Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 37


__ADS_3

Tawa Nirma pecah ketika melihat ekspresi kaget Jenny. Wanita itu benar-benar puas karena rencananya mengerjai Jenny berhasil.


"Ini gak lucu!" Jenny kembali merajuk.


"Maaf. Kenapa sekarang kau tidak bisa di ajak bercanda lagi?"


"Karena aku tidak suka masalah ini dijadikan bahan candaan, Nir!" Jenny terlihat malas memandang wajah Nirma.


"Oke, oke. Maafkan aku. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Jika hal itu sampai terjadi, kau bisa membunuhku." Wajah Nirma kembali serius hingga membuat Jenny kembali memandangnya. "Kau sudah sangat baik kepadaku selama ini. Bagaimana mungkin aku bisa berkhianat. Jika setan memenuhi pikiranku dan aku memiliki niat jahat untuk menghancurkan kebahagiaanmu, bunuh saja aku. Atau aku akan bersumpah di depan anak ini. Jika aku sampai mengingkari janjiku, aku berharap anak ini tidak pernah mau memandangku sebagai ibunya. Hanya kau satu-satunya wanita yang akan ia pandang dan ia panggil sebagai ibu!"


Jenny termenung beberapa saat. Perkataan Nirma membuatnya sedikit lega sekarang. Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya hilanglah sudah.


"Bagaimana kalau kita buat makanan di dapur? Sudah lama kita tidak menciptakan resep baru," ajak Jenny untuk mencairkan suasana. Nirma mengangguk.


"Jangan gosong ya?"


Jenny langsung tertawa dan diikuti oleh Nirma. "Ayo kita ke dapur. Tapi sebelum itu habiskan susu yang sudah ku buat!"


***


"Kau yakin bisa membuatnya, Jen?" Nirma menatap curiga pada Jenny yang sedang bersiap hendak membuat cake.


"Aku sudah mencatat resepnya, Nir. Kau jangan khawatir. Oke?" Jenny tersenyum. Wanita itu penuh semangat untuk memulai aksinya. "Ini akan jadi cake paling enak yang pernah ada. Aku menambahkan resep baru di dalamnya."


Di sisi lain, Nirma menatap ragu pada Jenny. Wanita hamil itu seolah tidak percaya dengan kemampuan Jenny. Tanpa sengaja Jenny melihat ekspresi Nirma yang aneh.


"Nir, wajahmu kenapa julid begitu sih? Kau harus percaya padaku! Tanganku ini penuh tenaga dalam! Bukankah kau sering memakan masakanku?" Jenny menunjuk Nirma yang duduk di kursinya dengan raut wajah aneh.


"Yang lebih sering itu, kau yang memakan masakanku," sahut Nirma tidak mau kalah.


Nirma mengalihkan pandangan. Memang masakan Jenny sangat lezat menurutnya. Akan tetapi, ini bukan lagi tentang masakan. Sebuah dessert yang biasanya memang menggugah selera. Namun, mungkinkah tangan ajaib Jenny juga bisa membuat Cake dengan rasa yang menakjubkan? Nirma meneguk ludahnya sendiri. Terakhir kali buat cake, justru Jenny membuat cake gosong yang katanya itu cake cokelat. Karena demi menjaga perasaan Jenny, Nirma rela memakannya meskipun mulutnya ingin muntah.


"Apa kau ragu pada kemampuanku?" tanya Jenny.


Nirma tersenyum canggung. Ia mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal. Jenny melebarkan mata. Bisa-bisanya Nirma meragukannya.


Brak!


Nirma berjingkat kaget saat Jenny membanting wadah yang akan ia gunakan untuk mencetak cake. Akan tetapi, bukannya menyesal, Jenny malah tersenyum.


"Bagaimana, Nir? Kau masih meragukan aku?" Jenny melipat ujung kaosnya. Membuat Nirma tersenyum aneh lagi.


"Aku hanya takut keracunan, Jen. Aku kan pernah salah makan. Seperti waktu itu! Jadi, sekarang aku memilih-milih makanan. Lagipula, ini juga untuk kebaikan calon bayimu." Nirma menekankan kata calon bayi dengan nada suara yang tertahan. Supaya tidak ada yang mendengarnya kecuali mereka berdua.

__ADS_1


"Oke! Setelah matang nanti, biar aku saja yang makan. Kau cari saja makan yang lain," kata Jenny pada akhirnya. Dia tahu kalau Nirma menolak keras untuk memakan cake buatannya.


Nirma menghela napasnya. Ia tetap berada di sana menemani Jenny. Walaupun kedua matanya sedikit mengantuk. Akan tetapi ia memilih untuk menemani Jenny. Mungkin efek kehamilannya yang seringkali membuatnya mengantuk di jam 9 pagi.


"Aku ingin suatu hari nanti memiliki kedai atau toko cake," ucap Jenny.


"Tapi kau sudah memiliki restoran," sahut Nirma.


"Itu milik Kak Ali. Aku ingin memiliki bisnis tanpa campur tangan Kak Ali." Jenny kembali fokus dengan proses pembuatan Cake.


Nirma bertopang dagu. Meski mengantuk, Nirma berusaha agar telinganya tetap awas mendengarkan Jenny ketika berbicara. Tampak kedua mata Nirma berulang kali mengerjap. Wanita hamil itu mencoba untuk tetap menyadarkan dirinya.


"Kalau begitu buat saja. Kau memiliki banyak uang. Aku pikir tidak ada masalah kalaupun kau sebentar lagi membuka toko cake," sahut Nirma.


"Hei! Lalu bagaimana dengan menunya? Kalau si owner pemilik tokonya saja tidak bisa membuat cake. Jadi, mulai sekarang aku akan belajar membuat cake. Kau sendiri bagaimana? Apa kau tidak memiliki impian?" Jenny beralih melemparkan pertanyaan pada Nirma. Meski begitu tangannya tetap sibuk dengan adonan cake.


"Aku? Heh, kenapa kau malah berbalik bertanya padaku? Aku sama sekali tidak memiliki uang banyak. Bisa melanjutkan hidup juga syukur." Nirma menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Ia sangat mengantuk. "Setidaknya sekarang aku tidak memiliki utang pada siapapun." Nirma memalingkan wajahnya. "Termasuk utang budi padamu," batinnya dengan hati yang tenang.


"Aish! Namanya impian, setiap manusia juga pasti memiliki impian. Entah kita bisa menekuninya atau tidak tapi setidaknya kita bisa bermimpi untuk kehidupan ke depannya. Mengapa kau sangat pasrah?" tegur Jenny. "Pikirkan dari sekarang!"


Nirma menghembuskan napas panjang. Ia memandang Jenny dengan tatapan tajam. Sebenarnya dia diam-diam juga mulai mengumpulkan uang. Setelah ia menyelesaikan tugasnya nanti, Nirma bisa pergi meninggalkan Jenny. Wanita hamil itu tersenyum pada Jenny.


"Aku ingin membuka toko bunga. Menjalani hidup tenang dan bahagia. Yah, entahlah. Kita tidak tahu bagaimana nasib ke depannya." Nirma tak lagi menopang dagu. Ia bersedekap di dada. Walaupun masih dalam keadaan duduk di kursinya.


"Kita harus bersemangat apapun yang akan terjadi ke depannya. Nirma, aku berharap persahabatan kita bisa awet sampai kita tua nanti. Sebenarnya itu impian terbesarku. Ah, tidak. Itu impian kita berdua! Baiklah jangan memandangku seperti itu. Kau yakin nanti tidak ingin mencicipi cake red velvet buatanku?" Jenny mengaduk adonan cake itu menggunakan mixer.


"Sayangnya aku tidak memiliki takdir yang indah sepertimu, Jenny. Menjadi istri lelaki hebat dan penuh cinta, serta memiliki kekayaan yang bisa membuat kita hidup dengan nyaman. Inginnya aku pun begitu. Tapi, aku tetaplah harus bekerja keras. Aku tidak tahu apakah aku akan tetap berada di sampingmu. Sebab, aku memiliki perjalanan hidup yang keras. Sangat berbeda jauh denganmu," kata Nirma dalam hati.


"Nirma, kenapa kau diam saja? Aku memanggilmu dari tadi! Kau ingin cake dengan hiasan buah apa? Di kulkas ada beberapa buah yang segar! Aku akan menaruhnya di atas krim," kata Jenny.


"Yang penting jangan buah jeruk!" tandas Nirma.


Hening melenggang. Hanya terdengar suara tangan Jenny bekerja. Nirma mengawasi Jenny dengan seksama. Seulas senyuman tipis tersemat di bibirnya.


"Dia terlihat bahagia. Baiklah. Biarkan saja dia dengan dunianya sendiri." Nirma membatin sambil tersenyum.


"Butuh berapa lama untuk matang?" tanya Nirma.


Wanita hamil itu bertanya pada Jenny. Ketika Jenny membawa loyang berisi adonan cake itu ke dalam microwave. Jenny mengusap keringat di keningnya. Meski lelah, Jenny nyatanya masih bisa tersenyum.


"Ya sesuai resep!" Jenny memencet beberapa tombol pemanggang itu.


"Baiklah. Lakukan apapun yang kau inginkan, Jen. Asal kau tidak meledakkan dapur ini," ketus Nirma.

__ADS_1


"Em, ngomong-ngomong, Nir. Apa setelah kau melahirkan calon bayiku, kau memiliki pikiran untuk menikah?" Tiba-tiba Jenny membahas tentang pernikahan. Membuat Nirma melenyapkan senyumannya.


"Aku akan memikirkannya nanti setelah mendapatkan kehidupan yang baik. Tidak mungkin juga aku menikah disaat perekonomianku memburuk. Kau tahu apa maksudku bukan?" papar Nirma.


"Oke, oke. Aku berharap yang terbaik untukmu," sahut Jenny.


"Kenapa kau mencuci peralatan memasakmu yang kotor itu? Bukankah kau memiliki pelayan di rumah belakang?" Nirma heran lantaran Jenny juga mencuci peralatan bekas membuat cake itu.


"Ya? Apakah ada yang salah?" Jenny telah selesai mencuci peralatan dapurnya itu.


Kemudian ia menggunakan lap untuk mengeringkan tangannya. Setelah itu Jenny berjalan dan mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di sana. Tepat di samping Nirma. Sedangkan Nirma yang berada di dekatnya, melirik Jenny sekilas.


"Ada apa?" tanya Jenny.


"Apa ketika di rumah kau juga sama seperti ini? Memasak sendiri?" balas Nirma.


"Tentu saja. Bukankah aku sudah memiliki suami. Hei! Kenapa lagi-lagi kau meragukan aku? Dengar, aku tidak memiliki pekerjaan apapun. Jadi, ketika di rumah aku mencoba untuk memasak. Aku bisa memasak banyak menu," terang Jenny "Setelah menikah, aku bukan Jenny manja yang kau kenal. Aku bisa melakukan apapun karena aku ingin terlihat sempurna di mata Kak Ali!"


"Padahal dulu kau sangat manja, Jen," goda Nirma. "Aku masih tidak percaya kalau kau bisa berubah.'


"Astaga, anak ini!" Jenny memainkan kedua pipi Nirma. Dengan sekuat tenaga Nirma hendak memberontak. Akan tetapi kekuatan Jenny masih lebih besar dibandingkan dirinya yang hamil.


"Aduh, pipiku! Jenny, lepas!" Nirma memohon pada Jenny.


"Ha-ha-ha! Habisnya! Kau sangat menyebalkan, Nirma! Menggodaku terus-terusan!" Jenny tertawa melihat wajah Nirma yang menjadi jelek.


Akan tetapi, tanpa mereka berdua sadari. Seorang laki-laki berjalan mendekati mereka berdua. Ia meletakkan kopernya di ruang tamu. Setelahnya ia berjalan untuk lebih masuk ke dalam villa.


Kedua mata laki-laki itu bergerak liar menyapu seluruh ruangan. Ia terus mencari sosok yang ia rindukan tanpa ingin bersuara sama sekali. Sampai akhirnya telinganya menangkap suara yang cukup nyaring.


Laki-laki itu tersenyum setelah ia mengenali suara gelak tawa itu. Ya, istrinya sedang tertawa gembira. Ia bernapas lega. Rupanya sang istri hidup dengan nyaman di tempat yang memang jauh dari keramaian.


Ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Senyumnya senantiasa menghiasi bibirnya. Jantungnya bahkan bertalu-talu bagai genderang perang. Rasa rindu yang membuncah itu akan segera terbayar ketika sang istri melihatnya.


"Sayang? Aku pulang." Ali mulai bersuara.


Mendengar suara yang cukup familiar di telinganya, Jenny dengan cepat menoleh ke arah sumber suara. Sontak saja kedua matanya membulat sempurna ketika ia melihat Ali sudah berdiri di sana.


"Kak Ali?" lirih Jenny.


Saat Jenny menyebut nama suaminya, Nirma pun ikut terkejut. Wanita hamil itu segera berdiri dan menjauhkan kedua tangan Jenny dari wajahnya. Sama halnya dengan Jenny, kedua mata Nirma membulat.


"Kejutan! Sayang, kau sangat terkejut ya aku datang? Apakah dia teman yang kau bicarakan waktu itu? Oh, jadi dia juga hamil sama sepertimu?" Ali menunjuk perut Nirma yang sedikit membuncit.

__ADS_1


Nirma maupun Jenny tidak segera menjawab. Keduanya seperti kehabisan napas. Ali mengatakan ini merupakan sebuah kejutan. Sepertinya ini kejutan yang sangat mengejutkan bagi Jenny maupun Nirma.


"Mengapa kalian berdua diam?"


__ADS_2