Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 25


__ADS_3

"Jadi bagaimana dong, Rico? Bantu aku," desak Jenny.


"Jen, minggir. Lebih baik kau pulang saja. Aku masih banyak pekerjaan," kesal Rico.


"Tapi, kau harus membantuku. Ini masalah hidup dan mati sahabatmu yang cantik. Masa kau sama sekali tidak kasihan melihatku, Rico?" Jenny memasang wajah memelasnya. Wanita itu harus bisa mendapatkan jalan keluar. Pikirannya benar-benar buntu.


Sebab Ali, suaminya ingin sekali mengajaknya untuk USG. Sedangkan bagi Jenny itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana jika nantinya Jenny diperiksa dan ketahuan bahwa ia tidak memiliki rahim? Semua kebohongannya akan terungkap. Semua pengorbanannya akan menjadi sia-sia.


"Kau terlalu panik, Jen. Pekerjaanku masih banyak. Aku harus mencari banyak uang untuk keluargaku. Bukan mengurus kehidupanmu," gerutu Rico. Ini bukan sekali saja Jenny merepotkannya. Sejak Nirma positif hamil, Jenny terus saja mengganggunya. Bahkan ketika malam tiba Jenny sering menghubunginya hanya karena masalah sepele.


Ketika Nirma muntah, dia telepon. Nirma gak mau makan dia telepon. Bahkan ketika Nirma ingin memakan sesuatu juga Jenny telepon untuk memastikan kesehatan bayi di dalam rahim Nirma. Rico merasa lelah. Ia juga butuh waktu untuk fokus dengan pekerjaannya. Tidak terus menerus memikirkan kehidupan bayi yang ada di dalam kandungan Nirma.


"Nah! Aku akan memberimu uang, kalau kau mau membantuku, Rico. Dengar, ini tentang hidup dan matiku. Jadi, tolong mengertilah, Rico! Tolong bantu aku! Kasihanilah sahabatmu yang cantik ini," pinta Jenny semakin menjadi. Hingga akhirnya Rico menghela napas panjang. Dia menatap wajah Jenny dengan tatapan tidak terbaca.


"Kalau kau terus merengek seperti ini, bagaimana aku bisa berpikir dengan baik, Jen? Tolonglah. Kau selalu meminta bantuanku dengan mendadak. Aku tidak siap untuk itu. Selama beberapa waktu ini saja kau sudah berapa kali membuatku hampir terkena serangan jantung ha?" Rico mematikan laptop miliknya. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar.


Tidak munafik memang jika Rico kesal karena Jenny terus mendesak Rico agar Rico bersedia membantunya. Sedangkan posisi Rico, juga tidak segampang itu membantu Jenny.


Pasalnya pekerjaan Rico sebagai seorang dokter juga sedang menumpuk. Ditambah rengekan Jenny yang terus berisik. Belum lagi jika sampai ada yang mengetahui rahasia yang selama ini dia sembunyikan bersama Jenny. Bisa-bisa dia kehilangan pekerjaannya.


"Ya ampun, Rico! Kalau kau tidak membantuku aku harus meminta bantuan siapa lagi? Aku hanya punya dua sahabat. Satunya Nirma. Dan aku tidak mungkin meminta bantuan Nirma dalam urusan USG ini!" Jenny meluapkan rasa kesalnya.


Jenny sangat panik saat tadi pagi Ali tiba-tiba mengatakan ingin membawanya pergi ke dokter kandungan. Tidak mungkin Jenny berdiam diri. Sedangkan kebohongannya nyaris terungkap.


"Pulanglah, Jen. Semakin kau merengek di sini, semakin otakku berhenti berpikir. Aku akan memikirkannya nanti. Disaat seperti ini mana bisa aku berpikir. Kau berisik sekali ditambah dengan pekerjaanku yang menumpuk ini!" usir Rico.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau pulang! Aku harus mendapatkan cara untuk melewati masalah ini, Rico. Sungguh aku tidak bisa diam saja. Aku akan tamat hari ini kalau Kak Ali membawaku ke dokter kandungan yang lain," pungkas Jenny.


"Dengar, Jen. Pulanglah. Biarkan aku berpikir sendiri. Kalau kau berada di sini kau hanya akan menggangguku. Selain kau terlalu berisik, aku harus berpikir jernih. Jika kau ingin aku membantumu, maka cepat pulang dan biarkan aku berpikir di suasana yang tenang. Dalam keadaan seperti ini, bukankah kita harus tenang, Jen? Maka dari itu cepat pulang dan biarkan aku sendiri untuk berpikir." Rico menjelaskan keinginannya.


Tampak Jenny berpikir. Wanita tanpa rahim itu menyorot Rico dengan tajam. Seolah Jenny hendak menguliti Rico. Setelah berpikir keras, akhirnya Jenny menghela napas panjang.


"Baiklah. Aku akan ke tempat Nirma saja. Ingat, Rico. Kau harus membantuku!" Sebelum Jenny pergi, wanita itu masih menyempatkan diri untuk mengancam Rico. Satu menit kemudian, Jenny menghilang dari balik pintu.


"Aish! Dia benar keterlaluan."


...***...


"Tenang, Jen. Mungkin sebentar lagi Dokter Rico akan memberi kita kabar." Nirma mencomot buah yang sudah diiris oleh Jenny dan memakannya. Berbeda dengan Jenny, justru Norma terlihat santai saja saat itu.


"Bagaimana aku bisa tenang, Nirma? Ini semua akan tamat! Pernikahanku mungkin tamat hari ini." Jenny menghentikan aktivitasnya. Wanita itu menghela napas berat.


"Percayalah pada dokter Rico. Sebagai seorang dokter dia pasti memiliki banyak solusi untukmu, Jenny. Seperti biasa. Dia juga sudah sering membantumu bukan?" Nirma mencoba untuk menenangkan Jenny. Meskipun ia sendiri tidak begitu ambil pusing.


"Tapi kalau Kak Ali mengajakku ke dokter kandungan yang lain aku benar-benar akan tamat, Nirma. Itu sungguh membuatku hampir gila," keluh Jenny sekali lagi.


Kring kring kring.


Buru-buru Jenny mengambil handphonenya. Kedua matanya melebar Ketika ia mengetahui siapa yang menghubunginya. Ia memberikan isyarat pada Nirma agar diam.


"Ini Rico!" Jenny begitu bahagia saat ia mengetahui Rico meneleponnya. Ia pun segera memencet tombol hijau.

__ADS_1


"Halo?" Jenny menyapa di telepon. Wanita itu terus mendengarkan kata-kata dari Rico.


Sedangkan Nirma terus berada di samping Jenny dengan tenang sambil menikmati makanannya. Kedua mata Nirma fokus pada Jenny yang berdiam diri. Mendadak rasa khawatirnya pun muncul. Akan tetapi Tak lama kemudian senyuman merekah di bibir Jenny.


"Baiklah aku akan mengajak Nirma ke sana!" Jenny mengakhiri teleponnya.


"Ada apa, Jenny?" tanya Nirma.


"Kita harus pergi ke tempat Dokter Rico." Setelah Jenny mengatakan hal itu, kedua wanita itu pada akhirnya segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Entah apa yang sudah dipikirkan oleh Rico.


...***...


"Tuan, ini jadwal kita hati ini. Sepertinya kita akan pulang malam lagi," ucap seorang pria yang tidak lain adalah sekretaris pribadi Rico.


Rico menggeleng kepalanya sembari mendorong berkas yang sudah selesai ia tandatangani.


"Batalkan semuanya. Aku ingin membawa istriku ke dokter. Kami ingin bertemu dengan anak pertama kami."


Ali langsung tersenyum setelah mengucapkan kalimat itu. Belum juga melihatnya dia sudah bahagia membayangkannya. Bayi mungil yang ada di dalam rahim itu biasanya hanya ia lihat melalui televisi saja. Tapi kini dia bisa melihatnya secara langsung.


"Anda yakin, Taun? Beberapa investor justru mengancam akan membatalkan kerja samanya dengan kita?" Pria itu berusaha membuat Ali berubah pikiran.


"Ya. Tidak ada yang lebih penting lagi selain anak dan istriku. Jika dia menolak untuk bertemu denganku besok, itu berarti kita memang tidak ditakdirkan kerja sama dengan mereka," jawab Ali dengan santai. Ia mengambil ponselnya lalu mencari informasi mengenai dokter kandungan yang ada di kota tempatnya tinggal.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi." Pria itu menunduk hormat. Dia keluar sembari membawa berkas yang ada di meja Ali.

__ADS_1


Ali sama sekali tidak peduli. Pria itu menahan jarinya ketika dia berhasil menemukan dokter kandungan yang pas untuk memeriksa istrinya.


"Aku harus membawa Jenny bertemu dengan Dokter ini!"


__ADS_2