Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 23


__ADS_3

Ali segera memeluk Jenny. Ini berita gembira yang sudah sejak lama ia nantikan. Bahkan pekerjaannya yang belum selesai saja ia abaikan. Kini kehamilan istrinya yang jauh lebih penting.


"Benarkah? Apa aku tidak sedang bermimpi?" Ali berlutut agar ia bisa melihat perut istrinya yang masih rata. "Sayang, akhirnya kau hadir. Papa sangat senang mendengarnya. Terima kasih ya sayang. Papa sangat menyayangimu."


"Sekarang aku sudah memiliki saingan. Bahkan kau memanggil anak ini dengan sebutan sayang meskipun dia belum berwujud." Jenny senang sekali bisa meledek suaminya.


Ali segera berdiri dan memegang tangan Jenny. Menatap wanita itu dengan wajah gembira. "Terima kasih sayang. Aku mencintaimu."


Pria itu mendaratkan bibirnya di sana. Memberi ucapan selamat kepada istrinya. "Aku tidak sabar melihat perkembangan anak kita. Sebentar lagi perutmu akan membesar. Nanti kita foto maternity untuk kenang-kenangan. Aku juga akan membawamu untuk baby moon."


"Dia bahkan sudah tahu banyak apa-apa saja yang biasa dilakukan oleh wanita hamil. Apa selama ini Kak Ali terus saja mencari informasi seputar wanita hamil? Ternyata sebesar itu keinginannya untuk memiliki anak. Aku bahkan sempat memiliki perasaan sakit hati ketika Nirma tidur dengan Kak Ali. Sekarang aku harus melupakan kejadian malam itu sepenuhnya." Jenny membatin. Wanita itu tiba-tiba saja menautkan alisnya. "Gawat! Jika Kak Ali terus ada di sampingku, dia bisa tahu kalau aku hamil bohongan. Sepertinya aku harus segera mencari cara agar bisa pergi dari rumah ini tanpa dicurigai oleh Kak Ali. Aku juga harus selalu berada di samping Nirma untuk menjaga anakku!"


***


"Saya mau membeli barang yang ini," tunjuk Nirma ke baju yang ada di patung. Wanita itu melangkah lagi untuk mencari baju yang sesuai dengan keinginannya.


Meskipun barang-barang yang dibelikan Jenny sudah cukup banyak, tetapi tetap saja Nirma ingin membeli barang yang sesuai dengan seleranya. Sejak hamil moodnya memang berubah-ubah. Begitu juga seleranya dalam hal memilih pakaian. Nirma lebih suka dengan pakaian pendek dan sedikit terbuka sekarang.


"Apa yang itu ada warna biru?" tanya Nirma ke karyawan toko yang sejak tadi melayaninya.

__ADS_1


"Ada, Nona. Sisa satu. Di sana." Pelayan toko itu menunjuk ke arah baju-baju yang masih terlipat rapi. Dia juga membantu Nirma untuk mengambil baju yang warna biru.


Sayangnya seorang wanita lebih dulu mengambilnya. Hingga akhirnya membuat darah Nirma mendidih.


"Ini milikku!" ujar Nirma sembari memegang perutnya.


"Maaf, ini milik saya. Saya yang memegangnya lebih dulu!" ketus wanita itu tidak terima.


"Saya sudah melihatnya sejak tadi. Saya ke sini untuk mengambilnya!" Nirma tetap tidak mau kalah.


Bukan mengalah justru wanita itu memandang Nirma dengan senyuman menghina. "Apa kau ini baru saja jual diri hingga mendapatkan uang yang begitu banyak? Wanita sepertimu sama sekali tidak berkelas. Lihat saja dari fashion yang kau pilih. Sangat tidak modern!" hina wanita itu.


"Itu berarti kau juga bukan orang kaya yang sesungguhnya!"


Nirma dan wanita itu memandang ke samping. Mereka melihat Jenny yang berdiri di sana dengan tangan terkepal kuat. Dada wanita itu naik turun karena menahan emosi. Dia segera berjalan mendekati Nirma. Meskipun tidak mendengar obrolan mereka berdua sejak awal. Tetapi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu sudah membuat Jenny emosi.


"Nona Jenny." Wanita itu menunduk takut. Ternyata dia hanyalah manager di salah satu restoran milik Jenny dan Ali.


"Hebat ya. Ternyata dibalik kesuksesan yang kau miliki, kau memiliki bakat yang terpendam!" Jenny memandang Nirma sejenak. Dia memegang tangan wanita itu. "Nirma ini sepupuku. Memang penampilannya seperti ini. Lalu, kau mau apa? Jangankan baju. Toko ini juga bisa dia beli!"

__ADS_1


Wanita itu segera berlutut. Intinya dia hanya takut di pecat. "Maafkan saya, Nona. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Wanita itu memandang Nirma. "Maafkan saya, Nona. Maafkan saya. Saya khilaf."


Nirma tidak mau mengeluarkan kata lagi. Dia memandang ke arah Jenny yang masih belum berhenti memarahi wanita tersebut.


"Jenny, dia benar-benar hebat. Bahkan wanita kaya seperti ini saja tunduk padanya. Selain kaya raya dia juga merupakan orang terpandang. Kapan aku bisa ada diposisi seperti Jenny?"


Setelah puas Jenny memandang ke arah Nirma. Wanita itu terlihat sedih. "Apa jadinya jika tadi aku tidak melihatmu?"


"Kenapa kau ada di sini? Maafkan aku karena sudah memakai uang yang berikan. Tiba-tiba saja aku ingin membeli baju hamil yang lebih pendek." Nirma terlihat merasa bersalah.


"Nirma, itu uangmu. Aku ke sini karena di ajak Kak Ali. Kami makan di restoran yang ada di bawah. Tadi aku sempat melihatmu. Tetapi aku tidak langsung memanggilmu karena ada Kak Ali. Ini juga aku pamitnya sama Kak Ali mau ke toilet," jawab Jenny sambil tertawa kecil.


"Kau ini. Cepat sana kembali. Aku juga ingin pulang. Aku merasa lelah." Nirma memandang baju biru yang tadi ingin dia beli.


"Ya. Aku akan segera menemui Kak Ali." Wanita itu mengeluarkan kartu dari dompetnya. "Gunakan ini. Kau bisa belanja apa sana."


"Jen, ini berlebihan."


"Tidak! Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan anakku juga. Aku pergi jumpai Kak Ali lagi ya."

__ADS_1


Jenny segera meninggalkan Nirma. Sedangkan Nirma masih berdiri di sana sambil memandang kartu yang ada di tangannya. "Bahkan aku tidak pernah bermimpi bisa memiliki kartu ini. Karena aku sadar, itu tidak mungkin. Tetapi karena kehamilan ini aku bisa mendapatkan semuanya."


__ADS_2