Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 52


__ADS_3

Jenny tidak lagi bisa membendung tangisnya. Ketika tiba di kamar, wanita itu terduduk di lantai lalu menangis sejadi-jadinya. Bahkan sampai detik ini Jenny masih berharap kalau Ali muncul di dalam kamar untuk membujuknya agar tidak pergi. Sayangnya harapan itu hanya ada di dalam pikiran Jenny saja. Karena pada kenyataannya sampai detik ini Ali tidak juga muncul di kamar itu.


Setelah berusaha menenangkan dirinya sendiri Jenny kembali bangkit dan mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Wanita itu mengambil foto keluarga yang berdiri di atas nakas. Ia memeluk foto itu dengan begitu erat sambil menangis pilu.


"Maafkan Mama sayang. Seandainya saja kau lahir dari rahim mama mungkin masalah ini tidak akan pernah terjadi. Selamanya kita akan menjadi keluarga yang harmonis."


Jenny memasukkan foto keluarga itu ke dalam koper. Sebelum pergi meninggalkan kamar wanita itu memandang lagi kamar yang sudah ia tempati selama 11 tahun ini. Dekorasinya berulang kali diganti oleh Jenny. Tetapi kenyamanan kamar itu masih sama.


"Aku pasti akan sangat merindukan kamar ini." Jenny menghela napas panjang lalu berusaha mengeringkan air mata yang masih ingin menetes. "Aku harus kuat. Aku tidak boleh menangis lagi. Aku tahu ini adalah konsekuensi yang harus aku terima."


Jenny menyeret koper yang berisi barang-barang pribadinya keluar dari kamar.


Bisa dibilang ada banyak sekali barang Jenny di kamar itu. Bahkan 10 koper saja tidak akan cukup. Tetapi Jenny memutuskan hanya membawa satu koper saja. Barang-barang itu benar-benar barang penting yang tidak sanggup untuk Jenny tinggal di kamar itu.


Ali masih duduk di sofa dan menunduk. Pria itu bahkan tidak mau mengangkat kepalanya untuk melihat kepergian Jenny. Entah apa yang ada di pikiran Ali saat ini. Jenny menyeret kopernya mendekati Ali. Sebelum pergi wanita itu ingin berpamitan lagi dengan suaminya.

__ADS_1


"Kak Ali ... Terima kasih atas kebahagiaan yang selama ini sudah Kak Ali berikan kepadaku. Terima kasih atas kasih sayang yang tidak ada hentinya. Kak Ali adalah pria pertama yang aku temui selama masa hidupku. Aku akan selalu mencintai Kak Ali. Rasa cinta ini tidak akan pernah pudar. Masih sama seperti saat kita bertemu dulu. Setelah kita bercerai nanti, aku pun akan tetap mencintai Kak Ali. Aku sama sekali tidak peduli jika suatu saat nanti Kak Ali ingin menikah lagi dengan wanita lain. Dari kejauhan Aku hanya bisa mendoakan agar Kak Ali bisa hidup bahagia ketika Kak Ali tidak bersamaku lagi nanti. Tolong jaga Tasya dengan baik. Beri dia penjelasan agar Tasya tidak membenciku. Sampai kapanpun aku ingin Tasya tetap memanggilku mama. Aku tidak peduli meskipun Nirma adalah ibu kandungnya. Karena sejak lahir akulah yang mengurus Tasya. Aku yang menemaninya ketika sakit. Aku yang memeluknya ketika dia kedinginan. Aku juga yang mendidiknya hingga ia menjadi anak sepintar ini." Jenny berhenti sejenak mengatur napasnya lagi. Matanya benar-benar sudah bengkak. Wanita itu terlalu banyak menangis akhir-akhir ini. "Selamat tinggal Kak Ali. I love you ...."


Jenny memegang kopernya lalu menariknya secara perlahan. Wanita itu berusaha tegar ketika ia berpapasan dengan sofa yang diduduki oleh Ali.


Ali masih belum mengucapkan satu kata pun. Pria itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Jenny semakin merasa sesak ketika langkahnya semakin mendekati pintu utama. Setelah melewati pintu tersebut maka dia berani jamin kalau tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu. Rasanya Jenny masih belum siap untuk pergi. Hatinya terus saja berontak agar dia bertahan.


"Kau bilang kau mencintaiku. Tetapi Kenapa kau memutuskan untuk pergi dariku?"


Tiba-tiba Ali mengalungkan kedua tangannya di perut Jenny. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. Pelukannya sangat erat seperti tidak bisa dilepas lagi.


"Jangan Pergi. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku mencintaimu. Bukankah sering aku bilang kalau aku mencintai hidupmu bukan mencintai yang lainnya. Aku pasti akan menerimamu saat itu meskipun kau bilang kau sudah tidak memiliki rahim lain.


Aku tidak mau ada perceraian di antara kita. Tetaplah bertahan di rumah ini menjadi istriku. Menjadi Mama bagi Tasya. Kau yang sudah menyakitiku kenapa kau tega untuk bercerai denganku. Aku diam hanya sedang introspeksi diri. Bukan karena aku tidak memaafkanmu.


Bahkan ketika pertama kali aku mendengar informasi ini aku sudah siap untuk menerima segalanya. Dan di saat itu juga aku sudah memaafkanmu. Karena aku tahu kau melakukannya demi kebahagiaanku juga. Itu berarti kau sangat mencintaiku."

__ADS_1


Jenny memejamkan matanya dengan perasaan lega. Wanita itu merasa senang karena akhirnya Ali mengucapkan kata maaf dari bibirnya. Satu kata yang sangat ingin didengar oleh Jenny sejak tadi. Wanita itu ingin memastikan kalau suaminya sudah memaafkan kesalahannya.


"Aku juga tidak sanggup untuk berpisah dengan Kak Ali. Tetapi aku terlalu malu karena kesalahanku-"


"Ssstt. Jangan bahas masalah itu lagi." Ali Memutar tubuh Jenny lalu mengusap pipi wanita itu dengan lembut. "Kau mencintaiku bukan?"


Jenny mengganggu cepat. "Sangat. Aku sangat sangat mencintai Kak Ali."


Ali menarik tubuh Jenny lalu memeluknya dengan erat. "Kita akan hadapi wanita itu bersama-sama. Kita buat dia cemburu dan menyesal. Aku yakin wanita seperti dia tidak akan pernah menemukan pria yang benar-benar tulus mencintainya. Sifatnya sangat jahat. Bahkan ia rela menyakiti hati sahabat yang selama ini menyayanginya dengan tulus.


Aku yakin tidak lama lagi dia akan mendapat balasannya. Meskipun ia sempat berjasa untuk mengandung dan melahirkan Tasya tetapi tetap saja Dia adalah wanita yang jahat. Aku merasa beruntung karena telah menemukanmu. Setiap orang memiliki kesalahan. Hanya saja ada yang kesalahan yang terlihat ada juga yang kesalahannya tidak terlihat. Setiap orang berhak mendapatkan maaf. Jadi kau jangan merasa bersalah lagi. Jangan pernah merasa sendiri lagi. Karena aku selalu mendampingi Istriku yang cantik ini."


"Terima kasih Kak Ali. Terima kasih." Jenny memeluk Ali dengan begitu erat. Wanita itu juga tetap menangis.


Namun kali ini air mata yang menetes adalah air mata kebahagiaan. "Terima kasih Tuhan karena kau telah membuka hati suamiku. Hingga akhirnya rumah tanggaku baik-baik saja," gumam Jenny di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2