.


Dua anak manusia itu sedang berusaha saling menguatkan. Berbagi rasa dan beban bersama. Akankah harapan mereka berdua tercapai?

__ADS_1


"Jen, jika tiba-tiba aku membawa kabur anak ini. Apa yang akan kau lakukan?"


Jenny segera membuka matanya dan menatap Nirma dengan tajam.


__ADS_2