
"Bagaimana ini? Sebentar lagi papa dan mama mertuaku akan datang. Ya Tuhan, mengapa aku semakin takut begini?" Jenny berbicara sendiri. Ia saat ini sedang berada di dalam kamar mandi. Menyembunyikan wajah panik yang kini ia rasakan.
Wanita itu sejak tadi sudah mencoba untuk berbicara dengan Rico. Namun, Rico belum menjawab panggilan telepon Jenny. Hal ini semakin membuat Jenny takut.
"Padahal semuanya baru saja dimulai. Tapi aku berulang kali mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Ya Tuhan. Bagaimana kalau Mama Ratna tahu ciri-ciri ibu hamil sesungguhnya?" Jenny hilir mudik di tempatnya. Ia sangat gelisah sampai-sampai semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Apa aku harus menghubungi Nirma?" Jenny akhirnya memutuskan untuk menelpon Nirma.
Wanita itu harus mendapatkan jalan keluar supaya kebohongannya tidak terungkap. Jenny terus memanggil nomor Nirma. Wanita hamil itu nyatanya tak juga menjawab sambungan telepon dari Jenny.
"Kemana Nirma ya? Apa jam segini dia masih tidur? Ck! Benar juga. Ini masih jam 5 pagi dan aku sudah sangat ketakutan begini. Ah, Mama Ratna nanti ke sini jam berapa ya?" Jenny mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Halo, Jen?" Terdengar sebuah suara di ujung telepon. Senyuman tipis terbit di bibir Jenny.
"Nirma? Kau baru bangun?" tanya Jenny.
"Em. Kau sepagi ini meleponku. Apakah ada yang penting?" Nirma sepertinya menguap. "Semalam aku tidak bisa tidur, Jen. Jadi mataku sangat lengket. Ya, meskipun aku tidak lihat siapa yang menelponku, tapi aku tahu itu kau. Siapa lagi memangnya?"
"Ya ampun. Kau menguap terus, Nir. Oke. Lupakan itu. Nir, mama mertuaku akan datang ke rumah. Sebenarnya kemarin aku disuruh ke rumah orangtua Kak Ali. Tapi aku beralasan bahwa tinggal di rumah sendiri sangatlah nyaman." Jenny menghentikan kalimatnya. Wanita itu menarik napas panjang.
"Apakah suamimu memberikan izin?" Nirma lagi-lagi bertanya sambil menguap.
"Tidak. Sekarang aku semakin bingung karena mama mertuaku justru yang akan menemaniku di rumah ini. Argh! Ini hampir membuatku gila, Nir!" Jenny berteriak tertahan. Ia tidak ingin kalau Ali mendengar suaranya.
"Bukankah kau masih bisa memakai bantal hamil palsu itu, Jen? Dokter Rico sudah mencarikannya dengan kualitas terbaik. Kau bisa memakainya ketika mertua atau suamimu di rumah. Apa kau melupakannya, Jen? Nah sudah kelar kan? Aku mau tidur lagi. Mataku masih ngantuk." Nirma hendak mematikan sambungan telepon.
"Jangan! Tolong, jangan matikan teleponnya. Aku tahu itu, Nirma. Bantal kehamilan palsu itu aku cukup paham. Tapi mama mertuaku adalah orang yang sudah paham tentang kehamilan. Dia tahu bagaimana prosesnya karena dia yang mengandung dan melahirkan Kak Ali," terang Jenny.
__ADS_1
"Oh! Benar juga. Kalau begitu minta solusi dari Dokter Rico saja, Jen. Aku sama sekali tidak bisa berpikir. Aku saja masih sangat mengantuk. Untuk membuka mata saja susah minta ampun. Malah kau suruh aku untuk berpikir." Nirma terdengar protes. Selama hamil memang dia sensitif.
"Ya ampun, Nirma! Kalau seandainya Rico bisa aku hubungi aku tidak akan menelponmu! Berikan aku solusi! Bagaimana bisa hanya dalam satu bulan saja aku dihantam banyak masalah?" Jenny mendesah frustasi. "Tolong aku."
"Kalau begitu kau tunggu saja kabar dari Dokter Rico. Aku benar-benar mengantuk, Jen. Aku tidur dulu ya. Sampai jumpa!" Nirma mematikan sambungan telepon dari Jenny. Membuat Jenny kesal setengah mati.
"Astaga, Nirma! Kenapa kau malah mematikan teleponku?" geram Jenny. "Untung saja dia hamil. Jika tidak!" Jenny memejamkan mata sembari meremas ponselnya sendiri.
Tok tok tok.
Jenny menoleh ke arah sumber suara. Kamar mandi itu memang kedap suara. Untuk itulah hanya ketukan di pintu barulah Jenny tahu kalau Ali mencarinya. Jenny mulai mengatur napasnya. Wanita itu mencoba untuk menenangkan diri. Setelah itu Jenny membuka pintu kamar mandi.
"Ya, Kak Ali? Maaf tadi keasikan telpon bareng Nirma. Kak Ali sudah selesai bersiap?" Jenny dengan susah payah mengulum senyuman. Ia tidak ingin membuat Ali khawatir padanya.
"Aku sudah siap. Kau lama sekali di sini. Jadi aku takut kau kenapa-napa. Apakah kau baik-baik saja?" Ali mengamati wajah Jenny. Terutama perut wanita itu.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang kesal pada Nirma. Bukan hal yang penting. Ayo keluar dari sini." Jenny menarik tangan Ali. Mereka berdua menuju ke tempat di mana koper Ali berada. Jenny meletakkan ponselnya di meja sebelum memandang Ali lagi.
"Tidak ada barang yang tertinggal, Kak? Jangan sampai aku harus mengirim ke luar kota hanya dikarenakan Kak Ali lupa barang itu," tandas Jenny.
"Tidak ada, Sayang. Yang tertinggal adalah hatiku. Belahan jiwaku tidak bisa ikut bersamaku. Itu sedikit menyedihkan. Kuharap kau baik-baik saja bersama calon bayi kita. Ah, aku harus berpamitan juga padanya." Ali memposisikan dirinya untuk berjongkok. Laki-laki itu bahkan menempelkan kepalanya di perut Jenny.
"Nak, apa kau mendengar kalau papa akan berangkat bekerja di luar kota? Aku harap kau baik-baik saja di sini bersama mama. Oh iya! Oma juga akan datang untuk menjagamu dan mama! Bukankah itu akan menjadi momen yang sangat menyenangkan?" Ali terkekeh. Lalu memberikan kecupan di perut Jenny.
Deg!
"Ya Tuhan! Kak Ali sangat menyukai momen kehamilan palsuku. Entah mengapa aku menjadi sangat berdosa karena banyak bernohong padanya," batin Jenny dalam hati.
__ADS_1
Tring tring tring.
"Nah! Panjang umur. Itu oma sudah datang! Sayang, mama sudah datang! Ayo kita menyambut mama!" Ali berjalan cepat keluar dari kamar. Ia meninggalkan Jenny termenung seorang diri di sana.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?"
...***...
Karena telepon Jenny, Nirma tidak bisa tidur lagi. Padahal sebenarnya wanita itu masih mengantuk. Sambil menguap, wanita itu berjalan keluar menuju ke dapur. Perutnya terasa lapar. Meskipun masih pagi, tapi dia butuh sesuatu untuk di makan.
"Lain kali aku akan mematikan telepon ketika sedang tidur. Jenny terus saja menggangguku. Apa dia tidak tahu kalau akhir-akhir ini aku sudah tidur? Sulit sekali mencari posisi yang nyaman selama aku hamil!" keluh Nirma. Wanita itu melirik jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Nirma membuka kulkas dan mengeryitkan dahi melihat stok buah di dalam sana sudah habis. Sekarang bukan perihal uang. Tetapi Nirma mulai malas keluar rumah. Hidungnya semakin sensitif. Jika mencium bau makanan, dia maunya muntah-muntah. Tidak peduli ada di depan umum. Bahkan makan nasi juga sudah tidak berselera. Nirma menyukai makanan cepat saji meskipun dia tahu itu tidak baik untuk kesehatan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Sekarang bagaimana? Kenapa buah sebanyak itu sudah habis?"
Jenny menutup pintu kulkas lalu berjalan menuju ke kamar. Dia akan mengambil ponselnya dan menghubungi Jenny. Hanya Jenny satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini.
Namun langkah Nirma terhenti ketika dia merasa sakit. Ya, perutnya sakit hingga membuat Nirma panik.
"Kenapa ini? Perutku." Nirma terduduk di lantai. Wanita itu berusaha tarik napas agar bisa mengurangi rasa sakitnya. "Anak ini. Dia kenapa?"
Nirma berusaha meraih ponselnya yang ada di meja. Tetapi wanita itu kesulitan. Dia berusaha untuk merangkak namun sakit di perutnya semakin menjadi.
"Jenny, tolong aku," lirih Nirma. Wanita itu memejamkan mata untuk menekan rasa sakit yang ia rasakan. "Anak ini tidak boleh sampai celaka. Aku harus segera menemui dokter Rico."
"Tolong! Tolong!" teriak Nirma sekencangnya berharap ada yang dengar dan datang menolongnya.
__ADS_1