
"Happy Birthday to you. Happy Birthday to you. Happy Birthday Tasya. Happy Birthday to You."
Lagu ulang tahun itu memenuhi sebuah restoran mewah yang ada di hotel berbintang. Hari ini Tasya genap 10 tahun. Anak kecil itu terlihat bahagia ketika Jenny dan Ali memberinya kejutan pesta ulang tahun yang mewah. Tasya sangat menyukai warna pink. Semua dekorasi pesta kini dipenuhi dengan warna pink. Bahkan tamu undangan yang hadir juga diwajibkan untuk memakai baju warna pink.
Setelah Tasya meniup lilin berbentuk angka 10, tamu undangan kembali bertepuk tangan. Dibantu oleh Jenny dan Ali kini Tasya memotong kue ulang tahunnya. Anak kecil itu memberikan potongan pertamanya kepada Jenny lalu Ali. Semua orang merasa bahagia karena bisa berkumpul dalam suasana hati yang tenang.
Saat semua orang sedang asyik merayakan ulang tahun Tasya, di saat itulah Nirma muncul untuk mengganggu. Wanita itu membawa kado yang sangat besar. Bungkusnya juga warna pink karena dia tahu kalau Putri yang ia lahirkan itu menyukai warna pink.
Kedatangan Nirma membuat suasana menjadi hening. Jenny langsung merangkul lengan suaminya. Wanita itu sangat takut jika nanti Nirma mengambil Tasya dari hidupnya.
"Sayang, selamat ulang tahun," ucap Nirma dengan senyum manis di bibirnya.
Tasya yang ketakutan segera berlari ke arah Oma dan Opanya untuk meminta perlindungan. Anak kecil itu bahkan tidak mau memandang wajah Nirma lagi.
"Wah, berani sekali kau datang ke sini!" ucap Nyonya Santi. "Apakah kau belum puas untuk menghancurkan rumah tangga putriku. Kau ini masih muda dan masih memiliki kesempatan untuk menemukan pasangan hidup. Kenapa tidak menikah saja dan buat keluarga sendiri agar tidak mengganggu rumah tangga putriku."
__ADS_1
Nirma tersenyum dan melangkah mendekati meja yang berisi tumpukan kado. Wanita itu meletakkan kado yang ia bawa di atas sana sebelum memandang ke arah Jenny dan Ali. Hatinya benar-benar kecewa ketika melihat Jenny dan Ali justru terlihat baik-baik saja setelah ia membongkar rahasia di masa lalu. Namun wanita itu tetap tidak mau menyerah. Apapun caranya akan ia lakukan agar hidup Jenny hancur.
"Saya ke sini karena ingin mengambil putri saya. Dia adalah anak kandung saya. Mau di tes DNA sekalipun saya berani." Nirma melipat kedua tangannya.
"Ya, kau benar. Tasya memang anak kandungmu. Tetapi apa kau lupa kalau kau pernah menandatangani sebuah surat yang di sana jelas-jelas diterangkan kalau kau akan menyerahkan kak asuh Tasya sepenuhnya kepada Jenny."
Tiba-tiba saja dokter Rico angkat bicara. Memang Kebetulan malam itu Dokter Rico dan istrinya ada di sana. Mereka membawa Putra mereka untuk menghadiri acara ulang tahun Tasya.
Nirma mengepal kuat tangannya ketika ia kembali ingat dengan surat perjanjian yang pernah disodorkan oleh dokter Rico 10 tahun yang lalu. Memang saat itu Nirma terlalu bodoh. Ia bahkan tidak membaca secara detail isi berkas yang akan ia tanda tangani. Hingga akhirnya kini ia tidak memiliki kekuatan apapun lagi untuk merebut Tasya dari Jenny dan Ali.
Bisa aku tebak, jika bukan tanpa pemberian Jenny waktu itu mungkin kau tidak akan pernah tahu model baju terbaru, barang-barang bermerek. Bahkan tidak pernah tahu salon kecantikan yang terkenal di kota ini. Tetapi berkat Jenny kau bisa mengetahui semua itu. Seharusnya kau ucapkan terima kasih kepada Jenny karena berkat dia kau bisa berubah menjadi seperti sekarang."
"Tutup mulut Anda! Saya sama sekali tidak memiliki masalah dengan anda!" teriak Nirma tidak terima.
"Ckckckck. Ternyata anda ini bukan hanya memiliki bakat untuk merebut suami orang. Tetapi anda memiliki bakat untuk menjadi ratu drama. Biar saya ingatkan lagi. Saat kita merencanakan program kehamilan ini dengan mata berkaca-kaca Anda berkata kepada Jenny kalau Anda rela menyerahkan keperawanan Anda yang anda jaga dengan begitu hati-hati kepada Ali hanya demi kebahagiaan Jenny. Padahal sebenarnya saat itu anda sudah tidak perawan lagi!"
__ADS_1
Nirma mematung. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Dokter Rico bisa mengetahui rahasianya. Wanita itu memandang ke arah Jenny sekilas sebelum memandang Dokter Rico lagi.
"Kalian sudah kalah dengan begitu kalian membuang kesalahan ini kepadaku. Aku benar-benar masih perawan saat itu. Ali adalah pria pertama yang sudah merenggut mahkotaku!"
"Lalu bagaimana jadinya jika aku mendatangkan pria yang pernah merenggut mahkotamu. Bagaimanapun juga kami ini orang-orang pintar yang memiliki banyak uang. Tidak seperti anda yang baru dikasih rezeki sedikit saja sudah sombongnya minta ampun. Sebaiknya anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan security untuk mengusir anda." Dokter Rico tertawa meledek Nirma.
"Tidak! Saya tidak mau pergi. Saya ingin membawa Tasya bersama dengan saya!" teriak Nirma dengan frustasi.
Dokter Rico langsung memanggilkan security yang berjaga di depan. Mereka segera masuk dan menyeret Nirma. Nirma yang tidak terima, berteriak kencang seperti orang gila. Wanita itu menjadi stress karena dia tidak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jenny memeluk Ali ketika mendengar teriakan Nirma. Meskipun dia kecewa dan sakit hati terhadap Nirma, tetapi masih ada rasa kasihan di dalam hatinya yang membuatnya tidak tega melihat Nirma seperti itu.
"Aku harap di dunia ini tidak ada wanita yang pernah berada diposisiku dan juga Nirma. Posisi kami sama-sama tidak menguntungkan. Aku yang begitu membenci anak kecil akhirnya mengambil keputusan untuk mengangkat rahimku. Aku sadar kalau itu perbuatan yang salah. Masih banyak cara lain yang bisa digunakan jika kau tidak mau memiliki anak.
Tidak perlu mengangkat satu-satunya organ berharga yang ada di tubuhmu. Aku benar-benar menyesal dan aku harap penyesalan ini hanya aku saja yang merasakannya.
__ADS_1
Begitupun dengan Nirma. Aku tahu kalau waktu itu dia rela menerima tawaran ini karena dia tidak memiliki uang untuk bayar utang. Mungkin jika saat itu keadaannya seperti sekarang, dia tidak akan rela meminjamkan rahimnya untukku. Setiap orang memang pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting seseorang itu tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dan bertekad untuk berubah menjadi diri yang lebih baik lagi."