
"Nirma! Nirma! Aku punya kabar baik." Jenny mencari-cari keberadaan Nirma di seluruh apartemen miliknya. Dimulai dari kamar kamar mandi, balkon sampai ruang tv yang biasa digunakan Nirma untuk menunggu. Wanita itu tidak juga terlihat. "Di mana Nirma? Apa dia sembunyi? Tapi dia bersembunyi di mana, karena aku sudah mencari ke segala tempat."
Jenny menahan langkah kakinya ketika melihat selembar surat yang tergeletak di atas meja. Wanita itu melangkah menuju ke meja dengan firasat yang tidak enak meskipun ia belum membaca isi surat tersebut.
"Dari Nirma?" gumam Jenny di dalam hati. Wanita itu segera mengambil surat tersebut lalu membaca isi di dalamnya.
"Maafkan aku karena pergi ketika kau tidak ada di rumah. Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Bahkan selama ini aku memandangmu lebih dari sekedar sahabat. Kau selalu memberikan apapun yang kau miliki kepadaku. Memintaku untuk memakan makanan yang juga kau makan. Kau terlalu memanjakanku hingga Aku merasa sangat nyaman dan berat untuk meninggalkanmu. Setelah membaca surat ini, kau pasti akan marah padaku. Tapi memang ini yang terbaik. Maafkan aku karena sudah mengambil uangmu. Enggak banyak namun cukup untuk membeli tiket pesawat karena aku akan pergi ke luar negeri. Aku melamar kerja di sana. Tadi aku baru saja mendapat email balasan. Setelah membacanya aku senang karena pada akhirnya aku diterima untuk bekerja di sana. Aku tidak memiliki waktu lagi untuk bertemu denganmu. Aku juga tidak mau terus-terusan bergantung hidup padamu. Kau memiliki niat yang baik dengan membantuku selama ini. Tetapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku harap aku bisa membalas kebaikanmu. Tapi persahabatan kita akan tetap terjalin. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah sukses karena aku tidak berani menemuimu ketika aku masih dalam keadaan terpuruk."
"Kau benar-benar jahat Nirma. Kenapa kau pergi disaat aku sedang berbahagia. Aku ingin merayakan kebahagiaanku bersamamu. Hanya Kau satu-satunya sahabat yang aku miliki." Jenny melemparkan surat itu ke lantai dengan wajah kecewa.
__ADS_1
Wanita itu duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Wajahnya tidak ceria lagi meskipun kini hatinya sangat bahagia karena akan segera menikah dengan Ali. Jenny merasa sedih karena harus kehilangan sosok sahabat.
Jenny melihat ponselnya yang berdering. Wanita itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Tertulis nama Ali di dalam sana.
"Halo, Jenny. Apa kau sudah tidur?" tanya Ali dari kejauhan sana.
"Aku belum tidur," jawab Jenny dengan nada tidak bersemangat.
"Sahabat yang selama ini dekat denganku Sekarang dia sudah tidak ada. Dia pergi meninggalkanku. Tadinya aku ingin memberitahunya tentang hubungan kita. Tetapi ketika tiba di apartemen aku tidak bisa menemukannya lagi. Hanya ada selembar surat yang ada di atas meja. Sekarang aku tidak tahu harus mencarinya ke mana."
__ADS_1
"Aku tahu apa yang sekarang kau rasakan. Tapi aku tidak mau kau larut dalam kesedihan. Nanti kau bisa sakit. Bagaimana kalau aku ke sana saja? Aku akan membantumu untuk menenangkan hatimu lagi." Ali sangat khawatir terhadap Jenny.
"Jangan! Ini sudah malam. Kak Ali juga butuh istirahat. Sebaiknya Kak Ali di rumah saja. Bukankah besok kita akan bertemu juga," tolak Jenny. "Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik setelah mendengar suara ke Ali."
"Baiklah kalau begitu cepat bersihkan wajahmu lalu tidur. Jangan pikirkan hal-hal lain lagi."
"Besok Kak Ali harus datang lebih siang karena malam ini aku akan tidur di apartemen. Besok pagi aku baru pulang ke rumah orang tuaku. Aku akan menghubungi Kak Ali lagi nanti."
"Baiklah. Lakukan apapun yang membuatmu nyaman. Selamat malam. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Jenny memandang ponselnya lalu tersenyum. "Nirma, aku belum siap berpisah darimu."