Rahim Sahabatku

Rahim Sahabatku
Bab. 44


__ADS_3

10 Tahun kemudian.


“Tasya! Waktunya makan!” teriak Jenny dari arah dapur. Wanita itu baru saja selesai masak. Dia memeriksa kotak bekal untuk putrinya dan juga Ali. Seulas senyum terukir indah di sana. Jenny duduk di kursi lalu memandang ke tangga. Wanita itu yakin kalau tidak lama lagi putri kecil yang namanya baru saja ia panggil pasti akan segera muncul.


Seperti apa yang dipikirkan Jenny. Tasya muncul bersama dengan Ali. Ayah anak itu terlihat sangat kompak hingga membuat Jenny merasa sangat bahagia melihatnya.


“Selamat pagi, Ma.” Tasya mendaratkan kecupan sayang di pipi Jenny. Diikuti dengan Ali. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Bedanya ia lebih banyak dan lebih lama.


“Pagi ini kau cantik sekali,” puji Ali sebelum duduk di kursi. Nirma tersipu malu mendengarnya. Meskipun sudah 11 tahun bersama, tapi setiap harinya mereka terlihat seperti pengantin baru.


“Ma, aku mau ayam goreng.” Tasya menunjuk ayam goreng yang ada di depan Jenny.


“Baiklah sayang. Makan yang banyak agar kau tidak lapar ketika belajar di sekolah nanti.” Jenny memberikan sepotong ayam di piring Tasya. Setelah itu dia juga ikut sarapan. Sambil mengunyah makanannya yang ada mulut, Jenny kembali mengingat memori 10 tahun yang lalu. Lebih tepatnya hari dimana ketika Nirma melahirkan Tasya.


Semua keluarga berkumpul saat itu. Mereka semua terlihat bahagia menyambut cucu pertama mereka. Tidak ada lagi rasa bersalah di hati Jenny karena dia berpikir kalau pengorbanan yang ia lakukan juga cukup berat. Sudah sepatutnya ia mendapatkan semua ini.


Kedua orang tua dan mertua Jenny merawat Jenny dengan begitu baik. Setahu mereka, Jenny melahirkan Tasya dengan cara sesar. Untuk itu mereka merawat Jenny dengan sebaik mungkin agar tidak melakukan kesalahan.


Soal Nirma? Sejak perpisahan di rumah sakit wanita itu tidak ada kabar lagi. Terakhir kali mertuanya bertanya, Jenny hanya bilang kalau Nirma pergi setelah anak yang dikandungnya keguguran. Semua orang tidak ada yang curiga. Justru mereka prihatin terhadap Nirma.


“Ma, besok hari minggu. Kita jalan-jalan ke danau ya?” ajak Tasya dengan penuh semangat. Ajakan anak kecil itu membuat Jenny tersadar dari lamunannya.


“Ya, sayang. Tapi … apa papa tidak sibuk?” Jenny melirik ke Ali dan mengukir senyuman penuh arti. Pria itu meletakkan sendok dan garpu di atas piring karena memang dia sudah merasa kenyang.

__ADS_1


“Tentu saja papa tidak merasa keberatan. Papa senang bisa membawa keluarga papa jalan-jalan. Kita akan menginap di vila nanti,” jawab Ali.


“Hore!” teriak Tasya kegirangan. Anak kecil itu beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. “Terima kasih, Ma. Terima kasih, Pa.” Dia memeluk Jenny dan Ali bersamaan.


***


Setelah mengantarkan Tasya ke sekolah, Ali langsung melajukan mobilnya menuju ke restoran. Pria itu ingin memeriksa menu baru yang dibuat oleh Chef yang bekerja di restorannya sebelum ke perusahaan. Pagi itu Ali terpaksa mengemudikan mobilnya sendiri karena supir yang biasa bekerja harus pulang kampung karena ada urusan keluarga.


Ali memparkirkan mobilnya di parkiran yang ada di halaman restoran. Pria itu turun lalu berdiri sejenak di samping mobil untuk memperhatikan gedung restoran yang ia bangun dengan susah payah selama 10 tahun terakhir ini. Lima tahun belakangan ini Ali sempat mengalami masalah dalam bidang keuangan. Namun pada akhirnya dia bisa melewati semua itu hingga bisa mempertahankan restoran yang menjadi bisnisnya bersama sang istri sejak menikah dulu.


Saat ingin melangkah masuk, tiba-tiba saja seorang wanita menabrak tubuh Ali. Karena wanita itu terhuyung ke depan dan ingin jatuh, pada akhirnya Ali segera menangkap tubuh wanita itu. Dia memegang pinggangnya lalu membantunya berdiri lagi.


“Maafkan saya. Maaf,” ucap wanita itu sambil menunduk. Ali masih diam saja sambil memperhatikan wajah wanita yang ada di hadapannya. Pria itu merasa kenal. Namun dia tidak ingat dimana mereka pernah bertemu.


Wanita itu mengangkat kepalanya. Senyum yang sempat melekat luntur seketika. “Tuan Ali?”


“Apa kita saling mengenal? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Ali masih berusaha keras mengingat identitas wanita yang ada dihadapannya. Namun sayangnya, ingatannya tidak sebagus itu. Dia sama sekali tidak tahu dan tidak ingat kalau sebenarnya wanita yang berdiri dihadapannya itu adalah Nirma. Sahabat istrinya.


“Perkenalkan. Nama saya Lisa.” Nirma sengaja memperkenalkan identitas palsu di depan Ali. Wanita itu tidak mau sampai Jenny tahu kalau kini dia sudah kembali. Penampilan Nirma yang sekarang memang jauh berbeda dengan yang dulu. Kini Nirma terlihat lebih modis dan jauh lebih cantik. “Kita tidak pernah bertemu. Tetapi saya mengenal anda. Bukankah anda pemilik restoran ini? Di dalam restoran ini ada banyak sekali foto anda. Bagaimana mungkin saya tidak kenal dengan anda. Oh iya, Tuan. Saya ini merupakan pelanggan tetap di restoran anda ini.”


Ali tertawa mendengarnya. Pria itu kini tidak merasa penasaran lagi setelah Nirma menjelaskannya. Meskipun penjelasan wanita itu tidak semuanya jujur. “Terima kasih, Nona. Kebetulan sekali. Berhubung anda ini pelanggan tetap di restoran kami, jadi hari ini kami akan merilis menu baru. Saya akan memberi anda voucer makan sepuasnya gratis. Tentu saja voucer ini hanya akan di dapat oleh beberapa orang yang beruntung saja. Anda salah satunya.”


Nirma melebarkan kedua matanya. “Benarkah? Terima kasih, Tuan. Ternyata rumor yang beredar memang benar adanya. Kalau anda ini pria yang sangat dermawan.”

__ADS_1


Ali tertawa geli. “Anda terlalu berlebihan, Nona. Mari kita masuk,” ajak Ali. Nirma mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Ali. Sambil berjalan, wanita itu mengukir senyuman manis dibibirnya.


“Semakin berumur Kak Ali semakin tampan. Sampai detik ini aku masih tidak menyangka kalau aku pernah tidur dengannya. Melewati malam panas yang begitu memabukkan,” gumam Nirma di dalam hati.


***


Senin yang indah. Ali tidak bisa menghilangkan senyum bahagia dari bibirnya. Masih terbayang jelas bagaimana wajah istri dan putrinya ketika mereka liburan semalam. Ali sama sekali tidak merasa keberatan ketika harus menghabiskan banyak uang hanya untuk sebuah liburan.


“Sayang, terima kasih karena sudah memberikanku putri yang sangat cerdas dan cantik,” puji Ali sembari memandang foto Jenny yang ada di meja kerjanya.


Suara ketukan pintu membuat Ali meletakkan foto itu kembali ke posisinya. Pria itu fokus ke layarla laptopnya sebelum mengizinkan masuk.


Seorang wanita muncul dengan senyum manis dibibirnya. Ali memandang ke pintu lalu beranjak dari kursi yang ia duduki. “Nona Lisa?” sapa Ali. “Saya tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi.”


“Tuan Ali. Bukankah anda pemilik restoran itu? Saya tidak menyangka kalau anda juga seorang CEO di perusahaan ini. Karir anda benar-benar cemerlang,” puji Nirma. Wanita itu semakin kagum dengan Ali.


“Nona Lisa juga hebat. Bukankah anda adalah investor asing yang akan menanamkan saham di perusahaan saya? Saya senang sekali bisa bertemu dengan anda kemarin,” jawab Ali. “Silahkan duduk, Nona. Anda mau minum apa?”


“Jangan repot-repot, Tuan. Saya baru saja selesai minum. Sebaiknya langsung saja ke topik pembahasan. Saya juga tidak memiliki banyak waktu karena pekerjaan saya sangat menumpuk hari ini.”


“Baiklah, Nona.” Ali mencari berkas yang akan di baca dan ditanda tangani oleh Nirma. Di saat Ali sedang sibuk mencari berkas, justru tanpa sengaja pria itu menyenggol foto Jenny hingga foto itu terjatuh di lantai.


Dengan cepat Ali mengutip foto istrinya. Nirma melirik foto Jenny yang kini ada di genggaman Ali. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain. “Jenny … apa kau masih ingat denganku? Oh ya, anak itu. Dia pasti sudah besar sekarang. Apa Ali sangat menyayanginya? Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Ali jika dia tahu kalau Tasya adalah anak yang pernah aku kandung dan aku lahirkan. Apa sampai detik ini dia masih belum tahu kalau istri yang sangat ia cintai itu tidak lagi memiliki rahim!” gumam Nirma di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2