
1 Tahun Kemudian
Jenny dan Ali memang selalu saja membuat iri semua orang yang melihat kemesraan mereka. Bagaimana tidak? Mereka berdua sama-sama orang berpendidikan dan berasal dari keluarga berada. Selama setahun pernikahan mereka, mereka habiskan dengan liburan ke luar negeri. Bersenang-senang sambil menikmati momen-momen indah di setiap waktunya. Bisnis restoran yang mereka bangun bersama juga sukses besar hingga membuat mereka memiliki banyak uang. Bahkan jika di hitung, untuk menghidupi tujuh turunan juga tidak akan habis.
Setiap bulannya Jenny selalu periksa ke dokter agar Ali percaya kalau sebenarnya Jenny serius untuk memiliki anak. Jelas saja Jenny juga membutuhkan bantuan Rico. Dia enggak mungkin bisa bergerak sendirian. Awalnya semua tidak jadi masalah karena Jenny sangat menikmati pernikahannya selama 1 tahun terakhir ini. Bisa dibilang pernikahan seperti inilah yang dulunya ia impikan. Menikmati hari-hari penuh cinta tanpa seorang anak yang menjadi pengganggu.
Tetapi hari ini Jenny memiliki pemikiran yang berbeda. Wanita itu merasa kesepian. Hari ini Ali harus berangkat ke rumah orang tuanya karena ada acara pertemuan keluarga di sana. Jenny menolak ikut karena dia tahu kalau nanti Ali akan menghadiri ulang tahun salah satu keponakannya. Jenny tahu kalau di sana mereka akan bertemu banyak sekali anak kecil. Jenny tidak mau sampai prinsipnya goyah dan memutuskan untuk memiliki anak. Jika hal itu sampai terjadi ia akan menyesali keputusan yang sudah pernah ia ambil dan Jenny tidak mau sampai hari buruk itu tiba.
"Minumlah. Aku lihat kau hari ini sangat tidak bersemangat," ucap Rico sembari meletakkan teh di atas meja yang ada di dekat Jenny. "Apa pernikahanmu baik-baik saja?" tanya Rico lagi. Pria itu mengambil sesuatu dari dalam tas lalu meletakkannya di atas meja. "Ini undangan pernikahanku. Pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah dua minggu lagi. Calon istriku sudah selesai S2 nya. Sekarang kami tidak memiliki penghalang lagi untuk bersama. Kami akan menikah dan hidup bahagia bersama dengan anak-anak kami."
"Apa kau tidak bisa jika tidak membahas soal anak?" Aku sangat tidak suka mendengarnya!" ketus Jenny kesal.
__ADS_1
Rico tertawa mendengar keluhan Jenny. Pria itu juga menyeruput kopi yang tadi ia buat sendiri. "Aku sudah tebak sejak pertama kali kau datang ke sini. Aku tahu kalau masalahmu ini berhubungan dengan anak. Tapi kenapa kau tidak mau cerita kepadaku? Pada akhirnya aku memilih untuk menjebakmu dengan cara seperti tadi. Jenny, kita sudah berteman cukup lama. Aku tahu bagaimana watakmu. Sekarang cepat katakan yang sebenarnya kau rasakan. Jangan ditutup-tutupi lagi karena tidak ada satu hal pun yang bisa kau tutup-tutupi dariku."
Jenny diam sejenak dengan wajah sedih. "Memang sejauh ini Kak Ali tidak pernah memaksaku untuk memiliki anak. Dia hanya ingin aku berusaha. Setiap kali ke Dokter aku bilang kalau aku belum berhasil memiliki anak. Dia tidak pernah marah dan justru lebih mendukungku lagi dengan penuh cinta. Hal itu membuatku terharu. Tetapi lama-kelamaan aku merasa kasihan. Dia pria yang sangat baik. Tidak sepantasnya aku memberinya hukuman seperti ini. Dia pasti sangat kecewa ketika tahu kalau aku sudah tidak memiliki rahim lagi. Apa aku putuskan saja untuk bercerai dengannya. Dia bisa menikah dengan wanita lain dan memiliki anak."
"Kau sendiri yang bilang kalau dalam waktu dekat setelah hari pernikahan kau akan mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Ali. Tetapi sudah setahun pernikahan kau belum juga mengatakannya. Dulu aku telah gagal sebagai seorang sahabat karena membiarkanmu mengangkat rahimmu. Sekarang aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya dengan membiarkanmu bercerai dari Ali. Dia pria yang pantas untuk membimbingmu."
"Lalu bagaimana caranya agar kami bisa memiliki anak? Aku sudah tidak memiliki rahim lagi!" ujar Jennyn dengan wajah frustasi.
"Kalian bisa mengambil anak dari panti asuhan. Ada banyak sekali bayi baru lahir di sana. Kalian bisa merawat bayi itu sampai besar nanti dan menjadikannya anak kandung kalian. Menurutku itu tidak sulit jika kalian benar-benar ingin merawat anak tersebut."
"Kau sendiri pasti tahu kalau itu cukup sulit karena kau tidak bisa mengandung lagi. Cara apapun yang kita lakukan hanya akan sia-sia."
__ADS_1
"Itu kenapa aku datang menemuimu malam ini. Aku ingin meminta solusi. Pikiranku benar-benar buntu." Jenny menutup wajahnya dengan tangan.
Rico diam sejenak sambil memikirkan solusi yang pas untuk masalah yang dihadapi oleh sahabatnya. "Sebenarnya ada satu pilihan lagi, tetapi ini sangat beresiko."
"Cepat katakan padaku apa solusi yang kau pikirkan itu?" tanya Jenny penuh antusias.
"Kita harus mencari seorang wanita yang rela mengandung dan melahirkan anak untukmu."
"Seorang wanita? Bagaimana caranya agar dia bisa mengandung anak dari suamiku?"
"Zaman sudah canggih. Masalah seperti itu tidak perlu kau khawatirkan. Aku akan memikirkan caranya nanti. Sekarang tugasmu hanya satu, cari wanita yang rela meminjamkan rahim dan mau melahirkan anak untukmu. Menurutku mencari wanita yang seperti itu sangat sulit sekali meskipun sekarang kau memiliki uang yang banyak."
__ADS_1
Jenny mengangguk sambil berpikir. "Baiklah. Aku akan cari wanita itu. Setelah menemukannya aku akan menemuimu lagi nanti."
"Lebih cepat lebih baik," ucap Rico lagi sebelum meneguk kopinya.