Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 17


__ADS_3

"Aish!" Tubuh Jenny terjatuh di atas ranjang saat Ali dengan sengaja menarik tangannya.


Sontak saja, begitu tubuh Jenny berada di atas ranjang, Ali segera mendekap Jenny. Memeluknya erat dan bahkan berulang kali memberikan kecupan manis.


"Selamat pagi, Sayang. Hmm, kau sudah mandi? Selalu saja membuatku ingin bermanja. Kenapa kau cantik sekali hmm?" Ali terus mencium pipi Jenny. Membuat wanita itu diliputi rasa yang bahagia.


"Kak Ali! Ini sudah pagi. Biarkan aku memasak sarapan. Kalau begini terus kapan Kak Ali berangkat bekerja? Ayolah, Kak. Bisa saja nanti Kak Ali terlambat." Jenny mengusap pipi Ali.


Untuk laki-laki bucin seperti Ali, tentunya Jenny mendapatkan balasan. Wanita itu mendapatkan kecupan yang jauh lebih banyak. Jenny pun kewalahan. Ia tak dapat menyembunyikan gelak tawanya. Saat Jenny memberontak, Ali kembali mengeratkan pelukannya.


"Astaga, Kak Ali!" Jenny memukul dada bidang suaminya. "Kalau Kak Ali belum juga berangkat, bagaimana aku bisa berangkat ke salon? Aku harus merawat tubuhku dan menghabiskan uang suamiku!"


Penuturan Jenny membuat Ali menghentikan aksinya mencium pipi Jenny. Laki-laki itu memandang wajah istrinya dengan seksama. Jenny melebarkan kedua matanya.


"Kenapa lagi?" kesal Jenny.


"Baiklah. Aku akan melepaskanmu. Tapi, bisakah kau juga membeli itu … " Ali menghentikan kalimatnya. Ia justru memainkan kedua alisnya bergerak naik turun.


"Apa? Iih! Kak Ali mesum!" Jenny memukul Ali berulang kali dengan bantal.


Suara gelak tawa yang lepas pun kini terdengar. Ali tertawa keras melihat kedua pipi sang istri merona. Jenny buru-buru turun dari ranjang. Ia tidak ingin tertangkap oleh Ali.


Bisa-bisa akan terjadi ronde kesekian kalinya. Jenny pun berlari keluar dari kamar. Tingkah Jenny semakin membuat Ali tidak bisa menghentikan tawanya.


"Astaga! Dia imut sekali. Berapa lama kami menikah? Nyatanya dia masih suka malu-malu seperti kucing. Jenny, katakan padaku. Bagaimana aku bisa berpaling darimu? Kau wanita terindah yang pernah kumiliki," gumam Ali.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi. Jenny pun tampak di sana. Wanita itu melemparkan satu handuk bersih untuk Ali.


"Cepat mandi! Atau aku tidak akan membawakan bekal makan siang untukmu!" Setelah mengatakan hal itu, Jenny segera berlari. Ia harus bersiap.


"Setelah ini aku harus pergi menemui Rico dan Nirma. Ada banyak hal yang harus kami bahas untuk nanti malam." Jenny membatin. Wanita itu tiba-tiba termenung.


Satu bayangan terlintas di kepalanya. Saat sahabatnya bersama untuk mereguk nikmat surga duniawi. Jenny mengusap dadanya yang terasa sesak. Buru-buru wanita itu melenyapkan bayangan buruk itu dari kepalanya. Ia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak. Aku sudah memutuskan hal ini. Jenny, kamu tidak boleh sakit hati. Tidak, untuk mendapatkan bayi yang sangat diinginkan oleh suamimu." Jenny terus membatin.


Mencoba menepis semua pikiran buruk yang terlintas di kepalanya. Kemudian Jenny bergerak untuk memasak. Ia harus cepat menyiapkan sarapan pagi.


...***...


Selama menyiapkan sarapan pagi, Jenny terlalu banyak melamun kali ini. Entahlah. Ini mimpi buruk atau anugerah. Dia benar-benar bodoh! Tetapi semua sudah terjadi dan dia sudah memutuskannya dengan hati yang mantap.


Ketika memandang ke samping, Jenny tersenyum melihat suaminya yang sudah berdiri di sana. Sudah rapi dan wangi. Jenny mengatur napasnya dengan tenang untuk menyembunyikan kegelisahannya.


"Kak Ali? Kenapa diam saja? Kakak sudah banyak menghabiskan waktu. Nanti Kak Ali terlambat bagaimana?" Jenny mengerucutkan bibirnya. Ia kesal lantaran sang suami masih memandangi wajahnya.


Padahal saat ini mereka berdua sudah berada di dapur. Ali tampak mengukir senyuman di bibirnya. Ia memegang dagu sang istri. Kemudian Ali mendaratkan satu kecupan di kening Jenny. Tidak peduli dengan pekerja yang ada di sana yang mungkin akan melihat kemesraan mereka.


"Aku mencintaimu. Jangan khawatirkan apapun, Sayang. Aku tetaplah Ali. Laki-laki yang mencintaimu bagaimanapun keadaannya." Ali tersenyum setelah ia mengatakan hal itu. Seolah-olah pria itu tahu kalau ada yang disembunyikan istrinya.


"Ayo kita sarapan. Mumpung masih hangat," rayu Jenny. Ia memaksa Aku duduk sebelum meletakkan roti yang sudah diberi selai di atas piring Ali. "Malam ini pulang jam berapa?" tanya Jenny sembari mengunyah rotinya.


Tidak lama setelah itu, Ali kemudian berlalu masuk ke dalam mobil. Beberapa waktu setelahnya mobil Ali melaju. Jenny tak melepaskan pandangan dari mobil suaminya.


"Kak Ali, terima kasih. Tapi, maaf. Malam ini aku akan menodai bahtera rumah tangga kita." Jenny menggumam lirih.


Dengan cepat ia menghubungi Rico dan Nirma. Ketiga orang itu akan bertemu di salah satu cafe yang pernah mereka kunjungi bersama. Kemungkinan dari sana, Jenny akan membawa Nirma ke salon. Meski nantinya Ali tidak sadar, Jenny tidak ingin suaminya curiga sedikitpun.


...***...


Nirma mengaduk-ngaduk sarapan paginya sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Ternyata bukan hanya Jenny saja yang tidak tenang pagi ini. Tetapi Nirma juga. Bedanya Nirma belum siap mengandung dan melahirkan. Sedangkan Jenny dia sedih karena harus berbagi suami meskipun hanya satu malam.


Suara ketukan pintu membuat Nirma kaget. Wanita itu mengernyitkan dahi sembari memandang pintu keluar yang jaraknya beberapa meter dari posisinya duduk.


"Siapa yang datang?"


Nirma menyingkirkan sarapan paginya yang masih utuh. Wanita itu segera mengambil kain untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. Memang pagi itu Nirma hanya memakai hotpants dan baju bertali saja.

__ADS_1


Setelah pintu terbuka, Nirma dibuat kaget dengan kemunculan Dokter Rico di hadapannya. Nirma memandang ke samping dan tidak menemukan Jenny.


"Ada apa?" Nirma menahan kalimatnya beberapa detik. "Dok."


"Apa aku boleh masuk?"


Nirma mengangguk. Ia mempersilahkan Dokter Rico untuk masuk ke dalam apartemen. Setelah itu dia menutup lagi pintu tanpa menguncinya.


"Anda mau minum apa?" tawar Nirma. Wanita itu mulai gelisah karena dia tidak menyangka Dokter Rico akan menemuinya secara pribadi seperti ini.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin bicara. Bukan minum," jawab Dokter Rico tanpa memandang. "Duduklah."


Nirma menurut saja. Dia juga tahu kalau pria di depannya itu orang yang disayangi oleh Jenny. Dia merasa yakin kalau Dokter Rico tidak akan menyakitinya.


"Ini tentang Jenny. Aku tahu dia wanita yang sangat langkah. Sebenarnya dia cerdas, tetapi untuk masalah ini dia sudah berubah menjadi wanita yang bodoh. Aku tidak terlalu kenal denganmu. Kita juga tidak pernah bertemu sebelumnya."


"Dok, sebenarnya apa yang ingin anda katakan?" Nirma semakin tidak nyaman. Dokter itu menatapnya seperti sedang mengintrogasi.


"Jenny mempercayaimu dan aku harap kau bisa dipercaya. Kau harus melewati malam yang begitu manis dengan suami Jenny. Keberhasilan rencana ini ada padamu. Tapi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Jangan pernah menggunakannya dengan hati. Lakukan semua ini demi Jenny. Jangan rusak rumah tangga sahabatmu sendiri! Orang yang sudah percaya dan menganggapmu saudara kandung!"


Deg. Nirma membisu dan ingin menangis. Dokter Rico memandangnya seolah-olah dia ini seorang pelakor yang berniat merebut suami sahabatnya. Padahal sebenarnya Nirma tidak seperti itu.


"Dok, anda tenang saja. Saya akan menjaga hati saya. Meskipun tubuh kami bersatu, tetapi saya juga tahu kalau di hati pria itu hanya ada nama Jenny. Anda tidak perlu khawatir," ucap Nirma sembari memalingkan wajahnya. Dia tidak mau sampai dokter Rico melihat genangan air mata di sana.


"Baguslah. Karena saya tidak mungkin menyampaikan masalah ini di depan Jenny. Dia akan marah. Sekarang bersiaplah. Kita harus bertemu dengan Jenny dan merencanakan semuanya." Dokter Rico beranjak dari sofa.


"Anda duluan saja. Saya bisa naik taksi!" Nirma masih belum mau memandang Dokter Rico. "Pintunya juga tidak di kunci!"


Dokter Rico mengangguk. "Permisi!" Pria itu segera Pergi.


Setelah memastikan Dokter Rico tidak ada di rumahnya lagi, Nirma segera menangis sejadi-jadinya. Wanita merasa di hina dan disepelekan.


"Apa seperti ini rasanya jadi wanita miskin? Selalu dipandang rendah!" Nirma menghapus air matanya lagi. "Tidak! Aku harus kuat. Semua aku lakukan demi Jenny. Biar saja Dokter sialan itu memandangku dari sudut pandangnya. Yang penting aku tidak seperti yang ia pikirkan!"

__ADS_1


__ADS_2