
"Terima kasih, Ma! Pa! Kalian benar-benar orang tua terbaik yang pernah Jenny miliki." Jenny memeluk papa dan Mama mertuanya begitu juga dengan riang tua kandungnya sendiri. Karena terlalu sayang, mertua dan kedua orang tua jenny ikut mengantarkan Jenny ke Vila.
Pada akhirnya Ali mengizinkan Jenny untuk tinggal di sebuah vila yang ada di pegunungan. Namun pria itu belum tahu kalau sebenarnya Jenny ingin tinggal di Vila itu sampai Nirma melahirkan. Ali hanya berpikir kalau istrinya pindah hanya untuk sementara waktu saja. Ali tidak mau berdebat dengan Jenny saat di telepon tadi. Dia juga memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
"Mama senang karena kau menyukai vila ini," jawab mama mertua Jenny. Wanita itu terus saja mengusap punggung menantunya dengan lembut.
Mereka saat ini sedang berada di sebuah Villa yang cukup bagus. Sesuai dengan keinginan Jenny. Suasana yang tenang, hawa yang sejuk. Dan juga pemandangan cukup memanjakan mata. Pegunungan, kebun teh dan yang pasti sejauh mata memandang tidak ada gedung tinggi. Udaranya segar dan sangat bagus untuk kesehatan. Terutama ibu hamil seperti Nirma.
Walaupun begitu, villa itu lebih mewah dari dugaan Jenny. Sebab perabotan di dalamnya pun berkelas dan canggih. Sepertinya orangtua, mertua dan suaminya sudah memikirkannya dengan baik. Semua usahanya tidak sia-sia meskipun Jenny berhasil tinggal di Vila itu setelah dua hari menunggu.
"Aku suka tempat ini. Kemungkinan Nirma juga akan menyukainya. Sayangnya aku tidak bisa membawanya ke sini. Sebab kondisi tubuhnya sedang lemas. Untungnya, Rico dan istrinya bersedia menunggu Nirma. Sampai aku bisa membawa Nirma ke villa ini," gumam Jenny dalam hati. "Aku yakin Nirma juga akan menyukainya."
"Sekarang kau sudah bisa tinggal di sini, Sayang. Semua sudah mama siapkan. Ayo kita melihat kebun yang bisa menjadi pemandangan segar agar kau tidak bosan di sini." Mama menarik tangan Jenny. Dilihat dari ekspresi wajahnya, wanita paruh baya tidak keberatan jika menantunya tinggal di vila tersebut.
Wanita berusia paruh baya itu membawanya pergi ke sebuah taman yang berdekatan dengan kebun sayuran. Kedua mata Jenny seketika melebar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa berada di tempat itu sangat menyenangkan lebih dari yang ia kira.
"Jadi, villa ini sudah memiliki kebun? Astaga! Ini sungguh menyenangkan!" seru Jenny. "Aku akan mengambil sayur yang ada di kebun ini. Masakanku akan sangat lezat jika menggunakan sayuran yang baru saja di petik.'
"Tentu saja. Mama tahu kau akan menyukainya, Nak. Supaya kau tetap bisa menikmati udara bersih setiap hari. Makanya mama mencari Villa yang sangat cocok untuk menghilangkan stres," terang mama Jenny. "Jaga cucu mama dengan baik ya. Buat dia selalu merasa nyaman tinggal di dalam sana. Makanlah makanan yang sehat. Kau hanya tinggal memetik buah yang ada di sini jika menginginkannya. Tidak ada makanan cepat saji seperti yang kau konsumsi selama ini."
Jenny tertawa kecil mendengarnya. "Ya, Ma. Aku akan menjaga cucu mama dengan baik." Jenny terus mengedarkan mata ke sekelilingnya. Bahkan ada kolam ikan dan juga suara gemericik air yang mengalir dari bambu semakin menambah suasana menyegarkan pikiran.
"Lalu di mana temanmu?" Papa Jenny bertanya lantaran ia tidak ingin meninggalkan putrinya sendirian di tempat itu. "Bukankah kau bilang dia akan menemanimu selama kau berada di Vila? Mama dan papa tidak akan pergi sebelum temanku itu datang."
Meskipun ada beberapa pelayan dan juga tukang kebun yang menghuni tempat itu, setidaknya apabila ada temannya, Jenny mungkin akan aman. Jenny menatap orangtuanya dengan senyum cerah.
__ADS_1
"Dia akan datang sebentar lagi. Jangan khawatir, Ma, Pa. Aku yakin dia pasti sedang kesal karena Jenny meminta untuk ditemani secara mendadak. Sebenarnya kalau Jenny berada di posisinya juga akan kesal. Karena seenaknya saja meminta orang untuk pindah." Jenny berbicara sambil mengerucutkan bibirnya. Agar orangtuanya tidak lagi khawatir padanya sebab ada Nirma di sampingnya. "Nanti ketika dia jumpa sama Jenny, dia pasti akan mengomel-ngomel.'
"Ha-ha-ha! Benar! Mama juga akan malas dengan acara yang mendadak." Mama Jenny tertawa. Ia menyetujui kata-kata Jenny.
"Jenny!" Suara menggelegar itu lumayan menarik perhatian tiga orang yang sedang tertawa bersama. Jenny mencari ke arah sumber suara. Melihat siapa yang datang, Jenny pun menyambut kedatangan Nirma.
"Nirma! Aku senang kau bisa datang ke sini!" Jenny memeluk Nirma dengan senang.
Kedua orang tua Jenny terharu melihat keakraban dua anak perempuan itu. Bahkan papa dan mama Jenny saling bertukar pandangan. Seolah mereka setuju Nirma menemani putri mereka. Dari penampilan dan cara bicara Nirma mereka bisa menilai kalau Nirma anak yang baik dan sopan.
"Nirma! ini mama dan Papaku yang waktu itu ada di restoran. Apa kau mengingatnya?" Jenny mengingatkan Nirma bahwa di tempat itu bukan hanya mereka berdua. Tapi ternyata ada mertua Jenny.
Nirma tersenyum. Ia menyapa mertua Jenny dengan ramah. Namun, orang mertua jenny malah memperhatikan wajahnya yang sedikit pucat itu. Sontak menarik perhatian dari Mertua Jenny.
"Apakah kau sedang sakit?" tanya wanita paruh baya tersebut.
Membuat mama Jenny merasa bahwa meninggalkan Jenny bersama Nirma adalah pilihan terbaik saat ini. Bahkan papa Jenny juga tersenyum ramah kepada Nirma.
"Syukurlah kalau kalian memiliki hubungan yang baik. Tante ikut senang. Semoga saja hubungan kalian berdua selalu manis seperti ini. Tante senang karena kau bersedia untuk menemani Jenny. Sepertinya tante merasa tenang kalau meninggalkannya bersamamu." Mama Jenny tiba-tiba memeluk Nirma.
Membuat senyum Nirma hilang seketika. Wanita itu membeku di tempatnya. Ia tidak berani untuk bergerak lantaran hal itu cukup mengejutkannya. Belum pernah Nirma mendapati siapapun memeluknya dengan hangat seperti ini selain Jenny.
"Mengapa Jenny juga harus memiliki orang tua yang sangat menyayanginya seperti ini? Kenapa tidak ada yang menyayangiku? Apakah benar tidak akan ada orang yang menangisiku bila aku meninggalkan dunia ini? Jenny, mengapa kehidupanmu selalu lebih baik daripada aku?" Nirma membatin dalam hati.
"Justru Nirma yang harus berterima kasih kepada Jenny, Tante. Dia anak yang baik. Meskipun terkadang dia menyebalkan dan keras kepala!" Nirma berbisik di telinga mama Jenny.
__ADS_1
"Hei! Apa yang kau katakan pada Mamaku?" Jenny menarik tubuh Nirma untuk menjauh dari mamanya. "Bisa-bisanya kau mengatakan pada Mamaku kalau aku menyebalkan dan keras kepala, Nir!"
"Bukankah memang seperti itu kenyataannya?" sahut mama Jenny.
Akhirnya mereka semua tertawa bersama. Sampai akhirnya papa Jenny mendapatkan sebuah panggilan telepon. Laki-laki itu berjalan menjauh dari para wanita untuk menerima telepon.
"Mama berharap kalian berdua terus menjadi sahabat yang manis seperti ini. Ngomong-ngomong Apakah Nirma juga tempat ini?" Mama Jenny bertanya kepada Nirma. Apakah dia menyukai Villa tersebut atau tidak.
"Tante bertanya karena dalam beberapa waktu ke depan Nirma akan menemani Jenny yang sedang hamil di sini. Makanya Mama berharap kalau Nirma juga menyukai tempat ini. Sebab dia tinggal di tempat ini sepertinya bukan waktu yang sebentar. Kalian bukan pergi ke tempat liburan lalu pulang dalam satu minggu ke depan. Akan tetapi kalian akan tinggal di sini selama beberapa bulan." Mama Jenny menjelaskan dengan lembut bahwa ia berharap kalau Nirma juga bisa tetap tidur untuk beberapa bulan ke depan di tempat itu.
Nirma berjalan dan membuka pintu jendela. Wanita hamil itu mengedarkan pandangan mata ke sekitarnya. Pemandangan yang indah dan juga suasana sejuk sangat menyenangkan bagi Nirma. Ia tidak berhenti untuk tersenyum. Setelah itu, Nirma kembali ke tempatnya semula.
"Tapi, sepertinya Nirma suka tempat ini, Tante. Suasananya adem. Nirma jadi ingat masa kecil Nirma di desa dulu. Sekarang, Nirma tidak memiliki siapapun. Hanya ada Jenny yang menyebalkan ini." Nirma memeluk Jenny. Kembali membuat mama Jenny tersenyum.
"Kau jangan berpikir begitu. Kata siapa kau tidak memiliki siapa-siapa? Aku ini sahabatmu. Dan kita sudah banyak melewati suka maupun duka, Nirma. Bahkan walaupun aku melakukan kesalahan besar, kau akan tetap datang dan memelukku. Ah, Nirmaku! Kau membuatku ingin menangis!" Jenny melepaskan pelukannya. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Benar. Seandainya saja aku mendengarkan peringatan dari Nirma sejak dulu. Mungkin, aku akan menjadi wanita paling bahagia lantaran memiliki suami yang setia dan baik hati. Nirma selalu baik hati. Tapi aku selalu menguji kesabarannya. Kalau begitu, Rico juga sudah pasti sangat kesal ya waktu itu?" Jenny membatin penuh penyesalan.
"Syukurlah kau sadar juga, Jen. Kau benar-benar selalu menguji kesabaranku." Kali ini malah Nirma ikut menimpali. Akan tetapi ekspresi wajahnya sangat jelas bahwa dia kesal.
"Ma, kita harus kembali ke kota. Pekerjaan papa harus segera papa selesaikan. Nirma, om minta tolong jaga Jenny dengan baik. Karena Jenny sedang mengandung. Om yakin itu semua tidak mudah. Tapi, om berharap jika terjadi sesuatu dengan Jenny, kau bisa menghubungi om. Ini kartu nama om. Kau bisa menghubungi om kalau Jenny mendapatkan masalah." Papa Jenny memberikan kartu nama pada Nirma.
Tentu saja dengan sopan Nirma menerimanya. "Tenang saja, Om. Nirma akan menghubungi Om dan Tante kalau Jenny mendapatkan masalah."
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu ya, Nak." Mama Jenny memeluk Jenny dengan hangat.
__ADS_1
Kemudian Papa Jenny juga memberikan kecupan hangat di kening Jenny. Begitu pula dengan papa Jenny. Memberikan pelukan dan kecupan hangat untuk putri tercintanya. Nirma mengawasi mereka dengan sorot mata yang tajam.
"Bolehkah aku berharap juga diperlakukan seperti itu? Tapi itu sangat mustahil. Karena tidak ada yang menyayangiku dan membuatku bahagia. Lagi-lagi aku harus menumpang pada Jenny," batin Nirma dalam hati. Rasanya rongga dada wanita itu sangat sesak.