Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 34


__ADS_3

Suasana di sekitar villa sangat sejuk. Akan tetapi tanpa disadari matahari sudah menyembul keluar dari persembunyiannya. Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar seorang wanita. Tampak sekali bahwa wanita itu tertidur sangat pulas.


Drrtt drtt drtt.


Sebuah panggilan telepon masuk ke dalam ponsel Jenny. Tentu saja mengganggu Jenny yang sedang tertidur lelap. Wanita itu bergerak menggeliat kecil. Berdecak kesal lantaran itu cukup mengganggu tidurnya. Tadi malam dia tidak bisa tidur karena terlalu lama menemani Nirma.


"Siapa yang berani menelponku di pagi buta begini? Aish! Iya!" Jenny meraba ranjang miliknya. Ia mencari ponselnya tanpa ingin membuka kedua matanya.


"Ya halo?" Jenny menjawab panggilan telepon itu dengan nada ketus. Rasanya dia ingin memarahinya saja.


"Sayang, bagaimana? Apa kau suka tempat itu?" Suara di seberang telepon cukup familiar di telinga Jenny. "Papa dan mama bilang kau terlihat sangat ceria ketika pertama kali tiba di sana."

__ADS_1


Sontak saja Jenny membuka kedua matanya dan membaca siapa orang yang menelponnya. Kedua matanya membulat begitu mengetahui siapa yang berbicara dengannya.


"Ah, Kak Ali!" Jenny berseru lantang. Ia merutuki tingkahnya yang berlaku kurang sopan pada suaminya sendiri. "Astaga! Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar mengantuk. Jadi aku tidak menyadari kalau Kak Ali menelponku. Maafkan aku, Kak."


"Oh, apakah aku mengganggu tidurmu?" tanya Ali. "Sayang, apa akhir-akhir ini kau kurang tidur? Biasanya jam segini kau juga sudah mulai bangun."


"Tidak!" Jenny memekik nyaring. "Ah, maksudku tidak. Bukan seperti itu. Aku terlalu nyaman dengan suasana di villa ini, Kak. Jadi aku tertidur sangat lelap. Bukan karena kurang tidur." Jenny memejamkan mata sambil membatin. "Aku tidak mungkin bilang sama Kak Ali kalau aku kelelahan menjaga Nirma. Dia pasti curiga."


"Hah? Oh, iya. Dia suka." Jenny menjawab canggung. Ia menjawab dengan nada yang gelisah. "Dia tidur di kamar tamu. Vila ini memiliki dua kamar kak."


"Entah kenapa aku selalu takut jika Nirma jatuh cinta pada Kak Ali. Atau Kak Ali jatuh cinta pada Nirma. Sebab mau bagaimanapun juga mereka berdua pernah menghabiskan malam panas bersama. Ya Tuhan, mengapa aku tiba-tiba sensitif begini?" Jenny membatin gelisah. Ia takut apabila rasa cinta diantara suami dan sahabatnya tumbuh tanpa ia duga. Bolehkah Jenny berburuk sangka?

__ADS_1


"Sayang, aku merindukanmu." Ali mulai merayu. "Aku ingin segera bertemu. Tetapi pekerjaan ini. Bolehkah aku meninggalkan pekerjaanku agar bisa bersama denganmu? Aku ingin menemanimu di Vila."


"Jangan, Kak. Jangan!" Jenny memejamkan mata dan duduk. "Memang untuk saat ini tabungan kita sudah cukup kak. Tapi kedepannya kita tidak tahu. Beberapa tahun yang lalu negara ini di serang virus hingga semua orang harus mengurung diri di rumah. Tidak ada yang boleh bekerja. Bagaimana kalau peristiwa itu terjadi lagi? Kita harus memiliki tabungan yang lebih banyak lagi kak."


"Ya, kau benar. Selagi masih sehat sebaiknya aku bekerja saja agar kita berdua bisa menikmati masa tua kita nanti."


"Nah, gitu baru suamiku yang ganteng," puji Jenny diselingi helaan napas lega. "Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu sayang."


Dari balik pintu, Nirma berdiri sambil memegang perutnya. Tadinya ia ingin meminta Jenny untuk menemaninya ke dapur membuat susu. Tetapi dia justru mendengar Jenny sedang teleponan bersama Ali.

__ADS_1


"Sebaiknya aku tidak menggangu mereka," gumam Nirma sebelum pergi meninggalkan kamar Jenny.


__ADS_2