
"Hoek! Jen! Hoek!" Nirma mendadak ingin muntah. Wanita itu pergi menuju ke wastafel. Sedangkan Jenny membeku di tempatnya. Seperkian detik berikutnya Jenny baru mengikuti Nirma.
"Kenapa? Mengapa kau muntah lagi? Padahal sudah beberapa hari kau tidak muntah lagi, Nir. Aku ambilin minyak angin ya?" Jenny berlalu. Ia mengambil minyak angin yang ada di kamar Nirma. Wajahnya terlihat panik. Dia bukan dokter dan sekarang mereka jauh dari dokter. Apa jadinya jika keadaan Nirma semakin memburuk dan mereka harus ke rumah sakit?
"Tunggu di sana, Jen! Ini menjijikkan! Aku akan segera selesai." Nirma kembali memuntahkan semua yang ada di perutnya. "Kau tidak biasa melihat pemandangan seperti ini."
Melihat Nirma yang seperti itu, Jenny menjadi tidak tega. Wanita itu tetap mendekati Nirma dan membantu Nirma mengoleskan minyak angin di tengkuk lehernya. Perlahan Nirma menjadi lebih baik. Wanita itu tidak lagi muntah. Jenny berusaha memejamkan matanya. Tetapi entah kenapa kedua matanya jahil dan ingin sekali melihat sebenarnya seperti apa yang terjadi jika wanita hamil muntah.
"Sudah mendingan?" tanya Jenny.
"Rasanya perutku sangat tidak enak. Terasa ada yang mengaduk perutku." Nirma berjalan sempoyongan.
Dengan cepat Jenny membantu Nirma untuk berdiri tegak. Kemudian Jenny membawa Nirma berjalan pelan-pelan menuju ke kamarnya lagi. Dengan sabar dan telaten Jenny membantu Nirma. Sampai pada akhirnya Nirma bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Katakan padaku, apa yang kau rasakan? Apa kita perlu membawamu ke dokter?" Jenny sangat khawatir dengan keadaan Nirma yang lemas dan berkeringat dingin. Namun Nirma menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Wanita itu mengatur nafasnya.
"Tidak. Jauhkan buah jeruk dariku. Belakangan ini aku tidak menyukai bau itu." Kata-kata Nirma membuat Jenny berpikir. Setelahnya Jenny membawa keluar piring berisi buah jeruk. Kemudian Jenny kembali lagi ke dalam kamarnya.
"Aku sudah membawa jeruk itu keluar kamar ini. Ayo, aku oleskan lagi minyak angin di perutmu. Supaya kau semakin lebih baik. Jangan sampai kau malah bertambah parah. Kasihan bayinya," ucap Jenny.
"Belakangan aku tidak suka bau jeruk. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Bahkan aku masih bisa memakannya," kata Nirma. "Sekarang apa lagi? Kenapa harus seperti ini, Jen!"
"Mungkin itu tergantung usia kehamilanmu, Nir. Mulai sekarang aku tidak akan membelinya lagi. Apakah kau sudah sarapan? Pagi ini sepertinya kau belum sarapan. Katakan padaku maka aku akan membelikannya untukmu." Jenny meminta Nirma agar mengatakan keinginannya.
Sebab Jenny khawatir kalau Nirmala terlambat untuk sarapan. Nirma memandang Jenny dengan pandangan penuh arti. Seketika membuat Jenny mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau memandangku seperti itu? Apakah aku terlihat aneh?" tanya Jenny.
Nirma menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya saja aku sepertinya justru malah merepotkanmu di sini. Maafkan aku. Kita jauh dari kota. Dimana kau bisa membeli semua makanan itu?"
Jenny menaruh jari telunjuknya di bibir Nirma. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai isyarat agar Nirma tidak mengatakan hal itu.
"Kau jangan pernah berbicara seperti itu. Tidak ada kata merepotkan bagi sahabat. Mumpung aku juga belum sarapan. Setelah ini aku akan mengatakan kepada pelayan bahwa kita akan membeli makanan di luar. Sekarang Katakan padaku, kau ingin makan apa? Siapa tahu ada makanan yang kau inginkan." Jenny menjelaskan bahwa agar Nirma tidak lagi berpikir bahwa ia merepotkan bagi dirinya.
Jenny sadar kalau Nirma berada di situasi seperti ini karena mengandung bayinya. Untuk itu Jenny tidak ambil pusing meskipun dirinya direpotkan oleh Nirma.
"Anggap saja aku sedang membantu diriku sendiri, Nirma. Lagipula bayi yang kau kandung itu juga milikku. Jadi ke depannya jangan berpikir aneh lagi," jelas Jenny.
"Kalau begitu aku ingin makan bubur ayam. Kau mau mencarikannya untukku?" Akhirnya Nirma mengatakan apa keinginannya.
"Dengan senang hati aku akan membelikannya untukmu. Tunggu saja. Sebentar, aku harus mengatakan pada pelayan bahwa mereka tidak perlu memasak sarapan pagi. Ngomong-ngomong kau tunggulah di sini. Aku akan datang lagi setelah mendapatkan bubur ayam yang kau inginkan," kata Jenny dengan lembut.
__ADS_1
"Baiklah. Jangan lupa bantalan hamil, Jen. Supaya pelayan tidak curiga dan bertanya aneh pada orang tuamu." Nirma menjawab dengan senyum lebar di bibirnya.
"Siap!"
Kemudian Jenny berlalu dari kamar Nirmala. Wanita itu akan beralih ke dapur dan mencari pelayan agar tidak memasak sarapan pagi untuknya dan Nirma. Setelah itu, Jenny berjalan keluar villa. Pelayan mengatakan jika di sekitar villa ada banyak sekali penjual makanan.
"Wah! Banyak sekali!" Jenny tersenyum. Karena apa yang dikatakan oleh pelayan di villa itu benar. Ada banyak penjual jajanan di sekitarnya.
"Oh! Ada taman bermain. Pantas saja. Bubur ayam!" Jenny berjalan cepat ke tempat penjual bubur ayam. Wanita itu segera memesan beberapa porsi.
"Neng, rumahnya di mana?" tanya penjual bubur ayam itu.
"Di sana, Bang." Jenny menunjuk villa tempatnya tinggal.
"Lagi liburan ya, Neng. Pantas beli buburnya banyak. Pasti banyak keluarga yang ngumpul ya?"
"Nggak, Bang. Itu untuk pelayan yang kerja di sana juga. Sekalian belinya," ucap Jenny.
"Apa, Neng? Wah! Si Eneng mah baik banget." Penjual itu pun memberikan pesanan Jenny. Kemudian Jenny mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya.
"Ambil saja kembaliannya, Bang. Makasih ya Bang." Jenny berterima kasih kepada penjual bubur ayam itu. Bahkan wanita itu masih tersenyum ramah.
"Beneran ini, Neng?"
"Eh, Neng. Neng lagi hamil kan? Semoga Si Eneng mah dilancarkan kehamilan dan waktu melahirkan dengan lancar ya!" Penjual bubur ayam itu berbicara dengan nada lebih tinggi. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Jenny hanya tersenyum menanggapinya. Wanita itu segera pergi dari sana dengan hati yang tidak menentu. Pasalnya, selama ia hamil palsu, tidak sedikit orang yang selalu mendoakan kehamilannya.
"Seharusnya Nirma yang mendapatkan doa itu." Jenny membatin dalam hati.
Akhirnya Jenny sampai di villa. Ia lantas membagikan bubur ayam itu kepada semua pelayan yang bekerja di villa. Jenny senang lantaran Nirma sangat bersemangat menikmati bubur ayam itu.
"Kau suka, Nir?" tanya Jenny.
Nirma menganggukkan kepalanya. "Aku tidak tahu apakah bubur ayam ini enak atau memang aku yang kelaparan."
Jenny mendorong mangkuk yang berisi bubur ayam ke arah Nirma. Wanita hamil itu menautkan kedua alisnya. Lalu matanya bergerak melirik bubur ayam itu.
"Ini. Makanlah. Aku bisa makan yang lain," kata Jenny.
"Tidak, Jen. Aku sudah kenyang kok." Nirma mendorong lagi mangkuk yang berisi bubur ayam itu. Jenny bahkan belum menyendoknya. Karena Jenny terlalu asyik mengamati Nirma menikmati bubur ayam itu.
__ADS_1
Nirma terus menggelengkan kepalanya. Akan tetapi, mata Nirma tetap mengarah pada semangkuk bubur yang masih hangat itu. Bahkan Jenny dapat melihat Nirma meneguk ludahnya sendiri.
"Aku sudah kenyang, Nir. Tadi aku juga makan di sana kok. Lagipula senang sekali melihatmu makan. Di belakang juga masih banyak kok," ucap Jenny.
Nirma menatap mangkuk bubur lagi. Kemudian ia beralih pada Jenny. Senyuman lebar kembali tersemat di bibirnya. "Benar di dapur masih banyak?"
"Benar. Aku juga membelikan semua yang ada di sini. Jadi jangan khawatir." Jenny kembali mendorong mangkuk itu ke arah Nirma.
"Baiklah kalau begitu. Ini karena kau yang memaksaku ya!" Nirma mulai menikmati bubur ayam itu. Yang akhirnya membuat Jenny tersenyum.
Tring tring tring.
Jenny menoleh ke arah handphone miliknya. Ia melirik siapa yang tengah menghubunginya. Nirma pun akhirnya tertarik juga.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Nirma.
"Em, Kak Ali. Sebentar ya. Kau makan pelan-pelan," jawab Jenny.
Dia berdiri. Kemudian Jenny berjalan menuju ke kamarnya. Setelah sampai di sana, Jenny segera memencet tombol hijau.
"Padahal tadi pagi Kak Ali baru saja menelpon Jenny. Tapi selang beberapa jam kemudian dia sudah menghubunginya lagi. Apa sebucin itu Kak Ali terhadap Jenny? Sebenarnya apa yang dilakukan Jenny selama ini sampai Kak Ali yang tampan dan kaya raya itu tergila-gila padanya?" batin Nirma. Wanita itu memperhatikan Jenny dengan serius sambil menguping pembicaraan mereka berdua.
"Halo, Kak!" Jenny sangat bahagia. Ia sudah merindukan sang suami. Untuk pertama kalinya Jenny berjauhan dengan Ali. Wanita itu tersenyum ketika Ali beralih dengan panggilan video. "Aku sudah selesai sarapan. Bagaimana dengan Kak Ali?"
"Halo, Sayang! Astaga! Aku merindukanmu!" Ali berteriak di ujung sana. Laki-laki itu tampak mengenakan handuk. Mungkin saja Ali baru saja selesai mandi. "Aku juga sudah sarapan. Aku makan bubur ayam."
"Benarkah? Aku juga makan bubur ayam. Di dekat Vila ada banyak sekali orang yang berjualan. Tadinya aku pikir jika tinggal di vila tidak bisa jajan."
"Baguslah kalau begitu. Jadi, istriku yang cantik dan baik ini tetap memiliki kesempatan untuk menghabiskan uang suaminya."
"Ha-ha-ha. Kak Ali bisa saja! Ini baru beberapa hari, Kak. Apa kabar Kak Ali?" Jenny tertawa keras. Suaminya tidak berubah. Tingkat rasa cinta itu semakin bertambah saja setiap harinya.
"Aku? Hmm. Aku tidak baik-baik saja. Aku aargh! Aku membutuhkanmu!" Lagi-lagi Ali terlalu jujur menyatakan keinginan hatinya. "Aroma tubuhmu membuatku gila. Bayanganmu muncul dimana-mana."
"Dasar!" Jenny tersipu malu. Suaminya memang tidak bisa berbasa basi.
"Sayang, jika nanti aku memiliki waktu. Aku akan datang berkunjung ke villa itu. Mama dan papamu sudah memberikan alamatnya. Ah, aku tidak sabar untuk cepat ke sana. Rasanya ingin sekali mencium perutmu berkali-kali. Aku juga rindu dengan bayi kita. Katakan padanya. Papa akan pulang dan mengunjungi kalian berdua. Aku akan lebih semangat lagi dalam bekerja agar masalah di sini segera selesai!"
Deg.
"Apa? Kak Ali akan datang ke villa ini? Kakak sudah dapat alamatnya?" Jantung Jenny bertalu-talu.
__ADS_1
"Ya, aku akan datang menjenguk kalian berdua!"