
"Nirma, apa kau masih bisa mendengarku?"
Rico berusaha untuk membuat Nirma tetap sadar. Wanita itu sudah ada di ruang penanganan. Tetangga Nirma berhasil membawa Nirma ke rumah sakit yang tidak lain adalah Rumah Sakit tempat Dokter Rico bekerja. Karena memang dari apartemen yang ditempati oleh Nirma, rumah sakit yang paling dekat adalah Rumah Sakit tempat dokter Rico bekerja.
Dokter itu awalnya tidak peduli ketika dia tahu ada pasien hamil yang baru saja masuk ke ruang IGD. Namun ketika sekilas ia melihat data-data pasien yang tertuju pada Nirma, pria itu segera berlari untuk memeriksa secara langsung. Betapa kagetnya Dokter Rico ketika tahu Nirma kesakitan.
"Dok, pasien sakit perut," ucap salah satu perawat yang juga ada di ruangan itu.
"Bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya?" tanya Dokter Rico sehingga membuat beberapa perawat yang ada di sana saling memandang. Sedangkan mereka sendiri tidak tahu kalau pasien dalam keadaan hamil.
"Dia pasienku," ucap Dokter Rico lagi hingga membuat semua perawat yang ada di sana tidak merasa curiga lagi.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apa kita perlu melakukan USG? Pasien tidak pendarahan. Seharusnya semua baik-baik saja."
"Tentu saja kita harus melakukan USG. Aku harus memastikan sendiri kalau anak yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja." Dokter Rico memeriksa denyut nadi Nirma lagi.
Pagi itu Dokter Rico benar-benar dibuat panik. Dia segera membawa Nirma untuk diperiksa. Sambil berjalan Rico mengambil ponselnya untuk menghubungi Jenny. Wanita itu harus tahu masalah ini.
Namun sayangnya nomor Jenny tidak bisa dihubungi. Tapi Dokter Rico sempat melihat kalau ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Jenny.
"Pagi ini aku terlalu sibuk hingga tidak sempat memegang ponsel. Sebaiknya aku tidak menghubungi Jenny dulu. Nanti ketikan terjadi sesuatu baru aku hubungi Jenny agar dia tidak khawatir."
Dokter Rico segera masuk ke dalam ruangannya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
...***...
Jenny memandang rujak yang ada di meja dengan wajah tidak berselera. Dia tidak hamil jelas saja dia tidak berselera untuk memakannya. Melihat mangga muda yang sudah diiris-iris dan siap untuk disantap justru membuat Jenny harus menelan air liurnya sendiri. Belum memakannya saja Jenny sudah bisa merasakan bagaimana asamnya mangga muda tersebut.
"Sayang, kenapa kau diam saja? Cepat dicicipi. Mama sengaja bangun lebih awal agar bisa membuat rujak ini. Mama sangat senang karena dibeli amanah oleh Ali untuk menjagamu selama dia pergi ke luar kota."
"Tapi Jenny tidak suka rujak, Ma," ucap Jenny dengan wajah polosnya. Meskipun kehamilannya ini harus ditutupi tetapi tetap saja Jenny tidak bisa memaksa mulutnya untuk memasukkan rujak yang terasa asam dan pedas. Lebih baik dia memikirkan cara lain agar mangga muda itu tidak sampai masuk ke mulutnya.
"Ternyata kau berbeda dengan mama waktu hamil dulu. Saat Ali ada di dalam perut Mama, Mama suka sekali memakan mangga muda. Tapi memang wanita hamil tidak bisa disamaratakan. Kalau begitu Mama akan menyingkirkan rujak ini dari hadapanmu karena kelihatannya Kau sangat membenci rujak ini."
"Selama hamil justru Jenny suka makan makanan manis. Apa itu berbahaya, Ma?"
"Tidak sayang. Asal jangan berlebihan. Makanan yang paling tidak boleh dimakan adalah makanan mentah atau setengah matang. Kau juga tidak boleh sering-sering memakan makanan instan. Sesekali jika kepingin boleh, tapi jangan setiap hari."
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku sering-sering makan kebab? Apa itu tidak jadi masalah?" Tiba-tiba saja Jenny teringat dengan Nirma yang suka sekali makan kebab. Bahkan hampir setiap hari wanita itu mengkonsumsinya.
"Bukankah di dalam kebab itu ada daun seledri? Sebaiknya jangan sering-sering karena daun seledri juga dedaunan mentah. Kita kan tidak tahu bagaimana proses pencuciannya. Usia kehamilanmu masih sangat muda jadi sebaiknya dijaga dengan begitu baik."
"Baiklah, Ma," jawab Jenny tanpa mau protes. Dia mencari-cari ponselnya di sana namun tidak juga ditemukan. Jenny ingin mengirim pesan kepada Nirma untuk tidak sering-sering memakan kebab apa lagi sayuran mentah. Jenny tahu kalau Nirma suka sekali memakan makanan yang dibakar, setengah matang dan sayuran lalapan mentah.
"Mana ponselku? Sepertinya tadi aku membawanya," gumam Jenny di dalam hati.
"Sayang, Apa kau tidak mau berjemur di luar biar mama temani?" tawar mertua Jenny.
"Tidak, Ma. Jenny mau telepon Kak Ali. Jenny mau tahu Kak Ali sudah naik pesawat atau belum."
"Kalau begitu mama dan papa berjemur di halaman samping ya."
"Iya, Ma. Jenny ke kamar dulu." Jenny cepat-cepat berjalan menuju ke tangga. Wanita itu ingin mengambil ponselnya dan menelepon Nirma. Mertua Jenny saling memandang dengan wajah bahagia.
"Menantu kita memang wanita yang sangat baik dan sopan. Meskipun dia tidak menyukai rujak tetapi dia masih bisa menolaknya dengan kelembutan," ucap sang ayah mertua.
"Biasanya wanita hamil sangat sulit jauh dari suami. Jenny sangat manja kepada Ali. Sepertinya dia sangat berat untuk melepas Ali pergi ke luar kota. Tetapi mau bagaimana lagi? Ali juga harus tetap bekerja untuk masa depan keluarganya."
"Ya, kau benar. Ayo kita pergi ke sana sebelum matahari semakin tinggi."
...***...
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Jenny khawatir.
"Seseorang membawa Nirma ke rumah sakit. Dia bilang kalau perutnya terasa sakit," sahut Rico dikejahuan sana.
"Apa? Bagaimana keadaan Nirma sekarang?Bagaimana keadaan anaknya." Jenny beranjak dari tempat tidur.
"Setelah kami periksa semua baik-baik saja. Ternyata Nirma hanya salah makan. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Kenapa sulit sekali untuk dihubungi."
"Mertuaku datang ke rumah. Kak Ali harus pergi ke luar kota lalu Mertuaku memutuskan untuk menjagaku di rumah ini. Aku benar-benar setres dibuatnya karena aku harus terus menutupi kehamilan palsu ini."
"Bukankah aku sudah bilang. Kau tidak bisa tinggal di rumah itu. Kau harus memikirkan cara agar kau bisa pergi meninggalkan mereka. Aku tahu ini sukit. Tetapi kau harus bisa melakukannya demi bayi yang kau inginkan. Nirma juga tidak boleh tinggal sendirian jika dalam keadaan hamil seperti ini."
Jenny menghela napas kasar. "Sudah aku pikirkan. Tetapi Kak Ali tidak mungkin menyetujuinya. Sekarang aku mau berangkat ke rumah sakit untuk melihat kondisi Nirma."
__ADS_1
"Tidak perlu. Sebaiknya kau pikirkan saja cara untuk membujuk mertuamu itu agar mereka mau mengantarkanmu ke tempat yang jauh dari mereka. Nirma akan menjadi urusanku. Setelah kau berhasil mendapatkan tempat tinggal yang baru, Maka aku akan membawa Nirma ke tempat itu."
Rico segera memutuskan panggilan telepon itu. Jenny yang masih belum bisa tenang hanya mengumpat saja di kamarnya.
"Dia pikir pergi dari rumah ini semudah membalikkan telapak tangan. Sekarang aku harus bicara apa agar mertuaku bisa mengerti keadaanku. Aku juga tidak mungkin membuat mereka curiga."
...***...
Matahari semakin tinggi dan kini waktunya untuk makan siang. Jenny dan kedua mertuanya sudah ada di meja makan. Kali ini Jenny merasa senang karena akan memakan masakan mertuanya. Jenny merasa bosan untuk memakan masakan pelayan selama ini. Untuk memasak sendiri dia tidak akan bersemangat jika tidak ada Ali di rumah.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan makanan yang ada di meja. Setelah selesai makan siang, mereka masih tetap bertahan di meja makan untuk mengobrol.
"Ma, ada yang ingin Jenny katakan sama mama. Jenny juga ingin minta solusi sama mama."
"Ada apa, Sayang? Cepat katakan. Kenapa wajahmu jadi serius seperti itu?"
"Ma, Jenny ingin pergi dari rumah ini." Debaran jantung Jenny menjadi tidak tenang.
Perkataan Jenny membuat kedua mertuanya syok berat. Mereka tidak menyangka kalau Jenny akan mengatakan kalimat seperti itu.
"Apa kau dan Ali ada masalah? Cepat ceritakan pada Mama jika memang kalian memiliki masalah." Jelas saja Mertua Jenny langsung tidak bisa tenang lagi.
"Tidak, Ma. Ini karena kehamilan Jenny. Entah kenapa Jenny ingin tinggal di sebuah desa yang sunyi namun tetap tenang dan aman. Jenny membenci kehidupan di kota. Apa memang benar ini bawaan bayi atau hanya keinginan Jenny semata. Jenny juga tidak tahu. Setiap malam Jenny memimpikan sebuah Villa yang dikelilingi oleh kebun teh dan pegunungan. Bukankah itu sangat indah Ma? Jenny tahu jika Jenny membawa Kak Ali untuk tinggal di vila itu, Kak Ali tidak bisa bekerja. Jadi sekarang Jenny sangat bingung harus bagaimana. Tapi sebelum anak ini lahir Jenny ingin tinggal di Villa seperti itu, Ma."
Jenny tidak tahu rencananya ini berhasil atau tidak. Yang penting saat ini dia sudah berusaha keras.
Kedua orang tua Jenny saling memandang. Jelas saja mereka tidak bisa memberi solusi karena saat ini Ali tidak ada di sana. Mengizinkan Jenny pergi dari rumah dan tinggal di sebuah Villa hanya akan membuat Ali marah pada mereka.
"Sayang, sebaiknya hubungi Ali dan katakan maksud tujuanmu. Mama yakin Ali akan mengerti. Tetapi selama di vila nanti, siapa yang akan menemanimu?"
"Jenny memiliki sahabat bernama Nirma. Dia tidak memiliki keluarga dan tidak terikat hubungan dengan siapapun. Nirma tidak akan keberatan jika Jenny ajak untuk tinggal bersama di Villa tersebut."
"Nirma yang Mama temui waktu di restoran itu?" tanya mertuanya untuk kembali memastikan.
"Benar, Ma. Bagaimana menurut Mama? Apa dia wanita yang baik."
"Ya. Dia wanita yang baik dan sangat cocok untuk berteman denganmu. Sekarang cepat kau hubungi Ali dan katakan semuanya. Jika Ali setuju, biar mama dan papa yang akan menentukan tempatnya. Kami akan mencari tempat yang aman untuk tempat tinggalmu."
__ADS_1
Jenny tersenyum bahagia mendengarnya. "Terima kasih ma. Terima kasih."
Karena terlalu bahagia, Jenny sampai beranjak dari kursi dan berlari untuk memeluk kedua mertuanya. "Jenny sayang sama mama dan papa."