
Setelah Nirma memutuskan untuk meminjamkan rahimnya, Jenny segera membawa Nirma untuk bertemu dengan Dokter Rico. Mereka mengatur pertemuan di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat Dokter Rico bekerja. Sepanjang perjalanan menuju ke Cafe, Jenny terlihat sangat ceria. Begitupun sebaliknya dengan Nirma.
"Aku senang bisa melihatmu senyum lagi seperti ini. Tadi malam saat pertama kali bertemu denganmu sebenarnya aku sudah merasa kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Meskipun kau memasang wajah ceria tetap saja aku mengetahuinya. Kenapa kau tidak menceritakannya sejak awal? Kenapa harus menunggu pagi? Itu juga karena aku yang memaksamu untuk cerita." Nirma menggenggam tangan Jenny sambil tersenyum.
"Tadi malam sejak bertemu denganmu aku terus saja fokus dengan masalah yang kau alami. Aku tahu kalau hidupmu sudah sangat menderita. Jadi aku tidak mau membuatmu lebih menderita lagi. Meskipun aku dalam keadaan yang sulit tetapi aku tidak mau membuat sahabatku merasakan kesulitan yang aku rasakan. Maafkan aku karena hampir tidak terbuka denganmu. Bahkan sempat berpikir untuk merahasiakan masalah ini darimu," jawab Jenny tanpa memandang karena wanita itu tetap fokus dengan laju mobilnya.
"Bukankah kau bilang hari ini suamimu akan pulang? Bagaimana jika nanti dia tiba di rumah dan kau tidak ada. Apa dia tidak curiga?"
Jenny tersenyum manis. "Tidak akan. Tadi aku sudah menelepon Kak Ali dan bilang kalau hari ini aku ingin bersenang-senang denganmu. Dia sudah mengetahuimu sejak awal. Namun dia belum pernah bertemu denganmu. Mungkin jika ada kesempatan nanti aku akan memperkenalkanmu secara langsung dengan Kak Ali. Kak Ali harus tahu kalau kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
"Jangan," tolak Nirma cepat.
"Kenapa?" tanya Jenny bingung.
"Lebih baik tidak saling kenal. Bukankah itu jauh lebih baik?"
Jenny mengangguk mendengar perkataan Nirma. "Baiklah jika memang itu keputusanmu."
...***...
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit akhirnya Jenny dan Nirma tiba di kafe yang sudah ditentukan oleh Dokter Rico. Jenny memparkirkan mobilnya tepat di samping mobil Rico. Mereka berdua sama-sama turun dari mobil dan bergandengan tangan menuju ke dalam Cafe. Sesekali Jenny dan Nirma terlihat saling bercanda hingga membuat suara tawa mereka terdengar oleh semua pengunjung.
"Jenny!" teriak Dokter Rico dari kejauhan. Pria itu memilih kursi yang ada di dekat jendela agar bisa leluasa melihat pemandangan di luar.
"Itu Dokter Rico. Ayo kita ke sana," ajak Jenny. Wanita itu merangkul lengan Nirma dan membawanya menuju ke tempat Rico berada.
Ketika Jenny tiba, Dokter Rico langsung memandang ke arah Nirma. Pria itu terlihat tidak senang. Namun ia tidak mau memperlihatkannya di depan Jenny.
"Rico, ini adalah Nirma sahabatku. Dia akan membantu kita untuk mendapatkan anak. Ia rela meminjamkan rahimnya sebagai wadah tempat berkembangnya benih Kak Ali," ucap Jenny dengan senyum bahagia.
"Silakan duduk. Kenapa kita harus bicara sambil berdiri?" jawab Dokter Rico.
"Aku memesan dua minuman yang sama sepertimu. Aku harap sahabatmu itu menyukainya," ucap Dokter Rico sambil mengaduk-aduk jus yang ada di hadapannya.
"Saya selalu suka dengan makanan dan minumnya yang disukai oleh Jenny," jawab Nirma.
Jenny hanya mengangguk saja lalu meneguk jusnya sendiri.
"Rico, cepat katakan rencana apa yang akan kita lakukan karena aku tidak memiliki waktu banyak. Sebentar lagi Kak Ali akan pulang. Sebenarnya aku sudah bilang padanya Kalau hari ini aku ingin bersenang-senang dengan Nirma. Tetapi aku merasa tidak enak jika tidak segera pulang ke rumah dan menemui Kak Ali."
__ADS_1
"Oke. Aku langsung kepada intinya. Aku juga tidak suka basa-basi. Pekerjaanku di rumah sakit sangat menumpuk," sahut Dokter Rico. "Pada umumnya kami akan mengambil sel telur dari rahim istri dan benih dari rahim si suami. Tetapi karena kau sudah tidak memiliki rahim lagi, kita harus meminjam benih yang dimiliki oleh Nirma. Sampai sini apa kau mengerti?"
Jenny geleng-geleng kepala dengan wajah bingung. "Aku sama sekali tidak mengerti. Cepat katakan saja bagaimana seharusnya. Tidak perlu berbelit-belit dan menjelaskannya dari sudut pandang kedokteran," ucap Jenny mulai kesal.
"Ada dua cara yang bisa kita lakukan. Cara pertama kita harus mendapatkan benih tetapi dengan cara uka rela. Kita akan mengambil benih dari Ali lalu menyuntikannya ke dalam rahim Nirma. Sebenarnya trik ini sangat tidak beresiko. Nirma juga tidak perlu kehilangan keperawanannya. Kami jamin akan melakukannya dengan hati-hati," ucap Dokter Rico mulai serius.
"Aku ingin prosesnya dilakukan tanpa sepengetahuan kak Ali. Aku maunya Kak Ali tahu kalau aku sudah hamil. Itu juga nanti ketika aku sudah hamil aku akan meminta kak Ali untuk mengizinkanku tinggal di tempat yang jauh agar dia tidak tahu kalau aku sedang berbohong."
"Kalau begitu kita harus menggunakan rencana kedua. Nirma dan Ali harus berhubungan badan. Tetapi resikonya Nirma harus kehilangan keperawanannya," jawab Dokter Rico dengan santai.
Baik Jenny maupun Nirma sama-sama kaget mendengarnya. Namun mereka tidak bisa protes karena memang inilah konsekuensi yang harus mereka jalani.
"Aku tidak masalah jika Kak Ali harus berhubungan badan dengan Nirma. Toh di antara mereka tidak ada perasaan apapun. Tetapi, bagaimana dengan Nirma? Dia belum menikah. Aku tidak bisa-"
"Aku bersedia," jawab Nirma cepat. Bahkan Jenny tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba saja Nirma memegang tangan Jenny dan menggenggamnya dengan erat. "Sejak awal aku sudah memutuskan untuk membantumu dengan suka rela. Aku tidak akan mundur hanya karena masalah seperti ini. Bagaimanapun prosesnya aku akan mendukung semuanya. Jangankan keperawanan. Bahkan aku rela mengorbankan nyawaku hanya untuk membantumu," ucap Nirma dengan sungguh-sungguh.
Dokter Rico memandang ke arah Nirma sejenak sebelum memandang ke arah Jenny. "Kita harus menjebak Ali. Di malam itu yang ada di ingatan Ali hanya dirimu Jenny. Dia Harus berpikir kalau dia tidur denganmu."
Jenny mengatur napasnya yang terasa berat sambil memejamkan mata. Membayangkannya saja sudah sakit. Namun ia tidak bisa mundur lagi. Semua ini demi kebaikannya dan masa depannya juga. "Baiklah. Atur saja semuanya. Lebih cepat lebih baik," ucap Jenny mantap.
__ADS_1
Nirma hanya diam saja mendengar percakapan Jenny dan dokter Rico. "Dengan begini Jenny hanya tahu kalau keperawananku hilang karena suaminya," gumam Nirma di dalam hati.