
Nirma Tiba-tiba saja memandang foto Jenny dan putri yang ia lahirkan 10 tahun yang lalu. Foto itu masih tersimpan rapi di dalam ponselnya. Berulang kali wanita itu ingin menghapus foto tersebut dan melupakan semua kenangan indah antara dirinya dan juga Jenny. Namun Entah kenapa sampai detik ini foto itu masih ada di dalam ponsel tersebut. Meskipun Nirma sudah berulang kali ganti ponsel, tetapi ponsel jadulnya itu masih ada. Hanya nomor teleponnya saja yang sudah tidak aktif lagi. Nirma sengaja membuang nomor teleponnya yang lama agar Jenny tidak bisa menghubunginya.
"Meskipun sudah berjuang sampai sekeras ini tetap saja perhatian semua orang saat di pesta semalam tertuju padanya. Sebenarnya apa sih hebatnya seorang Jenny. Dia hanya wanita tidak memiliki rahim yang pintar berbohong. Wanita yang menyimpan sejuta rahasia dibalik senyumnya yang kata semua orang manis!” kata Nirma dengan wajah tidak suka.
Nirma menghempaskan ponselnya di atas tempat tidur. Sebelum menjatuhkan tubuhnya di sana. Wanita itu memandang langit-langit yang ada di kamar tidurnya saat ini. Wanita itu berusaha meniru senyuman Jenny. Namun, dia tetap saja tidak bisa melakukannya. Nirma kembali membayangkan wajah tampan Ali tadi malam. Wanita itu semakin tergila-gila.
"Rasanya aku sudah tidak sabar untuk tidur dengan Kak Ali di kamar ini. Tetapi sayangnya semua harus gagal karena Jenny tiba-tiba saja muncul. Lain kali aku akan menyiapkan rencana yang lebih matang lagi," gumam Nirma di dalam hati. “Jangan sampai Jenny muncul dan mengagalkan rencanaku. Selama beberapa minggu ini aku sudah coba bersabar agar Kak Ali tidak sadar kalau aku menyukainya. Tapi sekarang aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lagi. Aku ingin Kak Ali segera tahu kalau aku mencintainya.”
Wanita itu memejamkan mata sambil membayangkan jika dia adalah Jenny. Wanita yang sangat dicintai oleh Ali. Betapa bahagianya Nirma. Masih membayangkannya saja sudah membuatnya bersemangat.
Nirma tersadar dari lamunannya ketika dia mendengar suara deringan ponsel. Wanita itu mengambil ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari tangannya. Dia kaget bukan main ketika melihat pelayan yang tadi malam ia temui di cafe kini menghubunginya lagi. Tanpa pikir panjang lagi wanita itu segera mengangkat panggilan telepon pelayan cafe tersebut.
"Ada apa? Bukankah aku sudah membayarmu penuh? Lalu untuk apa kau menggangguku lagi?” protes Nirma tidak suka. “Awas saja kalau kau berani macam-macam!”
"Nona, gawat. Saya tidak tahu kalau orang yang berurusan dengan anda itu memiliki hubungan baik dengan pemilik cafe ini. Saya terpaksa memberi tahu identitas anda kepada bos saya. Saya juga tidak mau kehilangan pekerjaan saya. Sekali lagi maafkan saya, Nona. Saya akan memulangkan semua uang yang sudah anda berikan kepada saya tadi malam.” Dari nada bicara pelayan cafe itu Nirma bisa tahu kalau dia sangat ketakutan dan dalam keadaan tertekan.
Nirma segera duduk dengan wajah kaget bukan main. "Kenapa kau bodoh sekali. Kenapa kau harus memberitahu identitasku? Bukankah kau bisa saja menyebutkan nama wanita lain selain diriku!" protes Nirma kesal.
"Maafkan saya, Nona. Saya terlalu panik hingga tidak bisa berpikir jernih lagi. Sebaiknya mulai sekarang anda berhati-hati saja. Bisa jadi istri Tuan Ali melabrak anda dalam waktu dekat ini.”
Ketika Nirma ingin marah tiba-tiba pelayan itu sudah memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak. Hal itu membuat Nirma semakin geram. Tanpa pikir panjang Nirma menghempaskan ponselnya ke lantai hingga layar ponsel keluaran terbaru itu retak.
__ADS_1
"BODOH! DASAR MANUSIA TIDAK BERGUNA!" teriak Nirma penuh emosi.
Kini Nirma tidak bisa tenang lagi. Dia yakin sekarang Jenny sudah tahu kalau dirinya lah yang sudah berencana menjebak Ali. Meskipun begitu, masih ada seulas senyum di sana. "Tapi Jenny tidak tahu kalau aku adalah Nirma. Di mata Jenny Aku adalah Lisa. Sepertinya aku tidak perlu takut jika dia datang untuk melabrakku. Aku hanya perlu menantangnya kembali!"
Meskipun sudah jelas-jelas salah tetapi Nirma masih mampu untuk membenarkan dirinya sendiri. Ternyata kekayaan yang sekarang ia miliki tidak merubahnya menjadi wanita yang jauh lebih baik. Nirma semakin sombong dan angkuh. Bahkan tidak lagi memiliki hati dan memandang persahabatannya dengan Jenny.
Di waktu yang bersamaan, Jenny terlihat kesal ketika dia tahu kalau wanita yang berencana untuk menjebak suaminya adalah wanita yang tadi malam sempat bertemu dengannya. Lisa! ya sekarang nama itu tidak bisa hilang dari ingatan Jenny. Ingin sekali detik ini juga Jenny menemui wanita bernama Lisa itu dan memanggilnya sebagai pelakor. Rasanya dada Jenny benar-benar sesak. Dia sudah tidak sabar untuk mempermalukan wanita itu di depan umum. Bagi Jenny, wanita seperti itu tidak sepantasnya dibiarkan hidup tenang.
"Lisa! Ternyata di dunia ini banyak sekali wanita murahan. Padahal dia cantik dan sangat terhormat. Tetapi bisa-bisanya ia memiliki sifat yang begitu memalukan,” umpat Jenny. Dia memukul-mukul bantal sofa seolah-olah itu adalah wajah Nirma.
Ali memperhatikan Jenny yang sejak tadi duduk di depan kolam ikan. Pria itu meninggalkan Tasya yang saat itu sedang mengerjakan PR. Dia penasaran hingga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan istrinya. Kenapa wajahnya terlihat tidak bersahabat siang itu. Biasanya Jenny terlihat sangat ceria dan bersemangat. Meskipun wanita itu dalam keadaan sakit sekalipun!
Jenny memandang Ali sejenak sebelum memalingkan wajahnya ke arah kolam ikan lagi. "Sudah berapa lama Kak Ali kenal dengan Lisa?" ketus wanita itu tanpa memandang.
"Kenapa tiba-tiba kita membahas Lisa?" Ali cepat-cepat duduk di samping Jenny. Dia takut jika sampai istrinya salah paham.
"Dia yang sudah menjebak Kak Ali tadi malam. Ternyata sifatnya tidak secantik wajahnya. Aku tidak mau Kak Ali bertemu dengan dia lagi." Jenny mengancam Ali dengan tatapan yang dipenuhi api cemburu.
"Dari mana kau mendapatkan informasi itu? Kenapa kau bisa menuduhnya? Apa kau memiliki bukti?” Sebenarnya Ali hanya tidak mau sampai wanita salah sangka.
"Kak Ali tolong jangan membelanya karena semakin Kak Ali membelanya, hatiku semakin sakit. Kak Ali tidak perlu melihat buktinya. Kak Ali hanya perlu tahu kalau wanita itu ingin menghancurkan rumah tangga kita. Jangan bersikap bodoh jika Kak Ali masih mencintaiku." Bahkan Jenny tidak bisa bicara dengan lemah lembut lagi. Wanita itu sudah terpancing emosi saat ini. “Dia pelakor! Aku tidak tahu, Kak Ali ini korban pertama atau kesekian kalinya. Jangan-jangan dia banyak duit karena selama ini menggoda suami orang lagi!”
__ADS_1
"Sayang, jangan marah-marah seperti ini. Aku tidak mau melihatmu marah-marah." Ali berusaha untuk membujuk Jenny. "Aku percaya dengan yang kau katakan. Nanti akan aku bicarakan dengan sekretarisku masalah kontrak kerja dengan Nona Lisa. Tapi kau tahu sendiri kalau dalam kontrak kerja pasti ada sebuah perjanjian. Jika aku memutuskan untuk membatalkan kerja sama ini itu berarti kita harus siap menanggung resikonya. Ada denda yang harus kita bayarkan ke Nona Lisa. Dan itu jumlahnya tidak sedikit,” jelas Ali agar Jenny mengetahuinya.
"Aku tidak peduli! Berapapun dendanya bayarkan saja. Jika uang Kak Ali kurang, masih ada uang tabunganku. Yang penting Kak Ali tidak lagi berhubungan dengan wanita itu." Di mata Jenny uang tidak ada artinya. Dia hanya ingin ketenangan dalam membina rumah tangga bersama dengan suaminya.
"Baiklah, akan aku usahakan. Sekarang Jangan marah lagi. Tersenyumlah di depan suamimu ini istri cantikku." Ali memang selalu saja bisa membujuk Jenny. Kini wanita itu kembali memasang wajah manis sambil memeluk suaminya.
"Aku mencintaimu. Aku tidak rela jika ada wanita lain yang dekat-dekat denganmu. Aku harap Kak Ali paham dengan perasaanku ini."
"Sama seperti yang aku rasakan. Aku juga tidak siap jika ada pria lain yang mengagumimu. Jangan khawatir. Kita pasti bisa melewati masalah ini."
Ali kembali mendaratkan kecupan cintanya di pucuk kepala sang istri. Sambil mengusap-ngusap punggung wanita itu ia kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Nirma. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau wanita yang ia pikir baik itu ternyata memiliki niat terselubung. Ali bisa merasa tenang karena istrinya tidak pernah menuduh tanpa alasan.
"Mama, Papa. Kenapa di sini?" Tasya berlari mendekati Jenny dan Ali. Anak kecil itu merasa cemburu melihat ayah kandungnya memberi perhatian lebih terhadap ibunya.
"Sayang, bagaimana tugasnya? Sudah selesai? Maafkan papa karena sudah meninggalkanmu secara diam-diam," ucap Ali merasa bersalah.
Tasya menggeleng. Dia menunjukkan PR yang baru saja ia selesaikan di depan Ali. "Bagaimana? Apa aku anak pintar?" Tasya mengukir senyum manis.
"Ya, anak papa memang anak pintar," sahut Ali. Pria itu merasa bangga melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang membanggakan orang tua.
Sedangkan Jenny hanya diam membisu memandang Tasya. Senyum Tasya dan gaya bicara anak kecil itu mengingatkannya dengan Nirma. "Kalau Nirma masih ada di kota ini, aku pasti akan mengajaknya untuk melabrak wanita yang sudah berani mendekati Kak Ali," gumam Jenny di dalam hati.
__ADS_1