
Hari bahagia telah tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Jenny dan Ali. Mereka Semua terlihat sangat bahagia. Begitu juga dengan tamu undangan yang hadir, mereka semua ikut memeriahkan pesta pernikahan Jenny dan Ali. Setelah ijab kabul, Jenny dan Ali langsung berdiri di pelaminan untuk bertemu dengan para tamu undangan.
"Aku senang karena pada akhirnya aku bisa menikah dengan pria yang aku cintai. Namun rasanya kebahagiaan ini tidak lengkap karena Nirma tidak ada di sini. Aku yakin dia pasti senang jika melihatku menikah dengan pria yang aku cintai. Sudah 3 bulan aku tidak mendengar kabarnya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sukses dengan pekerjaan barunya?" gumam Jenny di dalam hati.
"Sayang, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya Ali penasaran. Pria itu menggenggam tangan Jenny lalu mengecupnya dengan mesra. "Apakah kau memikirkanku atau memikirkan masa depan kita?" tanya Ali lagi.
"Tentu saja aku memikirkan masa depan kita. Tapi yang paling aku pikirkan adalah bulan madu. Aku ingin bulan madu di tempat yang tidak pernah dikunjungi orang," jawab Jenny asal saja. Dia merang
Ali ketawa mendengar permintaan istrinya. "Kau yakin ingin bulan madu di tempat yang seperti itu? Tidak ada satu orang pun yang pernah mengunjunginya?" tanya Ali dengan wajah yang serius.
"Ya. Apa tempat seperti itu ada di dunia ini? Aku tidak yakin kalau di dunia ini masih ada tempat yang belum pernah dikunjungi oleh manusia."
__ADS_1
"Ada. Namanya pulau terlarang."
Jenny yang geram dan tahu dimana letak pulau itu, segera mencubit perut suaminya. "Kau ingin aku dimakan oleh ular?" ketusnya dengan kesal. "Jelas-jelas pulau terlarang itu adalah pulau yang dipenuhi dengan ribuan ular dan kau ingin mengajakku ke tempat itu?"
Ali tertawa. Dia puas sekali bisa meledek istrinya seperti itu. "Bukankah kau sendiri yang bilang ingin bulan madu di tempat yang tidak pernah dikunjungi orang lain? Hanya itu satu-satunya pulau yang aku ketahui tidak pernah dikunjungi oleh orang lain. Kita seharusnya bulan madu di tempat yang ramai karena itu akan aman demi keselamatan kita. Jika bulan madu di tempat yang tidak pernah dikunjungi orang itu sangat beresiko," jawab Ali yang kembali serius.
"Baiklah. Aku ikut dengan suamiku saja," ucap Jenny pasrah. Wanita itu melebarkan senyumnya melihat Rico di depan sana dengan kado di tangannya. Di samping pria itu ada wanita cantik yang kini merangkul lengannya dengan mesra. Meskipun sudah lama tidak jumpa tetapi Rico dan Jenny masih sering komunikasi. Bahkan Jenny sering menceritakan tentang Ali kepada Rico.
"Selamat ya Kak Jenny. Selama ini Kak Rico selalu bercerita tentang Kak Jenny. Aku tidak menyangka kalau Kak Jenny jauh lebih cantik dari apa yang diceritakan oleh kak Rico," ucap wanita itu dengan senyum manis di bibirnya.
"Rico terlalu berlebihan. Dia memang suka seperti itu. Sebenarnya aku ini tidak terlalu cantik jika tanpa make up," ucap Jenny sambil tertawa malu-malu.
__ADS_1
"Aku doakan semoga Kak Jenny dan Kak Ali segera mendapat momongan," ucap wanita itu lagi hingga membuat senyum indah yang ada di bibir Jenny hilang seketika. Begitu juga dengan Rico.
"Terima kasih," jawab Ali ketika Jenny tidak juga memberikan respon apapun.
Jenny dan Riko saling memandang. Karena tidak mau membuat Ali curiga, Rico ingin segera membawa wanita itu pergi.
"Aku ingin mencicipi makanan yang ada di sini. Kelihatannya makanannya enak-enak semua," ucap Rico untuk memecah keheningan.
"Kau bisa memakan semuanya. Sebelum kenyang kau tidak boleh pulang," ucap Jenny. Dia berusaha untuk memasang wajah ceria.
"Baiklah. Aku ke sana dulu." Rico segera pergi bersama dengan wanita yang ia bawa. Jenny masih berdiri sambil memikirkan perkataan kekasih Rico tadi.
__ADS_1
"Secepatnya aku harus mengatakan semuanya kepada Kak Ali kalau aku sudah tidak memiliki rahim," gumam Jenny di dalam hati. "Aku yakin Kak Ali pasti setuju untuk freechild."