
Kedua orang tua Jenny akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah orang tua Ali. Mereka awalnya ragu-ragu untuk berangkat. Tetapi Masalah ini tidak bisa didiamkan saja. Mereka para orang tua harus turun tangan sendiri untuk membantu Jenny mengatasi masalah ini. Mereka akan berjuang keras untuk mempertahankan rumah tangga putrinya. Namun jika pada akhirnya Jenny dan Ali memang harus berpisah, kedua orang tua Jenny sudah pasrah. Setidaknya selalu orang tua, mereka sudah berusaha untuk membantu putri mereka.
"Tasya, main di kamar sama tante ya," ajak wanita cantik yang tidak lain adalah sepupu Ali. Wanita itu tahu kalau Oma dan Opa Tasya akan bicara dengan kakek neneknya. Dia tidak mau kehadiran Tasya di sana membuat mereka tidak konsentrasi untuk mengobrol.
Tasya yang memang tidak tahu apa-apa langsung menurut saja ketika diajak oleh tantenya ke kamar. Anak kecil itu berpamitan kepada Oma dan Opa dan juga kakek dan neneknya sebelum pergi.
"Dia anak yang manis bukan? Sifatnya mirip sekali dengan Ali waktu kecil dulu," ucap Nyonya Ratna yang tidak lain adalah ibu kandungnya Ali.
"Maafkan saya. Maafkan putri saya. Saya tahu perbuatan Jenny sulit untuk dimaafkan. Tetapi dia sudah banyak berkorban hanya untuk memberikan Ali keturunan. Wanita mana yang tidak sakit hatinya ketika dia harus melihat suaminya berhubungan badan dengan wanita lain. Tetapi Jenny kuat. Hatinya ikhlas ketika Ali harus berhubungan badan dengan wanita yang bernama Nirma itu. Semua ini ia lakukan hanya agar Ali mendapat anak kandung.
Di sini saya tidak mau membenarkan putri saya karena jelas-jelas saya sendiri tahu kalau Jenny salah. Saya hanya ingin meminta kemurahan hati Nyonya dan Tuan agar mau memaafkan putri saya. Dia hanya manusia biasa. Semasa mudanya memang Jenny suka sekali mengambil keputusan yang di luar akal sehat. Kami sebagai orang tua merasa gagal mendidiknya. Kami terlalu percaya padanya."
Wanita paruh baya itu menghapus air matanya. Dia terlihat sangat sedih dan tidak tahu lagi harus bicara apa. Dengan penuh kesabaran, orang tua Ali justru memegang tangan Nyonya Santi Dan mengusapnya dengan penuh perasaan.
"Sebagai seorang ibu saya tahu apa yang Anda rasakan saat ini. Sebagai seorang istri saya juga tahu apa yang ada di pikiran Jenny saat itu kenapa dia menyusun cerita seperti ini sampai akhirnya Tasya hadir di dunia ini. Kalau boleh jujur. Saya justru kagum kepada Jenny. Di saat dia memiliki kekurangan justru dia masih bisa berusaha untuk melengkapi rumah tangganya dengan menghadirkan Tasya di antara mereka.
Meskipun kita semua tahu kalau cara yang dia gunakan salah. Karena sampai kapanpun kebohongan tidak akan pernah bisa ditutupi. Ada masanya kebohongan itu akan terbongkar dengan sendirinya. Saya dan suami saya sudah sepakat untuk menyerahkan keputusan ini kepada Ali sepenuhnya.
Kami tidak mau ikut campur dalam rumah tangga Jenny dan Ali. Jika Ali memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya maka kami akan mendukungnya. Kami akan tetap menyayangi Jenny layaknya anak kami sendiri. Tidak akan ada yang berubah. Tetapi jika Ali memutuskan untuk bercerai dengan Jenny maka kami juga tidak bisa membatalkan keputusan itu.
Ali yang akan menjalani rumah tangganya bukan kami. Sekarang sebaiknya kita banyak-banyak saja berdoa agar Ali bisa bermurah hati untuk memaafkan Jenny. Dengan begitu rumah tangga mereka tidak akan mengalami masalah. Kita akan buka lembaran baru lagi."
Meskipun dia tahu kalau menantunya itu sempat membohonginya, tetapi Nyonya Ratna tidak bisa membenci Jenny. Dia sudah terlanjur sayang. Mungkin semua ini imbas dari kebaikan Jenny.
__ADS_1
Selama ini wanita itu memperlakukan mertuanya layaknya orang tua kandung. Tidak pernah membeda-bedakan antara ibu kandung dan mertua. Itulah yang membuat Ratna sangat-sangat menyayangi Jenny. Bahkan untuk mengalahkannya saja tidak tega.
Kedua orang tua Jenny akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari orang tua Ali secara langsung. Mereka masih tidak menyangka kalau orang tua Ali bisa semurah hati itu kepada Jenny.
"Jenny memang tidak pernah salah memilih suami. Saya senang ketika tahu anak saya dikelilingi oleh orang-orang baik seperti Anda dan suami Anda. Terima kasih karena sudah mau memaafkan Jenny," ucap Santi sambil tersenyum lega.
"Saya tahu kalau Putra Saya bukan makhluk yang sempurna. Dia pasti juga memiliki kekurangan. Tetapi sampai detik ini Jenny tidak pernah menceritakan keburukan Ali di depan kami. Bahkan ketika kami tahu kalau Ali menghilangkan tabungan Jenny beberapa tahun yang lalu, Jenny juga sama sekali tidak cerita masalah rumah tangganya kepada kami.
Dia benar-benar menutup aib suaminya dari orang lain. Bagaimana mungkin sekarang kami menyalakan Jenny hanya karena kesalahan yang ia perbuat di masa lalu? Tujuan Jenny juga sangat mulia. Dia yang membenci anak kecil justru berusaha untuk mencintainya agar suami dan orang tuanya bahagia. Ini juga bentuk pengorbanan Jenny yang tidak ternilai harganya."
Dua wanita paruh baya itu akhirnya saling berpelukan. Mereka berusaha untuk saling menguatkan dan berdoa di dalam hati agar putra dan putri mereka tetap bersatu dan rumah tangga mereka kembali harmonis seperti biasanya.
...***...
Jenny mengernyitkan dahi ketika mendengar suara mobil di luar rumah. Wanita itu langsung berjalan menuju ke jendela dan mengintip dari balik gorden. Melihat Ali turun dari mobil membuat Jenny segera memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka berdua harus bertemu dan berbicara. Mereka tidak bisa seperti ini terus-terusan.
Ali menahan langkah kakinya ketika melihat Jenny muncul di ruang tamu. Beberapa pekerja yang kebetulan sedang beres-beres juga segera menyingkir dan memberikan waktu untuk Jenny dan Ali berdua.
"Kak Ali sudah pulang?" sapa Jenny. Namun Aku tidak memberikan jawaban.
Jenny memandang ke arah sofa dan duduk di sana. Begitupun dengan Ali. Mereka berdua duduk di sofa yang berseberangan. Tidak seperti biasa yang selama ini justru Ali lebih memilih untuk duduk di samping Jenny.
"Maafkan aku Kak Ali. Aku tahu aku salah. Aku sudah menodai pernikahan kita dengan hadirnya Nirma di dalam hidup kita. Aku sangat menyesali semuanya. Tetapi Kak Ali harus tahu satu hal. Meskipun hari ini Aku merasa menyesal tetapi kehadiran Tasya tidak pernah sedikitpun aku sesali.
__ADS_1
Aku menyayanginya dengan sepenuh hati. Meskipun aku tahu dia bukan darah dagingku. Setiap kali melihat wajah Tasya aku selalu melihat wajah Nirma di sana. Bukan hanya itu saja. Bahkan bayang-bayang ketika Kak Ali tidur dengan Nirma terus saja menghantuiku sampai malam ini.
Aku berusaha untuk menguatkan diriku sendiri. Tadinya aku pikir semua pengorbananku ini tidak akan pernah sia-sia. Tetapi aku salah. Nyatanya Tuhan memiliki rencana lain dalam pernikahan kita." Jenny menghapus air matanya. Bahkan wanita itu tidak berani untuk memandang wajah Ali secara langsung.
"Aku sangat kecewa padamu. Teganya kau menjebakku hingga akhirnya aku tidur dengan wanita lain. Bukan hanya kau saja yang sakit dan menderita. Aku juga sakit hati ketika tahu kalau aku pernah menyentuh wanita licik seperti itu. Yang aku sesali kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku. Apa kau tidak percaya padaku? Jika saja kau mengatakan semuanya sejak awal. Mungkin kita bisa memperbaikinya sebelum Nirma muncul di kehidupan kita seperti sekarang." Ali berusaha untuk berbicara dengan nada yang rendah agar Jenny tidak tersinggung dan sakit hati.
"Aku takut, kak. Aku takut Kak Ali marah padaku. Di mataku Kak Ali itu adalah suami yang sempurna. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana ketika Kak Ali berbicara padaku dengan nada yang begitu menakutkan. Aku takut momen seperti itu terjadi. Aku belum siap untuk menerimanya," jawab Jenny yang berusaha membela diri.
"Lalu bagaimana sekarang? Setelah ketahuan Apa kau tidak merasa takut lagi. Justru kau merasa lega karena aku mengetahuinya dari orang lain?" Ali memijat pangkal hidungnya. Kepalanya benar-benar pusing. Selain kurang istirahat, pria itu juga belum makan sejak kemarin.
Jenny menggeleng kepalanya. "Aku menyesal, Kak. Maafkan aku karena sudah menyakitimu." Wanita itu berusaha memberanikan dirinya untuk memandang wajah Ali lagi. "Aku tahu pernikahan ini tidak bisa dipertahankan lagi. Aku tidak akan meminta Kak Ali untuk melanjutkan pernikahan ini. Hak asuh Tasya aku serahkan sepenuhnya kepada Kak Ali. Karena Kak Ali adalah ayah kandung Tasya.
Aku sama sekali tidak memiliki hubungan batin dengannya. Daripada kita berdua saling menyakiti lebih baik kita hidup dengan jalan kita masing-masing."
Jenny beranjak dari sofa yang ia duduki. "Aku yang akan mengurus semua proses perceraian kita. Biar aku yang keluar dari rumah ini. Aku anggap ini semua bayaran yang setimpal atas kebohongan yang selama ini aku lakukan. Hanya satu pintaku. Tolong Kak Ali memaafkan semua kesalahan yang sudah ku perbuat. Agar aku bisa pergi meninggalkan rumah ini dengan hati yang jauh lebih tenang."
Jenny segera pergi menuju ke kamar untuk membereskan barang-barangnya. Sambil berjalan wanita itu menangis terisak-isak. Kakinya benar-benar lemas untuk melangkah. Namun ia berusaha untuk tetap kuat.
"Semua ini adalah harga yang harus aku bayar. Aku harus tetap kuat. Aku tidak boleh menangis lagi," gumam Jenny di dalam hati.
Sebenarnya di lubuk hati Jenny yang paling dalam wanita itu berharap agar Ali segera mencegahnya untuk pergi. Jenny ingin Ali berkata kalau pria itu tidak mau cerai darinya. Jenny ingin mendengar semua kalimat itu. Tapi sampai detik ini Ali tidak mengatakan satu kata pun hingga akhirnya membuat Jenny sangat kecewa.
"Apa seperti ini rumah tangga yang kau inginkan?" gumam Ali di dalam hati. Pria itu hanya diam saja di posisinya saat ini. Dia sama sekali tidak mau beranjak untuk mencegah Jenny membereskan barang-barangnya di kamar.
__ADS_1